Perfect Duda

Perfect Duda
Pak, tanganku hilang!



Binar pun terpaksa membawa Ailee pulang ke rumah. Ia sudah kehabisan akal untuk membuat Ailee tak ikut dengannya, tapi gadis itu sangatlah angkuh. Sudah berkata ikut dan berarti memang harus ikut.


Hujan turun malah semakin deras, tangan Ailee mulai menggigil. Udara sangat dingin apalagi Binar melajukan motornya dengan cepat membuat Ailee semakin membeku.


"Hey, kamu masih hidup nggak?" tanya Binar dengan suara yang sangat kencang karena takut tidak didengar gadis yang memboncengnya.


"Astaga, Pak! Nanyanya gitu amat!"


Wajar jika Binar bertanya seperti itu, udaranya sangat dingin, dirinya saja yang memakai jaket tebal masih merasakan dingin apalagi dengan Ailee yang kala itu hanya memakai kaos dan celana pendek. Lama kelamaan, Binar pun tak tega. Ia berhenti sejenak di depan warung sate untuk berteduh.


"Kenapa berhenti? Kan belum nyampe?"


"Turun!" ucap Binar tegas. Ailee pun segera turun, tangannya memegang motor Binar, takut jika dirinya nanti ditinggal.


Lelaki itu segera melepas jas hujan miliknya. Ia melemparkannya kepada Ailee dan menyuruhnya memakai.


"Pakai cepat!"


"Terus Pak Binar gimana?"


"Saya sudah biasa hujan- hujan, lagi pula saya memakai jaket, nggak masalah."


Binar kembali naik ke motornya, cukup lama ia menunggu Ailee memakai jas hujan miliknya. Ia yakin jika sebelumnya Ailee pasti tak pernah memakainya.


"Pak, tanganku hilang!" seru Ailee, Binar pun menoleh ke arahnya. Ia terpingkal- pingkal melihat Ailee memakai jas hujan yang kebesaran. Tangannya sampai tak terlihat lagi.


"Dilipat dulu, astaghfirullah..." Binar pun menarik tangan Ailee dan melipat jas hujan itu supaya tangannya terlihat.


Gadis itu terpukau saat melihat Binar dengan jarak dekat, jantungnya kembali bergejolak. Fix, dia benar- benar jatuh cinta dengan lelaki itu.


"Bapak tampan!"


Binar langsung menghempaskan tangan Ailee dan menyalakan motor. Ailee pun berteriak sembari berlari mengejar motor Binar. Lelaki itu lagi- lagi tertawa lepas melihat Ailee dengan jas hujan kebesaran berlari mengejarnya.


Tak lama kemudian, setelah adegan tak diinginkan, mereka sudah tiba di rumah Binar. Cukup jauh Ailee mengejar Binar yang melajukan motornya tadi, Binar memang tak punya hati. Bagaimana bisa lelaki itu membiarkan gadis secantik Ailee berlari di tengah hujan dengan jas hujan yang kebesaran. Ailee baru saja naik ke motor setelah hampir sampai di rumahnya Binar. Olahraga sore yang menyebalkan.


Terlihat Bu Melati yang tengah menggendong Clarissa duduk menantikan Binar. Ailee yang masih terengah- engah dan lelah pun kembali bersemangat melihat putri kecil di gendongan Bu Melati.


"Halo, Clarissa!" seru Ailee, setelah turun dari motor ia hendak berlari menghampiri Clarissa tapi dihentikan Binar.


"Lepas jas hujannya dulu! Jangan langsung menggendong anakku, lagi pula tubuhmu dingin nanti Clarissa malah sakit!"


"Iya- iya..."


Bu Melati terheran- heran melihat Binar yang pulang dengan anak gadis orang. Ia pun bertanya pada Binar tapi lelaki itu enggan sekali menjawabnya, sangat malas.


"Halo, Nak Ailee..." sapa Melati. Ia pun mengajak Ailee masuk ke dalam.


Rumah yang sederhana dan tak begitu luas, hanya ditinggali Binar, Ibunya, serta putri kecilnya. Bahkan, rumah itu jauh lebih kecil dan sempit dibanding dengan panti asuhan yang mereka kelola. Terlihat nyaman dan asri, siapapun pasti akan betah.


Ailee pun duduk di kursi kayu panjang menghadap televisi. Bu Melati menuju ke dapur, membuatkan teh hangat untuk Ailee, sedangkan Clarissa sudah nyaman digendongan gadis berusia 17 tahun itu.


"Utu-tu, sayangnya Mama anteng banget sih tidurnya. Mama cium- cium kok nggak bangun sih..." seru Ailee sembari menghujani kecupan pada Clarissa yang masih nyenyak tidur di gendongannya.


Bu Melati datang dengan secangkir teh hangat, ia senang sekali melihat cucunya digendong Ailee. Wanita paruh baya itu bangga dengan gadis yang terlihat dewasa.


"Minum dulu tehnya biar tubuhmu hangat, Nak," ujar Bu Melati.


"Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan."


"Jangan menggendongnya terlalu lama! Kemarikan Clarissa," seru Binar dan langsung mengambil alih Clarissa.


Ailee memberikannya, ia tertegun dengan Binar yang hanya memakai kaos dan celana pendek. Rambutnya yang basah semakin membuat aura lelaki itu terlihat. Binar jauh lebih tampan saat memakai kaos.


"Tutup mulutmu!"


Bu Melati menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sangat galak dengan Ailee. Sikap Binar kepada wanita selain dirinya memang berbeda. Lelaki itu tampak acuh dengan siapapun wanita yang berada di dekatnya. Kejadian masa lalu membuatnya menutup hati rapat- rapat, tak akan ada wanita lagi yang bisa mengisi hatinya.


"Binar, jangan galak- galak," ucap Bu Melati mengusap lembut bahu anaknya.


"Salah, Pak. Aku kalau digalakin malah nggak ngerti. Ngertinya kalau disayang..." ucap Ailee malu- malu. Bu Melati tertawa kecil mendengarnya, ia mencubit hidung Ailee karena gemas.


"Tuh denger sendiri kan dari anaknya. Minta disayang," goda Bu Melati.


Melati dan Ailee pun mengobrol sejenak, mereka sangat akrab sekali. Sudah seperti ibu dan anak, di sisi lain Binar pun menguping obrolan mereka yang sebagian besar membicarakan dirinya.


"Binar memang seperti itu orangnya, tapi aslinya itu dia penyayang dan hangat," ujar Bu Melati. Ailee mengangguk, ia sendiri juga tahu. Binar selalu acuh dengannya, tapi kalau dengan anaknya dia terlihat sangat sayang.


"Cup...cup..." Clarissa terbangun, ia menangis kencang. Binar kewalahan menenangkannya. Ailee yang mendengarnya pun langsung mendekati Binar dan Clarissa.


"Ututu...anak Mama sudah bangun ya."


Binar langsung menyentil kening Ailee, ia sangat jengkel jika gadis itu menyebutkan dirinya sebagai Mama Clarissa.


"Berhenti menyebut dirimu Mamanya Clarissa atau saya tak akan memperbolehkanmu untuk menemui Clarissa selamanya?" seru Binar.


"Iya- iya..."


"Papamu galak sekali," bisik Ailee kepada Clarissa, bayi itu pun lantas terkekeh seakan mengerti semuanya.


"Lariiii..." teriak Ailee mengajak Clarissa pergi menjauhi Binar yang kala itu sudah bersiap menyentil keningnya lagi.


"Binar..." lirih Melati mengisyaratkan Binar supaya tak nakal dengan Ailee.


Senja mulai meredup, langit tak lagi jingga tapi abu. Kegelapan akan segera menyapa, Ailee duduk di teras panti ditemani Bu Melati. Sedari tadi mereka menunggu hujan reda.


"Sudah mulai reda, hampir gelap juga. Sebaiknya kamu segera pulang ya, takut dicariin Papa sama Mamamu. Ibu akan memanggil Binar dulu," ujar Bu Melati, ia masuk ke dalam mencari Binar supaya mengantar Ailee pulang. Butuh cara ampuh untuk membujuk Binar supaya mau mengantarkan Ailee pulang. Lelaki itu malas sekali.


Ailee begitu menikmati perjalanan pulangnya, ia dekap erat tubuh Binar dari belakang dengan dalih takut jatuh. Padahal ia sebenarnya tak takut sama sekali. Pandai cari kesempatan. Binar menambah kecepatan motornya supaya cepat sampai di rumah Ailee dan lepas dari anak itu.


"Pak, nanti anterin ke supermarket aja ya!"


"Hm..."


"Aduh, Pak!" Ailee menepuk pundak Binar hingga lelaki itu terkejut.


"Apaan sih!"


"Payung yang kubawa tadi masih di supermarket! Ilang nggak ya?" Ailee baru teringat jika dirinya tadi melupakan payung biru yang ia bawa.


"Bukan urusan saya!"


Sesampainya di supermarket, Ailee langsung turun dan mencari keberadaan payungnya. Ia bernapas lega karena payungnya masih terletak di depan supermarket. Aman, jika hilang dirinya pasti akan dimarahi Mamanya karena itu adalah payung kesayangan.


"Yaudah, naik cepet!" ucap Binar menyuruh Ailee kembali naik ke motor.


"Aku jalan saja, Pak. Nanti kalau Pak Binar ke rumah dan Papa tahu pasti akan dimarahi. Papa tuh cerewet orangnya. Dia itu sensitif banget kalau aku jalan sama cowok."


Belum sampai ceritanya selesai, Binar ternyata sudah melajukan motornya meninggalkan dirinya. Ailee tadi berkata tak perlu diantar ke rumahnya, oleh karena itu Binar langsung pergi dari sana.


"Pamit dulu atau apa kek! Main nyelonong pergi aja tuh orang! Untung ganteng, coba kalau enggak, langsung aku geprek dah!" gerutu Ailee.


Ailee mendelik, Papa, Mama, dan Kakaknya berkacak pinggang di teras rumah. Sepertinya dia pergi terlalu lama hingga membuat semuanya khawatir.


"Dari mana saja kamu? Pamit dari jam empat pulang jam enam!" gertak Aiden. Aksa dan Aza langsung memandanginya dengan tatapan jengkel.


"Kenapa jadi kamu yang memarahinya? Harusnya papa, ishhh menyebalkan sekali!" gerutu Aksa mencubit perut Aiden.


"Maaf, Pah..." sahut Aiden tergelak.


Ailee yang tadinya takut pun malah jadi tertawa. Ia langsung mendekap Mamanya yang tingkat emosinya lebih rendah dari pada Papa dan Kakaknya.


"Tadi di sana hujan badai, Mah. Banjir juga sampai selutut, jadi Ailee menunggu hujannya reda dan banjirnya surut," ucap Ailee kepada sang Mama.


"Alasan saja kamu ini. Sudahlah yang penting kamu sudah pulang, ayo segera ganti baju badanmu dingin banget nih," ujar Aza. Mereka pun segera masuk dan meninggalkan dua lelaki yang masih berdebat.