Perfect Duda

Perfect Duda
Bakso Tanpa Kuah



Tiga puluh menit berlalu, Ailee sudah mulai lelah menopang tubuhnya dengan satu kaki. Tangannya pun gemetaran dan pegal karena harus menjewer telinganya sendiri. Tapi Binar malah sepertinya melupakan Ailee, lelaki itu asyik menjelaskan materi.


"Pak..."


Binar pun menoleh kepada orang yang memanggilnya. Ia menatap Ailee yang berdiri tak tegap, goyang- goyang, dan hampir jatuh.


"Duduk!" serunya cuek. Spidol hitam kembali berada di tangannya.


Gadis itu menghembuskan napas lega. Ia lalu kembali duduk di bangkunya. Bolpoin dan buku tulisnya segera dikeluarkan, dicatatlah apa yang berada di papan tulis.


"Besok diulangi lagi ya, Nak," ledek Aiden yang kemudian langsung disentil Ailee.


"Berani meledekku, aku akan mendo'akanmu semoga sukses!" ancam Ailee.


"Ancaman macam apa itu? Kalau begitu, semuanya juga mau kali," timpal Aiden terkekeh.


Cetak!


Spidol hitam mendarat tepat di kening Aiden, ia kemudian jatuh di lantai setelah membuat kening lelaki itu sedikit memerah.


"Berdiri di depan!" perintah Binar kepada Aiden.


"Jangan, Pak! Janji nggak akan berisik lagi," ucap Aiden seraya mengatupkan tangannya memohon.


"Udah sana gantian hahaha, biar kamu ngerasain apa yang aku rasain tadi," ucap Ailee menyuruh Aiden.


"Jangan ikut campur kamu tuh!"


"Kamu mau berdiri di depan lagi?" Ailee langsung mendelik ketika Binar berbicara seperti itu, ia lalu berpura- pura mencatat sesuatu.


"Ailee, Aiden, jangan berisik lagi! Ikuti pelajarannya dengan baik!" Sora terus saja memperingatkan Ailee supaya diam dan tak aneh- aneh. Hampir bosan karena saat pelajaran dia selalu memperingatkannya, Ailee dan Aiden memang susah sekali diam. Tapi, meskipun mereka selalu berisik dan asyik sendiri di kelas, mereka tetap bisa menerima pelajaran dengan baik dan selalu mendapat ranking kelas maupun paralel.


"Jika kalian tak bisa diam lebih baik keluar dan tak perlu mengikuti kelas saya hingga ujian akhir." Kelas kembali kondusif setelah Binar memberikan ultimatum seperti itu.


Satu setengah jam telah berlalu, bel pergantian mata pelajaran pun sudah terdengar. Segeralah Binar membereskan bukunya dan menutup kelas.


"Jangan lupa pelajari materi berikutnya, kelas saya cukupkan. Sampai bertemu hari Rabu."


"Pak, boleh diulang nggak?" celetuk Ailee, semuanya pun menoleh ke arahnya. Binar mengernyit tak paham apa yang harus diulang.


"Apanya yang harus diulang?"


"Senyumnya Bapak boleh diulang nggak?" jawab Ailee membuat semuanya bersorak. Binar tadi sempat tersenyum tapi tak berlangsung lama, oleh karena itu Ailee menyuruh untuk mengulangnya lagi. Senyumnya Binar sangat manis, Ailee jadi ingin melihatnya selalu.


Guru matematika itu mengusap wajahnya secara kasar sebelum pergi meninggalkan kelas MIPA 1. Sebenarnya ia tak lelah meskipun harus mengajar seharian penuh, tapi untuk menghadapi Ailee ia rasa tak sanggup bila hanya satu atau dua jam saja. Ailee benar- benar membuatnya kesal.


"Eh, kamu sama guru jangan gitu dong. Nggak sopan namanya," ucap Sora menyenggol lengan Ailee.


"Biarin! Aku tuh lagi jatuh cinta! Pak Binar, I'm fall in love with you..." Ailee sudah seperti orang gila, ia menyangga dagunya dengan kedua tangannya, senyum- senyum sendiri membayangkan wajah tampan Binar.


"Jangan gila jadi orang tuh! Dia itu guru kita!" timpal Aiden.


"Tapi kan dia duda."


"Dia itu PERFECT DUDA," ucap Ailee tak terima. Aiden dan Sora hanya bisa mengiyakan. Biarkan Ailee berbuat semaunya, lelah juga memberikan gadis itu pengertian.


Jam istirahat pun tiba, Ailee dan Sora segera menuju ke kantin mengisi perut yang telah kosong. Sedangkan Aiden memilih untuk ke lapangan basket. Sudah lama ia tak bermain basket di lapangan sekolahnya.


"Bu Tut, bakso tanpa kuah seperti biasanya ya," ucap Ailee kepada Bu Tutik, salah satu pemilik kedai di kantin yang menjajakan aneka ragam makanan bergizi serta lezat dan salah satunya adalah bakso.


"Dari kelas sepuluh kok pesennya bakso tanpa kuah terus sih, Neng? Nggak mau nih sekali- kali pakai kuah?" Bu Tutik selalu berkata seperti itu, ia heran dengan Ailee yang enggan sekali untuk memakai kuah saat memakan bakso padahal rasanya akan jauh lebih nikmat.


"Ish, kalau pake kuah malah nggak enak, Bu."


Lima buah bakso berukuran sedang dengan tambahan bawang goreng serta potongan daun bawang kesukaan Ailee sudah siap, begitu juga dengan pesanan Sora. Tapi Sora memesan bakso seperti orang normal, tak seperti Ailee.


"Gabung sama Kimmy sama Bryan yuk!" ajak Sora. Kimmy adalah anak kelas dua belas tapi berbeda kelas dengan Aiden, Ailee, dan juga Sora.


"Halo, cantik. Bagaimana hari pertama kalian?" tanya Kimmy riang seperti biasanya. Lucu, gokil, dan terkadang menjengkelkan, itulah Kimmy.


"Seneng banget dong, apalagi wali kelasku itu tampan banget," jawab Sora.


"Jangan terlalu memujinya, dia itu milikku. Jangan jatuh cinta apalagi mencoba mendekatinya," ucap Ailee membuat Sora memutar matanya karena malas.


"Siapa sih emangnya? Kepo nih," ucap Bryan, lelaki yang sedari tadi duduk di samping Kimmy yang merupakan teman sekelasnya wanita itu. Keturunan dari Clara dan Devano.


"Ah, itu orangnya!" Ailee berteriak menunjuk Binar yang saat itu membawa bakso dengan segelas jus jeruk dan mencari tempat duduk.


Ailee langsung berlari menghampirinya, tak lupa membawa baksonya dan juga jus jeruk miliknya. Tanpa basa basi lagi, ia duduk di hadapan Binar yang kebetulan kursi itu kosong.


Bryan, Sora, dan Kimmy hanya mengangahkan mulut mereka. Berani sekali Ailee mendekati guru sampai seperti itu. Mereka mencoba memperingatkan Ailee untuk pergi dari sana, tapi anak itu malah cengengesan dan tak mau beranjak.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" seru Binar. Ia kesal sekali, kenapa dirinya selalu bertemu dengan anak itu.


"Nggak ada sih, Pak. Inisiatif aku sendiri, aku kasihan lihat bapak makan sendiri jadi aku temenin deh," jawab Ailee sembari menggigit baksonya.


Binar merasa risih, karena Ailee terus melihatnya saat makan. Ingin sekali dirinya pergi dari sana, tapi sudah tak ada tempat duduk lagi.


"Pak Binar tampan banget sih?"


Entah sudah berapa kali dalam sehari ini ia mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Ailee. Binar cepat- cepat menghabiskan baksonya, supaya bisa pergi dari sana. Ia tak sengaja melihat mangkok Ailee yang ternyata tak ada kuah bakso dan mie di sana. Anak itu benar- benar aneh.


"Kenapa senyum- senyum sendiri, Pak? Aku cantik ya," ucap Ailee kepedean, padahal Binar tersenyum karena melihat dirinya makan bakso tanpa kuah.


"Cantik tapi aneh!" batin Binar. Ia segera berdiri meninggalkan kantin.


Ailee menatapnya terkagum- kagum, menyorot lelaki itu hingga hilang dari pandangannya. Mau dilihat dari manapun Binar tetap tampan. Ah, dia jadi ingin memilikinya. Pokoknya dia harus mendapatkan lelaki itu.



Itu AileešŸ˜cantik, lucu, tapi ngeselin – kata BinaršŸ˜‚