Perfect Duda

Perfect Duda
Bukan Wanita Baik



Suasana tiba- tiba berubah ketika ada seorang wanita dewasa datang. Tatapan semuanya pun teralihkan kepada sesosok itu. Suaranya tadi begitu keras hingga semuanya bisa mendengar.


"Masih kecil tapi sudah berani menggoda pria yang umurnya jauh di atas kamu! Pasti orangtuamu selalu mengajarkan untuk mencari pria yang tua dan berduit karena dia akan cepat mati jadi hartanya cepat beralih ke tanganmu? Tapi inget ya, Binar itu miskin. Mending kamu pergi deh, cari pria yang kaya!"


Lelaki yang tadi asyik bercanda ria dengan putrinya pun langsung berdiri dan menghampiri wanita itu. Tatapan benci ia layangkan, dan si wanita tak takut sama sekali.


"Pelankan suaramu! Apa maksudmu berbicara seperti itu?" gertak Binar. Tangannya sudah mengepal, emosinya membuncah.


"Kenapa marah? Bukankah benar dengan apa yang kukatakan jika dia adalah gadis murahan dan gatel, yang mendekati seorang duda beranak satu?"


"Jaga mulutmu!" Aiden yang sedari tadi masih diam pun tak terima adiknya dijelekkan.


"Beraninya berkata seperti itu! Apa kau tidak melihat dirimu sendiri? Berkaca terlebih dahulu sebelum menilai seseorang!" seru Aiden mendorong bahu wanita itu hingga terhuyung dan hampir jatuh jika tak berpegangan kursi di sebelahnya.


"Kak, jangan mencari masalah," lirih Ailee memegang tangan kakaknya bermaksud menenangkan.


"Dia yang mencari masalah duluan!"


Wanita itu adalah Maya, mantan istri Binar. Wanita yang omongannya sangat pedas, tak pernah berpikir terlebih dahulu jika hendak berkata. Sorot matanya memperlihatkan jika dia orang yang iri dan tak hangat.


Meski pertama kali bertemu, Aiden dan Ailee sudah dapat memastikan jika wanita itu bukanlah wanita yang baik. Sorot matanya, omongannya, dan kelakuannya terlihat jelas.


"Jadi, kamu kakaknya gadis itu? Melihat kelakuanmu tadi aku sudah bisa memastikan jika orangtua kalian tak pernah mendidik dengan benar," ucap Maya dengan tatapan benci kepada Aiden yang sudah mendorongnya.


"Sudah kubilang kalau berbicara itu berpikir terlebih dahulu! Bahkan kamu tak pernah bertemu mereka, lalu bagaimana kamu bisa menilai mereka dan mengetahui jika didikannya itu tak benar?" Suara Aiden kian meninggi. Ia membanting kursi kosong di sampingnya, emosinya tak terkendalikan lagi jika sudah mengangkut kedua orang tuanya.


"May, berhentilah. Di sini kamu yang salah, datang tapi sudah mencari masalah. Pergilah dari sini karena ini bukan tempat orang yang keji dan tak berakal sepertimu," ucap Binar.


"Kalau aku nggak mau pergi bagaimana?"


Maya melangkahkan kakinya mendekati Ailee yang berada di samping Binar seraya menggendong Clarissa.


"Hai, Clarissa. Kamu lagi digendong sama gadis gatel itu ya? Upsss... Maksudku calon mama barumu," ucap Maya. Tangannya terulur hendak mengusap pipi bayi itu, tapi Ailee segera mundur menghindari sentuhan Maya.


"Kenapa menghindariku? Dia anakku kenapa aku tak boleh menyentuhnya? Kamu nggak berhak melarangku menyentuh anakku sendiri!"


"Dia sangat berhak!" bentak Binar. Ia mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Clarissa tak boleh disentuh oleh ibu yang kejam sepertimu!"


"Berikan Clarissa padaku!" Maya semakin mendekat dan Ailee semakin menjauh. Dekapannya pada Clarissa semakin erat, ia tak akan memberikannya kepada Maya meskipun wanita itu adalah ibu kandungnya.


"Berani kau!" Maya mencekal lengan Ailee supaya tak bisa mengindarinya lagi.


"Lepaskan dia!" gertak Aiden.


"Arghh!" Ailee memekik kuat ketika Clarissa berhasil diambil Maya dan dirinya terjatuh mengenai meja serta kursi di belakangnya.


"Aku sebenarnya tak pernah menyakiti wanita! Tapi melihat tingkah lakumu yang sudah kelewat batas, aku bisa saja menghabisi dirimu sekarang juga!"


"Aiden hentikan! Aku akan menyelesaikannya sendiri." Binar mencekal tangan Maya erat dan menyeretnya menjauhi kedai kopi itu.


Dirasa cukup jauh dari kedai, ia langsung mehempaskan wanita itu hingga terjatuh ke aspal.


"Awalnya aku tak akan menyakitimu. Tapi perkataan Aiden tadi memang benar, kamu sudah melewati batasan. Dasar manusia tak berotak! Jangan pernah menggangu hidupku dengan Clarissa lagi!"


Maya tersenyum sinis, ia berdiri dan menghadap mantan suaminya itu lekat- lekat. Tangannya membelai pipi Binar, namun buru- buru ditepis.


"Clarissa itu anakku. Bukankah keputusan pengadilan mengatakan jika aku tetap boleh menemui Clarissa? Lalu, kenapa kamu melarangku? Apa kamu takut jika aku kembali dan kamu tak bisa melupakanku?"


"Persetan! Sejak kejadian itu aku sudah tak punya perasaan apapun denganmu lagi, semuanya telah sirna. Jadi, jangan berkata seperti itu lagi, wanita pengkhianat!"


"Pengkhianat? Itu juga berawal darimu. Andai saja kamu itu kaya dan serba kecukupan, wanita tak akan pernah pergi meninggalkanmu," tukas Maya.


"Ya, Dan suatu saat akan aku buktikan jika aku akan berhasil dan sukses dengan jerih payahku sendiri. Dan kelak juga akan menemukan wanita yang bisa menerimaku apa adanya, tak seperti dirimu!"


"Ya, aku akan menunggunya. Tapi, sepertinya sampai kiamat pun tak akan terjadi," sahut Maya diselingi tawa ledekan. "Ehm, satu hal lagi yang perlu kamu tahu. Kalau sebenarnya Clarissa itu bukan anak kandungmu," tambah Maya dengan santainya.


Tanpa pamit, Binar melenggang meninggalkan wanita yang masih berdiri melipat tangannya di dada. Andai saja Maya itu bukan seorang wanita sudah dipastikan ia akan habis di tangan Binar.


Banyak hal yang telah terjadi bahkan juga menyakiti orang lain. Banyak yang harus dimaafkan oleh gadis yang tak bersalah itu. Ailee dan Aiden ternyata sudah pulang. Kejadian tadi sepertinya akan terus membekas, terlebih lagi di hati Ailee, gadis yang terus dijelek-jelekkan Maya.


...*****...


"Sudah kubilang jika kamu harus menjauhi Pak Binar. Tapi kamu terus saja kekeh mendekatinya. Apa kamu tak sakit hati ketika dibilang gadis murahan yang mengejar duda beranak satu?" seru Aiden tanpa menoleh ke arah adiknya yang duduk di sampingnya. Mobil melaju dengan tenang, aura di kedai tadi masih merasuk ke kalbu masing- masing.


"Aku mengerjarnya karena aku yakin jika dia adalah lelaki yang pantas dan terbaik mendampingi hidupku. Menurutku, dia hampir sempurna. Aku harus mendapatkannya, dan aku yakin jika kami akan berjodoh. Aku sangat mencintainya..."


"Cinta yang tak terbalas sepertimu apakah akan berlangsung lama?" ledek Aiden.


"Aku yakin jika suatu saat pula cinta yang telah lama tumbuh ini mendapat balasan. Kami akan saling mencintai, aku yakin hal itu," jawab Ailee penuh dengan ketenangan dan juga keyakinan.


"Lalu, bagaimana dengan cinta yang telah lama terpendam dan tak ada keberanian untuk mengungkapkannya?" Ailee membalikkan pertanyaan Aiden. Lelaki itu langsung diam seribu kata, cintanya memang terpendam, tak mampu mengungkap. Dan itu juga menyakitkan seperti cinta yang tak terbalaskan.


"Kenapa diam Tuan Aiden Arion Sanjaya?" tanya Ailee, ia senang melihat kakaknya yang gugup.


"Ak- aku juga yakin jika suatu saat dia akan mengetahui betapa besarnya aku mencintainya. Dan kami akan bahagia setelahnya," jawab Aiden gugup.


"Apakah kamu yakin jika dia juga mencintaimu? Apakah bahagia semudah itu? Kalau Tuhan berkehendak lain bagaimana?" Ailee terus memojokkan kakaknya.


"Ah, sialan!"