
UTS matematika baru saja selesai dikerjakan. Sangat mudah bagi kelas IPA 1 yang notabennya adalah murid- murid pandai dan unggulan. Hari ini adalah hari terakhir UTS diselenggarakan, tinggal menunggu hasil dan akan kembali belajar seperti biasanya. Para murid pun segera berhambur pulang merayakan berakhirnya UTS.
"Mau ke rumahku nggak? Mumpung UTS-nya sudah selesai?" tanya Sora. Seperti biasanya ia selalu mengajak Aiden dan Ailee untuk ke rumahnya.
Rumah Sora sangatlah tenang dan nyaman sekali jika dijadikan tempat belajar ataupun sekedar berkumpul biasa. Ada danau buatan di samping rumahnya dan taman bunganya juga luas dengan beraneka ragam jenisnya. Intinya sangat indah meskipun tak semewah dan seluas rumah Aiden dan Ailee.
"Boleh, tapi setelah aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," ucap Ailee yang kemudian meninggalkan Aiden dan Sora tanpa ada sepatah kata lagi yang terucap.
"Mau ngapain dia?" tanya Aiden heran.
"Entahlah, ayo ikuti saja!"
Entah hendak ke mana ia sekarang, kakinya terus saja melangkah sedangkan matanya celingukan mencari seseorang. Tak peduli sudah berapa jauh ia melangkah yang terpenting adalah menemukan lelaki itu.
"Pak Bin! Pak Bin!" Lelaki yang ia cari sudah nampak dan berjalan ke arahnya.
"Apa?"
"Aku mengerjakan soalnya dengan sungguh- sungguh, pasti nilainya akan sempurna," seru Ailee yang kemudian mengikuti langkah Binar.
"Terus?" Binar tetap acuh, membuat Ailee sedikit kesal.
"Kalau nilaiku 100 bagaimana jika Pak Binar mentraktir dan mengajakku jalan- jalan keliling kota?" tawar Ailee.
"Lalu, kalau nilaimu di bawah 100 kamu mau apa?"
"Pak Binar tetap mentraktir dan mengajakku jalan - jalan keliling kota," jawab Ailee tertawa kecil, Binar pun ikut tertawa.
"Jadi, kamu mau jalan- jalan keliling kota denganku?" tanya Binar, ia melipat tangannya di dada dan tersenyum meledek.
Ailee mengangguk serius.
"Boleh, tapi kalau nilai UTS-mu seratus semua. Bukan hanya Matematika saja," tambah Binar. Ia lalu melenggang meninggalkan Ailee yang mengangahkan mulutnya.
"Hanya matematika saja, Pak. Jangan yang lain, itu nggak mungkin," teriak Ailee menghentikan langkah kaki Binar.
"Kenapa nggak mungkin?"
"Soalnya Fisika pasti jelek dan nggak akan 100!" jawab Ailee malu- malu.
"Kalau begitu kita nggak akan jalan- jalan."
Raut wajah Ailee langsung sedih, kemudian terdengar gelak tawa dari Aiden dan Sora yang ternyata berada di belakangnya sedari tadi memperhatikannya.
"Harus seratus semua ya, kalau nggak seratus kita nggak jalan..." ucap Aiden mengulang perkataan Binar, ia langsung mendapat tonjokan di lengannya.
"Yahhh, nggak jadi boncengan berdua naik motor keliling kota deh," tambah Sora dan masih tertawa juga.
"Akan ku buktikan pada kalian kalau aku dan Pak Binar tetap akan jalan- jalan tanpa harus nilai seratus untuk semua mata pelajaran!"
Sora dan Aiden pun mengiyakan. Mereka juga yakin sekali jika Ailee akan pergi berkencan dengan Binar karena gadis itu memiliki seribu cara untuk menaklukkan Binar.
...*****...
Sore itu, setelah mengikuti bimbel, Ailee dan Aiden menuju ke kedai kopi Binar. Aiden awalnya tak tertarik dan hendak ke kedai kopi yang biasanya, tapi setelah bujuk rayu Ailee ia pun mau ke sana.
Tak terlalu buruk rupanya, macchiato latte telah berada di hadapan mereka rasanya pun tak kalah dengan Cafe biasanya. Dengan pisang goreng crispy sebagai pelengkapnya. Mata keduanya tertuju pada layar iPad mereka yang tengah menayangkan video- video lucu dari YouTube. Kebiasaan ketika nongkrong berdua.
"Monyetnya sama kaya kamu, Kak!" celetuk Ailee membangkitkan emosi Aiden. Lelaki itu langsung menoyor kepala saudaranya yang duduk di hadapannya.
"Kita kembar, jadi kamu juga monyet dong!"
Mereka kembali menatap layar itu, gelak tawa kembali pecah membuat para pengunjung yang lain dan juga Binar ikut bahagia melihatnya. Kedai Binar menjadi ramai dari biasanya karena ulah anak kembar itu. Saling meledek, bertengkar kecil, dan tertawa terlalu keras membuat kedai yang biasanya sunyi senyap meski banyak pengunjung menjadi ramai seketika seperti pasar malam.
"Pak Bin!" teriak Ailee melambaikan tangannya mengajak Binar bergabung dengan mereka.
"Apa?" tanya Binar, ia mengambil kursi kosong dan meletakkannya di dekat Ailee dan juga Aiden.
"Bergabunglah dengan kami, Pak Bin 'kan lagi nggak ngapa-ngapain," jawab Ailee.
"Statusku berubah jadi nyamuk," celetuk Aiden menggelakkan tawa.
"Tenang saja, Kak, kamu masih manusia kok."
"Itu kan hanya perumpamaan saja. Kamu sama Pak Binar, dan aku sendiri di sini. Jadi nyamuk, kan!"
"Kalau begitu pergilah dari sini."
"Kamu mengusirku? Okay!" Aiden lalu berdiri dan berpindah ke meja yang kosong. Tak lupa membawa iPad-nya.
"Kenapa kamu membawanya? Berikan padaku!" Ailee mencoba mengambil iPad dari tangan Aiden tapi lelaki itu pun tak melepaskannya dan malah mereka jadi rebutan tarik ke sana ke mari.
"Berikan padaku! Kamu cerita saja sama Pak Binar! Lagi pula kamu juga bawa ponsel, kan? Pakai ponselmu saja!"
"Nggak mau! Berikan padaku!"
Binar jadi bingung harus bagaimana melerai karena mereka sama kuatnya. Ia pun mendiamkan mereka karena tak lama kemudian pasti akan lelah dan berhenti dengan sendirinya. Dan benar, mereka berhenti, tapi bukan karena lelah tapi karena iPad-nya jatuh.
"Ah, ambil saja! Dasar pelit!" gerutu Ailee. Ia kembali ke tempat duduknya.
"Kalian sudah tujuh belas tahun tapi kenapa masih kaya anak lima tahun sih?" seru Binar menggelengkan kepalanya.
Ailee hanya diam dan kembali memakan pisang goreng. Manis dan kriuk, sangat cocok dengan suasananya.
"Pak, kenapa Bu Melati dan Clarissa belum pulang?" tanya Ailee. Sudah lama ia menunggu mereka berdua yang sedang pengajian di masjid sebelah bersama anak- anak panti.
"Nah, itu mereka," jawab Binar menunjuk Bu Melati yang mendorong kereta bayi Clarissa.
"Baby..." Tanpa menunggu waktu lama, Ailee langsung mengambil Clarissa dan menggendongnya. Ia kecup wajah gembul anak itu tiada henti membuat Binar langsung tergerak menghentikannya.
"Cukup! Cukup!"
Meskipun Binar sudah melarangnya, gadis itu tetap menciumi Clarissa. Binar semakin gemas.
"Baby, ikut Papa saja ya? Nanti pipimu bisa berkurang kalau sama dia," bujuk Binar kepada anaknya yang berada di pangkuan Ailee. Ia berjongkok dan bersiap mengambil alih anaknya, tapi malah dirinya mendapat pukulan mainan di kepalanya.
"Aduh! Kenapa malah mukul papa sih..."
Dug!
Lagi- lagi Clarissa memukul papanya, ia tertawa setelahnya. Pukulan itu tak sakit, tapi ia berpura- pura saja supaya anaknya itu senang. Dan benar saja, Clarissa malah tertawa riang.
Dug!
"Hey, nggak boleh nakal! Kasihan Papa..." Ailee langsung mengambil mainan Clarissa dan menyembunyikannya. Tapi anak itu tak kehilangan akal, ia menggunakan tangannya dan memukul Binar.
"Anak Papa mulai nakal ya sekarang..." Binar meletakkan kepalanya di perut Clarissa, ia menggesekkan hidungnya membuat bayi itu terpingkal- pingkal menggelinjang ke sana kemari.
"Oh jadi ini cewek yang akan menjadi penggantiku? Gadis kecil yang murahan!"
Suasana tiba- tiba berubah ketika ada seorang wanita dewasa datang. Tatapan semuanya pun teralihkan kepada sesosok itu. Suaranya tadi begitu keras hingga semuanya bisa mendengar.