
Bukan main senangnya, hari ini adalah hari pertama Binar datang ke rumahnya untuk les privat. Ailee sudah menunggu Binar di depan pintu gerbang sejak tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan Binar. Ia terlalu semangat.
Tangannya melambai- lambai ketika melihat lelaki yang berkendara motor menuju arahnya. Senyumnya melengkung seperti bulan sabit di tengah malam. Orang yang ditunggu telah di depan mata, bukan main senangnya.
"Selamat datang di rumah Ailee..." seru Ailee menghadang Binar di depan pintu gerbang. Lelaki itu pun menghentikan motornya mendadak– tepat di depan Ailee.
"Bukannya ini rumahnya Tuan Aksa dan Nyonya Aza, ya?" sahut Binar seraya melepas helmnya.
"Ah, sama saja. Mereka 'kan orangtuaku. Ayo masuk, Pak," ajak Ailee yang kemudian menarik lengan Binar.
"Terus motornya?"
"Ada Pak Dudung, aman pokoknya!"
Tak peduli lagi dengan motornya, sang pemilik jauh lebih penting. Ia bimbing Binar memasuki ruang santai di mana sudah ada Aiden di sana. Binar sedari tadi hanya menurut saja, ia pun membiarkan Ailee menggandeng tangannya.
Sofa panjang itu telah memuat Binar dan juga Ailee, sedangkan Aiden di sofa lain. Sebenarnya Aiden sangatlah malas untuk les privat, ia lebih nyaman belajar sendiri. Tapi karena desakan sang adik, akhirnya dia pun mau.
"Baiklah, tadi saya sudah buat soal latihan untuk UTS besok. Hari ini kita mempersiapkan UTS dulu, selesai UTS akan saya ajarkan materi untuk ujian nasional maupun ujian masuk universitas," ujar Binar. Ia kemudian memberikan secarik kertas yang baru saja dikeluarkan dari tasnya pada Aiden dan juga Ailee.
"Apa ini soal UTS besok?" tanya Aiden.
"Hanya latihan dan jangan harap soalnya akan sama seperti soal UTS besok," jawab Binar tegas. "Saya beri waktu satu menit untuk mengerjakan satu soal, setelah itu kita bahas," tambahnya kemudian.
Les privat berlanjut hingga senja, Ailee sangatlah antusias. Ia malah lebih fokus dengan Binar bukan dengan materinya. Sebenarnya gadis itu sudah memahami semua materi matematika dan sebenarnya juga tak perlu les privat.
"Aku akan kembali ke kamar terlebih dahulu," pamit Aiden ketika sudah selesai.
Tinggalah Binar dan Ailee yang masih berada di ruangan itu. Ailee membereskan kertas- kertas soal dan juga alat tulisnya. Sedangkan Binar menatapnya dengan heran. Anak itu sudah pintar, semua soal bisa dikerjakan dengan baik dan benar, lalu kenapa masih memerlukan les privat? Apa tak sayang uangnya?
"Hey, kenapa kamu mau les privat denganku?" tanya Binar dengan suara tegas.
"Memangnya kenapa?" Ailee malah kembali bertanya membuat Binar jengkel. Lelaki itu kemudian meneguk kopi yang disediakan di depannya.
Gadis itu menggeser tubuhnya mendekati Binar hingga tak ada celah antara mereka. Lalu berbisik erotis, "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Pak."
Merinding. Menakutkan. Dan menyebalkan. Binar segera mendorong tubuh Ailee menjauhi dirinya, ia lalu bangkit dan pamit untuk pulang.
"Ayihh, menggemaskan sekali dia!" gumam Ailee.
Ailee mengantarkan Binar hingga ke depan gerbang. Dan ternyata motor Binar tak ada, lelaki itu panik dibuatnya. Baru lunas tapi sudah hilang. Ah, menyebalkan sekali.
Ia dan Ailee berkeliling mengitari rumah mencari keberadaan motor. Di garasi hanya ada mobil koleksi tuan rumah saja, tak ada motor miliknya. Binar dan Ailee hampir putus asa dibuatnya. Mang Dudung yang tadi diberi kepercayaan pun entah ke mana, padahal tadi Ailee sudah menyuruh untuk meletakkan motor Binar di garasi.
"Tenanglah, Pak. Komplek ini nggak ada maling kok," ujar Ailee menenangkan Binar yang panik.
"Nggak ada maling gimana? Buktinya motorku hilang!"
Tin...tin...
Suara klakson motor Binar terdengar. Ternyata satpam rumah itu membawa motornya keluar. Jengkel bukan main karena Mang Dudung tak memberitahu sebelumnya jika meminjam motor.
"Kenapa nggak bilang dulu sih, Mang Dudung!" gertak Ailee.
"Maaf atuh, Neng, tadi buru- buru. Nih disuruh Oma Aira beli wedang ronde," jawab Mang Dudung memperlihatkan beberapa kantong plastik berisi wedang ronde yang baru saja ia beli.
"Ya udah, Ayo pulang, Pak!" ajak Ailee, ia menuntun Binar mendekati motornya.
Binar menyentil kening Ailee dengan keras, "Mau pulang ke mana? Rumah kamu kan di sini!"
Binar menggeleng seraya tersenyum. Lucu sekali anak itu. Baru saja duduk dan selesai memakai helm, tiba- tiba ada seseorang yang naik ke motornya. Binar pun menoleh ternyata sudah ada Ailee di belakangnya.
"Aku nebeng ya, Pak. Mau beli martabak, hehe. Udah izin sama Mama kok," seru Ailee, tangannya sudah melingkar di perut Binar.
Motor pun perlahan meninggalkan area komplek. Lampu mulai menyala terang mengikuti laju motor. Keriuhan saat senja menghilang pun terasa. Memang cocok jika berboncengan dengan sepeda motor. Langit belum gelap sempurna, masih ada semburat warna jingga yang menghiasi sebagian meskipun telah dominan abu tua.
Aku ingin malam mingguku
Engkau selalu ada dekatku
Menemani peluk bintang-bintang
Lagu Yovie & Nuno yang berjudul Malam Mingguku itu terdengar jelas namun tak terlalu sedap didengar. Ailee menyanyi dengan riangnya, seakan suaranya sangat merdu. Padahal suaranya tak sopan ketika masuk telinga. Menyakitkan.
"Ini malam selasa," sahut Binar terkekeh.
"Diam saja, Pak."
Bila nanti engkau milikku
Bila saja cinta berbalas
Kan ku sayang selama hidupku
Kuharapkan engkau mengerti
apa yang kurasakan
jangan kau ragu dengan kesungguhan ini...
Binar terenyuh ketika lagu kembali dilantunkan. Liriknya begitu mengena.
"Kenapa nyanyi lagu itu?" tanya Binar.
"Mewakili perasaanku, Pak. Aku pengen sama Pak Binar terus, tiap malam, tiap hari, tiap detiknya. Dan aku ingin Pak Binar membalas cintaku," jawab Ailee penuh dengan kesungguhan membuat Binar terhenyak seketika.
Dapat disimpulkan dari ucapan tadi jika gadis itu mencintai dirinya. Tapi apakah itu bisa dipercaya? Ah, Binar tak mau menganggapnya serius. Dia masih anak kecil, berbanding terbalik dengannya pula. Tak mungkin jika mereka akan ditakdirkan bersama.
"Mau beli martabak yang di mana?" teriak Binar bertanya, mengalihkan pembicaraan Ailee tadi. Ada dua penjual martabak di wilayah itu, ia pun bingung martabak mana yang gadis itu inginkan.
"Yang disitu saja, Pak!" jawab Ailee menunjuk gerobak martabak yang berada satu meter dari posisinya.
"Terima kasih Pak Binar..." seru Ailee ketika sudah turun dari motor.
"Hm. Hati- hati pulangnya nanti," ucap Binar sebelum kembali melajukan motornya.
"Hati- hati di jalan ya, Pak!" Ailee memberikan finger love untuk lelaki itu, mengecupnya sebentar, lalu ia berpura- pura memasukkannya ke kantong kemeja Binar. Lelaki itu hanya bisa terkekeh melihat tingkah Ailee.
Binar sepertinya sudah terlena dengan Ailee, buktinya saja dia senang diberi bekal pulang finger love dari Ailee yang dimasukkan ke kantong kemejanya. Tak masuk akal tapi membahagiakan sekali.
Tangannya melambai ketika Binar mulai meninggalkan dirinya. Sangat senang, padahal hanya hal kecil. Ia pun duduk di kursi plastik yang disediakan penjual martabak setelah memesan martabak coklat keju kesukaannya.
Sembari menunggu pesanannya, Ailee melamunkan hal yang tak jelas. Ia sudah membayangkan bagaimana jika dirinya benar- benar berjodoh dengan guru matematikanya. Dan bagaimana pula jika semesta tak membiarkan mereka bersatu? Akankah masih ada hal sederhana yang mereka lakukan bersama? Atau semuanya juga harus lenyap tatkala semesta tak menyatukan?
Percayakan semuanya dengan takdir. Apapun yang terjadi pasti adalah yang terbaik untuk kita.