
"Ailee! Jangan seperti orang bodoh yang terus saja memikirkannya! Ingat jika dirinya tak mencintaimu!"
Kalimat itu terus saja ditekankan dalam dirinya supaya tak terbuai dengan rasa di masa lampau.
Semua jadi tak fokus hingga memakai sandal pun salah pasangan. Aza dan Aksa yang melihatnya terpingkal-pingkal karena Ailee memakai sandal berwarna merah dan satu lagi biru milik Aiden.
Aksa langsung mengambilkan sandal merah yang tertinggal dan mengikuti langkah anaknya yang menuju ke kamar.
"Boleh papa masuk?" tanya Aksa mengetuk pintu kamar putrinya sebelum dirinya masuk.
"Eh, iya, Pah," sahut sang pemilik kamar.
Sandal merah yang dibawanya tadi diletakkan di depan kaki anaknya yang tengah duduk di tepi ranjang. Sontak saja Ailee jadi tahu dan malu melihat sandal yang tak serupa.
"Sudah bertemu dengan Binar?" tanya Aksa membuat Ailee sedikit kesal. Ia lalu duduk di sofa dan berpura-pura membaca buku.
"Binar itu sebenarnya mencintai kamu, sejak dulu malahan. Jadi..."
Ailee masih tertuju pada bukunya, sebenarnya ia mendengarkan apa yang diucapkan papanya. Cerita di masa lampau di mana kala itu Aksa menemui Binar di salah satu restoran untuk membicarakan hal yang sangat penting.
...***...
"Saya tahu jika kamu mencintai Ailee. Saya tidak mempermasalahkannya, namun yang menjadi perkara bagi saya adalah gara-gara kamu, dia enggan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Semua yang telah tersusun sejak dirinya kecil hancur ketika mengenal cinta," ujar Aksa terputus karena menyeruput kopinya sejenak.
"Maaf jika saya menjadi penghalang semuanya, tapi saya tidak mencintai putri Anda, Tuan Aksa," ucap Binar.
Aksa terkekeh kecil mendengarnya, "Jangan berbohong, mata kamu saja memperlihatkan jika kamu memang mencintai Ailee. Jangan menyangkalnya lagi."
Keduanya kembali terdiam. Aksa menghela napas panjang sebelum bercakap lagi.
"Kamu boleh menikahi anak saya, tapi saya mohon biarkan dia melanjutkan studinya dulu hingga ke jenjang yang tinggi. Biarkan dia menikmati masa mudanya dan menata masa depannya."
"Saya sangat sedih karena berulang kali Ailee menolak untuk kuliah di Jepang karena kamu. Dia ingin sekali menemanimu dan berkuliah di sini, dia tidak mau jauh darimu. Saya yakin jika kamu mengerti kondisi saya yang hanya ingin masa depan cerah untuk anaknya," lanjut Aksa kemudian.
Binar mengangguk memahami semuanya. Ia juga tahu selain itu Aksa pasti juga tak rela membiarkan anaknya hidup dengan seorang guru yang tak berkecukupan dan tak sebanding dengan keluarganya.
"Saya janji akan membuat Ailee patuh untuk kuliah di Jepang tanpa mempedulikan saya lagi. Kalau perlu juga saya akan membuatnya benci sehingga memudarkan rasa cintanya kepada saya."
Dan oleh sebab itu Binar membuat semuanya runyam dan melukai Ailee. Kebohongan jika tak mencintai Ailee juga pun dilakukan, hingga bersikap kasar dengan mendorongnya hingga terjerambab ke tanah dilakukan supaya Ailee pergi jauh darinya.
...***...
Ailee tertegun mendengar cerita singkat papanya yang merubah hidupnya selama bertahun-tahun ini. Kecewa sekali karena papanya itu jauh lebih mementingkan ego-nya daripada perasaan anaknya sendiri.
"Sekarang kalau kalian mau merajut cinta lagi, Papa merestui," ucap Aksa usai ceritanya tamat.
"Sekarang Ailee udah nggak cinta lagi sama Pak Binar. Papa berhasil membuat Ailee selalu patuh menuruti keinginan papa yang harus kuliah di sini lah, nggak boleh mikirin cinta, ini itu dan semua hal yang ada di hidupku papa atur tanpa memikirkan perasaanku bagaimana. Padahal tanpa papa atur pun Ailee juga tak akan memilih jalan yang salah, bahkan Ailee sangat berhak untuk menentukan hidup Ailee sendiri."
Gadis itu berkaca-kaca seolah tak sanggup menerima hal yang sangat mengecewakan ini. Dirinya sangat sedih karena hidup penuh dengan aturan dan kekangan hingga tak ada celah untuk menyematkan perasaannya.
"Yang papa lakukan itu semua demi kebaikanmu juga. Orang tua memang terkadang harus seperti ini karena mereka hanya ingin masa depan yang cerah dan menjanjikan bagi anak-anaknya," sahut Aksa.
"Ailee capek, Pah. Mau istirahat..."
Ah, sayang, semuanya sudah berlalu. Tak akan bisa kembali lagi atau diubah dengan hal yang diinginkan.
...*****...
Pohon mangga sebagai batas antara kedai kopi dan kedai kue itu nampak rindang. Daunnya lebat, namun sebuah mangga tak nampak sama sekali. Seperti yang sudah dijanjikan kemarin, Ailee siang itu pergi lagi ke kedai kue neneknya untuk bertemu dengan Clarissa.
Jam menunjukkan seperti waktu kemarin, tapi Clarissa belum muncul juga. Gadis itu mencuri pandang di kedai kopi yang ramai berharap Clarissa cepat muncul. Dan ternyata Clarissa sudah datang, baru saja turun dari mobil papanya yang diparkirkan di parkiran kedai kue itu.
"Mama..."
"Heyy, Clarissa. Mama akan menangkapmu!" seru Ailee merentangkan kedua tangannya menyambut Clarissa dalam pelukannya. Dan berhasil, Clarissa berada di dekapannya. Dua insan itu senang sekali.
"Clarissa kira mama akan pergi lagi dan nggak mau main sama Clarissa," ucap Clarissa.
"Enggak dong, Mama akan selalu ke sini kalau siang. Clarissa kalau mau menemui mama tinggal datang aja ya ke sini."
"Siap, Mah."
"Pah, ayo ke sini!" ajak Clarissa melambaikan tangannya kepada Binar yang masih berdiri dan menyandar di mobil.
Binar pun mendekat meskipun canggung. Ia duduk menghadap Ailee yang sedang asyik menggoda Clarissa.
"Pah, ajak mama pulang dong. Masa Clarissa nggak boleh tidur bareng sama mama? Ayo, Pah...ajak mama pulang ke rumah kita..." rengek Clarissa, Binar langsung menyuruhnya diam dengan memberi isyarat jari telunjuk yang diletakkan di depan bibirnya.
"Bukankah kemarin mama udah bilang ya kalau mama nggak bisa pulang sama kamu. Tapi, kenapa kamu masih merengek? Ah, mama jadi sedih nih karena Clarissa gitu..."
"Clarissa pengen dibacain dongeng sebelum tidur, dibelai, disisir dan diikat rambutnya ketika mau berangkat sekolah sama Mama. Sama seperti teman-teman yang lain," ucapnya tenang namun membuat Ailee sedih mendengarnya.
"Oh ya, tadi mama beliin kamu mainan loh. Ini dia..." Ailee mengambil dua kantung plastik berisikan banyak mainan yang baru saja ia beli tadi.
"Banyak banget mainannya, Mah..." Clarissa pun girang, ia mencari meja kosong untuk melihat mainan apa saja yang diberikan Ailee. Bersyukur sekali anak itu tak lagi merengek meminta Ailee ikut pulang bersamanya.
Meja menyisakan Ailee dan Binar saja. Keduanya nampak canggung. Sesekali berdehem untuk mencairkan suasana.
Tak tahan dengan keheningan, Ailee pun berdiri hendak menghampiri Clarissa. Akan tetapi Binar mencekal tangannya dan memintanya untuk tetap di tempatnya. Gadis itu segera melepas tangan yang digenggam Binar, sangat tak suka dengan Binar yang lancang.
"Bisakah kita berbincang sejenak?" Harap penuh terlihat jelas dari sorot matanya. Dan Ailee pun mengangguk, tak tega jika terus mengacuhkan.
.
.
.
Selamat hari Senin semuanya🌻
Udah dapet Vote rekomendasi mingguan nih dari platform, jangan lupa kasih Ailee sama Binar ya hehe...
Nggak kasih hadiah bunga/kopi/hati/etc gapapa, asalkan berikan vote buat mereka🥰
Thank you if you are willing to vote🌻🌻🌻