
Menjadi pelajaran berharga bagi Binar untuk tidak berprasangka buruk dan selalu meneliti semuanya hingga tak ada kesalahan yang akan menyakiti dirinya sendiri. Terdengar lucu, bahkan dua hari setelah pertemuan lalu Binar tak nafsu makan dan selalu murung.
Pesta berjalan lancar, Aiden dan Sora telah sah menjadi suami istri. Tentu tidak sedikit rintangan yang mereka lalui. Perjuangan Aiden untuk menaklukkan Sora sangat susah, semua sahabat terlibat. Dan yang paling berjasa adalah Ailee, meskipun gadis itu di Jepang tapi bantuannya tak pernah terhenti demi kakaknya seorang.
"Kamu sudah nggak makan berapa hari, Pak?" tanya Ailee kepada Binar yang sangat lahap menikmati makanan yang ada.
"Papa udah nggak makan dua hari, Mah. Tiap kali diajak makan selalu menolak, katanya lagi patah hati," jawab Clarissa, Binar langsung membungkam mulut anaknya itu supaya tak berbicara yang aneh-aneh lagi. Malu sekali jika Ailee mengetahui kebodohannya.
"Lepaskan!" Ailee dengan paksa melepas tangan Binar yang berada di mulut Clarissa, dan Binar melepaskannya tapi langsung menggenggam tangan Ailee sejenak. Gadis itu pun menepisnya dengan kasar, tak sopan, pikirnya.
"Patah hati itu apa, Mah? Apa itu bisa membuat orang sedih? Soalnya papa sedih terus dan nggak mau main lagi sama Clarissa," ujar Clarissa yang memang ingin tahu lebih karena heran dengan tingkah papanya dua hari kemarin.
"Papamu patah hati?"
"Iya, Nak. Dia kira yang mau menikah itu kamu bukan Aiden. Dia emang nyebelin orangnya nggak jelas," sahut Bu Melati menghampiri meja mereka. Ia masih saja kesal dengan anaknya itu.
"Mah..."
Dan akhirnya Ailee pun tahu apa yang menjadi sumbernya. Lelaki itu tak mau menerima undangan yang diberikan Ailee kemarin makanya jadi salah paham. Ah, bodoh. Ailee terus merutuki kebodohan lelaki itu. Ailee tersenyum-senyum sendiri sembari memakan salad buahnya.
...*****...
Badannya melemas seketika. Seharian ini dia berkeliling kantor hingga lelah menghampiri. Punggungnya terasa nyeri, dia pun berhenti sejenak sebelum pulang. Disandarkan kepalanya di kursi kemudi yang telah disetel sebelumnya. Berkeliling di Sanjaya Group benar-benar melelahkan, apalagi saat membantu mengecek laporan bulanan karena Aiden yang seharusnya melakukan hal itu masih asyik dengan istrinya.
Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Binar. Ah, malas sekali, ia pun menolaknya. Dan Binar mengirimkan pesan jika Clarissa yang menelepon bukan dirinya.
"Halo, Mamah..."
"Halo, Sayang? Ada apa nih kok semangat banget?" tanya Ailee ketika orang yang menelponnya sangat antusias.
"Mama udah sampai mana? Kok lama banget?"
Ailee menepuk keningnya karena telah melupakan sesuatu, dirinya dipaksa Clarissa untuk makan malam di rumah Binar tapi ia malah lupa karena disibukkan dengan pekerjaan. Ia pun segera pulang dan bersiap terlebih dahulu.
Ia baru sampai di rumah binar sekitar jam setengah tujuh malam dan disambut oleh ketiga penghuninya. Ia dibimbing untuk ke meja makan yang telah tersaji beragam makanan.
"Makan ini, dulu kamu sangat suka masakannya Bu Melati, kan?" seru Binar seraya mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ada. Terlihat nikmat, ingin sekali Ailee menyantapnya. Sudah lama juga dia tak merasakan masakannya Bu Melati yang memang sangat sedap.
"Papa, Mama itu lagi diet. Dia hanya makan buah ataupun sayur," seru Clarissa menghentikan Binar yang menyajikan makanan di piring Ailee. "Mama...tadi Clarissa sudah menyuruh nenek untuk merebuskan sayuran yang sama seperti yang mama makan dulu," tambahnya. Anak itu lalu mendekati brokoli, lobak, jamur shiltake, dan ada sayuran lain.
"Untung tadi Clarissa bilang sama mama kalau Ailee lagi diet, makanya mama membuat makanan khusus," ucap Bu Melati, ia juga turut melayani Ailee.
Binar merasa ada yang aneh dengan Ailee, tubuhnya saja sudah kurus apa yang perlu dikurangi? Lemak pun mungkin tak ada saking kurusnya. Ia pun menyadari jika malam itu Ailee sedikit pucat dan seakan menahan rasa sakit.
Lelaki itu terus saja menatap Ailee hingga makan malam selesai. Ailee kemudian membantu Bu Melati untuk membereskan semuanya namun dicegah karena sudah ada asisten rumah tangga yang akan melakukan hal itu.
"Biar Ailee bantu."
Baru saja melangkah, tiba-tiba nyeri di punggungnya kembali menyerang. Ia pun berhenti sejenak supaya nyeri berangsur reda.
"Kenapa?" tanya Binar menghampiri Ailee yang terhenti dan bersandar di meja dapur.
"Nggak papa kok."
Clarissa tak memperbolehkan Ailee pulang, ia memintanya untuk tetap tinggal sampai dirinya terlelap. Sudah lama ia menginginkan untuk ditemani mama dan papanya saat tidur. Dan malam itu tidurnya pasti akan lebih nyenyak karena Ailee dan Binar berada di sampingnya dan memeluknya erat.
Sangat canggung, apalagi saat Clarissa tadi menautkan tangan Ailee dan Binar. Tak boleh dilepas sampai dirinya bangun besok pagi. Akan tetapi, mudah sekali bagi dua orang dewasa itu untuk menghentikan drama tersebut. Clarissa sudah tidur nyenyak, saatnya Ailee pulang.
"Makasih ya..." seru Binar, sangat berterima kasih sekali karena Ailee menuruti permintaan Clarissa. Ia juga senang karena akhirnya bisa melihat jiwa keibuan Ailee lagi.
"Aku akan segera pulang," sahut Ailee setelah memberikan jawaban atas ucapan Binar tadi dengan menganggukkan kepalanya. Ia merapikan rambutnya terlebih dahulu karena berantakan. Dan Binar pun mengantarkannya hingga ke halaman depan.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Binar memelas.
"Bicara apa? Tinggal bicara aja kenapa sih, Pak?"
Lelaki itu tak lagi berkata, ia menarik tangan Ailee dan mengajaknya untuk duduk di ayunan yang terletak di taman. Mereka duduk berdampingan di bawah gelapnya malam yang tak berbintang.
"Kenapa malam ini nggak ada bintang? Padahal aku merindukan mereka yang menghiasi langit Indonesia," lirih Ailee menatap ke atas mencari benda langit yang memancarkan sinarnya dan sangat indah, meskipun tak ada yang bisa menggapainya.
"Karena mereka takut." Binar pun jadi menatap ke atas sama seperti yang dilakukan gadis itu.
"Kok takut sih?"
"Iya mereka takut karena ada yang lebih indah dan cantik dari mereka. Dia adalah seorang gadis yang tengah duduk di sampingku, cantik parasnya akan mengalahkan para bintang hingga mereka pun memilih untuk menyembunyikan diri," jawab Binar dengan senyum tulus. Entah belajar dari mana hingga lelaki itu pandai menggoda sekarang ini.
"Apa benar rasa yang dulu sempat ada itu sudah pudar dalam hatimu?" tanya Binar sendu. Kali ini ia akan memastikannya lagi. Memang ada perubahan dalam diri Ailee, tapi Binar yakin kalau masih ada sebelas celah rasa.
Gadis itu mengangguk dan memalingkan pandangan. Diayunkan sesekali ayunan itu, udara dingin menyapanya. Nyeri di punggung pun masih terasa meskipun tak seperti sebelumnya. Wajahnya masih pucat pasi, lemas tak bertenaga.
"Bisakah kamu mencintaiku lagi? Dan maukah menemani hidupku?"
Dan lagi-lagi gelengan kepala menjawab pertanyaan Binar. Binar sedih, menyesal karena dulu tak mengikat Ailee dan berkata yang sebenarnya. Andai saja dulu ia jujur dan mengikat Ailee, sudah dipastikan mereka akan selalu bahagia.
Ailee berpamitan karena malam semakin larut, tubuhnya pun perlu beristirahat. Banyak hal yang ia kerjakan hari ini hingga tubuhnya benar-benar lelah. Baru saja berdiri dan tiga kali melangkah, gadis itu terhenti memegang punggungnya yang semakin nyeri.
"Aww..." ringisan tertahan, bibir digigit menahan rasa sakitnya. Pandangannya mulai kabur, sakit semakin menjadi-jadi. Tak tahan lagi, Ailee pun tergeletak tak sadarkan diri.