
Wanita itu tengah merajuk. Dirinya tak sempat menyaksikan kembang api yang menghiasi langit malam tahun baru. Ia mengira jika tak ada yang membangunkannya, padahal sahabat serta suaminya telah berusaha membangunkannya dengan berbagai cara. Tapi wanita itu tak kunjung bangun juga dan pada akhirnya tak menyaksikan kembang api.
Kini waktu telah menunjukkan pukul satu lewat setengah jam, Binar melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalanan yang masih ramai. Merinding juga dengan istrinya yang merajuk tanpa ada sepatah kata lagi yang terucap. Tapi ini juga bukan sepenuhnya salah Binar atau yang lain.
Pagi memang akan segera datang, tapi masih ada cukup waktu untuk tidur kembali. Ailee dan Binar pun dengan mudahnya tidur lagi. Tanpa berganti baju terlebih dahulu, mereka langsung merebahkan diri di kasur. Tak lupa dengan saling memeluk meski sedang merajuk.
Merasa baru saja terlelap akhirnya Binar terbangun dengan seseorang yang sedang mengomel. Pasti istrinya, karena wanita itu sudah tak berada di sampingnya. Tapi, tumben sekali Ailee marah pagi-pagi? Dengan siapa dia marahnya?
Tanpa menunggu waktu lama, Binar pun langsung melesat mencari keberadaan istrinya yang ternyata berada di kamar mandi sedang bertelepon dengan seseorang. Wajah istrinya pucat pasi, Binar pun langsung khawatir dengannya.
"Keracunan makanan, Hubby. Aku muntah-muntah tadi..." ucap Ailee memberitahu suaminya.
"Ailee, kamu nggak papa, kan? Kok bisa sih muntah-muntah? Aku sama Bryan aja baik- baik aja kok. Coba aku sambungin Aiden sama Sora, mereka keracunan makanan juga nggak..." seru seseorang.
Ternyata Ailee sedang menelpon Kimmy dan Bryan menanyakan perihal makanan semalam karena dirinya muntah-muntah dan sepertinya keracunan makanan.
"Hoeekkk...hoekk...." Ailee kembali muntah, tapi hanya air saja yang keluar. Wanita itu semakin lemas.
"Ke rumah sakit sekarang, ya?" ajak Binar namun Ailee menggeleng. Ia tak mau pergi ke rumah sakit karena takut.
"Pak Bin, apa Ailee masih muntah-muntah?" tanya Bryan yang jadi ikutan panik.
"Iya masih, sepertinya dia memang keracunan makanan. Tapi bukan makanan yang semalam kita makan, soalnya aku baik-baik saja, dan kalian juga, kan? Telponnya aku matikan sebentar, ya," sahut Binar yang kemudian memutus sambungan telepon. Ia ingin fokus membantu istrinya mengeluarkan sesuatu yang membuat perutnya tak nyaman.
Dipijat tengkuk wanita itu, rambutnya yang tadi terurai pun ia ikat supaya tak kotor terkena muntahan.
"Sudah, Hubby."
Ailee langsung ambruk di pelukan Binar, wanita itu benar-benar lemas dan pucat. Binar pun kemudian menggendongnya kembali ke ranjang. Ia lalu berlari sekencang mungkin menyuruh Bu Melati membuatkan wedang jahe untuk meredakan mual Ailee.
Sesampainya di kamar, Binar kemudian memijat pelipis Ailee karena katanya kepalanya juga pusing, maka dari itu Binar mencoba meredakannya.
Pintu terbuka nampaklah Bu Melati membawa nampan berisikan wedang jahe dan sarapan untuk menantunya. Ia jadi panik melihat Ailee yang biasanya ceria terbaring lemah di ranjang.
"Ayo minum dulu biar mualnya hilang," ucapnya seraya membantu Ailee bangun.
Seteguk wedang jahe membuat matanya berbinar. Enak sekali dan langsung menghangatkan perutnya. Ia pun jadi semangat lagi, tubuhnya kembali segar.
"Mungkin kamu hamil," ucap Bu Melati membuat Binar membelalakkan matanya.
"Ailee saja sedang datang bulan kok, Mah. Mungkin dia masuk angin atau nggak keracunan steak kemarin," ucap Binar yang kemudian diangguki oleh Ailee.
Banyak yang sayang dengan Ailee, buktinya papa dan mamanya langsung datang ketika mendapat kabar dari Binar. Mereka langsung menuju ke kamar Ailee. Keduanya pun memeluk putri mereka dengan erat.
"Pah... Mah..."
"Hoekk...." Ailee kembali muntah, beruntung Binar dengan sigap mengambil wadah hingga tak mengotori Aksa maupun Aza.
"Parfum papa sama mama nyengat banget. Pasti habis satu botol, ya!" ujar Ailee membuat Aksa dan Aza langsung mencium tubuh mereka– memeriksa apakah bau parfum menyengat atau tidak. Seperti biasanya dan tak menyengat pula, tapi kenapa Ailee bilang seperti itu? Aneh sekali anak itu.
"Jangan-jangan ini hormon kehamilan? Kamu hamil, ya?" tanya Aksa menyelidik, ia juga menatap Binar mencoba mencari tahu jawabannya.
Binar dan Ailee menggeleng. Ailee tidak hamil, dia saja kemarin baru datang bulan. Keanehan Ailee itu membuat sekeluarga geleng-geleng. Aksa dan Aza tetap di sana mengawasi putri mereka.
...*****...
Merasa sudah baikan, Ailee langsung berpamitan dengan Binar hendak bertemu Kimmy. Tentu saja Binar tak memperbolehkannya karena takut terjadi sesuatu nantinya. Dan pada akhirnya Ailee tetap berada di rumah didekap erat dengan Binar supaya tak lari.
Sembari mengurus pekerjaannya, Binar tak melepas pelukannya pada sang istri. Mungkin wanita itu juga bosan di rumah terus dan dikungkung dirinya, tapi Binar tak akan memperbolehkannya ke mana pun jika teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya cemas parah.
"Hubby, mau es krim..." celetuk Ailee bermaksud supaya ia diperbolehkan keluar oleh suaminya.
"Di kulkas ada, tapi jangan makan es krim dulu kamu kan lagi nggak sehat."
"Hubby, mau ayam geprek."
"Pesen online ya, tunggu sebentar."
"Hubby, mau makan di tempatnya langsung. Sudah lama nggak ke sana."
"Kamu lagi sakit."
"Sudah enggak, ayolah..."
Meski segala bujuk rayu keluar, Ailee tak mampu meruntuhkan benteng Binar. Lelaki itu malah mengajaknya keluar, tapi hanya keluar dari kamar–menuju danau di samping rumah.
Digelar karpet kecil dan tak lupa makanan ringan dari kulkasnya tadi. Dan ayam geprek yang diinginkan Ailee pun sudah sampai lengkap dengan es teh manis gratisanya.
Binar memindahkan ayam geprek dari sterofoam menuju ke piring. Ia layani dengan baik istrinya itu karena saking sayangnya. Tadi Ailee minta dua ayam geprek untuk dirinya sendiri, jadi Binar pun memesan empat porsi– satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Bu Melati.
Wanita itu dengan lahap memakannya. Level tiga tak terlalu pedas, padahal menurut Binar itu sudah sangat pedas. Binar jadi khawatir dengannya, takut jika ia muntah-muntah lagi.
"Hubby, aku sudah kenyang," seru Ailee seraya menyeruput es teh.
Binar mendengus kesal dengan Ailee, pasalnya ayam geprek itu masih ada seporsi. Padahal tadi Ailee bilang kalau akan menghabiskannya. Tapi ternyata tidak sesuai dengan ucapannya.
"Kamu yang habiskan ya, Hubby? Aku suapkan," seru Ailee tersenyum riang. Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia langsung menyuapi dengan suapan besar hingga memenuhi mulut Binar. Lelaki itu pun tak bisa menolak karena Ailee terus saja memaksanya.
Harusnya Binar hanya membelikan satu porsi saja untuk istrinya supaya tak ada kejadian seperti itu. Binar seolah menjadi tempat pembuangan makanan oleh Ailee.