Perfect Duda

Perfect Duda
Janda Bolong



Kamar yang telah lama tak dihuni itu terasa sangat nyaman, sama seperti kamar apartemen miliknya yang berada di Jepang. Tubuh gadis itu masih terbalut selimut tebal, mungkin dia masih merasa seperti di Jepang. Jika waktu-waktu seperti itu dirinya memang menghabiskan musim semi untuk tiduran seharian penuh jika tak ada kegiatan lain.


Akan tetapi tidak untuk kali ini. Siulan bernada dari kakaknya membangunkan dirinya. Lelaki yang berbalut jas akan tetapi memakai celana pendek itu telah siap pergi ke Sanjaya Group untuk membantu tugas papanya. Dirinya memang ke Indonesia lebih awal karena disuruh untuk berlatih mengurus perusahaan dan tak disangka malah membuahkan hasil– cintanya terbalas.


Cukup mudah bagi Aiden maupun Ailee karena mereka memang lulusan bisnis di universitas ternama yang tak lagi diragukan kemampuannya. Namun, Aksa belum meminta Ailee untuk membantunya di perusahaan karena membiarkannya semaunya sendiri.


"Sialan kau!" Satu pukulan guling mendarat di tubuh Aiden, begitu keras namun tak menyakitkan. Dan yang dipukul malah tertawa cekikikan tak merasa bersalah sedikitpun meskipun dirinya telah mengganggu tidur adiknya.


"Aku cuma mau mengingatkanmu kalau sebentar lagi aku akan menikah dengan Sora!" seru Aiden seolah adiknya itu belum tahu sama sekali tentang kabar tersebut. Padahal setiap hari setelah kesepakatan pernikahan, Aiden selalu bilang seperti itu hingga puluhan kali kepada Ailee. Sangat menyebalkan, telinga Ailee hampir menolak ucapan yang tak penting itu.


"Cepatlah menyusulku! Jangan sampai kalah sama Bryan dan Kimmy loh. Kayanya mereka sebentar lagi akan menikah juga," tambah Aiden semakin membuat Ailee kesal.


"Mah! Pah! Tolong ambilkan aku pisau! Aku ingin membunuh calon pengantin ini," teriak Ailee dan langsung bangkit dari ranjangnya disusul Aiden.


Sesampainya di bawah, pemuda itu bergidik ngeri karena Ailee benar-benar menuju dapur dan mengambil pisau.


"Ada apa ini?" tanya Aza kebingungan karena tiba-tiba anaknya itu merebut pisau yang ia gunakan untuk memotong sosis.


"Biarkan aku merobek mulutnya Aiden, Mah! Dia sangat menyebalkan!" Ailee berlari supaya lebih cepat menghampiri kakaknya yang masih terdiam di tangga. Aiden pun kelabakan dibuatnya, ia berlari mengitari ruangan itu hingga barang-barang berantakan.


"Aiden! Ailee!" bentak Aksa menghentikan anak kembarnya yang berlari dengan satu di antara mereka membawa pisau besar yang tajam dan mengkilap.


"Sini pisaunya, mau buat motong sosis lagi." Aza langsung merebut kembali pisau dari tangan Ailee, ia juga menuntunnya untuk menjauhi Aiden supaya kejadian tak terulang lagi.


"Awas kau!" ancam Ailee kepada Aiden yang tersenyum meledek.


"Aiden! Ganti celana panjang jangan celana pendek kalau ke kantor!" ucap Aksa menepuk keningnya. Entah sudah berapa kali ia memperingatkan Aiden untuk memakai celana panjang ketika ke kantor, tetapi anak itu selalu saja membantah serta memilih memakai celana pendek dan terkadang boxer yang sangat mengerikan.


...*****...


Gadis itu baru saja selesai mandi dan sarapan. Ia bingung sekali hendak apa setelahnya. Teringin untuk pergi menyusuri kota tapi tak ada teman dikarenakan sahabatnya sedang sibuk bekerja. Kedua kaki melangkah menuju taman rumahnya yang sedari kemarin menarik perhatian. Warna warni dari berbagai bunga terpapar indah dan tersusun rapi mengitari taman.


Ada berbagai tanaman hijau pula yang sedang hits di kalangan emak-emak. Kalau tidak salah namanya janda bolong, Ailee terkikik saat iseng mematahkan satu tangkainya. Ia lalu berlari menuju ke tanaman yang lain sebelum sang mama tahu jika tanamannya dirusak dirinya.


Namamu Ailee, kan? Lebih mudah dipanggil Lili.


Kalimat dari lelaki itu terngiang jelas, suatu panggilan limited edition untuk dirinya yang terlontar dari mulut Binar.


"Ah, menyebalkan!" cebiknya menyentil bunga lili yang susah payah ditanam mamanya. Benar-benar tidak ada akhlak, semoga sang mama tidak mengetahui ulahnya.


Siang harinya ia meminta izin untuk mengitari kota. Sendiri tak masalah baginya, toh selama ini juga sering sendiri. Lama tak berkendara mobil, dirinya pun melaju dengan perlahan dan kembali beradaptasi dengan kendaraan roda empat tersebut. Selama di Jepang dia memang tak mengendarai mobil, jika melakukan mobilitas menggunakan transportasi umum yang jauh lebih menyenangkan daripada berkendara seorang diri.


Siang hari harusnya lancar, tetapi jalanan kota padat merayap. Kemacetan terjadi lagi. Tak terbayang jika semua yang berada di jalan itu adalah para pekerja yang sedang keluar untuk istirahat dan akan terlambat ke tempat kerja mereka. Pasti akan segera menerima omelan dari bos mereka dan bahkan surat pemecatan.


Tin...tin...


Suara klakson mobil di belakangnya terus terdengar nyaring. Tak sabaran sekali, padahal baru satu detik lampu berubah menjadi hijau. Masyarakat +62 memang selalu seperti itu, berbeda sekali dengan masyarakat di negara Jepang yang disiplin, tertata rapi, dan mudah diatur.


Ailee semakin kesal, pasalnya mobil di belakangnya itu terus saja membunyikan klakson padahal sudah melaju cukup kencang. Ah, hari ini banyak sekali yang membuatnya kesal. Dia pun memilih untuk berhenti di kedai kue neneknya yang tak jauh dari tempatnya kala itu. Dekorasi toko kuenya berubah, lucu dan modern. Pengunjung pun semakin ramai. Ada yang menyorot perhatiannya, yaitu kedai kopi yang besar sejajar dengan toko kue neneknya.


"Lili Coffee Shop? Sejak kapan kedai itu berdiri di samping kedai kue Oma? Ah, apa aku saja yang baru tahu? Eh bodoamat, itu kan bukan urusanku!" gumam Ailee. Ia berhasil memarkirkan mobilnya di tempat parkir depan kedai kue Omanya.


Mobil yang membunyikan klakson tadi rupanya berhenti di kedai kopi itu. Cukup lama Ailee menantikan pengendara mobil itu turun, ia ingin melihat bagaimana wajah yang sangat membuatnya kesal sedari tadi.


"Ailee!" seru Oma Aira dari dalam kedai melambaikan tangannya menyuruh cucunya itu untuk masuk ke dalam.


Di dalam mobil berwarna hitam mewah itu seorang lelaki sedang mengusir rasa gugupnya sejenak. Jantungnya berdegup cepat tatkala melihat seseorang yang sudah lama ingin ia jumpa.


"Tadi seperti mama, apa aunty yang tadi itu memang mama Clarissa?" tanya anak kecil yang duduk di samping kemudi. Baru saja pulang sekolah dan Binar menjemputnya. Clarissa melihat samar wajah perempuan yang baru saja masuk ke kedai kue, dan itu hampir mirip dengan perempuan yang berada di ponsel papanya yang juga sering ia tatap.


"Ah, jangan hiraukan. Kamu mending masuk, nenek sudah menunggu di dalam. Papa kembali ke sekolah dulu, ya?" ujar Binar seperti biasa. Sepulang sekolah Binar memang menyuruh Clarissa untuk ke kedai miliknya yang dikelola bersama Bu Melati.


Banyak perubahan yang terjadi pada diri Binar. Berkat semangat dan kerja kerasnya selama ini, dirinya berhasil mendirikan beberapa kedai kopi yang menunjang perekonomiannya. Rumah, mobil, dan lain juga berhasil di tangannya. Panti asuhan pun kini semakin berkembang, jauh lebih besar dari sebelumnya.


Selama Ailee pergi, dirinya sangat bekerja keras mewujudkan impiannya yaitu memiliki kedai kopi yang berada di seluruh penjuru wilayah. Itu semua juga karena Ailee. Binar hanya ingin menjadi lelaki yang layak untuk bersanding dengannya, maka dari itu berbagai usaha ia lakukan hingga keberhasilan diraihnya.