Perfect Duda

Perfect Duda
Hidup & Mati



Di kursi roda rumah sakit itu seorang gadis tengah duduk di sana, kurang lebih sudah lima belas menit. Di tengah taman, ditemani dengan lelaki yang selama berbulan-bulan ini menemaninya melakukan pengobatan.


Tentu saja Binar. Meski berulang kali gadis itu menolak dan menyuruh Binar untuk tak mengurusnya lagi tapi Binar tetap kekeh dan berpartisipasi merawat Ailee.


Infus kembali terpasang dikarenakan beberapa hari yang lalu kondisinya kembali menurun. Sakit sekali, apalagi ketika melakukan cuci darah supaya ginjal berfungsi lagi. Berulang kali cuci darah tak mampu membuatnya pulih, satu-satunya jalan hanyalah transplantasi ginjal.


"Andai saja ginjalku cocok denganmu, sudah kupastikan kamu tak akan kesakitan lagi," seru Binar.


"Aihh, sudahlah, Pak. Aku jenuh sekali mendengarmu yang selalu saja berkata seperti itu. Kalaupun aku tak mendapat donor ginjal juga nggak masalah kok," sahut Ailee seperti biasa ketika Binar berkata seperti tadi.


"Jika aku kalah nantinya dan ajal menjemputku lebih cepat, bukankah tak masalah juga? Toh, semua makhluk akan merasakannya. Hidup, lalu kembali dengan Sang Pencipta," tambah Ailee tersenyum menatap langit.


Binar bersimpuh lemas di tanah menghadap gadis yang sedang duduk di kursi roda. Ia sungguh tak sanggup jika kehilangan gadis itu. Ia sangat sedih, usahanya untuk mendapat donor ginjal tak kunjung tercapai. Hampir gila dibuatnya.


"Kenapa sih, Pak? Ayo bangun dan dorong aku ke kamar. Bukankah aku sudah boleh pulang hari ini?" bujuk Ailee mengajak Binar supaya tak bersimpuh lagi di tanah.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Binar selalu saja memaksa Ailee untuk bersamanya, padahal papa dan mamanya Ailee juga menjemputnya tadi. Gadis itu sangat kesal karena orang tuanya bersekongkol supaya dirinya bersama Binar terus. Entah apa yang dilakukan pada Binar hingga orang tua Ailee membiarkan lelaki itu merawatnya setiap saat.


"Mau ke suatu tempat terlebih dahulu atau langsung pulang?" tanya Binar sebelum mobil melaju.


"Langsung pulang."


Cukup sulit mendapatkan hatinya Ailee kembali, namun tak menyurutkan semangat Binar. Gadis itu sulit dihadapi dan Binar tak pernah menyerah karena baginya Ailee sangat layak diperjuangkan. Apapun akan dilakukan meski harus bertaruh nyawa sekalipun.


Lelaki itu overprotektif dengan Ailee, bahkan dirinya tak memperbolehkan Ailee untuk jalan sendiri karena takut gadis itu kelelahan dan kondisinya menurun lagi. Ia menggendong Ailee hingga ke kamar. Ailee pun jadi terbiasa dengan itu, tapi tetap saja kesal karena menurutnya Binar terlalu berlebihan.


"Diam apa aku lempar dari sini?" ancam Binar ketika mereka baru saja sampai di tengah tangga menuju kamar Ailee karena gadis itu memberontak meminta diturunkan.


"Lempar saja kalau berani!"


Binar mendengus kesal dengan jawaban Ailee yang malah menantangnya. Ia pun segera menuju ke kamar Ailee. Dibaringkan gadis itu perlahan, namun ia tak kunjung beranjak dari posisinya.


Mereka saling tatap dengan waktu yang cukup lama. Jantung keduanya sama-sama berdetak cepat ketika berada di posisi seperti itu. Tiba-tiba saja Binar semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. Tak berkedip dan menikmati posisi seperti itu.


"Cepat sembuh, Liliku," ucap Binar dan langsung berdiri tegap.


Ailee menepuk keningnya dan merutuki pikirannya tadi yang menyangka jika Binar akan mencium bibirnya. Ah, malu sekali.


"Pasti ngarep dicium sama aku ya?" ledek Binar saat melihat ekspresi Ailee.


Gadis itu langsung bangun dan berlari– duduk di sofa kamarnya. Binar langsung menghampirinya karena takut Ailee kenapa-kenapa.


"Sudah dibilang jangan berlari nanti kamu capek!"


Binar marah sekali dengan Ailee tapi gadis itu tak takut sama sekali. Dia malah menyalakan televisinya, heran karena Binar tak kunjung keluar dari kamarnya.




Dengan mata yang terus tertuju pada televisi, Binar seolah-olah tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia pun memberanikan diri mengecup tangan yang berada di genggamannya itu dan berhasil membuat Ailee melotot tak percaya. Sedangkan Binar senang bukan main rasanya karena bisa sangat dekat dengan Ailee. Lama ia menginginkan hal itu.


Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu, dan pada akhirnya Binar mengantuk, ia meletakkan kepalanya di pangkuan Ailee. Tak perlu waktu lama dirinya pun terlelap.



Ailee tak tahu harus berbuat apa. Ingin sekali dia berdiri tapi kasihan juga kalau Binar terbangun. Lelaki itu pasti lelah karena selama ini bolak-balik menghampiri dirinya, untuk istirahat pun mungkin hanya sekejap.


Tangannya terulur untuk membelai wajah Binar yang terlelap nyenyak di pangkuannya. Lucu memang, dulu Ailee yang mengejar Binar dan sekarang malah sebaliknya. Ia tertawa kecil.


Lambat laun kebersamaan ini akan lekas berlalu. Kisahnya di dunia pasti akan segera berakhir. Mustahil juga jika orang terus hidup dengan ginjal yang sudah tak berfungsi normal. Usaha telah dilakukan, namun keadaan tak kunjung membaik dan malah sebaliknya.


"Nanti kalau aku pergi gimana ya sama keluarga lain? Apa mereka akan baik-baik saja? Ah, kuharap begitu," gumamnya ketika memikirkan jika ajal menjemputnya. Hari itu pasti akan datang tak bisa dihindarkan. Hidup atau mati sudah diatur, manusia hanya bisa berserah diri.


...*****...


Gadis itu semakin pucat. Badannya semakin melemah, tak bisa bangun karena benar-benar tak ada energi. Suaranya semakin tercekat, tak sanggup lagi mengeluarkan sepatah kata. Hanya senyum yang ia tampilkan.


Semalam kondisinya semakin memburuk, berbagai alat bantu melekat di tubuhnya. Para keluarga semakin kebingungan mencari pendonor ginjal. Aiden hendak menghubungi dokter, tapi Ailee terus menggenggamnya. Ia tak mau saudaranya itu lemah karena hidup dengan satu ginjal saja, Aiden adalah penerus keluarga, ia harus tetap sehat dan kuat meneruskan perusahaan keluarga.


"Ailee, biarkan aku mendonorkan ginjalku. Aku akan tetap baik-baik saja setelah mendonorkannya," seru Aiden tercekat. Tangis kesedihan tak henti-hentinya keluar.


Ailee terus saja menggeleng. Ia memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Jika dirinya memang ditakdirkan untuk hidup selama 24 tahun saja pun tak apa. Semuanya sudah ia rasakan dan lebih dari cukup.


"Apa belum ada yang mendonorkan ginjalnya juga? Saya akan memberikan imbalan lebih dari sebelumnya, tolong segera temukan pendonor!" gertak Binar kepada orang suruhannya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, nyawa Ailee sudah berada di ujung tanduk.


"Kemarin ada yang mendaftar jadi pendonor, tapi ternyata tak cocok dengan Ailee," ucap Aksa terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Anaknya sedang dalam keadaan buruk, semua hal telah dilakukan tapi tak kunjung merubahnya.


.


.


.


Selamat hati Senin🄰


Jangan lupa Vote buat Ailee & Binarā¤ļø