
Senja adalah waktu yang sangat dinanti- nantikan setiap orang. Kehadirannya yang sekejap mata membuat orang antusias dan berusaha tak melewatkannya. Dua anak itu masih bergelut dengan buku catatan dan juga laptop yang memperlihatkan materi pelajaran, ditemani senja dan secangkir kopi supaya kantuk tak menyerang.
Mata pelajaran yang akan diujikan besok adalah Kimia dan juga Fisika. Entah kenapa pelajaran yang cukup sulit malah dipersatukan. Ah, besok adalah perjuangan yang luar biasa.
"Aku akan membantumu mengerjakan Kimia, tapi kamu harus membantuku mengerjakan Fisika," ucap Ailee kepada kakaknya.
Aiden hanya mengangguk, ini adalah hal yang menguntungkan. Ailee sangat pandai Kimia, sedangkan dirinya tak paham. Dan sebaliknya, Aiden sangat pandai Fisika. Oleh sebab itu, mereka selalu bertukar jawaban ketika ujian mata pelajaran Fisika dan Kimia.
"Kak?"
"Hm..."
"Cafe yang berada di toko kue Oma Aira masih kosong, kan? Bagaimana kalau tempatnya dijadikan kedai kopi Pak Binar?"
"Bukankah Pak Binar sudah memiliki kedai sendiri? Dan kurasa kedainya cukup bagus."
"Tapi sempit, sering sekali pengunjungnya kehabisan tempat dan harus menunggu lama. Kalau di Cafe punya Oma Aira kan luas."
"Ah, terserah. Itu bukan urusanku, kembalilah belajar jangan memikirkan yang lain!"
Kembali berkutat dengan materi pelajaran, Aiden dan Ailee tak lagi berbicara. Mereka sudah asyik dengan latihan soal Kimia maupun Fisika yang terkadang mudah tapi terkadang juga sulit dipahami.
Kegelapan mulai menggantikan senja. Anak kembar itu belum juga beranjak dari balkon. Suasana balkon kamar kapanpun selalu nyaman dan menyenangkan. Cocok sekali untuk belajar atau sekedar bersantai.
"Aiden, Ailee, masuk sayang. Sudah gelap," seru Aza seraya menutup gorden kamar.
"Mah, apa papa belum pulang?" tanya Ailee. Ia pun membereskan buku serta mematikan laptopnya.
"Sudah sayang, lagi mandi sekarang. Ada apa?"
"Enggak kok, Mah. Aku hanya merindukannya saja," jawab Ailee.
"Bohong! Bilang aja kalau kamu mau izin untuk les privat sama Pak Binar," timpal Aiden.
Aza langsung tersenyum mencolek pipi anaknya yang merah. Ia terus saja menggoda anak perempuannya itu. Tahu betul apa yang tengah terjadi, Ailee pasti sedang merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Dan tak disangka jika ia akan jatuh cinta pada gurunya sendiri.
Ibu dua anak itu kemudian bertanya alasan yang menyebabkan anaknya itu ingin sekali les privat dengan Binar. Pasalnya, bimbel untuk anak- anaknya itu adalah bimbel offline terbaik dan mereka juga mengikuti bimbel online, lalu kenapa anaknya meminta les privat dengan Pak Binar?
"Apa kamu menyukai Pak Binar? Pasti kamu mau les privat sama Pak Binar biar bisa dekat dengannya terus, kan?" goda Aza menyenggol lengan anaknya.
"100 buat Mama!" ucap Aiden.
Wajah gadis itu telah memerah, ia tak menjawab dan menyahuti perkataan kakak maupun mamanya. Ia memilih untuk pergi dari sana dan mencari papanya.
Gadis itu berjalan mengendap- ngendap memasuki kamar papa dan mamanya. Benar dengan yang dikatakan mamanya tadi jika sang papa sedang mandi karena terdengar gemercik air dari kamar mandi. Ailee pun berdiri di depan pintu menantikan papanya.
"Papah!" seru Ailee ketika pintu kamar mandi terbuka, Aksa pun terkejut mendapati Ailee di hadapannya.
"Allahu akbar!" pekiknya seraya mengusap dada. Lelaki yang rambutnya masih basah itu pun hanya menggelengkan kepala melihat anaknya yang selalu saja membuatnya terkejut.
"Euhmmm, Papa wangi banget sih..." Gadis itu langsung memeluk Papanya dan mengikutinya ke manapun ia melangkah.
"Tunggu sebentar, Papa ingin mengeringkan rambut dulu." Aksa mulai terganggu dengan Ailee yang terus mendekapnya.
"Ailee, lepaskan..."
"Enggak mau."
"Sayang, tolong lepaskan anakmu ini. Aku ingin mengeringkan rambutku terlebih dahulu," seru Aksa kepada Aza.
"Biar aku saja yang mengeringkan, Hubby. Biarkan anak nakal itu bergelayut di tubuhmu," jawab Aza terkekeh. Ia lalu mengambil hair dryer dari tangan suaminya dan mulai mengeringkan rambutnya.
Ailee tetap duduk di samping Papanya dan tetap memeluk lelaki yang selalu membuatnya nyaman itu. "Pah, Ailee dan Kak Aiden boleh nggak les privat dengan Pak Binar?" tanyanya pelan, bahkan hampir tak didengar.
"Bicara yang serius, jangan pelan seperti itu. Nggak jelas!"
"Dia ingin les privat sama Pak Binar, guru matematika mereka," tegas Aza.
"Kenapa harus dia? Dan ada apa dengan guru les privat-mu yang lama?" tanya Aksa menyelidik.
"Kan Pak Binar guru matematika di sekolah, jadi lebih mudah dimengerti aja gitu dan Pak Binar itu kalau ngajar asyik, Pah," jawab Ailee.
"Bukan karena hal lain?" tanya Aksa sekali lagi untuk memastikan.
"Bukan, Ailee benar- benar mau belajar sama Pak Binar. Lagi pula kan sebentar lagi ada ujian, jadi harus belajar lebih giat lagi supaya nilainya bagus."
"Sudahlah, kamu kembali ke kamar. Nanti Papa akan membicarakan dengan Binar."
"Yessss! Eh, Papa mau ke sana langsung? Aku ikut ya?"
"Nggak, Papa capek. Nanti lewat WhatsApp saja."
Ailee membelalakkan mata, bagaimana bisa Papanya malah mempunyai nomor Binar. Sedangkan dirinya tak pernah dapat.
Binar memang low profile. Bahkan, di grup kelas saja Binar tak ikut padahal dia adalah wali kelasnya. Tapi tenang, Ailee akan segera memilikinya. Dia harus mengatur strategi untuk mencuri nomor Binar dari ponsel Papanya.
...*****...
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih tiga puluh menit. Ailee sengaja mengatur alarmnya untuk bangun menjalankan misinya– mencuri nomor Binar dari ponsel papanya.
Anak itu sudah berhasil masuk ke kamar orang tuanya. Ia berjalan mengendap- endap supaya papa dan mamanya tak terbangun. Ponsel Aksa ternyata sedang dicas dan diletakkan di atas nakas sampingnya.
Kurang tiga langkah lagi dirinya mendekat ke arah nakas. Tapi tiba- tiba kakinya kaku dan ia terdiam karena sang papa bergerak. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
"Aku menyayangimu..." lirih papanya mengecup kening mamanya dan matanya masih terpejam.
"Aku juga menyayangimu..." balas Mamanya dengan mata yang masih terpejam pula. Mereka pun saling memeluk.
Ailee tak habis pikir dengan mereka, tertidur tapi masih bisa berbicara dan saling menyaut. Benar- benar cinta mati. Salut sekali.
"Yesss," ucap Ailee dengan pelan. Ia berhasil menyentuh ponsel Papanya. Segeralah ia mengambil dan membukanya. Ponsel tak disandi ataupun dipola, Ailee pun dengan mudah membukanya.
Matanya bersinar- sinar ketika mendapati kontak Binar di sana, segeralah ia membuka ponselnya sendiri dan mencatat nomor lelaki tampan itu. Mencatat dengan teliti supaya tak ada yang salah meski satu angka saja.
Berhasil. Tapi...
"Aduh!"
"Aku lupa mentransfer uang untuk Panti Asuhan. Kasihan mereka..." pekik Aksa yang kemudian langsung bangun hendak mengambil ponselnya.
Dan Ailee masih berada di sana, ia tengkurap dan terus berdo'a supaya papanya tak menyadari kehadirannya.
Aksa menarik ponselnya yang masih dicas dan tak lupa mencabut charger dari stop kontak. Ia lemparkan charger tersebut sembarang arah hingga kepala charger itu mengenai kepala Ailee, memekiklah gadis itu– membuat Aksa serta Aza terkejut.