Perfect Duda

Perfect Duda
Anak Nakal



Binar memang lelaki idaman, pantas saja Ailee menyukainya. Pagi- pagi sekali, ia sudah bersiap rapi pergi ke sekolah. Tak lupa dirinya membuatkan susu terlebih dahulu untuk Clarissa. Sebelum itu, ia juga membantu Bu Melati memasak untuk anak- anak di panti. Terlihat lucu memang jika lelaki tampan itu terjun ke dapur, tapi tidak bagi Binar. Ia tak mempermasalahkan apapun.


"Mah, jangan capek- capek ya. Biar Bu Lilis yang bantu urus anak panti," ujar Binar. Sebenarnya ia tak tega dengan Melati yang mengurus anak- anak panti sendirian, oleh karena itu dirinya menyewa jasa asisten rumah tangga. Awalnya Melati menolak karena ia masih sanggup mengurus panti serta anak Binar. Lebih tepatnya ia kasihan dengan Binar yang harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar Bu Lilis, orang yang akan membantunya di panti.


"Iya siap, Mama akan patuh dengan anak Mama satu- satunya ini," seru Melati.


"Maaf selalu merepotkan." Binar merasa tak enak dengan Mamanya sendiri yang selalu diminta tolong untuk menjaga Clarissa padahal Mamanya tak merasa terbebani dan malah senang saat menjaga cucunya sendiri.


"Sudah- sudah, kamu nanti malah terlambat pergi ke sekolah."


Binar pun langsung berpamitan kepada anak dan Mamanya sebelum berangkat. Helm hitam bawaan motor melekat di kepalanya. Jaket hitam serta tas punggung juga sudah melekat di tubuhnya. Kunci motor ditancapkan lalu diputar, ia lihat spedometernya terlebih dahulu. Bensinnya masih ada dua garis, ia tak perlu mengisinya, masih cukup sampai pulang nanti. Ia pun segera melajukan motor matic berwarna hitam miliknya, baru saja lunas bulan kemarin.


Dengan kecepatan sedang, ia melajukan motornya menyusuri ibukota yang padat. Saat ia berhenti di lampu merah, suara teriakan seseorang yang sangat ia kenal terdengar jelas.


"Pak Binaaaarrrrr!"


"Paakkkk!"


"Pak Binar!" Suara itu semakin terasa dekat, Binar lalu menoleh ke samping. Ia berjingkat melihat Ailee yang ternyata berada di dalam mobil yang berjejer dengannya. Gadis itu memasang senyum dan memperlihatkan giginya, tangannya terus melambai.


Lampu lalu lintas tak kunjung berubah juga, Binar ingin sekali melajukan motornya meninggalkan Ailee.


Tiga...dua...satu...


Tanpa jeda lagi, Binar langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi saat lampu merah telah tergantikan.


"Huahahahaha..." Aiden yang melihat Binar ketakutan saat bertemu dengan Ailee pun terpingkal- pingkal.


"Pak Binar kaya lihat setan, ketakutan dia wkwkwk..." Aiden melajukan mobil dan tak berhenti meledek Ailee.


"Diam saja kamu itu! Mungkin dia emang lagi buru- buru makanya cepet- cepet pergi!" elak Ailee yang semakin membuat Aiden terpingkal- pingkal.


"Makanya jangan berlebihan jadi orang tuh biar Pak Binar nggak takut. Kamu ngedeketin yang ada Pak Binar malah jijik sama kamu!"


"Mana ada! Dia juga seneng kok deket sama aku. Aku kan lucu, baik, dan menggemaskan," tukas Ailee menyombongkan dirinya sendiri, Aiden hampir muntah dibuatnya.


Matematika memang tak bisa jauh dari anak IPA. Entah berapa jam mata pelajaran matematika dalam seminggu, intinya bisa membuat otak hampir keluar dari tempatnya. Itu pun dibagi menjadi dua, wajib dan peminatan.


Tapi beda dengan Ailee, ia sangat menyukai matematika apalagi gurunya adalah Binar. Mau seminggu full pelajaran matematika pun tak apa baginya.


"Ingat! Kalian itu sudah kelas tiga, fokuslah belajar dan jangan memikirkan hal lain! Perjalanan yang sesungguhnya akan segera dimulai, fokuslah mengejar impian kalian!" seru Binar kepada anak kelas dua belas IPA satu itu. Sebenarnya ia menyindir Ailee yang sejak pertama kali dirinya mengajar terlihat tak fokus dan malah memperhatikan dirinya bukan pelajarannya.


"Tadinya mau fokus, Pak. Tapi semenjak Pak Binar yang mengajar jadi nggak fokus lagi. Pak Binar terlalu tampan..." celetuk Ailee yang diiyakan oleh siswi kelas itu. Sedangkan para siswa hanya bersorak, mereka merasa iri dengan Binar yang kini menjadi sorotan para cewek- cewek di sekolah itu.


"Baiklah, bel pergantian jam pelajaran telah berbunyi, itu berarti saya harus segera mengakhiri kelas..."


"Anjayyy! Bucin banget sih, bikin malu aja!" seru Aiden mencubit lengan adiknya.


Tanpa ba- bi- bu lagi, Binar langsung keluar dari ruang kelas menuju kelas selanjutnya. Kelas Ailee langsung bersorak saat ada guru piket masuk dan memberitahu jika ada jam kosong. Mereka pun berhambur melakukan aktivitas masing- masing karena guru itu tak meninggalkan tugas apapun.


Aiden langsung mengambil gitar yang ia bawa dari rumah tadi, ia memainkannya. Dan Sora melantunkan lagu mengikuti iringan petikan gitar Aiden. Mereka berdua terlihat serasi, sering juga mengikuti acara- acara sekolah maupun luar sekolah.


Suara Sora sangatlah merdu. Sudah cantik, pintar, bersuara merdu pula. Siapa yang tak menyukainya? Aiden saja tergila- gila, tapi ia tak pernah menunjukkannya kepada siapapun kecuali dengan Ailee.


"Ehem...ehem..." dehem Ailee menghampiri keduanya yang mojok di kelas.


"Sini ikut nyanyi," ucap Sora menarik kursi untuk Ailee.


"Jangan- jangan! Nanti bisa gempa kalau Ailee nyanyi," cegah Aiden, Ailee pun memajukan bibirnya. Kakaknya itu kalau berbicara nyelekit, tak pernah disaring terlebih dahulu.


Ailee pun jadi malas bergabung, ia keluar kelas. Telinganya tak sengaja mendengar suara Binar di kelas sebelah, kelas Kimmy dan juga Bryan. Ia pun mengintipnya dari pintu kelas yang terbuka sedikit.


"Sssttt..." Ailee mencoba memanggil Kimmy yang duduk di depan.


Kimmy pun menoleh ke arah pintu, terkejutlah ia mendapati sahabatnya yang cengar cengir di sana. Gadis itu mengisyaratkannya supaya geser karena dia ingin duduk bersamanya dan mengikuti pelajaran. Ailee langsung masuk dengan pelan saat Binar menghadap ke papan tulis. Ia bergabung dengan Kimmy.


"Ngapain sih ikut pelajaran di sini? Kembali aja ke kelasmu sana!" seru Kimmy.


"Punyaku jamkos! Aku mau di sini aja, ada Pak Binar soalnya hehehe..."


Kimmy pun menepuk keningnya, Ailee sangatlah menjengkelkan jika sudah menyangkut Binar.


"Jadi, ini materinya sangat mudah sekali kita hanya butuh-" penjelasan Binar terputus saat dirinya melihat sesuatu yang mengganjal. Ada siswi lain yang duduk bersama Kimmy, ia menutupi wajahnya dengan buku yang terbalik.


Binar pun mendekat mengambil buku itu, dan ternyata itu adalah Ailee. Demi Tuhan! Kenapa ada anak yang sangat menyebalkan seperti Ailee? Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar melihat Ailee yang cengar cengir.


"Ngapain kamu di sini? Kembali ke kelasmu sekarang juga!" seru Binar.


"Anu- itu-"


"Ailee belum paham materinya, jadi ikut kelas Pak Binar lagi mumpung jam kosong, Pak!" jawab Ailee.


"Keluar!" Binar pun menyeret Ailee keluar dari kelas itu. Ailee pun memberontak, tapi Binar tak bisa dilawan. Kelas itu terasa ramai, siswa dan siswi yang lain tertawa melihat Ailee.


"Sakit, Pak! Lepasin!" Tangan Ailee memerah karena genggaman kuat dari Binar.


"Maaf!" Binar langsung kembali ke kelas, dan tak lupa menutup pintunya supaya anak itu tak masuk dan mengganggunya lagi.


Ailee kembali mengintip dari jendela, Binar yang tahu pun jadi tak bisa fokus. Anak itu benar- benar nakal. Saat ia menatap Ailee lagi, anak itu sudah tak ada. Ternyata Ailee dijewer kepala sekolah dan langsung disuruh kembali ke kelasnya lagi. Binar pun terpingkal- pingkal mengetahuinya.