Perfect Duda

Perfect Duda
Anak Kandung



Sama halnya dengan perusahaan lain, Sanjaya Group memulangkan karyawannya ketika senja mulai menyapa. Ribuan karyawan tentu saja girang ketika waktu kerja mereka telah usai. Penat seharian bekerja seakan lenyap ketika senja.


Ailee pun bersiap untuk pulang, sebenarnya masih ada banyak pekerjaan tapi ia memilih membawanya pulang dan dikerjakan di rumah saja. Kimmy pun sama, sebagai ketua divisi keuangan ia sangat sibuk ketika akhir bulan dan apalagi akhir tahun.


Seperti biasa, mereka berdua menunggu jemputan sang suami di loby. Bryan ternyata sudah sampai terlebih dahulu dibandingkan dengan Binar, Ailee pun tinggal sendiri di loby tersebut. Dan tak lama kemudian seorang anak kecil dengan kuncir dua berlari menghampirinya.


"Mama..."


"Halo, Sayang. Di mana Papa?" tanya Ailee ketika tak mendapati Binar dan hanya ada Clarissa saja yang menghampirinya.


"Papa tadi lagi bicara sama Tante yang waktu itu numpahin minuman ke meja kita, Mah," jawab Clarissa.


Ailee pun segera mengajak Clarissa untuk meninggalkan tempat tersebut. Terlihat di depan pintu masuk terdapat Binar yang sedang berbincang dengan Maya. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya seakan tengah memohon sesuatu padanya.


Dan ketika Binar melihat Ailee serta Clarissa datang, ia segera mengisyaratkan mereka untuk masuk ke dalam mobil. Dua orang itu patuh dan langsung menurutinya. Obrolan Binar dan Maya masih berlanjut, tapi Ailee tak dapat mendengarnya dengan jelas.


"Biarkan Clarissa bersamaku, aku tak yakin jika dia harus bersamamu. Permisi!" seru Binar yang terdengar samar oleh Ailee.


"Bin, kumohon biarkan Clarissa tinggal bersamaku. Bagaimanapun juga dia anak kandungku, Bin," ujar Maya tapi tak digubris oleh Binar dan lelaki itu malah langsung masuk ke mobilnya kemudian melaju meninggalkan Sanjaya Group.


Binar terlihat marah, Ailee dan Clarissa pun hanya bisa diam tak berani bertanya hingga mereka sampai di rumah. Lelaki itu masih menutup mulutnya dan melenggang masuk ke kamar merebahkan tubuhnya. Sedangkan Ailee langsung mandi karena tubuhnya sudah lengket.


Sama halnya seperti tadi sore, Binar masih terdiam. Raut wajahnya tak dapat diartikan dengan pasti, akan tetapi terlihat jika lelaki itu menyimpan marah sekaligus ketakutan yang teramat. Kali ini Ailee memberanikan diri untuk mendekatinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Binar yang tengah duduk di sofa kamar menyaksikan televisi. Pelukan pun diberikan berusaha menarik perhatian lelaki itu.


"Tadi Maya bilang kalau dia mau merawat Clarissa..." lirih Binar yang akhirnya angkat bicara. Sontak saja Ailee langsung berdiri tegap menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


"Lalu, apakah kamu memperbolehkannya?"


Lelaki itu terdiam dan memberikan gelengan kepala. Ia lalu memberitahu jika tak akan membiarkan Maya merawat Clarissa meskipun kini wanita itu telah banyak berubah. Binar tak mudah percaya dengannya, ia tahu betul bagaimana Maya. Wanita itu pasti memiliki niat buruk terhadap Clarissa.


Ailee mengusap dada suaminya berusaha memberikan ketenangan. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Binar. Dan ia juga sedih mendengarnya kabar itu, tak rela jika Clarissa harus pergi meninggalkannya.


"Sebenarnya aku dulu sudah mengadopsi Clarissa ketika tahu jika dia bukanlah anak kandungku. Maya dan suaminya menyetujui karena mereka memang tak menginginkan anak perempuan, tapi kenapa sekarang mereka meminta Clarissa kembali..."


Mungkin mereka telah merasakan karma karena menelantarkan anaknya. Dan kini mereka menginginkan Clarissa untuk kembali. Tapi ini juga salah, Clarissa telah menjadi milik Binar. Surat adopsi akan menjadi tameng jika suatu saat Clarissa diambil alih. Dan yang ditakutkan Binar adalah jika suaminya Maya itu akan melakukan berbagai cara, toh dia adalah pengacara kondang di negeri ini.


Meski ketakutan masih menderu, tapi Binar harus meyakinkan diri jika hal yang ia takutkan itu tak akan pernah terjadi. Tuhan pasti akan berpihak padanya.


...*****...


Rumah itu terasa panas. Tiap hari hanya terdengar perdebatan hebat antara suami istri yang telah lama menjalin cinta namun tak kunjung diberi keturunan juga. Maya dan Marvel, dua orang yang dulunya menjadi pengkhianat Binar.


Pertengkaran terjadi karena Maya bisa hamil juga, sedangkan Marvel sangat ingin memiliki seorang putra yang akan menjadi penerusnya kelak. Dulu, mereka memang dikaruniai seorang anak perempuan, dan itu bukanlah keinginan Marvel. Menurutnya anak perempuan itu sangat lemah dan tak bisa diandalkan. Ia hanya ingin memiliki seorang anak lelaki.


"Begitu saja tak becus!" gertak Marvel, suami Maya. Lelaki itu selalu saja menyalahkan istrinya ketika tak berhasil mengambil alih hak asuh anaknya, Clarissa.


Dulu mereka memang tak menginginkan anak perempuan, maka dari itu memperbolehkan Binar untuk mengadopsinya. Dan kini mereka tersadar jika perempuan maupun lelaki itu sama saja.


Maya tak bisa memiliki keturunan lagi karena dulu pernah hamil dan mengalami keguguran hebat hingga rahimnya harus diangkat. Marvel memaklumi, toh mereka juga telah memiliki keturunan sebelumnya yaitu Clarissa. Mereka hanya ingin Clarissa kembali ke pangkuan dan merawat sebagaimana mestinya.


"Binar dan istrinya terlalu menyayangi Clarissa, mereka akan sulit melepas Clarissa kembali untuk kita. Jika mereka mau menyerahkannya, belum tentu juga Clarissa mau tinggal bersama dengan kita," ujar Maya tersedu.


Wanita itu merasa bersalah karena tak merawat anaknya sejak bayi hingga kini berusia tujuh tahun. Kini dirinya benar-benar menyesal dan hendak memperbaiki semuanya. Clarissa harus kembali padanya dan sebisa mungkin dirinya harus memberikan yang terbaik untuk anak itu.


"Besok aku akan berbicara dengan Binar," seru Marvel melembut. Ia memang lelaki seperti itu, jika marah tak berlangsung lama dan semua akan kembali seperti semula.


"Aku ingin Clarissa..." lirih Maya yang masih saja terisak. Ia hanya bisa mendekap foto Clarissa yang ia dapat dari sosial media Ailee dan Binar.


Marvel nampak berpikir keras. Clarissa memang sudah menjadi milik Binar, surat adopsi akan memperkuat jika dirinya mengambil jalur hukum dan dia akan tetap kalah. Lelaki itu harus mengupayakan berbagai cara yang baik supaya bisa memeluk anaknya kembali.


Mereka memang bodoh, andai saja dulu mau merawat Clarissa dan mengakui jika anak itu adalah anak kandung mereka mungkin saat ini keluarga itu akan sempurna dan bahagia selalu mendatangi. Nasi telah menjadi bubur, kejadian dulu tak bisa diulang dan diperbaiki lagi. Semuanya telah terjadi, yang hanya bisa dilakukan saat ini adalah berusaha supaya semuanya baik-baik saja.


.


.


.


Bentar lagi Perfect Duda tamat ๐Ÿ˜ข Abis ini kalian mau cerita apa?



Aiden dan Sora yang terjebak zona persahabatan yang sangat rumit, atau


Keturunan Binar dan Ailee yang berebut jodoh hingga hubungan persaudaraan terpecah?



Help me to choose one๐Ÿ˜‚