
"Ayo tatap aku lebih lama lagi, Pak. Biar Pak Binar jatuh cinta," ucap Ailee seperti seseorang yang hendak menghipnotis. Binar pun lekas sadar, ia jadi salah tingkah dan langsung naik ke motornya.
"Cepat naik! Sudah siang!"
Binar melajukan motornya dengan pelan tak sama seperti berangkat tadi. Ia lebih hati- hati karena barang bawaannya kali ini cukup banyak. Plastik- plastik berisikan sayur mayur dan kebutuhan lain tersusun rapi di motor maticnya hingga menjulang setinggi dagunya. Ada kardus juga di pangkuan Ailee, jika tak begitu tak tahu harus bagaimana lagi membawanya. Benar kata Mamanya jika Binar akan membutuhkan Ailee, firasat seorang ibu memang tak pernah salah.
"Hey, bantuin nurunin ini dulu!" seru Binar ketika sudah sampai. Ia kesal dengan Ailee yang bukannya membantunya terlebih dahulu tapi malah buru- buru masuk ke rumahnya.
"Eh iya lupa, Pak!" Ailee nyengir, ia kemudian membantu menurunkan barang- barangnya.
"Katanya tadi tanganmu dikasih lem sama penjual odading? Itu kok bisa lepas odadingnya?" sindir Binar.
"Anu- itu- kata penjual odading tadi kalau udah sampai di rumah bisa lepas, Pak. Hebat ya lemnya bisa tahu kalau kita udah sampai rumah apa belum hehehe..."
"Astaghfirullah hal adzim..." Binar menggelengkan kepala mendengar jawaban aneh dari Ailee. Pandai sekali menjawab. Ah, maksudnya somplak bukan pandai.
Bukannya membantu Binar membawa masuk barang belanjaannya, Ailee malah langsung ke panti. Anak- anak panti langsung mengerubunginya, apalagi saat melihat makanan di tangan Ailee.
Usai membagikannya, Ailee pun menyisakan beberapa untuk Binar dan Bu Melati. Ia segera mengambil piring dan meletakkan odading berbentuk hati di atasnya. Memang sudah seperti rumah sendiri saja, apapun ia lakukan.
"Kok love sih bentuknya? Biasanya kan kotak?" seru Binar sembari menyomot satu odading dan memakannya.
"Iya tadi emang aku pesen bentuk love khusus buat Pak Binar. Rasanya beda pastinya, soalnya bumbu cintanya tadi kebanyakan," ucap Ailee memberikan finger love tepat di hidup Binar. Lelaki itu pun lantas tersedak mendengar ocehan Ailee yang semakin tak bermutu.
"Ya ampun terlalu banyak cinta, Pak Binar jadi tersedak! Maafkan diriku, Pak! Lain kali akan ku kurangi kadarnya biar nggak overdosis!"
Binar segera menyumpal mulut Ailee dengan odading dan juga cakwe sekaligus supaya anak itu tak lagi berbicara omong kosong.
...*****...
"Pak..." lirih Ailee menatap Binar yang kala itu berbaring di kursi panjang dengan mengotak- atik ponselnya. Sedangkan dirinya tadi tak membawa ponsel dan akhirnya bosan.
"Hm..."
"Bosan!"
"Pulang sana! Dari tadi pagi nggak pulang- pulang, nanti dicariin Papa kamu loh."
"Ajak aku ke suatu tempat dong, Pak," rayu Ailee. Ia sungguh tak mau pulang dan masih ingin bersama pujaan hatinya.
"Boleh- boleh, yuk!" Binar langsung bangun dan bersiap membuat Ailee senang sekali.
"Kemana, Pak?"
"Ke kuburan mau nguburin kamu hidup- hidup biar nggak gangguin orang terus!" jawab Binar kemudian, ia merasa senang karena akhirnya bisa membuat Ailee ketakutan.
"Sama Pak Binar, kan? Romantis ya, se-liang lahat berdua!"
Binar memijat pelipisnya mendengar penuturan Ailee yang malah jauh dari perkiraannya. Binar pun mengajak Ailee ke suatu tempat dengan jalan kaki. Lumayan jauh, Ailee yang tak biasa jalan kaki sejauh itu pun mulai letih. Sengaja memang Binar seperti itu.
"Pak..."
"Hm..." sahut Binar tanpa menoleh kepada Ailee yang berjalan di belakangnya.
"Nanti kalau udah sampe pasti capeknya hilang."
Ailee pun berjalan lebih cepat, ia memeluk Binar dari belakang. Langkah Binar pun terhenti, ia merasakan getaran yang berbeda saat gadis itu memeluknya erat. Jantungnya bergemuruh, tangannya terulur untuk melepas tangan Ailee yang melilit di perutnya.
"Naik ke punggung!" ucap Binar sembari merendahkan tubuhnya supaya Ailee lebih mudah naik ke punggungnya. Kasihan juga melihat Ailee yang letih dan keringat bercucuran di dahinya.
Ailee pun langsung naik, ia mengalungkan tangannya di leher Binar. Kepalanya disandarkan di bahu kanan lelaki itu. Aroma tubuh Binar leluasa terhirup olehnya, benar- benar menyenangkan.
Langkah pun berlanjut. Senyum terukir di keduanya. Binar merasakan hal aneh saat menggendong Ailee, apa itu artinya dia memiliki perasaan terhadap orang yang baru- baru ini hadir di hidupnya? Ah, persetan dengan itu. Binar segera membuang jauh pikiran yang menurutnya sangat buruk itu.
"Udaranya segar ya, Pak."
"Hm, dan di sana nanti jauh lebih segar."
Tak lama kemudian, mereka berdua pun telah sampai di suatu tempat. Danau hijau. Danau yang begitu luas, sejuk sekali mata memandangnya. Bersih dan terawat. Burung- burung kecil serta kupu- kupu berputar- putar seakan menggoda air danau yang tenang itu.
"Indah sekali!" celetuk Ailee tanpa mengarahkan matanya ke tempat lain. Danau itu benar- benar indah, sayang sekali dirinya baru tahu saat ini.
Binar pun menurunkan Ailee, gadis itu langsung berlari ke tepian danau. Tangannya ia masukkan ke air, dingin dan menyenangkan. Air pun didayungnya ke sana kemari, tawa kecil kegirangan pun terlontar.
"Hati- hati jangan sampai terpeleset dan kecemplung! Nanti kalau meninggal nyusahin orang," seru Binar memperingatkan. Ketus dan menyakitkan.
Lelaki itu duduk di bangku putih yang panjangnya hanya satu meter dan hanya ada satu di sana. Danau ini memang sepi sekali, hanya didatangi masyarakat kampung Binar saja. Oleh karena itu, danau masih terawat dan jarang sekali ada sampah. Pepohonan di sekitar pun tumbuh sebagaimana mestinya. Daun- daunnya semakin membuat teduh suasana.
Tanpa disadari, mata Binar tertuju kepada gadis kecil yang sedang berjongkok terkekeh sembari memainkan air dengan tangannya. Kenapa? Tentu saja mengawasinya karena takut Ailee yang aktif sekali itu kecemplung.
"Pak, di sini nggak ada perahu?" tanya Ailee mendekati Binar dan akhirnya ikut duduk di samping lelaki itu.
"Ada tapi bocor, belum diperbaiki," jawab Binar menunjuk perahu kayu yang berada di tepi, di bawah pohon besar yang rindang.
"Yahhh, padahal aku pengen keliling ke sana. Sepertinya di sana jauh lebih indah."
"Lain kali kalau perahunya sudah diperbaiki kamu bisa melakukannya."
Mereka pun terdiam beberapa saat. Dan kemudian, Ailee beranjak dari duduknya. Ia pun merebahkan diri di rumput hijau memandang langit.
"Pak, ayo ikuti aku! Ini sangat menyenangkan!" seru gadis yang menggerakkan tangannya seakan sedang mengepakkan sayap dan terbang di awan.
Putih dan biru langit kala itu. Matahari pun bersinar berseri- seri seperti hati yang tengah dirundung suka. Kepala mereka bersentuhan, mata tertuju pada birunya langit. Hal sederhana namun malah mengesankan.
Cukup lama berada pada posisi seperti itu. Mereka pun saling bertukar cerita, dan yang lebih mendominasi adalah Binar meledek Ailee. Keduanya sama- sama riang, hingga tawa pun tak terhenti.
.
.
.
Ciye ciyeee🤣🤣🤣