Perfect Duda

Perfect Duda
Cokelat & Bunga



Ketika mentari mulai menampakkan cahayanya, ketika itu pula Ailee dikejutkan dengan sebuah kiriman bunga dan cokelat yang dititipkan oleh Mang Dudung. Sebuah buket bunga mawar merah dan putih yang berjumlah lima tangkai disusun rapi dan cantik secantik penerimanya. Cokelat pertanda kasih sayang pun melengkapi buket tersebut.


"Dari siapa?" Ailee bertanya dan dijawab angkatan bahu pertanda tak tahu dari Mang Dudung, pria itu lalu pergi meninggalkan Ailee.


Ia celingukan mencari sang pengirim yang mungkin masih berada di kawasan rumahnya, tapi tak ada tanda-tanda seseorang pun di sana. Ailee tak jeli, padahal sang pengirim masih berada di sana hanya saja menyembunyikan dirinya.


"Eh Mang..." cegah Ailee ketika Mang Dudung hendak pergi. Ia mengembalikan buket bunga itu setelah mengambil sepucuk surat yang tertempel di sana.


"Buat Mang Dudung, Ailee ambil cokelatnya saja yang bisa dimakan!" ucap Ailee setelah memberikan buket itu ia lalu berlari masuk ke rumahnya lagi.


Mang Dudung terdiam mendapat buket bunga itu. Sedangkan sang pengirim yang tak lain adalah Binar segera menampakkan dirinya. Ia mengambil buketnya lagi.


"Akan aku ambil lagi, makasih Mang Dudung," ujarnya sebelum pergi meninggalkan Mang Dudung dan berangkat ke sekolah untuk mengajar.


Mang Dudung terpaku di tempatnya menatap Binar, ia jadi bingung dengan tingkah Ailee dan Binar tadinya. Ia pun mengumpat kesal karena merasa hanya dipermainkan.


Tiga cokelat dan sepucuk surat dari pengirim telah berada di tangannya. Ia pun duduk di sofa ruang tengah untuk membacanya.


...Selamat pagi, Lili. Mentari bersinar cerah, ya?...


...Semoga harimu menyenangkan....


Kurang lebih seperti itu tulisannya, dan Ailee sudah bisa menebak siapa pengirim bunga dan cokelat tadi. Ia mendengus kesal, pesan tersebut sama seperti pesan yang selalu dikirimkan Ailee enam tahun yang lalu kepada Binar. Ia merasa dipermainkan Binar, lelaki itu hanya bermaksud meledeknya, sungguh menyebalkan.


Di hari berikutnya Binar tak mengirimkan buket, tapi hanya cokelat dan untaian kata manis. Ailee sampai geleng-geleng karena tiap hari cokelat yang dikirim meningkat, dan itu hanya memenuhi kulkas. Ailee memang suka cokelat, tapi akhir-akhir ini dia menghindarinya.


Dan hari-hari selanjutnya hubungan Clarissa dengan Ailee semakin dekat, bahkan kali ini Ailee mengajak Clarissa untuk menginap di rumahnya dan Binar memperbolehkannya.


"Ini rumah mama?" tanya Clarissa ketika sudah sampai di rumah Ailee.


"Ehm, bukan sih. Ini rumah papanya mama," jawab Ailee. Ia lalu menggendong Clarissa dan mengajaknya masuk.


Aksa, Aza, dan Aiden kala itu tengah berada di ruang televisi menyaksikan siaran dan berbincang mengenai pernikahan yang akan semakin dekat. Sontak saja semua tercengang melihat Ailee yang membawa anak melalui pantulan kaca samping televisi. Mereka lalu menoleh dan Ailee terpaku di tempatnya.


"Anak siapa yang kamu culik?" tanya Aiden menghampiri Ailee, gadis itu menurunkan Clarissa karena lelah jika menggendongnya terus.


"Mama sepertinya pernah melihat anak ini waktu di Mall. Wah, lucu sekali," celetuk Aza mencubit pipi Clarissa dengan gemas.


"Ini anaknya Binar bukan? Kok bisa sama kamu?" Kali ini papanya yang bertanya. Sudah beberapa kali dia melihat Binar bersama anak itu, dan sudah dipastikan jika itu adalah anaknya.


"Iya, Pah. Tadi Ailee pinjam sebentar, nggak papa, kan?" izin Ailee berharap semua orang di sana memperbolehkannya.


"Mama, mereka siapa?" tanya Clarissa mendongak menunjuk Aksa, Aza, dan Aiden yang sedari tadi menatapnya.


"Panggil mereka Opa dan Oma ya?" seru Ailee menyuruh Clarissa memanggil Aksa dengan sebutan Opa dan Aza dengan sebutan Oma. Anak itu mengangguk patuh dan mencium tangan Opa serta Oma barunya.


"Lalu, Uncle itu siapa?" Clarissa menunjuk Aiden yang merajuk karena tak diperkenalkan Ailee.


"Bukan siapa-siapa kok sayang. Itu hanya tukang kebun rumah ini, nggak penting," ketus Ailee membuat Aiden langsung menyentilnya.


"Itu karena aku dan mamamu kembar," gumam Aiden.


"Benarkah?"


"Ayo ikut uncle!" Aiden langsung menggendong Clarissa dan mengajaknya pergi meninggalkan Ailee.


"Aiden! Kembalikan anakku!"


"Pinjam dulu sebentar!"


"Mama ayo tangkap aku!" Clarissa malah senang dan tertawa ketika Mamanya berusaha mengambil alih dirinya dari Aiden. Dan mereka berlarian ke sana kemari membuat seisi rumah berantakan.


"Clarissa come to Mama!"


"Ayo lebih cepat, Mah."


Gelak tawa pecah begitu saja. Rumah semakin ramai, sudah ada dua pengacau kecil dan kini ditambah Clarissa. Aksa dan Aza senang sekali akhirnya rumah kembali ramai setelah sekian lamanya.


Gadis itu benar-benar menjelma menjadi mamanya Clarissa. Semua perhatian diberikan, rasa sayangnya kepada Clarissa tak pernah pudar, justru kian bertambah. Ailee hanya ingin memberikan yang terbaik kepada Clarissa yang memang sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang mama.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ailee menawarkan makanan yang sudah berada di meja makan.


Namun, Ailee terlalu semangat, belum sempat anak yang ditanya menjawab dirinya sudah terlebih dahulu mengambilkan lauk pauk tak lupa sayurnya ke piring Clarissa yang sudah terisi. Nasinya memang sedikit sesuai dengan porsi makan Clarissa, akan tetapi lauk pauknya begitu banyak dan menggunung. Anak itu menggeleng melihat kelakuan mamanya.


"Bodoh sekali. Lihat perut Clarisaa! Apa segitu banyaknya makanan akan dihabiskan?" celetuk Aiden membuat Ailee kesal, ia lalu sadar jika makanan di piring Clarissa sangatlah banyak, mungkin itu porsi selama tiga hari tiga malam.


"Hehe, maafkan mama ya." Gadis itu lalu mengambil piring dan mengurangi jumlah lauk pauk yang ada.


"Terima kasih, Mama..."


Satu kecupan didaratkan di kening Clarissa membuat anak itu semakin semangat menyantap makanan yang telah diambilkan mamanya tadi.


"Ailee, makanlah yang lain jangan cuma makan sayur saja," ujar Aza.


Akhir-akhir ini Ailee jarang sekali makan makanan berat, ia lebih memilih untuk makan sayur rebus saja. Dirinya mengurangi makanan yang tinggi akan protein, garam, dan gula. Ia beralasan sedang menjalani diet karena berat tubuhnya meningkat drastis, padahal tubuhnya malah terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


"Diet, Mah," jawab Ailee sembari memasukkan brokoli ke mulutnya.


"26 tahun sepertinya papa nggak pernah denger kata diet dari kamu? Kenapa tiba-tiba sekarang mau diet? Tubuhmu saja kurus kering begitu kok, apanya yang mau dikurangi?"


"Tingkat ketidakwarasannya, Pah," sahut Aiden dan langsung mendapat tendangan kaki dari adiknya.


"Sayur dan buah kan sehat, Pah. Nggak masalah kan kalau Ailee makan setiap hari?" tukas Ailee membuat keluarganya tak lagi bertanya.


Ada kejanggalan dari wajah Ailee, keluarganya yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan Ailee sangat pandai karena berhasil menutupinya dengan rapat.