
Udara pagi memang sangat segar. Belum tercemar dengan hal lain. Sejuk dan menenangkan. Akan tetapi, pagi itu seorang gadis yang baru saja dinyatakan pulih oleh dokter tak bisa menikmati paginya seperti biasa. Ada hal penting yang harus dilakukan.
Beberapa hari lalu dosennya berkata jika ada hal yang harus diurus guna wisuda magisternya yang cukup lama tertunda, sehingga mengharuskannya kembali ke Jepang dalam waktu dekat untuk menyelesaikannya. Dan pagi itu dia sudah bersiap untuk melakukan penerbangan.
Setelah hampir satu tahun tinggal di Indonesia akhirnya ia akan kembali ke tempat yang sempat menjadi tempat perlindungannya dari rasa sakit hati. Diantar mama dan papanya ke bandara dengan nasihat yang tak henti-hentinya terucap. Tentu saja orang tua Ailee khawatir dengannya setelah suatu hal buruk terjadi padanya.
"Baik-baik di sana, mama sama papa akan datang sehari sebelum wisuda," ucap Aza membelai rambut Ailee.
"Iya, Mah. Tenang aja, Ailee akan menjaga diri baik-baik."
"Kalau ada apa-apa hubungi papa secepatnya, jangan sembunyikan sesuatu apapun. Jangan sampai seperti kemarin," timpal Aksa dengan tegas.
Ailee jadi merasa bersalah karena dulu sempat menyembunyikan penyakitnya dari siapapun hingga mereka khawatir dan selalu memberinya ultimatum agar tak melakukan hal serupa.
Dulu ia pergi dengan hati yang gundah dan dada yang sesak atas sakit hati karena Binar, dan kini ia pergi dengan hati yang lega, tak ada hal yang menyakitkan lagi. Perjalanan dihabiskan dengan membaca buku yang diberikan Binar saat ia dirawat di rumah sakit supaya tak bosan katanya. Ada banyak buku yang diberikan, dan masih ada yang tersimpan di kotak kado belum tersentuh sama sekali.
Dan betapa terkejutnya ia tatkala membaca judul cover dari beberapa buku yang tersimpan di kotak tersebut. Berbagai buku tentang suami istri, bagaimana membina rumah tangga yang baik dan sesuai ajaran agama, cara menjadi istri yang baik, dan lain sebagainya. Ailee tersenyum-senyum sendiri dibuatnya.
"Kamu menginginkan aku menjadi istrimu, ya?"
Ailee terus saja menggelengkan kepalanya ketika melihat buku dari Binar. Ia terkekeh-kekeh sendiri sudah seperti orang gila saat lembar demi lembar dibuka dan dibaca. Penumpang di sampingnya jadi terheran-heran dengan Ailee yang membaca buku tapi sudah seperti orang gila.
Perjalanan dihabiskan dengan membaca satu buku dari Binar. Dan kini ia sudah berada di apartemennya. Tempat nyaman yang ditinggalkan berbulan-bulan lamanya. Bersih dan terawat karena dulu ia menyuruh orang kepercayaannya untuk selalu membersihkan dan menjaga apartemennya.
Gadis itu pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia sangat merindukan kamarnya itu. Bantal dan guling dipeluknya erat sebagai pelepas rindu setelah lama tak berjumpa. Bingung harus apa karena pertemuan dengan dosennya besok, ia pun berencana menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku dari Binar lagi.
Dua jam berlalu, ia mulai mengantuk dan berniat untuk tidur. Tapi suara bel apartemennya membuatnya beranjak dan membukakannya. Diintipnya sebentar dari celah pintu apartemen, terkejutlah ia mendapati Binar yang berdiri tegap di sana. Ia pun segera membukanya karena takut jika itu halusinasinya saja. Tapi ternyata itu adalah hal nyata.
"Ke- kenapa bisa di sini?"
Binar tak menjawab dan dia langsung melenggang masuk. Tatapannya dingin seperti ada suatu hal yang membuatnya sedikit marah.
"Kamu ingin menjauhi aku lagi kan makanya kamu ke Jepang lagi? Tapi untuk kali ini akan kupastikan jika kamu nggak akan pergi meninggalkanku lagi," ucap Binar setelah mendaratkan tubuhnya di sofa dan menyalakan televisi. Setelah mendengar perkataan orang tua Ailee yang katanya gadis itu pergi ke Jepang, ia pun segera memesan tiket dan penerbangan dilakukan dua jam setelah penerbangan Ailee.
"Apa salahku sampai kamu mau berniat meninggalkan aku lagi?" Binar terus mengoceh membuat Ailee bingung.
"Hah? Aku kan ke sini mau ngurus wisuda magisterku, Pak. Kenapa Pak Binar tiba-tiba gitu sih? Ihh nggak jelas!"
Pintu kamar Ailee kembali terbuka, ia menghampiri Binar. "Eh, Pak Bin ngapain masih di sini? Pulang sana atau nggak cari penginapan!"
"Galak banget sih, malam-malam gini suruh pergi. Aku kan nggak tahu daerah sini, nggak bisa bahasa Jepang lagi," gumam Binar menunduk.
Ailee menepuk keningnya, ia pun duduk di sofa samping Binar memikirkan cara supaya lelaki itu keluar dari apartemennya. Ia pun membuka ponselnya mencoba mencarikan penginapan untuk Binar.
"Nih, lihat!" seru Binar memperlihatkan pesannya bersama Aksa. Di mana papanya Ailee itu memperbolehkan Binar menginap di apartemen dengan syarat tak melakukan hal aneh dan tidur di kamar lain.
"Aih, kenapa papa memperbolehkanmu, Pak? Ini pasti rekaan Pak Binar aja, kan? Bohong nih pasti chat-nya."
"Enak aja."
Mereka sama-sama terdiam menyaksikan televisi. Binar tak paham apa yang dibicarakan, karena semuanya menggunakan bahasa Jepang, tak sedikitpun ada yang menggunakan bahasa Inggris apalagi Indonesia.
Sedangkan Ailee menjadi canggung tak tahu harus bagaimana lagi. Ia pun memilih untuk mandi. Kamar mandi di sana hanya ada satu, jadi Binar harus mengantri setelah Ailee. Sembari menunggu dia pun membuka kopernya dan mempersiapkan bajunya nanti.
Betapa terkejutnya dirinya saat kopernya itu terdapat pakaian dan perlengkapan perempuan. Ia kembali menutup koper tersebut dan mengeceknya.
Koper hitam sama persis dengan miliknya akan tetapi ternyata nama yang di sana bukanlah namanya dan ia baru sadar jika pin keamanan koper itu tak diatur padahal punya Binar telah diatur pinnya. Fix, Binar salah mengambil koper. Lalu, bagaimana sekarang? Siapa pemilik koper tersebut?
"Udah, Pak. Silakan mandi," ucap Ailee, baru saja keluar dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Iya bentar." Binar tampak mengatur napasnya karena terkejut mendapati kopernya yang ternyata tertukar. Dia tadi terburu- buru menemui Ailee, jadi sembarangan mengambil koper.
"Hm, koperku ketukar, Li. Gimana, ya?" ucap Binar lirih dan malu sekali mengatakannya.
"Ha?"
Ailee lalu menghampiri Binar dan mencoba membuka koper hitam itu. Terpingkal-pingkalah ia saat melihat isinya. Ada pakaian dalam wanita, lingerie, dan perlengkapan wanita lainnya.
"Nanti kita ke bandara lagi, siapa tahu orang yang punya koper ini juga masih mencarinya."
Binar menggaruk tengkuknya karena tak tahu harus berbuat apa, dirinya sangatlah ceroboh. Sedangkan Ailee tak kunjung berhenti tertawa juga. Ia malah membuat story WhatsApp tentang koper itu. Malu sekali Binar dibuatnya.