
Pagi menjelang, lewat dari jam biasanya, dua insan itu belum juga bangun. Sepertinya mereka sangat nyaman hingga nyenyak tidurnya. Sejak semalam pelukan itu tak kunjung lepas juga. Dan kedua mata mereka tak lama kemudian pun terbuka.
Saling tatap dan mencoba mengingat apa yang terjadi hingga mereka bisa tidur bersama. Ah, ternyata pernikahan semalam bukanlah mimpi belaka. Ini sangatlah nyata. Ailee mengusap wajah lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu
"Pak Bin, apakah benar aku sudah menjadi istrimu sekarang?" tanya Ailee membuat Binar terkekeh.
"Tentu saja, selamat pagi istriku..." Binar mengecup kening Ailee begitu lama.
"Pak Bin..." Ailee mendelik ketika ada sesuatu menggesek tubuhnya. Sesuatu yang mengeras dan cukup menggelikan. Dan Binar malah terlihat santai.
"Kita melupakan sesuatu semalam, bisakah kita melakukannya sekarang?" Binar mulai parau, ia sudah menahannya semalaman. Senjatanya mulai mengeras perlu dilunakkan kembali, dan itu hanya Ailee yang bisa melakukannya.
Tangan Binar mulai nakal, ia mengarahkan tangan istrinya ke ular miliknya. Dan Ailee yang polos tak tahu apakah yang keras dan tengah disentuhnya itu.
"Pak Bin, itu apa?" tanya Ailee bergidik ngeri.
"Sesuatu yang membuatmu merasakan surga duniawi. Sangat nikmat pokoknya, mau mencoba?" goda Binar.
Tangan Ailee semakin gemetaran ketika menyentuh ular Binar. Ia berusaha melepasnya tapi Binar malah mempertahankannya. Ailee semakin takut dan ia malah meremasnya kuat membuat Binar melolong panjang.
"Arghhh..."
"Aaa mengerikan!" teriak Ailee, ia langsung beranjak dari kasurnya dan keluar dari kamar.
Sudah seperti orang gila saja, sedangkan Binar malah terkikik geli melihat istrinya itu. Baru saja memintanya untuk memegang sudah seperti itu, apalagi jika melakukan yang sesungguhnya? Ah, iya, Binar lupa jika istrinya itu sangatlah polos.
"Maaaahhhh..."
Ailee terus berteriak membuat seisi rumah ikutan panik. Ia menghampiri mamanya yang berada di dapur. Papa, Aiden, dan juga Sora pun turut menghampirinya. Raut wajah Ailee yang panik dan ketakutan menular pada seisi rumah.
"Ada apa heiii..." Aza langsung memeluk putrinya supaya tenang.
"Pak Bin..." seru Ailee gemetaran.
"Ada apa dengan suamimu?" tanya Aksa, ia turut mengusap kepala putrinya supaya tenang.
"Tadi aku menyentuh sesuatu yang panjang, tegak, dan keras." Ucapan Ailee tentu saja menggelakkan tawa semua orang. Mereka sudah tahu apa yang dipegang Ailee tadi.
"Jangan takut, lakukan saja seperti yang pernah kita lihat dulu. Bukankah kita juga pernah melihat mama dan papa melakukannya? Ayolah jangan terlalu polos jadi orang itu," seru Aiden keceplosan. Ia lalu membungkam mulutnya rapat-rapat ketika menyadari apa yang telah dikatakannya. Sontak saja Aza dan Aksa langsung memandangi mereka berdua.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Aksa dengan tatapan dingin.
"Ehm... itu...maaf Pah, Mah. Dulu kita nggak sengaja lewat kamar Mama sama Papa, terus pintunya nggak dikunci, dan..."
"Aiden! Ailee!" teriak Aksa dan Aza. Mereka lalu mengejar anak kembar itu hendak memberinya pelajaran. Memalukan sekali.
"Kenapa?"
"Hehe, nggak papa kok, Pak Bin." Ailee malu setengah mati jika harus menceritakannya pada Binar tentang kelakuan nakalnya bersama sang kakak. Jangan sampai suaminya itu tahu apa yang telah diperbuatnya.
Binar pun mengangguk, ia lalu menuju ke kamar mandi hendak membersihkan diri. Sedangkan Ailee menyiapkan baju Binar selagi menunggu untuk gantian mandi. Ia terkikik tatkala melihat pakaian dalam Binar. Malu dan geli. Tapi, ia harus membiasakannya sama seperti yang mamanya ajarkan. Semuanya memang telah diajarkan sang mama bagaimana melayani suami dengan baik, Ailee tinggal mempraktikkannya.
Tak lama kemudian, Binar keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit. Tapi dimulai dari dada sampai sepanjang lutut karena handuk yang dipakai adalah handuk Ailee, tentu saja Ailee terpingkal-pingkal melihat suaminya yang memakai handuk layaknya seorang perempuan.
Lelaki itu hanya mendengus kesal karena tahu betul apa yang sedang ditertawakan istrinya. Ia lalu mengambil baju di tangan Ailee dan kembali lagi ke kamar mandi. Ia pun merutuki dirinya sendiri, harusnya tadi membawa baju ganti saat masuk ke kamar mandi.
...*****...
Kedua orang itu telah mandi serta baru saja selesai sarapan, dan kini duduk di tepi ranjang dengan jarak yang tak terlalu jauh. Canggung dan bingung harus berbuat apa. Dan kaki Binar mulai nakal, ia menyenggol kaki Ailee membuat gadis itu langsung menoleh ke arahnya.
"Hufftt, kita ini kenapa sih, Pak? Kok malah jadi canggung gini?" keluh Ailee seraya menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
Binar turut menjatuhkan tubuhnya juga di ranjang, ia menghadap istrinya seraya membelai pipinya dengan lembut. "Ayo mempermainkan permainan yang sangat seru!"
Jantung Ailee bergemuruh, ia langsung pucat pasi karena tahu apa yang diinginkan Binar. Sebenarnya ia masih takut, apalagi ketika mendengar cerita Sora, kakak iparnya itu ketika menjalani malam pertama dengan Aiden. Hatinya memang menolak, tapi tanpa disangka dia malah mengangguk polos.
Lelaki itu pun bangun, ia menggendong istrinya dan memposisikannya senyaman mungkin- di tengah ranjang bukan di tepi. Dikurung tubuh istrinya itu di bawahnya, dibelai dengan indah wajahnya yang ayu rupawan. Dikecup seluruh bagian wajahnya, turun ke leher, tulang selangka terlihat jelas karena dia sangatlah mungil.
Kaos biru dongker yang tengah dipakai istrinya itu berusaha ia buka. Cukup mudah karena ukurannya besar dan tak sempit di tubuh Ailee.
"Pak Bin, aku malu!" seru gadis yang akan segera menjadi wanita Binar seutuhnya itu. Ia bergerak mengambil bantal di sampingnya dan menutupi tubuhnya yang kini hanya memakai pakaian dalam saja karena kaos berhasil dilepas.
"Jangan malu, suami istri akan selalu seperti ini," jawab Binar, seseorang yang akan segera menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya dan selamanya.
Ailee hanya pasrah, kata mamanya ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Ia harus melakukan yang terbaik untuk Binar. Matanya terus saja menutup dan menahan geli karena sentuhan Binar. Tentu saja Binar adalah lelaki yang pertama kali menjamah tubuhnya. Dan kemudian, ia pun memberanikan diri membuka mata dan menilik apa yang dilakukan suaminya.
Sial, Binar sudah melepas seluruh pakaiannya juga. Dan kini dua insan itu hanya berbalut selimut. Geli dan ada sensasi aneh tatkala kulit saling beradu. Dan Ailee sudah merasakan ular milik Binar menyentuh pahanya. Lelaki itu asyik mengabsen bagian tubuhnya, tak luput satu bagian pun.
"Paaaak Biiiin!" teriaknya ketika Binar menggigit leher Ailee karena gemas, dan bagian itu pun memerah seketika. Milik Binar, ya, begitulah sang pelaku mengartikannya.
"Jangan teriak, telingaku sakit!" seru Binar memperingatkan. Dan sepertinya Binar harus memaklumi itu, istrinya memang pemilik suara yang sangat merdu dengan kata lain merusak dunia. Ia harus membiasakannya.
.
.
.
Dan....