Perfect Duda

Perfect Duda
Tiga Kotak Makan



Pyaaarrrr...


Seseorang yang tadi membawa nampan berisikan makanan dan melewati meja Ailee tiba- tiba saja kehilangan keseimbangan dan akhirnya minuman soda yang ia bawa tumpah mengenai Ailee dan Clarissa.


"Aduh, maaf saya kewalahan membawanya tadi," seru seorang wanita kantoran yang tadi menumpahkan minumannya. Ia tadi tengah berbicara melalui telepon, jadi hanya dengan satu tangan saja membawa nampannya dan akhirnya minuman yang dibawa tumpah.


"Ailee..." seru wanita itu ketika mengenal sosok yang dulu sempat bertemu dengannya.


"Mbak Maya..." Ailee pun sama terkejutnya, ia buru-buru menggendong Clarissa tak lupa membawa makanan yang belum sempat dimakan. Ia lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Maya, mantan istri Binar yang merupakan ibu kandung dari Clarissa. Ailee takut sekali jika Maya berbuat sesuatu lagi dengannya, dan terlebih lagi dengan Clarissa. Teringat kejadian dulu ketika dirinya masih duduk di bangku SMA, Maya memaki dirinya habis-habisan dan tak segan mendorongnya hingga jatuh.


"Ailee tunggu..." teriakan Maya tak lagi digubris Ailee.


Ailee tetap berlari meskipun sedang berada di eskalator, ia harus segera sampai ke mobil. Ia pun segera melajukan mobil menuju ke kedai kopi Binar. Lelaki itu akan pulang juga, jadi kasihan jika harus menunggu untuk mengganti baju Clarissa yang kotor dulu.


"Mah, es krimnya tadi jatuh, tinggal cone-nya saja," lirih Clarissa menunjukkan cone es krim yang kosong. Ailee miris sekali melihat kondisi anaknya itu, bajunya kotor terkena minuman soda yang tumpah tadi dan juga belepotan es krim karena dirinya tadi berlari tak memperdulikan apapun lagi.


"Maaf ya, besok mama beliin es krim lagi. Lebih banyak dari ini," jawab Ailee yang diangguki Clarissa, anak itu lalu memakan burger. Meski terburu-buru, Ailee tetap saja ingat untuk membawa makanannya. Sayang kalau ditinggal begitu saja.


Binar sudah nampak di luar kedai menunggu kedatangannya, lelaki itu segera menghampiri mobil yang baru saja terparkir di halaman kedainya. Ia lalu berganti posisi dengan Ailee, dan mobil langsung meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Binar.


...*****...


Bulan dan bintang mulai menghiasi langit. Dua orang itu baru saja selesai mandi. Rambut yang masih basah dikeringkan dengan handuk kecil. Bergantian saat mengeringkannya, romantis sekali.


Dan tiba-tiba Clarissa masuk dengan guling dan bantal dari kamarnya. Anak itu langsung memeluk Ailee dan meminta izin untuk tidur bersama. Sontak saja ini membuat Binar masygul, enggan sekali rasanya padahal ia ingin bermain dengan Ailee.


"Kamu udah ngantuk ya? Eh, tadi susunya udah dihabisin, kan?" tanya Ailee membelai rambut Clarissa. Anak itu sudah berbaring di tengah ranjang dan bersiap untuk tidur.


"Sudah, Mah. Aku mau dipeluk Mama sampai aku bangun nanti ya. Mama nggak boleh ngelepasin pokoknya," ujar Clarissa yang diiyakan Ailee.


Ailee mendekap tubuh mungil Clarissa begitu erat. Anak itu terlelap dengan cepat karena kenyamanan yang diberikan mamanya. Ailee menatapnya iba, ia memikirkan bagaimana perasaan Clarissa jika tahu bahwa Binar dan dirinya bukanlah orang tua kandungnya. Dan yang ditakutkan Ailee adalah jika suatu saat Clarissa pergi. Ia akan berusaha supaya Clarissa tetap berada di pelukannya.


Meski hasratnya membuncah, Binar pun mengalah demi Clarissa. Ia ikut tidur di samping anak itu dengan tangan yang berusaha menjangkau istrinya. Masih ada hari esok dan hari-hari berikutnya.


...*****...


Tiga kotak makan telah terisi penuh. Nasi, gritted salmon, dan salad sayur. Untuk minumannya Ailee membuatkan jus buah naga. Satu untuk Clarissa, satu untuk Binar, dan satu lagi untuknya di kantor nanti. Ya, wanita itu memilih untuk bekerja di perusahaan keluarganya membantu sang kakak yang terlebih dahulu bekerja di sana.


Dan setiap pagi usai mengantar Clarissa ke sekolah, Binar mengantar Ailee terlebih dahulu ke Sanjaya Group setelah itu baru ke tempatnya mengajar. Beruntung Sanjaya Group dengan SMA-nya searah, jadi tak menghabiskan waktu banyak.


"Pak Bin, nanti kalau capek nggak usah jemput aku, biar aku diantar Kak Aiden saja," seru Ailee ketika sudah sampai di depan Sanjaya Group.


Tak ada sahutan dari suaminya, Ailee pun menoleh ternyata lelaki itu merajuk sudah seperti anak kecil saja.


"Hubby, nanti kalau kamu capek nggak usah jemput aku ya, biar diantar Kak Aiden saja," ucap Ailee mengulang perkataannya tadi dan memperbaiki letak kesalahannya. Beberapa waktu yang lalu Ailee sepakat untuk memanggil Binar dengan sebutan Hubby tapi wanita itu sering sekali lupa.


"Baiklah, Sayang..." sahut Binar tersenyum riang. Ia segera mencekal tangan istrinya sebelum turun dari mobil. "Ada yang ketinggalan!" serunya kemudian.


Ailee lantas mengecek barang-barangnya, tas, bekal, dan tumbler minumannya sudah ia jinjing dan siap turun dari mobil. Lalu, apa yang tertinggal?


Dan tiba-tiba Binar menusuk-nusuk pipinya dengan jari, Ailee lalu mencubit pipinya gemas. Padahal yang diinginkan Binar bukan cubitan, melainkan sebuah kecupan. Usai mencubit pipi suaminya, Ailee pun bergegas untuk turun dan berlari masuk ke kantornya.


Binar hanya terkekeh melihatnya, ia memang sudah biasa dengan kelakuan istrinya itu. Menggemaskan. Lihat saja nanti malam, Binar tak akan mengampuninya.


Sampai di ruangan pribadi miliknya, Ailee lalu duduk dan membuka komputer kantor. Ia membantu tugas Aiden yang tak lain adalah menjadi Presiden Direktur di perusahaan itu. Dan pagi itu ia langsung dibuat jengkel dengan kakaknya, bagaimana tidak jengkel jika di mejanya itu sudah ada tumpukan berkas yang harus ia pelajari dan beberapa lagi harus disetujui sebelum dilaksanakan.


"Ailee, akhir tahun mau ke mana?" seru Kimmy, wanita itu menghampiri sahabatnya yang baru saja datang.


"Entah, memangnya kamu mau ke mana?" Ailee bertanya balik, ia sendiri tak tahu hendak melakukan apa ketika malam tahun baru. Selama di Jepang, ia selalu tidur karena cuacanya dingin dan salju pasti turun lebat, maka dari itu ia memilih untuk tidur daripada merayakan tahun baru.


"Barbequan yuk, sekalian bikin surprise baby-nya Sora," ajaknya antusias dan berharap penuh supaya sahabatnya itu mau.


Dan Ailee pun menerima ajakan Kimmy. Sontak saja Kimmy melompat girang, ia lalu memberitahu Aiden dan tak lupa menelpon suaminya, Bryan. Suaminya itu memang tak berada di kantor itu, melainkan sedang bertugas di kantor cabang yang masih berada di ibukota. Kasihan sekali, saat sudah ada Ailee dan Aiden, Bryan malah terpisah.


"Kamu semua yang nanggung biayanya, kan?" tanya Ailee menggoda.


Kimmy langsung terdiam dan merengut. Ia jadi lesu dan seolah ingin membatalkan acaranya. Dan Ailee malah terpingkal-pingkal melihatnya. Lama juga tak mengerjai Kimmy yang sedikit menyebalkan itu.