
Hari ini sepertinya akan menjadi kontrol rutin Ailee yang terakhir. Kondisinya jauh lebih baik. Ginjal baru yang melekat di tubuhnya sangatlah cocok dan berfungsi sedemikian rupa. Tak ada masalah suatu apapun, semua juga berkat Binar yang selalu merawatnya.
Jarak tak menjadikan masalah untuknya. Meski lelah dan harus bolak-balik ke rumah sakit ataupun rumah Ailee yang cukup jauh tak membuatnya melenguh sedikit pun. Binar memanglah lelaki yang sangat perfect, apakah menurut Ailee juga begitu?
Yang menjadi masalah dan membuatnya terheran adalah pagi ini, di mana lelaki itu tak kunjung datang mengantarkannya kontrol untuk yang terakhir kalinya. Sudah lewat tiga puluh menit dari biasanya, namun mobil Binar tak kunjung datang.
"Giliran orangnya nggak ada dicariin, pas ada dicuekin," sindir Sora menghampiri Ailee yang duduk di depan televisi menantikan kedatangan Binar.
"Apaan sih," cetusnya seraya menyenggol lengan seseorang yang kini telah menjadi kakak iparnya itu.
"Coba di-chat atau nggak ditelpon."
Baru saja membuka ponselnya, suara mobil Binar sudah terdengar. Ailee pun berlari menghampirinya. Lelaki itu baru saja turun, dan anehnya wajahnya tak berseri seperti biasanya. Pucat dan terlihat lemas sekali.
"Pak Binar sakit?" tanya Ailee.
"Sedikit demam, tapi nggak papa kok."
Lelaki itu terlihat lemas namun tetap berusaha semaksimal mungkin demi Ailee. Ailee menjadi kasihan dengannya, berulang kali ia menawarkan untuk mengemudikan mobilnya tapi Binar selalu menolak dengan dalih jika dirinya masih kuat.
Dokter telah menyimpulkan jika ini adalah kali terakhir Ailee kontrol pasca operasi. Gadis itu telah pulih, semuanya berfungsi normal. Akan tetapi Ailee tetap harus menjaga kesehatannya dan tak boleh terlalu lelah apapun alasannya.
Hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk bertemu dengan dokter. Mereka lalu pulang. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba saja Binar menghentikan mobilnya. Dia memegang kepalanya karena merasakan pusing yang teramat.
"Maaf ya, aku istirahat sebentar," ucapnya lirih. Ia pun bersandar dan memejamkan mata.
Ailee langsung turun dan membuka pintu mobil Binar menyuruh lelaki itu untuk berganti tempat, biar dia saja yang mengemudikan mobilnya.
"Nggak usah nanti kamu capek."
"Turun atau kucekik lehermu!" gertak Ailee seraya membantu Binar turun dari mobil.
Usai berpindah tempat dengan segala ancaman yang cukup membuat Binar bergidik ngeri pun akhirnya perjalanan berlanjut. Binar terdiam seribu kata melihat Ailee yang ternyata juga bisa marah besar terhadap dirinya. Perempuan memang mengerikan.
Sesampainya di rumah Binar, Ailee dengan sigap membantu lelaki itu turun karena takut jika Binar tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dan sesampainya di dalam, betapa terkejutnya mereka mendapati Bu Rika yang ternyata ada di sana dan sedang berbincang dengan Bu Melati.
"Lagi sakit kok malah keluyuran sih, Pak," seru Bu Rika yang langsung berdiri dan menggantikan Ailee. Ia membantu Binar duduk di sofa bersamanya.
Mereka berbincang dan melupakan Ailee yang masih ada di sana. Ailee mendadak menjadi pendengar setia mereka. Bu Rika juga membuatnya kesal, dia mencari perhatian Binar. Wanita yang dulu juga merupakan guru Ailee itu tak segan-segan menyuapi Binar dengan makanan yang dibawa dari rumahnya tadi.
"Enak kan, Pak? Ini saya yang buat loh. Tadi pas denger Pak Binar sakit saya langsung khawatir dan buru-buru ke sini deh," ucap Bu Rika membuat Ailee berdehem hebat. Sepertinya dirinya cemburu.
"Eh bukan..." Ailee jadi salah tingkah. Dia tak haus, hanya saja...ya begitulah.
Bu Melati pun tak jadi mengambilkan Ailee minum. Sedangkan Binar terkekeh sendiri melihat Ailee, ia yakin jika gadis itu pasti cemburu melihat Bu Rika yang perhatian dengannya.
"Makasih ya, Bu Rika. Harusnya nggak perlu repot-repot datang kemari, Bu."
"Ah, enggak kok, Pak. Buat Pak Binar apa sih yang enggak." Bu Rika menyahut dan terlihat malu-malu usai Binar bercakap seperti itu. Ailee semakin panas dibuatnya, muak juga sedari tadi melihat dua orang itu.
"Hm, mending Pak Binar istirahat saja. Mari saya antarkan, Pak," ujar Bu Rika menawarkan diri, Binar pun mengiyakan.
"Pak Binar bisa jalan sendiri, Bu Rik, nggak perlu diantar," ketus Ailee, ia berusaha menghentikan kelakuan Bu Rika.
"Saya masih lemas, Bu. Boleh tolong saya sampai kamar? Kamar saya di atas, Bu." Binar malah semakin gencar menggoda Ailee, ia langsung merangkul Bu Rika dan bersiap menuju ke kamarnya.
"Pak Bin!" Ailee mengangahkan mulutnya melihat Binar yang merangkul Bu Rika menuju ke kamarnya. Ia tak menyangka jika Binar akan seperti itu, menyebalkan sekali.
"Sudah-sudah, biarkan saja. Binar nggak akan berpaling dari kamu kok," ucap Bu Melati terkekeh membuat Ailee malu karena ketahuan cemburu dengan Binar.
Usai Bu Rika berpamitan pulang, Ailee pun menghampiri Binar yang ternyata sudah terlelap. Ia duduk di tepi ranjang dan tangannya terulur untuk menyentuh kening Binar. Ternyata masih panas, dapat diperkirakan jika suhu tubuhnya sekitar 38 derajat celsius.
Di nakas samping tempat tidur Binar terdapat obat-obatan dan plester penurun demam untuk orang dewasa. Ailee segera mengambil satu dan menempelkan pada kening Binar dengan hati-hari supaya lelaki itu tak terbangun.
"Cepet sembuh, jangan meninggal dulu, Pak. Kasihan Clarissa," ucap Ailee setelah berhasil menempelkan plester penurunan demam.
"Kasihan Clarissa atau kasihan sama kamu?" seru Binar terkekeh. Lelaki itu ternyata hanya memejamkan mata saja rupanya.
"Pura-pura tidur ternyata! Kurang ajar banget sih, Pak!"
Binar menarik tangan Ailee yang hendak pergi meninggalkannya. Ailee pun jadi tak seimbang dan akhirnya jatuh di pelukan Binar. Tatapan mereka terkunci, dan sama-sama bisa merasakan hembusan napas.
"Ciye-ciye, Papa sama Mama lagi pacaran..." celetuk Clarissa yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Binar dengan mainan yang begitu banyak bermaksud mengajak Ailee bermain.
Binar dan Ailee langsung tersadar, gadis itu lalu bangun dan menghampiri Clarissa.
Perasaannya dulu memang sudah berangsur pudar. Tapi lambat laun Ailee mulai merasa ada yang aneh pada dirinya. Dan ia pikir jika benih cinta kembali tumbuh dalam lubuknya. Entah bagaimana bisa rasa itu kembali muncul setelah sekian lama berusaha dihancurkan.
Lelaki berstatus duda dengan usia tak lagi muda itu selalu membuat jiwa Ailee bergetar, jantung berdetak cepat ketika berada dekat dengannya. Perhatian dan perjuangan Binar untuk kembali menaklukkan hatinya lagi memang patut diacungi jempol. Tapi yang menjadi masalah baginya adalah apakah Binar benar-benar berjuang karena dia mencintainya?
Kalaupun iya senang sekali, tapi cukup sulit juga menerima Binar kembali. Ia takut terjadi hal buruk yang akan kembali menimpanya.