
Setelah makan, Binar langsung menuju ke kedai kopi miliknya dengan Clarissa yang tetap di gendongan. Sedangkan Ailee, terus saja mengikutinya di belakang.
"Kenapa nggak pulang? Nanti dicariin Mama sama Papamu," seru Binar.
"Kalau Kak Aiden belum pulang, aku juga belum, Pak. Nanti Kak Aiden bakalan jemput aku ke sini kok, tenang aja," jawab Ailee.
Binar pun acuh, ia membiarkan muridnya itu berbuat semaunya. Ailee menurunkan kursi yang diletakkan di atas meja, ia pun duduk dan bermain dengan Clarissa. Sedangkan Binar berbenah dan mempersiapkan semua keperluan kedai kopinya.
Semua alat dan bahan untuk membuat kopi telah tersusun rapi di tempatnya. Kini dirinya tinggal membuat gorengan seperti bakwan, mendoan, dan gorengan lain. Kopi dan gorengan memang sangat serasi dan cocok, mereka tak bisa dipisahkan.
"Pak Binar, kopi pahit satu ya!" seru Pak RT seraya duduk di kursi yang telah disediakan.
"Tumben rapi, Pak? Dari mana mau ke mana nih?" tanya Binar.
"Hehehe, tadi habis kondangan di kampung sebelah, Pak," jawab Pak RT. Obrolan pun berlanjut, Ailee mendengarkannya dengan seksama. Jarang sekali ia mendengar obrolan seperti itu. Biasanya yang ia dengar hanyalah obrolan Mama serta Papanya yang membicarakan bisnis, bisnis, dan bisnis.
Secangkir kopi hitam telah siap, Binar menyodorkannya kepada Pak RT yang menunggunya sedari tadi. Kopinya masih panas, Pak RT menuangnya sedikit di cawan. Ia tiup sebentar dan kemudian diseruput hingga kopi di cawan tandas.
"Ah, mantab! Kopi Pak Binar ini memang berbeda, rasanya luar biasa," katanya setelah meneguk kopi buatan guru matematika itu.
"Mas Binar, espreso macchiato satu ya kaya biasanya," ucap gadis berambut ikal yang baru saja datang dengan sepeda motor berwarna putih. Ia kemudian mengambil ponselnya dan membuka kamera. Cukup lama ia memilah dan memilih efek mana yang bagus, kemudian...
"Okeeyyy, guyyysss, sore ini aku lagi di kedainya Mas Binar nih. Biasalah ngapelin doi, hihi. Lihat tuh...Mas Binar lagi bikinin aku macchiato! Kalian pokoknya harus coba guys, kopi- kopi di sini itu enak banget dan murah lagi. Yuk langsung kepoin aja, yang mau alamatnya jangan lupa komentar ya..."
Gadis itu nge-vlog, membuat Ailee sedikit cemburu karena dia juga tak segan menyandarkan kepalanya di bahu Binar saat nge-vlog tadi.
"Makasih ya, Mbak, sudah di promoin," ujar Binar. Macchiato yang diletakkan di cup telah siap, gadis itu segera membayarnya dan pergi dari sana.
Ternyata, tak hanya kopi hitam favorite para bapak- bapak saja yang dijual Binar, tetapi juga berbagai macam kopi yang juga digendrungi para kaum intelektual muda.
"Pak, aku juga mau espresso macchiato-nya dong!" seru Ailee.
"Mau dibanyakin espressonya atau susunya?" tanya Binar.
"Banyakin susunya, Pak."
Binar pun mengangguk, Ailee menyaksikannya dengan seksama bagaimana lelaki itu menyajikan kopi pesanannya. Binar sudah terlihat seperti Barista ternama.
"Nih..." ucap Binar menyerahkan espresso macchiato ke depan Ailee.
Gadis itu pun langsung meneguknya, ia tak sabar mengetahui bagaimana rasanya. Aromanya sudah seperti aroma kopi di kedai ternama. Seteguk kopi membuat mata Ailee berbinar. Lebih enak daripada kopi buatan di kedai ternama yang sering ia kunjungi.
Tak perlu waktu lama, para pelanggan Binar berhamburan datang dan memesan kopi yang mereka inginkan. Mayoritas pelanggannya adalah anak muda. Kedai itu dijadikan mereka tempat nongkrong atau sekadar mengerjakan tugas.
Binar memberikannya celemek supaya seragam Ailee tak kotor. Ia menyuruh gadis itu untuk membawakan kopi ke para pelanggannya saja. Cukup terbantu, ia pun jadi tidak keteteran.
"Pak, sepertinya Pak Binar harus renovasi kedai kopinya biar lebih besar deh. Lihat tuh, ada yang nggak kebagian tempat duduk," ucap Ailee. Di sana hanya ada beberapa tempat saja oleh karena itu jika ramai banyak yang tak kebagian.
"Maunya sih gitu, tapi uangnya belum cukup buat renovasi," sahut Binar.
"Aku bisa membantumu!"
"Bantu apa? Anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang dewasa!"
"Aku ingat kalau toko kue Oma Aira itu sebenernya ada coffee barnya, dan itu udah lama nggak berjalan. Gimana kalau Pak Binar ke sana?"
"Saya mana ada uang buat nyewa tempatnya. Sudah jangan aneh- aneh, nih anterin ke mas- mas bertopi!" ucap Binar menyodorkan nampan berisikan kopi dan snack kecil.
Ailee pun mengangguk, ia segera melaksanakan perintah Binar. Para pengunjung sangat mengagumi keramahan Ailee ketika melayani. Mungkin karena selain ramah, Ailee juga cantik dan manis hingga membuat pengunjung betah.
"Wahhh, ramai sekali kedaimu kali ini, Bin," seru Melati dengan senyum yang merekah melihat para pelanggan Binar.
"Itu karena ada Ailee..." jawab Ailee dengan kepercayaan diri level tinggi.
"Ya ya ya, terserah kamu saja!" Binar terkekeh, tangannya mengacak- acak rambut Ailee karena gemas sekali. Ailee terkejut tak menyangka jika Binar akan seperti itu. Rambutnya yang diacak- acak, tapi hatinya yang tak karuan rasanya.
"Pak! Jantungku mau copot!" teriak Ailee mengusap dadanya yang berdetak tak normal. Masih tak percaya dengan perlakuan Binar padanya.
"Ehem...ehem..." Bu Melati terus menggoda mereka hingga Binar jadi salah tingkah sendiri dan malu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam terparkir mulus di depan panti. Ya, Aiden yang datang. Ia hendak menjemput Ailee. Lelaki itu baru saja selesai latihan dan langsung menghampiri adiknya sesuai pesan singkat tadi.
"Pak, aku pulang dulu ya. Jangan kangen..." pamit Ailee kepada Binar.
"Kalau ngomong tuh yang bener!" Binar malah menyentil kening Ailee, entah hari ini sudah yang ke berapa kalinya ia menyentil gadis itu.
Ailee enggan untuk pergi dari sana, sebenarnya ia ingin lebih lama lagi bersama Binar dan Clarissa. Tapi tak apa, masih ada hari esok. Apalagi besok adalah hari libur, Ailee bisa main seharian penuh dengan Clarissa.
"Bye, Pak Binar tampan," ucap Ailee sebelum masuk ke mobil. Ia memperlihatkan jari tangannya yang membentuk finger love.
Binar langsung mengambil sandalnya dan bersiap melemparkannya kepada Ailee, gadis itu pun buru-buru memasuki mobil. Ia terpingkal- pingkal melihat ekspresi guru tercintanya itu.
Mobil pun perlahan meninggalkan rumah Binar, sesekali gadis itu melirik Binar melalui kaca spion hingga hilang dari pandangan. Hari ini ada banyak hal yang dilalui dengan Binar, semuanya menyenangkan. Apalagi saat membantu lelaki itu melayani para pembeli. Dan terlebih lagi tatkala Binar gemas dan mengacak-ngacak rambutnya. Ah, gadis itu bisa saja tak tidur semalaman dan akan terus memikirkannya.