
Lelaki itu terus saja merutuki dirinya, bagaimana bisa dia sangat ceroboh dan tak teliti untuk hal kecil. Pengalamannya tertukar koper ini tak akan pernah dilupakan, dan semoga tak terulang lagi karena ini adalah hal yang memalukan.
Beruntung masih ada pakaian Aiden yang ada di kamar apartemen itu jadi Binar bisa berganti dan bersiap ke bandara lagi– menukar kopernya. Namun, ada yang aneh...
"Apa ini benar-benar pakaian Aiden? Kenapa aneh sekali," tanya Binar kepada Ailee. Gadis itu terpingkal-pingkal dibuatnya saat melihat dirinya baru saja selesai mandi.
"Seksi banget sih, Pak."
"Itu sebenarnya piyama punya Oma Anandhi yang tertinggal di sini. Ternyata Pak Binar muat juga ya, kelihatan seksi banget..." Gadis itu puas karena telah mengerjai Binar. Ia tak henti-hentinya tertawa melihat Binar yang menggelikan.
Lelaki itu hanya mendengus kesal karena dikerjai Ailee. Badannya yang kekar terlihat seksi karena piyama macan tutul yang melekat sempit dan menyesakkan dada.
"Berikan pakaian lain. Masa iya aku keluar dengan piyama macan tutul."
Ailee lalu memberikan kaos Aiden, ia memang sengaja membuat Binar kesal terlebih dahulu. Karena dirinya juga masih kesal dengan lelaki yang tiba-tiba saja mengikutinya.
Usai pertikaian kecil antara koper dan piyama macan tutul, mereka pun bertolak ke Bandara Haneda tak lupa membawa koper yang entah punya siapa. Ailee lalu berbincang pada satpam yang sangat ramah dan mengenalnya juga. Ternyata memang tadi ada orang yang memberitahu jika kopernya tertukar, dan menitipkannya pada satpam tersebut.
Binar pun mengeceknya dan itu memang koper miliknya. Koper yang entah punya siapa itu lalu dititipkan kembali kepada satpam tersebut karena sang pemilik akan kembali esok harinya.
"Owabi o kare ni tsutaete kudasai. Arigatou gozaimasu," ucap Ailee membungkukkan badannya kepada satpam tersebut.
(Tolong sampaikan maaf kami kepadanya, terima kasih.)
"Ma watashi wa iudeshou," jawab satpam tersebut.
(Baik, akan saya sampaikan.)
Lega akhirnya bisa berjumpa dengan kopernya lagi. Memang tak ada barang yang terlalu penting, tapi akan menyusahkan sekali jika tak ada koper itu. Ia tak mau jika dikerjai Ailee lagi dan harus menggunakan piyama macam tutul.
Karena jarak apartemen dengan Bandara Haneda dekat, mereka pun berjalan kaki. Sudah biasa bagi Ailee, tapi Binar merasa asing jika harus berjalan kaki di malam hari. Ia hanya bisa mengikuti ke mana gadis itu membawanya karena ia memang tak tahu negara tersebut. Dia memang pernah ke luar negeri, tapi hanya negara yang dekat seperti Singapura atau Malaysia saja.
Dan ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan kaki di negara sakura. Ternyata negara ini sangatlah indah, apalagi saat malam hari. Pantas saja Ailee betah di sini. Pancaran sinar lampu yang warna warni dari toko-toko yang masih buka membuat Jepang jauh lebih indah saat malam harinya.
"Pak Bin!" teriak Ailee menariknya dari belakang.
Ternyata Binar terlalu asyik memandang Kota Tokyo hingga tak sadar jika Ailee tadi masuk ke supermarket dan dirinya malah asyik berjalan terus. Ailee lalu menarik bajunya dan mengajaknya masuk ke supermarket yang sangat besar. Bersih, rapi, dan makanannya asing semua di mata Binar.
"Mau makan malam apa, Pak?" tanya Ailee saat sampai di sudut sayuran dan lauk pauk. Di sana terdapat nikujaga (masakan daging dan kentang), salad, bento, onigiri, dan makanan cepat saji lainnya yang bisa langsung dinikmati tanpa diolah terlebih dahulu.
"Terserah kamu aja," jawab Binar. Ia lalu mengarahkan keranjang belanjaan supaya Ailee lebih mudah memasukkan makanan yang akan dibeli.
Gadis itu mengambil dua bento yang berisikan udon dan tendon (sayuran, udang, dan ikan goreng tanpa tepung). Ailee pun tak lupa mengambil ayam fillet yang dijual dengan self-service; mengambil sesuka hati dan memasukkan sendiri ke dalam kantung plastik.
Tak ketinggalan juga dengan beberapa wagashi (makanan kecil khas Jepang). Gadis itu juga membeli makanan lain untuk persediaan selama beberapa hari nanti seperti sayuran, buah, telur, ikan dan ayam, serta makanan lain yang mudah diolah.
Usai membayar dan dikemas, mereka pun langsung kembali ke apartemen. Ailee segera mengeluarkan bento dan makanan lain yang dibelinya tadi. Tak lupa menyajikan kocha untuk Binar supaya badannya lebih hangat lagi.
"Tergantung sih, Pak. Kalau tugas kuliah lagi banyak aku dan Aiden nggak sempet kalau masak, kita paling keluar buat makan atau nggak pesen," jawab Ailee diangguki Binar.
"Lalu, kapan kamu wisudanya? Kenapa keluargamu tak datang?"
"Dua hari lagi, Mama sama Papa akan datang satu hari sebelum wisuda soalnya lagi banyak pekerjaan."
Makanan telah habis, mereka berdua lalu duduk menonton televisi karena malam belum terlalu larut dan kantuk belum datang. Keduanya sama-sama canggung karena harus berada dalam atap yang sama dan hanya berdua saja.
Binar sesekali melirik gadis yang tengah memegang air putih di tangannya. Daripada menonton televisi tapi tak tahu maksudnya, lebih baik memperhatikan Ailee yang sudah sangat jelas bagaimana kecantikannya, kepolosannya, kelucuannya, dan lain sebagainya.
Ia jadi gila sendiri ketika membayangkan nanti jika mereka sudah menikah dan hidup berdua di satu rumah. Dan nanti jika mereka punya anak tentu saja akan selucu dan sepintar Ailee. Ah, dia sudah tak sabar untuk hal itu.
Cetak!
Tiba-tiba saja ada yang menyentil keningnya begitu keras. Dan Ailee sudah berada di depannya dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Jangan menatapku terus! Awas kalau sampai suka sama aku!" ancamnya yang kemudian langsung masuk ke kamarnya. Ia kesal karena Binar ternyata sedari tadi menatapnya terus.
"Aku sudah suka sama kamu, kalau kamu gimana?" seru Binar berharap didengar Ailee.
"Bodoamat, Pak!" sahut Ailee berteriak pula.
Usai mematikan televisi dan AC di ruangan itu, Binar pun masuk ke kamarnya. Ia berusaha mengintip Ailee tapi ternyata kamar itu telah dikunci rapat.
"Selamat malam, Lili. Tidur yang nyenyak," seru Binar sebelum dirinya masuk ke kamar dan beranjak tidur.
Kedua insan tersebut berbaring dan menatap langit-langit kamar. Ailee akan susah sekali tidur jika ada orang lain di tempatnya sekalipun itu adalah orang yang dikenalnya. Tetap ada rasa takut dan cemas jika suatu hal buruk terjadi. Tapi sepertinya Binar tak akan berbuat hal buruk terhadapnya.
Hampir satu jam dia mencoba untuk terlelap namun tak kunjung bisa. Berputar dan mengganti posisi pun telah dilakukan, tapi entah kenapa tak bisa tidur juga. Ailee pun memilih untuk keluar dan hendak membuat segelas susu hangat lagi. Dan ternyata Binar pun tak bisa tidur, bersamaan dengan Ailee ia keluar dari kamar.
Ailee lalu membuat dua gelas susu lagi berharap mereka segera tertidur, padahal tadi sudah meminum susu.
"Pak Bin, apa Clarissa tak menangis ditinggal?" tanya Ailee. Kini mereka berada di balkon apartemen, yang sering dijadikan tempat untuk menjemur pakaian.
"Dia menangis saat tahu kalau kamu pergi sama seperti dulu, tapi saat aku yang pergi dia tak menangis sedikit pun," ucap Binar terkekeh dan menggeleng ketika mengingat Clarissa yang ternyata lebih menyayangi Ailee daripada dirinya.
Obrolan berlanjut hingga larut malam. Sedikit obrolan menyinggung kepergian Ailee terdahulu. Mereka saling bertukar cerita apa saja yang telah dilalui selama enam tahun tak berjumpa. Ternyata mereka sama-sama menjadi manusia yang hampa dan merasa amat kehilangan. Tapi kali ini sepertinya hal seperti itu tak akan terjadi lagi.
.
.
.
Ailee ke Jepang tuh sebenarnya bukan cuma mau ngurus wisuda magisternya. Tapi karena.........