
Beberapa buah- buahan segar, brownies, dan juga makanan lainnya telah berada di dalam paper bag yang ia jinjing. Tangannya mengetuk pintu rumah Binar dengan pelan sesuai kaidah yang berlaku, matanya memicing mencoba melihat dari jendela kaca memastikan jika ada orang di dalam.
Bu Melati dengan Clarissa yang berada di gendongannya keluar membukakan pintu. Ia pun dipersilakan untuk menuju kamar Binar secara langsung.
Binar terlihat lain. Lelaki itu terlihat lemah, pucat, tak bertenaga di atas ranjangnya. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Wadah serta handuk bekas mengkompresnya pun masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
Ia mulai mendekat, duduk di tepi ranjang yang tersisa. Sempit dan tak nyaman. Tangannya dengan hati- hati menyentuh kening lelaki yang memejamkan mata itu. Panas, ia bisa memperkirakan jika suhu tubuh Binar masih di atas 37 derajat celsius.
"Sedang apa kamu?"
Ailee terlonjak ketika mata Binar terbuka lebar, buru- buru tangannya ia turunkan dari kening Binar.
"Ha- hanya mengecek suhu tubuh Pak Binar saja," jawab Ailee gugup.
"Sejak kapan demamnya? Dan bagaimana tubuh Pak Binar sekarang? Apakah jauh lebih baik? Apa Pak Binar sudah minum obat? Apa-"
"Ailee, diamlah! Kamu malah semakin membuat
pusing," ucap Binar lemah hampir tak terdengar. Ia hendak melanjutkan tidurnya tapi tak bisa karena ada Ailee.
"Maaf..."
Ailee membiarkan Binar melanjutkan tidurnya, tapi ia tak beranjak dari kamar itu. Kursi yang berada di depan meja kerja Binar pun ia tarik dan letakkan di samping ranjang. Lalu, ia pun duduk mengawasi Binar karena takut sewaktu- waktu lelaki itu membutuhkan bantuan.
Entah sudah berapa lama dirinya di sana, malam pun mulai menghampiri. Ia beranjak untuk menutup jendela kamar Binar dan tak lupa dengan tirainya. Lalu kembali memastikan suhu tubuh Binar, sudah tak seperti awalnya tadi.
"Pak..." seru Ailee menusuk- nusukkan jarinya ke lengan Binar mencoba membangunkan lelaki itu.
"Astaga! Kamu belum pulang ternyata?!" Binar memekik mendapati Ailee yang masih di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul enam petang, berjam- jam gadis itu berada di sana.
Ailee hanya memberikan gelengan.
"Kenapa belum pulang? Ini sudah hampir gelap, lekaslah pulang sebelum larut." Binar bangun dan bersandar dengan satu bantal di punggungnya.
Ailee menggeleng lemah, ia kemudian mencondongkan badannya memeluk Binar. "Pak, cepet sembuh. Aku nggak suka kalau Bapak sakit terus..." lirih Ailee terisak.
Terkejut bukan main melihat Ailee yang tiba- tiba saja memeluknya dan menangis di dekapannya. Tangan Binar pun terulur untuk mengusap punggung gadis yang masih terisak– berusaha menangkan.
"Jangan menangis, jangan khawatir. Sebentar lagi juga lekas membaik kok," ucapnya bergetar. Jantungnya berdesir tak karuan. Ternyata selain ibunya masih ada yang mencemaskan dirinya begitu dalam. Terharu sekali dirinya.
"Tubuh saya bau, hari ini belum mandi. Kamu masih mau memeluk saya?" goda Binar.
"Aku tahu itu, tapi aku nggak akan melepasnya, Pak!" jawab Ailee. Ia memejamkan matanya menikmati kehangatan serta kenyamanan dari lelaki itu, rasanya seperti memeluk Papanya. Sama- sama nyaman. Ailee sangat suka.
Mereka berpelukan beberapa saat sebelum Bu Melati datang membawakan makan malam untuk Binar. Sontak saja Ailee dan Binar terlonjak melepas pelukan mereka.
"Aduh, ternyata Mama mengganggumu ya, Bin," goda Bu Melati membuat wajah Binar merona.
"Tadi...Tadi Ailee hanya..."
"Hanya memelukmu? Mama tahu itu! Wahh, kalau begitu pasti kamu langsung sembuh nih."
"Mahhh..."
"Iya- iya, Mama akan keluar dan tak akan mengganggu kalian lagi. Selamat bersenang- senang," ucap Bu Melati yang kemudian keluar tak lupa menutup pintu kamar Binar.
"Apa maksudmu?" tanya Binar memicingkan matanya.
"Maksudnya Pak Binar harus segera makan dan minum obat biar cepet sembuh," jawab Ailee gelagapan mengambil piring makan malam Binar.
"Yuk!" Ailee menyodorkan sendok berisikan nasi serta lauknya ke mulut Binar berharap lelaki itu mau menerima suapannya.
Dan...euhmm...
Binar menerima suapan Ailee! DEMI APAAAAA?! (Ah, Lebay!)
Kreekkkk...
Suara pintu terdengar jelas, terlihat juga Bu Melati yang ternyata masih berada di sana sedari tadi. Ah, dia mengintip. Entah sejak kapan, sepertinya setelah mengantarkan makanan tadi– cukup lama.
"Mah..." tegur Binar. Melati pun menampakkan diri sepenuhnya. Bibirnya melengkung, ia cengar cengir sendiri dibuatnya. Salah tingkah pula karena ketahuan.
"Mama nggak ngintip kok, hanya melihat sedikit," ujar Bu Melati membela dirinya. Melihat sedikit? Bukankah itu kata lain dari mengintip? Ah, sudahlah biarkan saja.
Bubu baba bubu baba...
Clarissa yang berada di gendongan Bu Melati tampak senang sekali. Anak itu mengoceh tiada henti, sepertinya ia sehati dengan Bu Melati yang senang melihat Ailee dan Binar.
"Tuh Mama sama Papa kamu lagi berduaan. Ehh, Nenek salah ngomong. Hihihi, ayo kita keluar saja sebelum Papamu menelan Nenek hidup- hidup!" Bu Melati lantas keluar dari kamar Binar, dan kali ini benar- benar pergi tak mengintip lagi melainkan menemani Aiden yang menunggu di ruang tamu.
"Kenapa senyum- senyum?" gertak Binar kepada Ailee yang senyum- senyum sendiri. Pasti gara- gara Bu Melati terus menggoda dan berpihak padanya.
"Kan aku emang murah senyum, Pak," tukas Ailee.
"Memang berapa harganya?"
"Enggak murah deh, tapi mahal! Limited edition dan hanya diperuntukkan orang- orang tertentu saja. Kalau untuk Pak Binar aku kasih gratis," jawab Ailee dengan senyum malu- malu.
Binar tersenyum di balik wajahnya yang pucat. Mungkin ini adalah senyum pertama hari ini, senyum yang merekah dikarenakan kehadiran gadis yang selalu di sampingnya.
Nasi dan berbagai lauk di piring telah habis dalam waktu sekejap tanpa jeda dan juga tetap masuk ke perutnya dengan bantuan Ailee.
"Aku akan menyiapkan obatnya, jangan tidur dulu tunggu sebentar."
Beberapa macam obat dari dokter dibacanya dengan teliti, ia kupas obat mana yang harus diminum Binar ketika malam. Ada tiga buah obat serta satu vitamin, ia pindahkan ke tangan Binar. Ditelan satu persatu, kemudian meneguk air putih.
"Apa masih terasa pusing? Sepertinya suhu tubuhnya sudah mulai turun, Pak," seru Ailee.
"Sepertinya begitu, jauh lebih baik sekarang."
"Tidurlah lagi kalau begitu. Aku akan menunggu sekitar sepuluh atau lima belas menit untuk kembali mengecek suhu tubuhmu, Pak."
Dengan telaten dan sigap layaknya perawat ataupun dokter yang sesungguhnya, Ailee membantu Binar berbaring kembali tak lupa menyelimutinya. Sangat mengagumkan, tak pernah Binar mendapat perlakuan seperti itu selain dari mamanya.
"Pulanglah sebelum larut, jangan membuat Papa sama Mamamu khawatir. Maaf nggak bisa mengantarmu," ucap Binar.
"Jangan khawatir, aku kemari dengan Kak Aiden jadi aku akan baik- baik saja."
Sedikit kelegaan bagi Binar. Ia pikir Ailee ke rumahnya sendiri, oleh sebab itu dia khawatir jika gadis itu pulang larut malam.