Perfect Duda

Perfect Duda
Semburan Cinta



Keduanya saling terdiam, duduk di kursi teras rumah dengan meja bundar sebagai jarak antara mereka. Bayi mungil itu duduk di pangkuan papanya, juga terdiam. Sepertinya lelah setelah berjam-jam bermain dengan Ailee. Tak hanya bermain, tapi sedikit demi sedikit Ailee mengajarkannya berjalan. Binar dan Ailee saling tatap, kemudian mengalihkan pandangan. Begitulah yang mereka lakukan.


Anak-anak panti pun tampak girang dengan mainan mereka. Taman panti asuhan itu penuh dengan anak di rentang usia yang berbeda. Meski begitu semuanya masih bisa akrab dan menyesuaikan diri.


Menatap anak yang tengah bermain riang ternyata mampu mengusir penat. Tawa mereka seakan menghadirkan sesuatu yang lain.


"Di mana mamaku?" celetuk Binar memecah keheningan antara mereka. Ia sampai lupa keberadaan mamanya. Ailee malah menaham tawa, Binar bertanya layaknya anak kecil– lucu sekali.


"Bu Melati lagi di RT sebelah, katanya mau arisan kompor," jawab Ailee sesuai dengan ucapan Bu Melati sebelum pergi meninggalkannya dengan Clarissa tadi.


"Dan sepertinya bulan depan akan arisan wajan."


Binar menggelengkan kepala, tebakannya itu sudah pasti terjadi. Bulan lalu arisan panci, sekarang arisan kompor, sudah pasti bulan berikutnya akan arisan wajan, dan perkakas lainnya.


Lelaki itu kembali menoleh kepada gadis di sampingnya yang tengah mengayunkan kaki. Gadis dengan rambut yang diikat tinggi itu tak juga sadar jika diperhatikan Binar.


"Ngapain kamu masih di sini?" tanya Binar dengan nada ketus.


"Tadi Bu Melati pesan sama aku nggak boleh pulang dulu kalau dia belum pulang, takut Clarissa kenapa-kenapa."


"Kan udah ada papanya, kenapa masih ada di sini?"


"Apa perlu aku mengulang alasannya lagi?" Ailee mulai kesal. Ia memang seperti itu, jika sudah diberi amanah apapun itu pasti akan dilaksanakan sesuai dengan perintah si pemberi amanah.


"Hati-hati ya, Bu. Jangan lupa arisan bulan depan tanggalnya maju..."


"Wahh, sudah tak sabar ini, Bu..." Obrolan antara emak-emak kampung itu terdengar jelas, satu di antaranya sangat dikenal. Bu Melati dengan tas jinjing berwarna cokelat tengah mengobrol dan berpamitan dengan teman arisannya yang lain.


"Itu calon mantunya cantik banget, Bu," seru salah satu emak- emak.


"Iya ya cantik banget, gemes juga. Aduhh, kok jadi pengen punya menantu kaya dia ya..." sahut yang lain. Ailee yang mendengarnya pun memerah dan tersenyum malu. Sangat senang.


"Nggak usah didengerin, mereka itu cuma bercanda," ketus Binar membuat senyum gadis itu memudar seketika.


"Syirik banget sih lihat orang bahagia," cebik Ailee.


"Pulang sana! Tuh Bu Melati udah pulang, jadi kamu juga harus pulang."


"Nanti aja sama Pak Binar sekalian," seru Ailee. "Kita kan ada jadwal les private hari ini, jadi sekalian aja kita ke rumahku," tambah Ailee memperjelas kalimatnya tadi dikarenakan lelaki yang diajak bicara nampak kebingungan.


Pengingat ponsel Binar pun menyala, lelaki itu langsung menepuk keningnya menatap layar ponselnya. Bagaimana bisa dirinya lupa jika ada jadwal untuk les private dengan Aiden dan Ailee.


"Kenapa bisa lupa ya..." gumam Binar.


"Karena Pak Binar emang pelupa, dan faktor..."


"Jangan dilanjut!" potong Binar dengan cepat, ia sudah tahu betul apa yang akan dikatakan Ailee selanjutnya.


"Faktor Usia!" lanjut Ailee lantang. Ia terkekeh gemas hingga menggebrak meja di sampingnya. Sedangkan Binar hanya mendengus kesal karena diledek Ailee terus menerus.


"Kamu tahu jika aku tua, tapi kenapa kamu masih ngejar aku? Nggak malu sama Om-om? Duda beranak satu pula?" tanya Binar dengan serius. Ia ingin tahu alasan dari gadis yang sejak pertama kali bertemu tertarik dengannya.


"Enggak." Ailee menggeleng, senyum cerianya tak pernah pudar, selalu terlukis dengan jelas apalagi ketika bersama Binar. "Pak Binar kan masih 24 tahun, kita cuma beda 7 tahun. Kata mama itu wajar, sangat cocok malahan. Hanya tujuh tahun, tak masalah," ucap Ailee menunjukkan kedua tangan dan melipat kedua jarinya– berjumlah delapan bukan tujuh.


"Kamu kalau pelajaran pinter ya, tapi gini doang bodoh!" Binar menurunkan satu jari Ailee supaya berjumlah tujuh, bukan delapan.


"Jaj ajaja ja."


Clarissa yang sedari tadi mendengarnya pun turut berceloteh, ia menepuk tangannya seolah senang dengan obrolan Binar dan Ailee. Sedangkan Ailee sangat gemas, ia berdiri dan menggendong Clarissa. Dikecup tiada ampun hingga bayi itu terpingkal-pingkal karena geli.


Brugh...


Tumpukan beberapa buku tebal dilemparkan Ailee dan Aiden di tengah meja tempat mereka belajar dengan Binar. Buku-buku yang harus dipelajari untuk masuk ke universitas, tapi bukan universitas negeri di Indonesia melainkan universitas di luar negeri.


Binar mengambil buku yang dilemparkan secara kasar tadi. Dibaca judul dari sampul tersebut, ia lalu melirik Aiden dan Ailee yang menyandarkan tubuh mereka di sofa dan terlihat malas sekali.


"Kita mau kuliah di Indonesia aja, nggak mau di luar negeri," lirih Aiden dengan helaan napas panjang.


"Bukankah kuliah di luar negeri itu jauh lebih baik? Pendidikan di sana bagus dan lebih maju dari Indonesia, sudah dipastikan jika nanti kalian akan terdidik lebih unggul daripada lulusan universitas di sini," jelas Binar panjang lebar. Tangan lelaki itu masih asyik membuka lembar demi lembar buku tersebut.


"Nanti kalau kuliah di luar negeri gimana sama Sora? Apa dia kuat LDR-an sama aku?" tanya Aiden tanpa malu sedikitpun.


"Memangnya kalian sudah menjalin hubungan? Kok LDR-an?" Pertanyaan Ailee itu begitu menusuk Aiden, membuatnya langsung salah tingkah.


"Belum sih, tapi akan segera." Aiden menjawab dan memalingkan wajahnya dari dua orang yang menatapnya dengan seksama.


"Kalau aku..." Ailee memutus kalimatnya sejenak karena mamanya datang dengan tiga jus alpukat dan cemilan untuk mereka.


"Ngobrolin apa?" tanya Aza menyelidik. Ia kemudian berlalu setelah mendapat gelengan kepala dari kedua anaknya.


"Nanti kalau aku kuliah di luar negeri pasti Pak Binar sedih dan kesepian," lanjut Ailee.


Pfffttt...


Binar menyemburkan jus alpukat yang baru saja diteguknya tepat di wajah Ailee yang kebetulan duduk dekat dengannya.


"Pak Bin!"


"Maaf, maaf... Kamu sih ngomongnya ngelantur, jadi kaget kan!"


Binar merasa bersalah, ia menarik tissu begitu banyak dan membersihkan wajah Ailee. Tak hanya wajah saja rupanya yang terkena semburan, tapi juga rambut yang tengah digerai cantik.


"Obat nyamuk...ehem...ehemm..." celetuk Aiden, ia merasa asing di sana. Melihat dua orang yang hanya seperti itu tapi sangat romantis membuat jiwanya bergelora menginginkan hal yang sama pula.


"Udah bersih," seru Binar ketika wajah dan rambut Ailee tak ada lagi bercak hijau karena jus alpukat.


"Sembur lagi dong, Pak. Aku mau dibersihin sama Pak Binar lagi," sahut Ailee tersipu malu. Ia begitu senang karena Binar terlihat cemas saat membersihkan wajahnya tadi. Sentuhan tangan lelaki yang begitu menggoda itu membuat Ailee menginginkan hal lebih. Ia ingin mengulangnya lagi supaya wajahnya kembali mendapat sentuhan Binar.


Cetakkk!


Sentilan dari tangan Binar mendarat di kening Ailee. Hanya itu yang diharapkan mampu menjernihkan otak Ailee dari hal-hal yang aneh.


"Memangnya Pak Binar mbah dukun apa?" Aiden nampaknya sangat iri, ia ketus dalam bertanya. Mulutnya diisi penuh kentang goreng yang masih hangat buatan sang mama.


"Dukun Cinta! Pak, Ayo sembur aku lagi. Kali ini harus semburan cinta, bukan jus alpukat!" rengek Ailee membuat Binar bergidik ngeri.


Ternyata sentilannya belum juga menetralkan isi kepala gadis itu. Apa perlu disentil sampai dua puluh kali? Ah tidak, nanti kalau malah gagar otak gimana? Binar harus memikirkan cara lain!


.


.


.


Coba tebak😂Nanti Ailee bakal kuliah di Indo demi Binar apa tetep ke Jepang? wkwk