
Kedai kopi itu nampak mewah dan elegan meskipun tak banyak dekorasi yang ditampilkan. Sudah cukup lama dirinya ke Indonesia, tapi menginjakkan kaki ke kedai kopi Binar baru kali ini. Ia berjalan pelan menyusuri setiap celah. Minimalis dan terkesan rapi, memperlihatkan bagaimana sifat sang pemiliknya. Pengunjung begitu ramai hingga para barista kewalahan melayani.
Ada sebuah meja yang kosong, tepat di pojokan dan sangat menarik perhatian Ailee karena tampilannya colourful, ceria, berbeda dengan bagian lain. Dan seorang pengunjung menghentikan langkahnya. Tujuh langkah lagi dia akan sampai ke sana, tapi kembali terhenti karena pengunjung itu.
"Mbak, itu tempat khusus untuk perempuan yang dicintai si pemilik kedai. Tak ada yang boleh duduk di sana, mending mbaknya cari tempat lain," ucapnya menghentikan Ailee yang hendak duduk di tempat kosong itu.
Ia pun menatap tempat itu. Meja bundar dan ada dua kursi di sampingnya. Cat dinding berwarna pastel, dihiasi manik-manik yang warna warni, beberapa foto kecil yang berjumlah banyak pun tersusun rapi. Lampu tumbler, hiasan dedaunan, dan lainnya. Sangat lucu dan indah– beda dengan yang lain.
"Ada apa ya, Mas?" tanya Binar dengan secangkir kopi di tangannya. Ia tadi memang membiarkan Ailee berkeliling kedainya sebentar selagi dirinya membuatkan kopi khusus untuk perempuan itu.
"Dia mau duduk di sana, Mas. Selama ini kan nggak ada yang boleh duduk di sana," jawab pengunjung kedai yang sepertinya memang langganan di sana karena sampai tahu seluk beluk kedai tersebut.
Binar tersenyum mendengarnya. Ini memang bukan yang pertama kalinya ada pengunjung setia yang bersikap seperti itu karena memang menghargai sang pemilik kedai.
"Ini perempuan yang saya maksud, Mas. Tempat itu saya persembahkan untuknya," ujar Binar merangkul Ailee yang terkejut dengan ucapannya. Sedangkan pengunjung langsung kembali ke tempat semula karena merasa malu.
Merasa tak nyaman, Ailee langsung melepas tangan Binar yang merangkul dirinya.
"Duduklah di sana, aku sudah membuatkan kopi favoritmu. Macchiato Latte."
Lelaki itu membimbing Ailee untuk duduk di tempat khusus. Pengunjung yang mengetahui aturan di kedai itu pun tersenyum senang karena akhirnya tempat itu diduduki oleh perempuan yang selama ini Binar maksudkan.
Ailee masih tercengang, apalagi saat mendekat dan menatap foto-foto yang terpajang di dinding. Foto dirinya yang sedang sendiri dan ada juga foto dirinya bersama Binar. Satu foto di antaranya adalah foto yang diberikan Ailee saat perpisahan dulu, tak menyangka jika Binar masih menyimpannya. Hiasan dinding dan meja di kedai tersebut juga sebagian hiasan yang diberikan Ailee dahulu.
Mungkin pengunjung yang mencegah Ailee tadi tak begitu mengenali wajahnya, padahal fotonya terpampang di dinding.
"Kenapa Pak Binar membuatkan tempat khusus untukku? Dan kenapa masih menyimpan barang pemberianku?"
"Karena kamu sangat spesial dan penting bagiku. Kamu sangat ingin jika aku meraih mimpi dan mencapai kesuksesan, kamu dulu juga selalu memberiku semangat jika aku terdiam di tempat. Apa yang aku raih saat ini adalah berkat dirimu juga. Terima kasih telah hadir dan memberi kontribusi yang cukup besar."
Untaian kata yang disusun menjadi kalimat itu memang terdengar sederhana namun mampu menggetarkan jiwa. Terlena sudah gadis itu mendengar perkataan lelaki yang duduk di sampingnya dengan menebarkan senyum manis yang selama ini dirindukan.
"Lebay!" tukas Ailee berusaha menyembunyikan rasa terharu karena telah dianggap spesial oleh seseorang yang dulu sempat mengisi hatinya.
"Eh, serius ini tuh. Ah iya, coba cicipi kopiku. Kamu pasti merindukannya bukan?" goda Binar menyodorkan kopi di cangkir berwarna biru pastel ke tangan Ailee, namun gadis itu menolak membuat Binar mengerutkan dahi.
"Aku sudah membawa minum," ucap Ailee mengambil tumbler berisikan air putih dari tasnya. Ia memang selalu membawa air putih ke mana pun dirinya melangkah.
"Minumlah sedikit, ini kopi favoritmu dulu, dan kamu selalu menyukai kopi buatanku. Apa kamu masih marah hingga tak mau meminum kopi buatanku?"
"Air putih lebih sehat, tak ada kadar gula di dalamnya. Sedangkan kopi buatan Pak Binar kan ada gulanya, nanti aku bisa gendut kalau banyak minum yang manis."
"Mau kamu gendut atau kurus kan nggak masalah? Aku tetep sayang kok," gumam Binar yang didengar jelas oleh Ailee tapi gadis itu pura-pura tak mendengarnya.
"Oh ya, ini ada undangan pernikahan. Papa sama mama kemarin lupa mau ngasih ini ke Pak Binar dan Bu Melati. Jangan lupa datang ya, Pak," ujar Ailee dan mengambil undangan pernikahan dari tasnya.
"Kapan? Dan di mana?"
"Dua hari lagi. Di hotel ABC."
"Aku akan datang, simpan undangannya lagi karena aku tak membutuhkannya," ucap Binar ketus.
Ia lalu menuju ke ruang kerjanya yang tak jauh dari tempat Ailee berada. Pikirannya sudah tak karuan, gadis yang ia nantikan selama ini akan menikah dengan lelaki lain.
Padahal 'Ai' dalam undangan tersebut adalah Aiden bukannya Ailee. Pikiran negatif menyela terlebih dahulu hingga kesalahpahaman pun muncul. Ah, Binar menggemaskan.
"Kenapa lelaki itu tiba-tiba berubah? Apa ada yang salah denganku? Aneh sekali!" gumam Ailee menatap ruangan Binar yang sudah tertutup rapat.
"Aish! Bodo amat lah, dia kan emang gitu orangnya kadang baik kadang ngeselin. Dasar perfect duda!"
Umpatan terlontar, Ailee kesal karena diacuhkan Binar padahal lelaki tadi memaksanya untuk mampir ke kedainya, tapi sekarang malah ditinggalkan. Siapa yang tak akan kesal jika seperti itu?
...*****...
Tiba di mana hari pernikahan. Selama dua hari setelah mendapat kabar Ailee, Binar merasa sedih sekali. Begitu hancur hatinya, remuk redam tak mampu dipulihkan kembali. Gadis yang ia cinta dan nantikan bertahun-tahun lamanya ternyata akan segera menjadi milik lelaki lain.
Dia semakin tak fokus ketika sudah sampai di acara pernikahan. Bu Melati pun nampak sedih karena menantu yang ia idamkan tak bisa digapai, Ailee akan menjadi menantu orang lain. Sedih benar hatinya, sama seperti anaknya. Padahal kedua orang itu hanya salah paham dan Binar menjadi sumber utama kesalahpahaman tersebut.
"Siapa yang akan menikah, Pah?" tanya Clarissa. Entah sudah berapa kali dia bertanya tapi tak ada jawaban baik dari papanya ataupun neneknya.
Sampai di ruang pesta, Binar dan keluarga disambut oleh Ailee yang sangat cantik berbalut gaun berwarna salmon yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Wajahnya pun dipoles, rambut ditata sedemikian rupa.
"Mama..." seru Clarissa berhambur memeluk mamanya.
Binar dan Bu Melati masih memasang rasa sedih apalagi saat melihat Ailee yang sepertinya sudah siap melangsungkan acara.
"Selamat ya..." ucap Binar dan Bu Melati lirih. Begitu sesak tatkala mengucapkannya, sedangkan Ailee mengernyitkan dahi. Selamat untuk apa?
"Selamat? Selamat karena mendapat kakak ipar?"
Dua orang yang mengucap selamat tadi saling pandang mencoba mencerna perkataan Ailee. Lalu, mata mereka berpencar mencoba mencari sesuatu untuk meyakinkan. Sebuah papan bertuliskan nama pengantin pun ditemukan di samping pelaminan. Aiden dan Sora, bukan Ailee.
Melihatnya, Bu Melati langsung mencubit anaknya dengan keras karena merasa dibohongi dan dikerjai.
"Kemarin aku nggak baca undangannya sih, Mah. Tapi ada tulisan 'Ai' kupikir Ailee yang akan menikah," ujar Binar berbisik membela dirinya. Ia mengusap tangannya yang memerah bekas cubitan mamanya.
"Lain kali itu harus teliti jadi orang, awas saja kalau hal ini sampai terjadi lagi!"