Perfect Duda

Perfect Duda
Tukang Urut



...Teruntuk dirimu, lelaki yang belum lama ku jumpa....


...Sejak awal aku sudah begitu yakin dengan rasaku. Entah, bagaimana dengan dirimu apakah juga memiliki rasa yang sama atau malah sebaliknya. Aku memang tak yakin, tapi aku selalu berdoa supaya rasaku ini terbalaskan suatu saat nanti. Jikalau tak terbalas pun aku tak apa, rasanya tak akan pernah pudar dan tetap melekat....


Senyum sendu terukir ketika perasaannya telah tertuang pada secarik kertas berwarna- warni. Pena yang baru saja ia gunakan disimpan kembali, diletakkan bersama kawannya yang lain. Kertas itu dilipat membentuk burung bangau, lalu disimpan ke dalam sebuah kotak berisikan curahan hatinya tentang lelaki itu.


Semua yang terjadi ia tuliskan di sana tak luput satu hal apapun. Hari- hari yang dilalui bersamanya pun terus terabadikan di lembaran yang dilipat menjadi suatu bentuk.


"Hey, anak alay! Apa kamu sudah mencurahkan isi hatimu?" seru Aiden meledek gadis yang duduk di kursi yang menghadap meja belajarnya.


Satu bolpoin selalu melayang dan mendarat tepat pada kepala lelaki itu. Selalu saja menyebalkan, tak ada hari untuk tak meledeknya.


"Ayo ikut aku. Ada konser band favoritku di alun- alun kota," ajak Aiden.


"Nggak mau, Papa juga pasti tak akan mengizinkan!" Ailee kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang, tak peduli lagi dengan kehadiran kakaknya.


"Hanya sebentar saja papa pasti mengizinkan, ayolah. Kalau nggak sama kamu pasti nggak boleh."


Aiden terus membujuk, ia menggelitik kaki adiknya supaya bangun dan mau ikut dengannya. Dan gadis itu mulai terusik karena tak hanya gelitikan saja yang ia dapat, tapi dirinya juga mulai diseret oleh kakaknya.


"Kamu nggak ingat kalau malam ini ada acara makan malam sama rekan bisnis papa?"


"Acaranya kan jam 8 malam, kita pergi sebentar saja tak apa."


"Nggak mau!" Ailee teguh pada pendiriannya. Ia tak mau pergi ke acara konser band favorite kakaknya karena akan berdesak-desakkan, terdorong ke sana kemari, terinjak kakinya, dan lain sebagainya. Itu sangatlah menyedihkan.


"Okey, kalau begitu aku akan bilang sama papa kalau kamu suka Pak Binar. Biar papa marah dan membatasimu bertemu dengan lelaki itu!" ancam Aiden.


Ia kemudian beranjak dari kamar adiknya dan mencari papanya. Ailee awalnya tak percaya karena Aiden memang suka seperti itu dan hanya berpura- pura saja supaya keinginannya dituruti.


Tapi, lama kelamaan Ailee juga takut jika Aiden benar-benar mengatakannya pada papanya. Ia langsung bangun dan berlari menghampiri kakaknya yang ternyata sudah turun dan dekat dengan papanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Kak..."


Aiden hanya menoleh dan tersenyum sinis, ia mempercepat langkahnya menghampiri sang papa.


"Pah...Aku mau memberitahumu sesuatu. Pasti papa akan marah besar nantinya," goda Aiden.


Ailee mempercepat langkahnya, tapi sayang, di tiga tangga terakhir ia kepeleset jingga jatuh.


"Ailee..." pekik Aksa dan Aza, mereka lalu menghampiri anaknya yang terduduk memegang kakinya. Aiden pun sama, ia berbalik menolong adiknya.


"Ini semua gara- gara kamu!" bentak Ailee.


"Hussttt, sudah- sudah. Ayo Mama bantu bangun, nanti biar Mang Dudung memanggil tukang urut," ujar Aza.


"Sakit, Mah..."


"Ada- ada aja sih," seru Aksa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Aiden malah terpingkal- pingkal melihat adiknya terpeleset dan kakinya terkilir.


Tiga puluh menit kemudian, datanglah tukang urut yang tadinya dijemput Mang Dudung. Ailee bersandar di sofa membiarkan kaki kirinya diurut. Sakit luar biasa saat tukang urut mulai memijat kakinya dengan olesan minyak.


"Aduh!" Aiden ikut mengaduh karena Ailee menjambak rambutnya, hendak pergi dari sana tapi Ailee dengan kuat menahannya.


"Tahan sebentar, nanti juga lekas pulih," ucap Aza membelai kepala anaknya.


"Ah! Ini semua gara-gara Kak Aiden!"


Ailee dan Aiden terus saja berdebat hingga tukang urut merasakan telinganya sakit mendengarnya. Kaki Ailee memang tak bisa langsung sembuh, butuh waktu tiga sampai empat hari bahkan bisa lebih dari itu untuk pulih seperti sedia kala.


...*****...


Kaki yang masih sakit membuat aktivitasnya terganggu, ia pun juga membutuhkan orang lain untuk membantunya. Ini benar- benar menyebalkan. Andai saja ia tak berlari mengejar kakaknya, pasti kejadian semalam tak akan terjadi.


Untuk menuruni anak tangga saja dia tak sanggup, berjalan pun harus bertumpu dengan dinding. Aiden menggendongnya hingga memasuki mobil. Sungguh melelahkan, apalagi tubuh Ailee cukup berat. Tapi, ini juga salahnya, andai saja ia tak menggoda adiknya maka Ailee tak akan jatuh dan terkilir kakinya.


"Cepatlah sembuh! Menyebalkan sekali!" gerutu Aiden setelah mendudukkan adiknya di kursi samping kemudi.


"Ini juga gara-gara kamu!"


Entah sudah berapa kali dirinya merutuki sang kakak. Sesampainya di sekolahan, Aiden malah turun terlebih dahulu dan meninggalkan dirinya. Sepertinya dia lupa jika kaki adiknya sedang tak normal.


"Aiden Arion Sanjaya, awas kauuuu!"


Pintu mobil telah terbuka, ia melirik ke sana kemari mencari seseorang yang bisa diminta bantuan. Tapi sayang, parkiran sekolahan itu telah sepi. Pasti para murid buru-buru ke kelas mereka untuk mengerjakan PR yang belum sempat dikerjakan semalam.


Ailee pun terpaksa mencoba keluar dari mobil itu. Berhasil. Kakinya kirinya sudah keluar. Tapi bodoh sekali, ia malah menggunakan kaki kirinya yang sakit itu untuk menopang tubuhnya dan berusaha berdiri. Alhasil, ia pun jatuh terkapar tak kuat menahan tubuhnya sendiri.


"Hey, kamu kenapa?" seru seseorang yang baru saja datang. Ia segera memarkirkan motornya tanpa melepas helm yang melekat di kepalanya terlebih dahulu. Ia langsung membantu Ailee untuk berdiri. Gadis itu akhirnya bisa berdiri tapi terus bersandar pada mobil di sampingnya.


"Kakiku sakit, Pak Bin," serunya memberitahu lelaki itu.


Binar tak percaya, ia pun menyenggol kaki Ailee hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya dan akhirnya kembali terjatuh. Binar baru percaya jika kaki gadis itu benar-benar sedang sakit. Bukannya turut berduka, ia malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Sudah kubilang kalau kakiku itu sakit! Kenapa malah membuatku jatuh lagi!" Ailee meringis, ia sedikit terisak. Kakinya semakin sakit karena terjatuh berkali-kali. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia menggelepar di lantai.


"Ya maaf. Ku kira kamu bohongan tadi," tukas Binar. Ailee memang bukan gadis sembarangan, ia bisa melakukan apa saja termasuk membalut kakinya dengan perban cokelat dan berpura-pura sakit. Tapi ternyata gadis itu tak berbohong.


Binar semakin terkikik geli melihat Ailee yang cemberut dan menyandarkan tubuhnya di mobil. Kepangan rambutnya telah acak-acakkan, seragamnya pun lecek. Tak seperti Ailee yang biasanya.


"Sepertinya ini karma karena kamu sering menggangguku," celetuk Binar terkekeh geli. "Tuhan begitu baik padaku, dia membuat kakimu sakit supaya tak bisa menemuiku lagi," tambahnya.


"Kata tukang urut semalem cuma dua atau tiga hari saja kok, Pak. Jangan rindu ya kalau aku nggak datang ke rumah Pak Binar," sahut Ailee.


Binar menggeleng sebelum melepas helm dan beranjak dari sana. Dan Ailee langsung berteriak menghentikannya. Ia kemudian berpegang erat pada lengan Binar dan berusaha berjalan menuju kelas.


Beruntung sekali karena jam pertama adalah pelajarannya Binar, jadi bisa sekalian masuk ke kelas bersama. Berjalan dengan beban memang tak menyenangkan, tapi entah kenapa Binar begitu senang dengan Ailee yang berpegang kuat pada tubuhnya supaya bisa sampai ke kelas.


Mereka berdua berhenti sejenak ketika sampai di tangga menuju kelas Ailee. Kelas gadis itu memang berada di lantai dua, jadi harus naik tangga untuk sampai ke sana. Ailee mendengus kesal ketika melihat puluhan anak tangga yang harus ia tempuh. Butuh perjuangan dan tenaga lebih untuk ini.


Dan tiba-tiba lelaki yang membantunya tadi menggendongnya melewati tangga-tangga itu. Binar begitu baik ternyata, tanpa diminta pertolongan ia sudah memiliki inisiatif sendiri. Tangan Ailee melingkar di leher Binar, ia pun jadi leluasa menatap wajah tampan yang meneduhkan hatinya. Senyum dilengkungkan layaknya bulan sabit, jantungnya berdegup kencang. Bisakah ia berada di posisi itu selamanya? Sungguh, ia enggan untuk berganti.