
Bibir itu masih mengabsen tubuh istrinya yang mungil. Kulitnya kenyal, halus, dan putih. Wangi sabun pun masih tercium jelas, padahal ia mandi sudah satu jam yang lalu. Di bawah selimut tebal itu memang nampak gelap, namun mata Binar tetap mampu menatap apa yang sedang dijamahnya.
Ia tertuju pada dua gunung yang mudah didaki karena tak terlalu tinggi. Namun, sang pemilik mempersulitnya karena terus ditutupi dengan kedua tangan. Binar mulai tak sabar, ia menyikap kedua tangan istrinya supaya dua gunung dengan ukuran yang sama itu terpampang jelas.
"Jangan ditutupi, biarkan terbuka," lirihnya menggoda. Ailee langsung merinding ketika mendengar ucapan suaminya itu. Erotis sekali.
Masih mempertahankannya, namun lama kelamaan ia pun terbuai dengan permainan Binar. Tangannya yang menutupi dua gunungnya mulai dilepas, dan lelaki nakal itu mulai bergerilya membuat istrinya mengejang hebat karena geli dan merasakan sensasi aneh.
Dikecup dengan lembut, tak lupa diberi tanda kepemilikan, begitulah hingga kepuasan menyapa. Dan Ailee terus saja memejamkan mata karena tak berani, lebih tepatnya malu dengan kondisinya yang tak terbalut busana.
Matanya semakin memejam ketika ada sesuatu yang hendak berkenalan dengan bagian tubuhnya. Sesuatu itu jauh lebih menggelikan daripada sentuhan bibir maupun lidah Binar tadi.
"Pak Bin..."
"Tenang saja. Pelan kok..."
Senjata Binar yang tadi pagi sempat ia genggam mulai nakal. Masuk perlahan ke lorong yang sempit, belum ada yang pernah singgah sebelumnya. Lama kelamaan sensasi geli nan nikmat berubah menjadi perih dan sakit. Ah, sial!
"Pak Bin! Sakit!"
"Jangan bergerak, nanti tambah sakit!" seru Binar memperingatkan istrinya yang sedari tadi banyak gerak dan tak bisa diam sedetik pun.
Plaaakkk!
"Arghh! Sakit!"
Plakkkk!
"Paaaakkkk Biinnn!"
Ailee melampiaskan kesakitannya dengan menampar sang suami hingga dua kali. Kanan dan kiri. Luar biasa sakitnya, karena tamparan itu sangatlah keras. Binar pun terpaksa berhenti, dan mengeluarkan kembali senjata yang baru setengah masuk itu. Kedua pipinya sangat perih dan panas karena ulah istrinya.
"Okey, okey, kita berhenti di sini. Jangan nangis cup cup cup..."
Ailee terisak, senjata milik Binar telah melukainya meskipun baru setengah masuk. Sakitnya belum juga hilang, entah kenapa air mata pun keluar seolah menjadi saksi atas sakit yang tengah dirasa.
Kecupan bertubi-tubi mendarat di kening Ailee. Binar jadi merasa bersalah karena tadi tak pelan dan pada akhirnya menyakiti istrinya sendiri. Didekaplah tubuh mungil itu dengan erat, dibelai kepalanya, dan dikecupi wajahnya supaya istrinya itu terdiam dari isakan yang membuat dadanya begitu sakit. Ya, sangat sakit ketika melihat orang yang dicinta menangis karena dirinya.
"Maafkan aku..."
Ailee mengangguk dan segera menyudahi tangisnya, "tadi enak, tapi sakit huhu...huuu..."
Binar terpingkal-pingkal mendengar penuturan sang istri. Enak tapi sakit? Bagaimana rasanya? Wah, random sekali. Percobaan pertama itu memang gagal, tapi Binar dan Ailee tak akan membiarkan percobaan kedua gagal pula. Fix, hal ini harus segera dijadwalkan.
Ailee telah menjadi seorang istri. Dirinya tak pantas lagi disebut sebagai seorang gadis, dan lebih layak disebut sebagai seorang wanita karena ia kini telah dewasa. Di dada suaminya, ia kembali melamunkan masa lampau. Rencana Tuhan memang tak terduga dan tak dapat ditebak sebelumnya, bersyukur karena cintanya ternyata terbalaskan.
"Emangnya nggak geli ya, Pak Bin?" tanya Ailee terkekeh. Melihat Binar tak bereaksi, dirinya semakin gencar memainkan payudara milik Binar.
"Geli sih, tapi kalau kamu suka aku bisa menahannya," jawab Binar. Ia memang terlihat sedari tadi menahan tawanya, apapun akan ia lakukan demi Ailee.
"Ehm, apa kamu sudah siap punya anak?" tanya Binar ragu. Ia takut sekali menanyakan ini. Binar memang ingin memiliki anak kandung, terlebih lagi anak yang dilahirkan dari rahim Ailee. Namun, ia juga tak menuntut. Jika Ailee belum siap maka ia akan menanti hingga istrinya itu siap.
"Tentu saja. Aku pengen kasih Clarissa adik yang sangat lucu. Hm, kira-kira anak kita nanti kembar nggak ya, Pak? Kan aku kembar, siapa tahu anak kita juga kembar," seru Ailee nampak berpikir. Ia berharap jika anaknya nanti kembar seperti dirinya, itu pasti akan sangat lucu.
Binar tersenyum sumringah, tak disangka jika Ailee malah tak sabar memiliki anak.
"Jika kita segera punya anak, bagaimana dengan karirmu? Itu pasti akan menghambat," seru Binar. Ada banyak hal yang ia pikirkan, salah satunya adalah tentang karir istrinya. Wanita itu sangat pandai dan memiliki ilmu tinggi, tak mungkin juga wanita zaman sekarang hanya mau terhenti menjadi ibu rumah tangga saja.
"Sama seperti mamaku dulu. Pas hamil langsung cuti dan bekerja lagi setelah anak umur dua atau tiga tahun. Dengan begitu aku bisa menikmati menjadi ibu rumah tangga juga wanita karir," jelas Ailee membuat Binar terharu. Lelaki itu sangat terharu mendengar penuturan, apapun yang dipilih istrinya akan selalu ia dukung.
Tok- tok- tok!
Pintu kamar diketuk, dua insan itu langsung gelagapan dan langsung mencari pakaian mereka yang entah terlempar ke mana. Belum sempat mengenakan pakaiannya dengan lengkap, pintu kamar sudah terbuka. Nampaklah Aiden yang tengah menggendong Clarissa.
"Papa...Mama...."
Aiden terpingkal-pingkal saat melihat Binar dan Ailee yang berbaring dengan selimut yang masih melekat. Ia sudah menduga pasti pengantin baru itu baru saja melakukan hal yang semestinya dilakukan.
"Halo, sayang..." sapa Binar. Lelaki itu berusaha tersenyum dan tangannya yang tertutup selimut berusaha memakai celananya kembali. Hufftt, berhasil, tapi istrinya belum memakai sehelai kain pun.
"Aiden pergilah! Ajak Clarissa ke bawah dulu!" seru Ailee seraya mencubit paha kakaknya.
"Kenapa sih emangnya? Udah siang kok masih selimutan, ayo dong kita main sama Clarissa," sahut Aiden seolah-olah tak tahu apa yang tengah terjadi. Padahal apa yang ia lihat sudah sangat jelas, bahwa Binar dan Ailee baru saja mantap-mantap.
"Iya, Mama kenapa masih tidur? Ayo kita bermain," seru Clarissa, dan Ailee hanya bisa tersenyum menanggapinya.
"Hayooooo kalian lagi ngapain." Aiden semakin gencar menggoda, dan Ailee pun semakin gencar pula ingin menerkamnya.
Beruntung Binar sangat pandai, ia langsung menggendong Clarissa dan mengajaknya keluar tak lupa mengajak Aiden pula. Tapi Aiden belum juga berhenti tertawa atas apa yang terjadi. Sungguh menyebalkan.
Ailee pun langsung mencari pakaiannya yang ternyata terlempar sampai ke meja rias, padahal jaraknya cukup jauh. Hufftt, ternyata bukan hanya kakaknya saja yang menyebalkan tapi suaminya juga.
.
.
.
Ini adegannya ngga vulgar sih, tapi kayaknya tetep dosaðŸ˜