Perfect Duda

Perfect Duda
Pemakaman Umum



Tinjuan terhadap dinding berulang kali dilayangkan. Wajahnya diusap kasar, menyeka air mata yang sempat keluar. Kepalanya berdenyut sakit, perasaannya campur aduk. Di sana– di ruangan rumah sakit itu terdapat seseorang yang ia cintai berada di ujung tanduk. Hari ini terasa berat.


"Jangan pergi, Lili. Aku benar-benar akan kehilangan jika dirimu pergi..."


Suaranya begitu tercekat, doa tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Tangannya terus mengatup, dan betapa beruntungnya dia ketika di detik terakhir usahanya dijabah Tuhan. Ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya dan setelah diperiksa pun cocok sekali dengan Ailee.


Bangsal gadis yang sudah tak berdaya itu didorong cepat menuju ruang operasi. Beberapa dokter ahli pun nampak sudah siap melakukannya. Anestesi telah diberikan, lampu ruang operasi telah menyala pertanda sudah dimulai.


Semua keluarga tak ada yang beranjak dari ruang tunggu. Saling peluk satu sama lain dan menguatkan. Tangis masih saja bercucuran, dan doa tak terputus.


"Makasih, Bin!" seru Aksa menepuk pundak Binar. Sangat berterima kasih karena ini semua berkat Binar. Lelaki itu berjuang penuh supaya gadisnya tetap bertahan.


"Makasih, Pak Bin!" timpal Aiden.


Tiga lelaki yang begitu dekat dengan Ailee itu saling peluk dan menguatkan. Akhirnya usaha mereka selama ini membuahkan hasil. Gadis yang begitu disayangi itu akan segera pulih dengan ginjal barunya. Semoga. Iya, semoga. Karena operasi ginjal juga belum tentu menyelamatkan hidupnya. Ada kemungkinan lain yang bisa saja terjadi.


Empat jam berlalu, lampu ruang operasi redup. Sebuah bangsal berisikan Ailee yang masih tertidur karena obat bius didorong keluar, semua keluarga bersorak senang karena operasi berjalan lancar. Kemudian, satu bangsal pendonor ginjal pun didorong setelahnya. Tertutup kain putih dan didorong menuju kamar jenazah.


Pendonornya adalah orang yang dulu begitu membenci Ailee. Yang selalu mengganggu dan mengusiknya hingga jenuh. Tak lain adalah Khansa, teman Ailee saat di SMA dulu. Semalam dirinya mengalami kecelakaan mobil yang begitu parah, kesempatan untuk hidupnya hanya beberapa persen saja.


Setelah mendengar kabar jika temannya dulu membutuhkan donor ginjal, dia pun melakukannya. Sebagai tanda maaf karena dulu selalu mengusik dan sebagai bentuk amal sebelum dirinya pergi meninggalkan dunia ini.


"Terima kasih, tenanglah di sana. Kami janji akan selalu mengenangmu," ujar Binar menatap siswanya dulu yang telah terbujur kaku.


"Terima kasih menjadi penyelamat adikku, maaf jika dulu kami juga sering nakal sama kamu," timpal Aiden. Ia begitu tak menyangka jika orang di masa lalu justru memberikan pengaruh besar di masa depan.


...*****...


Beberapa saat yang lalu gadis itu sudah sadar. Ia menangis tak karuan ketika ada yang bilang jika dirinya baru saja menjalani transplantasi ginjal.


"Aiden...Aiden di mana..." serunya lemah di sela tangisnya. Ia takut sekali jika Aiden yang telah mendonorkan ginjalnya karena saat ia terbangun sosok lelaki yang menjadi kakaknya itu tak ada di sampingnya.


"Aiden hiks...Aiden..."


Didekapnya erat tubuh kakaknya yang baru saja menghampiri dirinya. Ia baru percaya jika bukan Aiden yang mendonorkannya karena kakaknya itu terlihat baik-baik saja.


"Dasar cengeng!" desis Aiden tergelak, Ailee sangatlah lucu begitu saja menangis.


"Aiden jangan pergi hiks..."


"Tidak, tenang saja."


"Sudah-sudah, biarkan Ailee istirahat. Kalian semua juga istirahat, biar Mama yang menemani Ailee," ujar Aza.


Semua memang terasa lelah, mereka pun berpamitan untuk pulang dan beristirahat sejenak. Dan kali ini mereka pulang dengan keadaan suka cita.


"Kenapa masih di sini?" tanya Ailee lirih. Ia masih lemas dan pucat.


Binar tak menjawabnya, ia menatap Ailee dengan tatapan berkaca-kaca. Ia pun memberanikan diri untuk memeluk Ailee yang tengah berbaring. "Terima kasih telah bertahan..." lirihnya saat mendekap.


Ailee mencubit lengannya begitu keras karena tak tahu harus bagaimana supaya Binar melepas pelukannya.


"Sakit!" gertaknya membuat Binar jadi salah tingkah. Lelaki itu tak sengaja menyentuh luka operasinya.


"Maaf..."


Sedangkan Aza yang menjadi obat nyamuk di antara mereka hanya bisa tersenyum. Binar dan Ailee sangatlah lucu dan cocok sekali.


Seminggu sudah Ailee menjalani observasi dan dokter telah memastikan jika tak ada efek atau komplikasi tertentu yang dialaminya setelah transplantasi ginjal. Gadis itu diperbolehkan pulang dengan persyaratan tertentu dan tetap akan menjalani kontrol rutin serta mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan.


Dan kini, gadis itu telah mengetahui siapakah pendonor ginjal untuknya. Tak disangka jika orang itu adalah orang di masa lalunya yang cukup kejam dengannya. Sepucuk surat pernyataan telah dibaca Ailee kemarin jika Khansa benar-benar ikhlas mendonorkan ginjalnya. Ini juga sebagai permintaan maaf atas perlakuan buruknya di masa lampau.


"Kenapa kamu melakukan ini? Aku selalu bisa memaafkan kelakuanmu kepadaku dulu. Tak pernah sedikitpun menganggapmu musuh, Aiden pun juga sama denganku. Kami tetap menganggapmu teman..."


"Bagaimana caraku membalas budimu yang sangat besar ini? Sangat besar sampai kamu rela mengorbankan nyawamu," tambahnya dengan nada sendu.


"Dia kecelakaan dan kondisinya sangat parah, dia hanya ingin melakukan kebaikan untuk yang terakhir kalinya di dunia ini," cerita Binar memberitahu Ailee yang sebenarnya.


"Terima kasih banyak, Khansa..."


Pekuburan yang sunyi nan senyap itu terasa dingin. Bunga melati berguguran turut menghiasi makam di bawahnya– termasuk juga makam perempuan yang telah menyelematkan nyawa orang lain. Mungkin di masa lalu dia begitu buruk, tapi tanpa disadari, di masa kini jasanya begitu besar bahkan tak bisa diibaratkan dengan suatu apapun. Beristirahatlah dengan tenang wahai perempuan nan baik.


"Pak Bin, aku nggak mau pakai kursi roda lagi," sungut Ailee. Ia ingin berjalan sendiri tapi Binar ataupun keluarganya yang lain tak memperbolehkan dan terus meminta untuk bermobilitas dengan kursi roda. Dia akhirnya memberanikan untuk berdiri sendiri. Sedangkan Binar terlihat begitu marah.



Baru saja berdiri dan melangkah satu kaki, tiba-tiba saja Binar menggendongnya layaknya sebuah model.


"Pak Bin! Pak Bin!" Gadis itu lantas memberontak dan memukul dada lelaki yang tiba-tiba menggendongnya. Ia begitu kesal dibuatnya.


"Katanya nggak mau pakai kursi roda? Berarti kan minta digendong," ucap Binar terkekeh kecil. Ia begitu senang karena telah membodohi Ailee, sebenarnya ia juga tahu apa yang diinginkan gadis itu. Tapi segan membiarkannya untuk berjalan sendiri, ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Sialan!" desis Ailee pelan namun dapat didengar oleh Binar, lelaki itu pun tertawa kecil dibuatnya.


Binar menjadi lelaki yang siap siaga. Apapun dilakukannya, ia pun rela izin tidak mengajar hanya karena ingin menemani Ailee kontrol rutin. Semenjak Ailee sakit, Binar begitu dekat dengannya. Semuanya dilakukan, pengorbanan Binar pun sangatlah besar.


Meski sering menerima penolakan dari Ailee, tapi Binar tak mau berhenti dan menyerah begitu saja. Hati Ailee harus ia dapatkan kembali. Gadis itu sangatlah istimewa, ia harus bisa menjadikan miliknya seutuhnya.