Perfect Duda

Perfect Duda
Sepotong Brownies



Dari sekolah satu ke sekolah yang lain, mereka bertolak dengan jalan kaki karena tak terlalu jauh. Barang-barang donasi dan juga makanan segera diberikan kepada satu persatu anak dan untuk perlengkapan sekolah diberikan kepada perwakilan guru sekolah tersebut.


Anak-anak itu tampak antusias ketika mendapat sepatu, seragam, alat tulis, makanan, dan lain sebagainya. Mulai dari kelas satu hingga kelas enam, semuanya berjajar rapi menunggu giliran. Dan siswa siswi sekolah Ailee pun juga senang membagikannya. Para guru hanya mengawasi dan berjaga-jaga jika ada hal buruk terjadi.



Binar sedari tadi memperhatikan Ailee yang sangat semangat, beda sekali dengan teman perempuannya yang lain. Kebanyakan dari mereka mengeluh, tapi Ailee tidak.


Cukup lelah tapi sangat menyenangkan, ternyata berbagi adalah hal yang membahagiakan. Gadis itu memilih menyendiri dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Ia duduk di ayunan dan terdiam melamun. Tiba-tiba ada sepotong brownies yang dibalut tisu dan susu kotak disodorkan di pangkuannya.


Ia menoleh ke arah orang yang memberikannya, yang ternyata juga duduk di ayunan kosong sebelahnya. Senang bukan main mendapati siapakah orang itu.


"Makanlah sedikit, jangan sampai kelaparan," ucap Binar dingin. Ia mengayunkan ayunan yang sempit untuk tubuhnya itu, seraya menatap anak-anak yang bermain dengan girangnya. Ia tahu jika Ailee tak jadi sarapan, makanya dia mencari makanan ringan untuk gadis itu.


Brownies sepotong itu ia gigit, sedotan ditusukkan ke susu kotaknya dan langsung diseruput. Sudah habis, cepat sekali tertelan.


"Makasih, Pak. Ciyee khawatir lagi nih sama aku," seru Ailee.



"Khawatir sebatas guru dan murid. Nanti kalau kamu kelaparan dan mati di sini kan nyusahin banyak orang," elak Binar. Ia tetap saja dingin seperti biasanya.


"Kenapa gitu sih, Pak? Sekali-kali bikin aku seneng dong, bilang 'iya aku khawatirin kamu' gitu lah," gerutu Ailee. Kesal sekali dengan Binar yang tetap saja dingin.


Binar terkekeh mendengarnya, ia lalu menoleh ke arah Ailee yang ternyata juga mengamati dirinya. Terlihat dari jarak dekat dan sangat jelas. Cantik, lucu, dan menggemaskan. Ah, sial. Kenapa ia jadi memujinya? Padahal Ailee terkadang juga menjengkelkan.


...*****...


Tiga hari dua malam sudah terlewati, saatnya untuk kembali ke kota dan meninggalkan pedesaan yang indah permai ini. Semua pasti akan merindu dan berkeinginan untuk berjumpa kembali. Tenda yang berdiri kokoh sebagai tempat bermalam selama dua hari itu satu persatu dibongkar dan kembali dirapikan ke dalam tas-nya.


Sampah yang bercecer dipungut, jangan sampai ada yang tertinggal. Barang-barang keperluan umum telah masuk ke dalam truk dan bersiap untuk dibawa kembali ke kota. Pagi menjelang siang itu tak lupa mereka menyempatkan untuk berfoto bersama satu angkatan.


"Anak-anak yang Pak Budi dan guru-guru lain sayangi serta banggakan, akhirnya tiba di penghujung acara bakti sosial yang selalu diadakan tiap tahunnya." Ketua penanggung jawab kegiatan mulai menyuarakan sepatah dua patah kata sebagai penutup.


"Ingat, kita sudah mulai memasuki semester dua. Semester yang tak akan genap selama enam bulan untuk kelas dua belas. Dan perjuangan kalian akan segera dimulai, gunakanlah waktu yang singkat ini untuk belajar dengan sungguh-sungguh supaya apa yang kalian inginkan tercapai," tutur Pak Budi panjang lebar dan didengar baik oleh anak-anak.


"Siap, Pak!" sahut mereka serempak dan sangat semangat.


"Berbagai ujian ataupun penilaian sekolah akan segera menyapa kalian, bapak harap kalian menyiapkannya jauh-jauh hari supaya hasil tak mengecewakan. Dan ingat juga untuk memikirkan dunia perkuliahan. Tak hanya tes masuk perguruan tinggi saja, tapi raport semester satu hingga semester enam ini akan dibutuhkan kelak ketika kalian kuliah, nilai ujian nasional juga akan mempengaruhi pula bagi kalian yang hendak berkuliah di luar negeri."


"Jadi, bapak sangat mewanti-wanti untuk belajar, semangat, dan jangan lupa terus berdoa. Semoga semuanya dapat menjalani berbagai ujian dan penilaian dengan baik serta hasil yang memuaskan. Apa yang kalian cita-citakan juga semoga tercapai. Amin," tambah Pak Budi yang diaminkan oleh semua yang ada di sana.


"Baik, bisnya sudah mulai berdatangan. Kita menunggu hingga semuanya lengkap dulu ya baru naik," ucap Pak Budi ketika dirinya melihat dua bis yang menghampiri mereka.


Outbond, tracking, pesta barbeque, api unggun di malam hari, dan kegiatan lain yang menyenangkan telah dilewati. Melelahkan tapi menyenangkan. Berbaur dengan alam ternyata mampu menjernihkan pikiran. Kita juga bisa mengerti berbagai manfaat yang diperoleh ketika berbaur dengan alam, dan oleh sebab itu kita juga tahu bagaimana cara supaya alam tetap lestari.


"Aku udah dijemput, kalian mau bareng nggak nih?" tawar Kimmy ketika mobil papanya terlihat di parkiran sekolah.


"Nggak usah, lagian kita udah bilang papa sama mama buat jemput kok, tinggal nunggu aja," jawab Sora lembut.


"Aku tahu kok, tadi cuma basa basi aja hehe..."


"Kebiasaan!" desis Aiden, kesal sekali dengan Kimmy.


"Nah, itu papaku udah jemput juga. Aku duluan ya guys," pamit Bryan, anak itu langsung berlari menghampiri mobil papanya.


"Mamah..." seru Sora dan langsung memeluk Mamanya.


"Baik-baik aja 'kan selama di sana? Mama khawatir, kamu susah banget dihubunginnya," ujar Mama Sora.


"Di sana susah sinyal, Mah. Listrik juga terbatas, jadi nggak sempet buat charger ponsel."


"Yaudah yuk pulang, pasti kamu capek banget ya..." ucap Mama Sora membelai kepala anaknya. "Eh, Aiden sama Ailee belum dijemput? Mau bareng tante nggak?" tawar Mamanya Sora.


"Nggak usah, Tante. Paling sebentar lagi papa atau mama juga sampai kok, kalau nggak nanti bisa pesan taxi online," jawab Aiden lembut dan sopan.


Ada sedikit paksaan, tapi akhirnya Sora dan mamanya kalah. Aiden dan Ailee tetap tak mau ikut mereka karena takut jika malah merepotkan.


"Tau gini 'kan dulu bawa mobil aja pas berangkat. Di parkir di sekolahan juga tetep aman..." gumam Aiden yang jenuh karena telah menunggu cukup lama.


"Sabar aja kenapa sih? Ini Bapak taxinya udah on the way kok," jawab Ailee menenangkan kakaknya.


"Kalian belum pulang? Belum ada yang jemput, ya?" tanya Pak Budi menghampiri mereka berdua yang duduk di depan pos satpam.


"Belum, Pak. Ini lagi on the way ke sini," jawab Ailee.


"Maaf ya saya nggak bisa nemenin kalian, buru-buru pulang. Udah kangen istri soalnya," ucap Pak Budi tanpa malu sedikitpun sebelum dia kembali melajukan mobilnya.


"Hati-hati di jalan, Pak..."


Sepuluh menit kemudian taxi yang dipesan telah sampai. Mereka segera bertolak meninggalkan sekolah yang luas itu. Dan di tengah perjalanan, Aiden tak sengaja melihat Binar yang berada di bengkel tengah menunggu motornya yang sedang diperbaiki bannya karena bocor.


"Pak Binar tuh!" ucap Aiden memberitahu adiknya.


"Mana?" Ailee menoleh ke samping kanan dan kirinya. "Pak! Pak! Berhenti!" Teriaknya ketika sudah mendapati keberadaan Binar.


"Pak Bin..." serunya memanggil Binar dan lelaki itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia mengusap wajahnya dan menghela napasnya, entah takdir apa yang membuat dirinya selalu bertemu dengan Ailee.


"Pak Bin nggak papa? Motornya sakit apa, Pak?" tanya Ailee terkekeh.


"Sakit darah tinggi gara-gara kamu! Udah sana pulang," teriak Binar.


Ailee tertawa lebar, ternyata Binar bisa membuat lelucon juga. Ia lalu membuka pintu taxi itu bermaksud hendak menghampiri dan menemani Binar yang sedang tambal ban.


"Jangan turun!" cegah Binar ketika satu kaki Ailee menginjak tanah. "Kamu pulang aja sana, kalau masih turun juga nilai kamu bakalan C semua!" ancamnya supaya gadis itu tak turun menghampirinya. Karena yang ada nanti hanya membuatnya darah tinggi.


"Tapi, Pak..."


"Pulang atau nilai C semua?"


Nilai C? Ah, yang benar saja. Jika itu terjadi yang ada Ailee langsung dicoret dari kartu keluarga. Gadis itu pun menutup pintu taxi-nya namun tak menaikkan kacanya.


"Pak Binar beneran nggak papa 'kan kalau nggak ada Ailee?" tanya Ailee memastikan.


"Lili, pulanglah! Atau kamu emang mau nilai C?"


"Ehh...iiiyy- iyaaa Pak!"


Taxi kembali melaju meninggalkan Binar yang masih mengobati motornya yang darah tinggi. Ailee sebenarnya kasihan, tapi tak perlu risau lagi karena Binar sudah berada di tempat yang tepat. Semoga motornya lekas membaik.