Perfect Duda

Perfect Duda
Botol Minum



"Aku kan udah bilang nggak sengaja. Lagi pula hal seperti ini juga sering terjadi saat olahraga!"


"Aku melihatmu sedari tadi! Dan kurasa kamu memang sengaja! Apa maksudmu melempari bola ke kepala adikku?" Kali ini Aiden angkat bicara dengan menatap sengit Khansa.


"Sialan kamu! Kenapa dari dulu selalu cari gara- gara sih sama aku?!" teriak Ailee seraya menarik rambut Kansa.


"Heh! Aku bilang nggak sengaja ya nggak sengaja! Ngapain pake ngejambak rambut aku segala sih?!" Kansa yang tak mau kalah pun membalas perlakuan Ailee. Bahkan ia membalasnya lebih, Kansa tak segan- segan mencakar kulit Ailee.


"Ah, sialan!"


Perkelahian antara Kansa dan Ailee pun tak bisa dielakkan. Bahkan, Bu Rika tak bisa melerai. Mereka sama- sama kuat, saling menjambak, mencakar, dan juga memukul.


"Bangsat kau!" seru Kansa.


"Diam kamu!"


"Argghhh!"


Ailee membabi buta, ia terjatuh dan menindih Kansa. Mereka masih cakar- cakaran. Teriakan demi teriakan menggema di lapangan itu, suara keramaian bahkan mengundang murid di kelas mengintip mereka.


Teriknya matahari membuat pertarungan dua siswi itu semakin memanas. Baju olahraga telah kotor bercampur dengan debu di lapangan itu. Rambut yang tadi diikat rapi kini telah berantakan dan entah kemana ikatan rambutnya pergi.


"Ailee! Hentikan, jangan dilanjutkan!" teriak Aiden. Ia mencoba menarik adiknya yang masih memukuli Khansa dengan ganasnya. Hebat juga, gadis itu mempraktekkan apa yang diajarkan sang papa. Ya, jika ada waktu luang Aksa selalu mengajari anak- anaknya bela diri untuk melindungi diri mereka maupun orang yang disayang.


"Biarkan aku membunuhnya sekalian! Dia selalu mencari masalah denganku!"


Teriakan begitu sengit terlontar dari mulut Ailee. Gadis itu mungkin juga lelah karena Khansa selalu mengganggunya. Ia ingin menuntaskannya hari ini juga. Tak peduli jika dirinya menjadi tontonan satu sekolahan itu.


Dengan susah payah, Aiden dan Sora berhasil menarik tubuh Ailee. Ia langsung mendekapnya erat karena Ailee terus memberontak. Sedangkan Khansa masih menggelepar di lapangan itu. Lemas dan lelah.


"Kalian berdua benar- benar memalukan! Minta maaf sekarang atau saya akan membawa masalah ini ke kantor Bimbingan Konseling?" seru Bu Rika.


Ailee dan Khansa pun enggan sekali mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Tapi tak ada pilihan lain mereka pun berjabat tangan, daripada harus berurusan dengan guru BK yang galaknya minta ampun dan urusan akan lebih panjang bahkan bisa mendatangkan orangtua mereka untuk menyelesaikan masalahnya.


"Karena kalian berdua membuat onar di sini maka saya akan menghukum kalian. Jalan jongkok memutari lapangan ini hingga bel istirahat berbunyi dan jangan lupa memunguti daun kering yang berjatuhan!" ujar Bu Rika sebelum dirinya pergi meninggalkan lapangan itu.


"Bu Rik, kita kan udah minta maaf. Kenapa masih dihukum?" teriak Ailee dan Khansa.


"Lakukan saja, saya akan memantau kalian dari jauh!"


Aiden dan Sora cekikikan mendengarnya. Tak bisa dibayangkan betapa lelahnya Ailee dan Khansa nantinya karena bel istirahat akan berbunyi lima belas menit lagi.


"Sabar ya, yuk mulai jalan jongkoknya," ledek Sora.


"Aku dan Sora akan nyemangatin kamu, dari kantin...." tambah Aiden meledek juga. Mereka pun segera meninggalkan Khansa dan Ailee.


"Ini semua gara- gara kamu!" seru Khansa.


"Kamu duluan yang memulai, kenapa menyalahkan aku!"


Ailee dan Khansa lalu berjongkok dan berjalan mengitari lapangan di kala Matahari menyengat. Mulut mereka tak henti- hentinya berdebat. Bahkan mereka juga saling mendorong tubuh hingga seringkali terjatuh.


Lima belas menit terasa seperti tiga puluh menit, lama sekali. Bel telah berbunyi, berhentilah mereka berjalan jongkok mengitari lapangan yang sangat luas itu. Mereka langsung terkapar di bawah pohon besar yang terdapat di pojok sekolah. Mengatur napas dan menyeka keringat yang bercucuran.


Bughh...


"Auww...." Ailee memekik saat ada sebotol air mineral dilemparkan mengenai kakinya. Ia pun langsung mencari sumber air itu. Sangat ramai, banyak orang yang berlalu lalang. Ailee tak bisa menebak dari manakah air mineral itu. Tapi yang jelas, di kerumunan itu ada Binar. Apa dia yang melemparkannya? Ah, kalau iya Ailee tak akan mengucap sumpah serapah dan malah akan syukuran karena ternyata Binar yang menaruh perhatian dengannya.


Cukup lama ia bermonolog dengan dirinya, hingga Binar mulai menghilang dari pandangannya. Ia pun segera bangkit dan mengejar Binar. Berhasil, Binar belum terlalu jauh darinya. Ia pun menarik kemeja lelaki itu hingga berbalik menghadapnya.


"Apa?" tanya Binar acuh seraya menepis tangan Ailee yang memegang kemejanya hingga lusuh.


"Apa ini darimu, Pak?" Ailee memperlihatkan botol air mineral di mana isinya telah habis ia minum.


Binar tak menjawab, ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Ailee. Dan gadis itu pun tetap mengejarnya.


"Kalau memang iya, terima kasih ya, Pak," seru Ailee dengan riangnya.


"Lain kali bertengkar-lah lagi supaya tak hanya jalan jongkok mengelilingi lapangan saja, tapi juga membersihkan sekolahan ini sampai tak ada kuman satu pun," ucap Binar menahan tawanya.


"Pak Binar senang? Kalau Pak Binar senang aku akan melakukannya!"


Binar kembali menghentikan langkahnya dan menunduk menatap Ailee yang hanya setinggi dadanya. Tak habis pikir dengan jawaban- jawaban yang Ailee berikan.


Cetak!


Binar menyentil kening Ailee. Kebiasaan yang tak pernah hilang dan Ailee justru menyukainya. Aneh.


"Sentil lagi, Pak! Aku menyukainya," ucap Ailee tersenyum- senyum.


"Ganti baju sana! Rapikan rambutmu!" ucap Binar.


"Maunya digantiin baju sama Pak Binar!"


Binar terkejut mendengarnya, ia pun bersiap untuk memarahi Ailee tapi gadis itu terlebih dahulu berlari meninggalkannya. Tingkah Ailee selalu saja membuatnya gemas dan membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Ailee sedang dalam mood yang baik. Ia memeluk dan menciumi botol air mineral dari Binar hingga memasuki kelas. Membuat murid yang berpapasan dengannya pun berpikir jika Ailee sudah stress.


"Ailee, kenapa kamu senyum- senyum sendiri?" tanya Sora yang kemudian duduk di samping Ailee.


"Nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit. Kamu bener- bener udah nggak waras!" seru Aiden. Ia pun memeriksa kening Ailee memastikan anak itu sakit atau tidak.


"Ini dari Pak Binar! Aku senang sekali," ucap Ailee memperlihatkan botol dan kembali memeluk serta menciuminya.


Aiden dan Sora pun memutar mata malas, hanya air minum itu saja Ailee sampai tergila- gila.


"Sepertinya dia akan menyimpannya sampai kiamat nanti," ucap Sora yang diangguki Aiden. Sora dan Aiden memandang prihatin pada gadis yang asyik dengan botol minum itu. Cinta membuat orang benar- benar menjadi gila, termasuk pada Ailee.


"Tentu saja aku akan menyimpannya! Ini sangatlah berharga!"


"Pak Binar perhatian denganku, hihi..." Ailee masih saja memeluk botol itu layaknya boneka. Fix, Aiden dan Sora harus membawa Ailee ke psikiater setelah pulang sekolah nanti. Tak bisa dibiarkan, jika Ailee seperti itu terus yang ada membuat mereka malu setengah mati.