Perfect Duda

Perfect Duda
Tidak Lebih



Di sisi lain, suasana rumah mewah itu pun sunyi seketika. Tak ada sepatah kata yang terucap. Denting garpu yang beradu dengan piring terdengar samar. Sepasang suami istri tengah sedih. Terlebih lagi Aza, selaku ibu. Dia sangat sedih karena semalam anak gadisnya tak pulang– tak diperbolehkan sang suami.


Garpu kembali diletakkan, sarapan tidak dilanjutkan. Tak ada selera sama sekali. Ruang makan yang biasanya ramai meskipun hanya berempat tiba-tiba saja sunyi tak ada Aiden dan Ailee.


"Kamu jahat..." lirih Aza tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Bukan jahat, tapi tegas," tukas Aksa dengan tatapan lurus tanpa menengok arah istrinya.


Keduanya kembali terdiam. Pagi itu tak ada semangat sama sekali. Sarapan terasa hambar, pikiran kacau balau. Entah bagaimana memulihkannya. Tiba-tiba ada jari yang menusuk lengan Aksa, lelaki itu pun menoleh ke sampingnya. Ada Ailee dan juga Aiden yang menunduk takut.


"Aku sudah kenyang, Sayang. Berangkat dulu ya," pamit Aksa yang sebenarnya hendak menghindari kedua anaknya. Namun, sang istri mencegahnya.


Ailee duduk di samping papanya, kepalanya masih menunduk takut. Dan pada akhirnya dia memeluk papanya. Tangis kembali pecah, ia tak kuat jika didiamkan oleh papanya. Sang papa tak bergeming, ia terpaku di tempatnya dan tak membalas pelukannya.


"Lepas!"


Tubuh anaknya ia dorong supaya pelukan terlepas, ia pun segera pergi meninggalkan anaknya yang masih terisak. Tak berhenti seperti itu saja, Ailee mengikuti papanya hingga masuk ke dalam mobil diikuti Aiden. Dan pada akhirnya mobil melaju meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya.


"Pah..." lirih Ailee mencoba mengajak bicara papanya meskipun sedang fokus menyetir mobil.


"Ailee janji nggak akan seperti kemarin lagi..." ucapnya berharap supaya papanya mau memaafkan dirinya.


"Belajar yang serius. Jangan memikirkan lelaki itu lagi, jaga jarak sama dia," sahut Aksa. Akhirnya ia mau berbicara juga dengan anaknya, namun perkataannya kembali melukai Ailee.


...*****...


Ujian nasional akan semakin dekat, dan kini anak kelas dua belas sedang melaksanakan beragam ujian praktek. Setelah ujian praktek, nantinya akan ada ujian sekolah, dan puncaknya adalah ujian nasional.


Terik matahari begitu menyengat. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, kelas IPA 1 baru saja selesai ujian praktek olahraga. Nomor ujian berbentuk bulat yang diletakkan di dada samping kiri akhirnya mereka lepas. Besok masih digunakan, untuk dua mata pelajaran lagi.


Air mineral yang dibawa dari rumah masing-masing diteguk hingga habis. Peluh diseka, baju dikibas-kibaskan supaya tak terlalu gerah. Senda gurau tercipta, gelak tawa mewarnai tepi lapangan basket itu. Wali kelas mereka datang dengan absen di tangannya, seperti biasa selalu mengawasi muridnya selama ujian praktek.


"Besok adalah hari terakhir, tetap semangat dan berikan yang terbaik," ucap Binar setelah mengisi daftar absen.


Ailee mengikutinya, "Pak Bin! Pak Bin!"


Sang pemilik nama menoleh dan terhenti.


"Ehm...nanti Pak Binar ke rumah jam berapa?" tanya Ailee basa basi, padahal ia juga tahu jam berapa Binar akan datang untuk les private.


"Kita sudah les privat selama berbulan-bulan lamanya, tapi kenapa kamu masih bertanya hal seperti itu?" tanya Binar mengernyitkan dahinya.


"Hehe, nggak ada topik soalnya, cuma pengen deket aja gitu sama Pak Binar," jawab Ailee meringis.


Gadis itu hormat dan patuh. Seperti biasanya Ailee memberikan finger love kepada Binar. Dan tanpa disadari, Binar pun memberikan finger love kepada Ailee. Apa artinya?


"Paakkkk!" teriak Ailee, ia berusaha menghentikan Binar untuk meminta penjelasan finger love tadi. Namun, Binar bergegas pergi dengan cepat. Wajahnya memerah dan ia jadi salah tingkah.


...*****...


Kala matahari kembali ke peraduannya, anak kembar beserta lelaki yang notabennya sebagai guru itu nampak serius di balkon rumah yang dijadikan tempat belajar. Berbagai materi dan soal latihannya dipelajari sejak jam empat tadi.


Ailee dan Aiden sangat pandai, mereka sudah siap untuk ujian nasional dan ujian masuk ke universitas luar negeri. Cukup mudah bagi Binar untuk memberikan mereka bimbingan, tak seperti anak yang lain.


"Pak, aku izin dulu ya, kebelet..." pamit Aiden terburu-buru meninggalkan Binar dan Ailee.


Buku sudah ditutup, ditata rapi seperti sediakala. Makanan dan minuman pendamping pun telah habis, meja yang tadinya berantakan pun kembali rapi. Saatnya gadis itu menyangga dagu dan menikmati pemandangan indah di depannya.


"Jangan lihatin aku, nanti kamu diabetes," ucap Binar dengan percaya diri tingkat dewa membuat Ailee terpingkal-pingkal dibuatnya.


"Pak, sebenarnya perasaan Pak Binar ke Ailee itu bagaimana?" tanya Ailee penasaran. Akhir-akhir ini ia merasa Binar memiliki perasaan lebih dari sekedar guru dengan murid.


"Perasaan bagaimana? Perasaan sayang, khawatir, mencemaskan?"


Ailee mengangguk.


"Hanya sebagai guru terhadap muridnya, tidak lebih," lanjut Binar membuat senyum Ailee surut seketika.


"Tapi aku merasa Pak Binar ada rasa lain. Pak Binar selalu mencemaskan Ailee, khawatir, kasihan, terkadang juga perhatian, dan-"


"Hanya sebagai guru terhadap muridnya, tidak lebih. Bukankah itu wajar?" potong Binar.


"Pak! Jangan membohongi hati! Aku yakin kok kalau Pak Binar suka sama aku. Apa salahnya sih jujur?"


Binar menarik napas sedalam mungkin sebelum kembali berbicara. Dirinya sebenarnya sudah siap untuk pulang, namun Ailee seakan menahannya dengan melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang tak penting.


"Kalau pun aku suka sama kamu, itu juga nggak mungkin, kan? Kita nggak akan bisa bersama, Lili. Umurku 24 tahun sedangkan kamu baru 18 tahun, kita sudah berbeda jauh. Aku duda, nggak pantas untuk kamu yang masih lajang. Miskin pula, intinya nggak pantas buat kamu. Carilah lelaki yang sepadan denganmu," tutur Binar dengan sungguh-sungguh.


"Aku tak mempermasalahkan semua itu! Dan kita sangat layak untuk bersama!" teriak Ailee dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, Pak. Dan aku yakin Pak Binar juga mencintaiku. Jangan berbohong!" lanjutnya.


"Tidak ada yang berbohong di sini. Lebih baik kamu jangan memikirkan aku lagi dan pikirkan saja ujian nasional serta ujian masuk universitasnya."


Ailee nampak kecewa, ia menggebrak meja dan meninggalkan Binar begitu saja. Dadanya begitu sesak ketika Binar berkata seperti itu. Ia tahu betul kebohongan yang tengah Binar lakukan, ia tahu jika Binar juga mencintainya. Terlihat dari sorot matanya, tapi kenapa lelaki itu masih mengelak?


Perdebatan senja itu membuat Ailee sendu dan menghindar dari Binar dengan waktu yang cukup lama. Tiga hari sudah dirinya tak mengikuti Binar, mengobrol, dan tak pergi ke panti. Gadis itu jadi pendiam, dan begitu malas dengan Binar. Acap kali berpapasan pun Ailee mengalihkan pandangan, tak menyapa seperti biasa. Sedangkan, Binar sangat sedih dengan perubahan Ailee.