Perfect Duda

Perfect Duda
Penyedot Debu



Desir angin menembus hingga ke tulangnya. Dingin, tapi tak membuat ia beranjak dari tempatnya. Duduk di jendela yang terbuka, menatap kosong ke sembarang arah. Anaknya baru saja tertidur lima belas menit yang lalu. Kebiasaannya selalu seperti itu, melamun di jendela kamarnya.


Ia terngiang dengan ucapan mantan istrinya yang sungguh membuat dirinya terusik. Clarissa, anak yang tengah tertidur pulas itu bukan anak kandungnya. Ia jadi teringat saat malam pertamanya dengan Maya, wanita itu sudah tak virgin saat Binar menggaulinya malam itu.


Binar tak memperdulikan itu sebenarnya, namun ada hal yang ia takutkan. Bagaimana jika Clarissa suatu saat nanti diambil oleh Maya, akankah anak itu akan terawat dengan baik? Binar takut, benar- benar takut. Dia sangat menyayangi Clarissa meskipun ia sendiri tahu jika anak itu bukan darah dagingnya.


"Bin, sudah malam tidurlah. Kalau belum mengantuk pindah saja, jangan terkena angin malam nanti bisa sakit," seru Bu Melati. Binar mengangguk, ia beranjak dari jendela itu tak lupa menutupnya.


"Mah..."


"Apa? Mau didongengkan dulu sebelum kamu tidur?" ledek Bu Melati.


Binar mencebikkan mulutnya, Mamanya ada- ada saja. Bukan itu yang hendak dibicarakan Binar. Bu Melati masih acuh, ia membenarkan posisi selimut cucunya supaya lebih nyenyak tidurnya.


"Bagaimana jika Clarissa diambil Maya?" Pertanyaan Binar itu membuat Bu Melati mematung di tempatnya. Ia juga takut jika hal itu terjadi, wanita paruh baya itu sangat menyayangi Clarissa.


"Berdo'a saja itu tak akan terjadi. Entah apa yang akan terjadi jika Clarissa harus bersama Maya. Mama khawatir ia tak akan terawat dengan baik."


"Tapi..."


"Diam atau ku robek mulutmu?" ketus Bu Melati, ia begitu kesal jika anaknya membahas hal itu.


Lelaki itu mendelik mendengar ancaman sang Mama. Ia langsung pergi ke kamarnya sendiri karena takut jika Mamanya itu akan berubah menjadi singa.


...*****...


^^^Selamat pagi, Pak Binar!^^^


^^^How are you today?^^^


^^^I hope you're always okay^^^


^^^And have a nice day🌻^^^


Rentetan pesan itu tertera di layar ponsel Binar. Ia menggeleng seraya tersenyum tipis membacanya. Tangannya pun dengan cekatan menuliskan pesan untuk membalasnya.


Hm.


Apa kamu sungguh menginginkan


aku baik- baik saja?


Kalau begitu,


jangan temui aku


dan jangan menggangguku😂


Pesan itu sungguh membuat Ailee kesal. Ia kemudian membalasnya secepat kilat.


^^^Aku memang tak akan^^^


^^^ke rumah Pak Binar hari ini.^^^


^^^Soalnya aku sudah berjanji^^^


^^^sama Mama mau bantuin^^^


Binar tak lagi membalas, ia tertawa dan mengira bahwa Ailee pasti dihukum karena kejadian kemarin.


"Berikan ponselmu! Hari ini kamu harus fokus bantuin Mama," ucap Aza. Wanita itu langsung mengambil ponsel anaknya dan menaruhnya di kantung bajunya.


"Tapi, Mah..." Belum sempat melanjutkan perkataannya, sang Mama sudah menyodorkan penyedot debu ke tangannya.


"Kamu bersihin lantai bawah, semuanya harus bersih dan nggak berdebu," seru Mamanya sebelum meninggalkan kamarnya.


Gadis itu hanya bisa menghembuskan napas panjang. Kemudian dia bergerak menuju lantai bawah tak lupa dengan penyedot debu yang Mamanya tadi bawa. Ternyata sang kakak juga sudah siap bertempur dengan sapu lidi untuk membersihkan taman dan halaman depan. Tak terlalu luas, Ailee jadi iri dengan Aiden.


Debu-debu yang berada di sofa, karpet, dan lantai telah tersedot bersih. Peluh menetes dari keningnya, rambutnya pun acak- acakan, dan terlebih lagi badannya yang asem karena belum sempat mandi. Ia terduduk sejenak di samping papanya yang sedari tadi asyik bermain game di ponsel pintarnya. Tak peduli lagi dengan lingkungan sekitar jika sudah bersama ponsel miring.


"Iiiyyyuhhhh..." seru Aksa ketika Ailee menyandarkan kepala di bahunya. Kaosnya jadi basah terkena keringat yang berada di kening Ailee. "Mandi dulu kalau mau deket- deket sama papa," ucapnya kemudian seraya menegakkan kembali kepala anaknya.


Ailee tak peduli, ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang papa dan memeluknya erat. Aksa pun menggeliat, ponselnya langsung dimatikan.


"Ailee..."


"Iya, Papaku sayang?" goda Ailee, ia semakin erat memeluk papanya.


"Mandi dulu baru peluk papa, ih jorok banget sih!"


"Belum selesai, Pah. Papa lanjutin ya? Nanti Ailee lepas pelukannya." Gadis itu langsung menyodorkan penyedot debu ke tangan papanya.


Belum sempat sang papa berucap, dirinya terlebih dahulu berlari setelah memberikan penyedot debu itu ke tangan papanya. Lelaki itu pun kebingungan menatap penyedot debu di tangannya.


"Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya," gumam Aza terkekeh dan menghampiri suaminya.


"Iya, Sayang, dia memang hasil benihku," sahut Aksa dengan raut wajah yang masih kebingungan.


...*****...


Langkahnya terseok-seok. Semangatnya menghilang ketika membaca hasil laboratorium di tangannya. Selembar kertas putih itu dipegangnya erat hingga tak rapi lagi. Lambang rumah sakit tertera paling atas. Turun ke bawah menunjukkan hasil tes DNA antara Binar dan Clarissa. Terpukul bukan main, dadanya begitu sesak mengetahui kebenaran yang ternyata Clarissa memang bukan anak kandungnya.


Satu tahun berpacaran, satu tahun menikah, ternyata dirinya tak dianggap apa-apa oleh Maya. Pengkhianatan terus saja dilakukannya dengan mulus hingga Binar tak mengetahuinya sama sekali. Lalu, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia menyerahkan Clarissa kepada ayah dan ibu kandungnya?


Helaan napas panjang berkali-kali ia lakukan. Kepalanya terasa berat. Ia telah memutuskan untuk tetap merawat Clarissa. Meskipun bukan darah dagingnya, ia tetap akan menyayanginya sepenuh hati. Senyum pilu terukir, ia pun beranjak dari rumah sakit.


"Astaga! Aku belum membelikan susu untuk Clarissa..." lirihnya ketika menyadari sesuatu yang terus saja ia ingat sebelum meninggalkan rumah. Ia lajukan sepeda motornya menuju supermarket terdekat hingga akhirnya satu kaleng susu berwarna kuning keemasan itu telah berada di genggamannya.


Dan kini, motornya telah sampai di depan rumahnya. Terparkir di samping mobil hitam yang dirinya sendiri sudah tahu siapakah pemiliknya. Ia tersenyum dan menggeleng, segeralah turun dari motor dan masuk ke rumahnya.


Benar saja, gadis yang ia pikirkan tadi berada di sana, bermain dengan anaknya yang kini sudah mulai merangkak. Ramai seketika.


"Ehem..." Deheman itu membuat dua orang yang tengah asyik bermain menoleh ke arah lelaki yang berdiri tegap di ambang pintu. Clarissa senang, ia perlahan merangkak mendekati Binar.


"Jaaa djaa jaaa..." Bayi itu berceloteh ketika telah sampai, ia memukul kaki papanya yang terbalut kaos kaki abu- abu seakan memarahinya karena terlalu lama pergi meninggalkannya.


"Hey, sayang, jangan mukulin papa dong. Sini sama Mama, kaki papa bau loh hiii..." seru Ailee mendekat dan menggendong Clarissa. Binar langsung menoyor kepalanya, tak terima jika dikatakan kakinya bau. Padahal baru saja ganti kaos kaki.


"Jangan bilang yang enggak- enggak sama Clarissa," seru Binar memperingatkan. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti baju sejenak sebelum ikut bergabung dengan anaknya.


"Papa galak banget ya, Mama jadi ngeri." Ailee terus bergumam dengan bayi mungil itu. Dan Clarissa menanggapinya dengan celotehan dan tepuk tangan. Aktif sekali anak itu.