
Siswa dan siswi telah duduk melingkar mengitari api unggun. Bara api telah menyala membakar tumpukan kayu yang telah disusun sedemikian rupa semenjak langit berwarna jingga. Tingginya sekitar satu meter, api menyala menari-nari diterpa angin malam. Tak ada penerangan selain api tersebut. Semuanya gelap bercampur warna kuning dan jingga layaknya langit di kala sore hari.
Paper cup telah berada di tangan masing-masing anak. Berisikan wedang jahe untuk menghangatkan tubuh. Makan malam baru saja dilaksanakan, saatnya bermain ditemani api unggun. Aneka permainan pun dilakukan untuk menghabiskan malam dan sebagai penghantar tidur mereka.
Semuanya tampak antusias, tapi ada juga yang enggan untuk ikut dan memilih untuk tidur terlebih dahulu. Lima sahabat yang cukup terkenal di seantero sekolah itu masih berada di samping api unggun yang mulai padam, namun kehangatannya masih terasa.
"Kimmy..." seru Aiden ketika Kimmy merenggut keripik singkongnya secara paksa.
"Bagi dong, jangan pelit-pelit. Nanti kuburanmu sempit, nggak bisa tengkurap!" kalimat itu selalu diucapkan Kimmy. Kalimat yang menjadi andalan ketika dirinya menginginkan sesuatu dari orang lain.
"Kamu mau?" tawar Bryan kepada Sora. Lelaki yang berwajah seperti oppa Korea itu menyodorkan cookies kepada gadis yang ia suka, tetapi juga disukai oleh Aiden.
"Mau dong!" sahut Aiden dan langsung mengambil cookies dari tangan Bryan.
"Buat Sora bukan buat kamu," cebik Bryan.
"Ohh buat Sora, ya? Ra, sini aku suapin. Enak lohh..." Aiden menyuapkan satu cookies dan Sora menyambutnya. Digigit satu gigitan lalu diambil alih sisanya. Senang bukan main Aiden dibuatnya, sedangkan Bryan panas jadinya.
"Ngeselin!" Bryan beranjak dari duduknya dan menuju ke tendanya, merajuklah dia karena Aiden selalu mengganggunya.
Sora jadi tak enak dengan Bryan, padahal tadinya dia juga ingin menggoda lelaki itu. Tapi ternyata malah berakhir dengan Bryan yang merajuk.
"Udah ngantuk nih, tidur duluan ya," pamit Sora.
"Hey, masih jam berapa? Ayolah ngobrol dulu," cegah Kimmy namun tak mampu menepis keinginan Sora. Gadis berambut ikal itu tetap memilih untuk tidur terlebih dahulu.
"Aku anterin," seru Aiden yang kemudian langsung berlari mengikuti Sora. Terlalu lebay padahal tenda Sora dekat sekali dengan tempat mereka berkumpul. Ah, namanya saja jatuh cinta.
"Eh..eh...si Aiden suka juga ya sama Sora?" tanya Kimmy penasaran.
"Tanya aja dama Aiden langsung, aku sih nggak tahu," jawab Ailee. Ia sebenarnya tahu jika Aiden memang suka dengan Sora.
"Cinta segitiga di antara persahabatan kayanya lucu juga ya? Coba tebak, nanti endingnya gimana? Aiden atau Bryan yang bakalan dapetin hatinya Sora?" ujar Kimmy dengan mulut yang tetap penuh. Keripik singkong dengan bumbu balado yang berhasil direbut dari tangan Aiden sangatlah enak, hingga dirinya tak bisa berhenti mengunyah.
Mereka berdua masih mengobrol dan bertukar pikiran, sesekali disisipi dengan gosip hingga tawa renyah pun kerap terdengar dari keduanya.
"Ada yang lagi bahagia nih kayanya..." celetuk Khansa menghampiri Kimmy dan juga Ailee yang duduk di atas kayu api unggun yang belum dibakar.
"Kaya ada yang ngomong, tapi kok nggak ada wujudnya, ya?" lirih Ailee berpura- pura. Padahal sebenarnya ia tahu jika yang bersuara itu adalah Khansa, suara cemprengnya itu tak asing di telinganya.
"Wah iya nih...Kok jadi merinding, ya? Kabur aja, Yuk!" ajak Kimmy, mereka berdua lalu berlari menuju ke tenda meninggalkan Khansa yang berdecak kesal karena kehadirannya dianggap gaib.
...*****...
Riuh suara anak yang tengah mengantri kamar mandi untuk membersihkan diri mereka masih terdengar jelas sejak setengah jam yang lalu. Kamar mandi memang cukup banyak, tapi siswanya jauh lebih banyak jadi mengharuskan untuk mengantri. Untung saja Ailee, Sora, dan juga Kimmy sudah selesai mandi karena mereka tadi menyiasati untuk bangun lebih awal supaya tak mengantri panjang.
Usai sarapan nanti mereka akan bertolak ke sekolah- sekolah dan membagikan sumbangan, seperti alat tulis, buku bacaan, alat olahraga, dan penunjang pendidikan lain yang telah disiapkan sebelumnya.
"Bagi yang sudah selesai mandi dan bersiap, silakan ke dapur untuk mengambil sarapan kalian," himbau Pak Budi dengan pengeras suara. Terdengar keras sekali, padahal jika tak memakai pengeras suara semuanya pun masih bisa mendengar suara Pak Budi yang memang sudah keras dari sananya.
Piring dan sendok sudah berada di tangan, tiga gadis cantik nan manis itu tengah mengantri mengambil makanan. Cukup lama, sampai susu segelas habis diteguk.
"Sabar nanti juga dapet giliran kok, tenang aja tuh telur balado kesukaanmu masih banyak," ujar Sora menenangkan Kimmy.
"Misi ya guyysss, missssiiiiii!!!" Seorang gadis tiba- tiba menyela dan berdiri di depan Ailee. Siapa lagi kalau bukan Khansa si biang masalah.
"Ngantri bos!" teriak Ailee tepat di telinga kanan Khansa, tapi tak membuat gadis itu berpindah dan tetap menerobos hingga pada akhirnya dia terlebih dahulu mengambil nasi.
"Kamu ngeselin banget sih jadi orang! Kamu ngerti ngantri nggak sih?" gertak Ailee, ia sangat tak suka dengan orang yang selalu menyalahi aturan. Ailee pun menyahut centong biru dari tangan Khansa dan segera mengisi nasi di piringnya dan juga piring dua sahabatnya.
"Khansa...Kamu baru datang, jadi saya harap ikut mengantri sama seperti teman-teman yang lain ya?" ujar Binar yang sedari tadi berdiri mengawasi dapur.
"Nggak bisa, Pak. Perutku udah keroncongan ini, nanti kalau aku pingsan gara-gara kelaparan gimana?" Khansa malah membalas omongan Binar, benar-benar tak ada akhlak.
"Dikira situ doang apa yang lapar? Kita juga lapar kali!" balas Sora.
"Biasa aja kali ngomongnya! Nggak usah pake kuah!" ucap Khansa sembari menyeka wajahnya yang sepertinya terkena air liur Sora yang muncrat ketika berbicara tadi.
"Eh kamu tuh emang nggak ada akhlak sama sekali ya? Pantes aja nggak punya temen!" balas Ailee membuat Khansa terdiam dan kesal.
"Ailee, Kimmy, Sora, segera ambil makanan dan cari tempat untuk makan. Dan Khansa mending kamu ngantri di belakang temen-temenmu. Jangan berdebat," tutur Binar. Lelaki itu memijat pelipisnya, merasa pusing dengan ulah muridnya yang selalu saja bertengkar di manapun mereka berada.
Ailee dan dua sahabatnya pun segera mengisi piring mereka dengan sayur, lauk pauk, dan juga tak lupa mengambil makanan penutup. Khansa masih terdiam di tempatnya, ia sangat marah ketika dibilang tak punya teman oleh Ailee tadi.
"Bye nenek lampir," ucap Sora dan Kimmy tatkala mereka sudah selesai mengambil makanan dan hendak mencari tempat.
Ailee melayangkan senyum smirk-nya. Khansa pun geram, ia menyenggol Ailee hingga makanannya terjatuh.
"Khansa!" teriak Binar, dan kali ini ia menghampiri gadis yang sangatlah nakal itu.
"Aku punya salah apa sih sama kamu? Sampai-sampai kamu ganggu aku terus? Aku juga capek loh diginiin terus sama kamu tanpa alasan yang jelas. Sabarku udah abis!" gertak Ailee. Gadis itu langsung pergi meninggalkan dapur.
"Ailee..." Sora dan Kimmy bergegas mengikutinya.
"Lebay amat sih!" caci Khansa ketika mereka telah pergi.
"Kalau tingkah lakumu masih seperti ini terus, jangan salahkan saya selaku wali kelasmu akan mengadu ke kepala sekolah supaya mengeluarkan kamu dari sekolah," tutur Binar penuh penegasan membuat anak lain yang tengah mengantri takut mendengarnya. Lain halnya dengan gadis yang sedang dinasehati, ia justru acuh dan menganggapnya angin lalu.
"Kegiatan pertama kamu tidak boleh ikut, dan sebagai gantinya kamu bereskan dapur dan juga bersihkan tempat ini hingga tak ada sampah atau daun yang gugur. Jika sepulang donasi nanti saya melihat tempatnya masih kotor, maka hukuman akan ditambah!"
"Tapi, Pak? Nggak bisa gitu dong!"
Binar langsung pergi ketika telah memberikan ultimatum kepada Khansa. Untuk kali ini ia sangatlah berharap supaya Khansa tak lagi mengulangi kesalahan yang sama, yaitu mengganggu Ailee dan para sahabatnya.
.
.
.
Maaf baru sempat update🙏