Perfect Duda

Perfect Duda
Kesempatan dalam Kesempitan



Lima sekawan itu telah berkumpul seperti biasanya. Di meja pojokan kantin. Berbagai makanan untuk mengisi perut mereka telah tersaji. Mulut pun mulai melaksanakan tugasnya, ia mengunyah satu persatu makanan. Membuatnya lebih halus sebelum ditelan menyapa organ- organ di perut.


"Hey, ngapain sih dari tadi celingukan gitu?" tanya Bryan menyikut tangan Ailee. Gadis itu seperti mencari seseorang.


"Lagi nyariin si Perfect Duda!" jawab Ailee singkat, ia kembali memasukkan bakso tanpa kuah ke dalam mulutnya dan matanya tetap berpencar mencari sesosok yang ingin ia jumpai.


"Ailee ini lama- lama makin gesrek deh! Mending kamu berhenti ngejar Pak Binar, jelas- jelas Pak Binar itu nggak suka sama kamu. Tapi masih dikejar aja!" ujar Kimmy yang diangguki semuanya.


"Kita udah kelas tiga loh, bentar lagi lulus. Harusnya fokus dengan ujian dan semacamnya, jangan memikirkan cinta dulu," timpal Sora.


"Lagian apa sih yang kamu suka dari Pak Binar? Jelas- jelas lebih ganteng aku," ucap Bryan kepedean.


"Gantengan juga aku kali," tukas Aiden, semuanya lantas terkekeh.


Bakso, gorengan, keripik, dan lain sebagainya telah habis. Mereka berlima pun kekenyangan. Bel masuk tak kunjung berbunyi, mereka masih asyik bercerita di kantin itu.


"Oh ya, kalian berdua jadi tampil di festival besok?" tanya Kimmy kepada Aiden dan Sora.


"Tergantung sama Aiden sih, tahu sendiri kan kalau dia nggak pernah dibolehin manggung- manggung gitu sama Om Aksa," jawab Sora.


"Anak Pak Presdir nggak boleh kemana- mana ya, dia harus di rumah. Belajar...belajar...dan belajar..." ledek Bryan. Aiden pun langsung mencubitnya dengan keras.


"Ah, iya aku lupa," celetuk Kimmy diselingi tawa meledek Aiden juga.


"Husttt...hussst...kalian tenang saja, aku sudah punya cara untuk meyakinkan Papa. Dan mulai sekarang aku akan bebas pergi ke sana kemari," ujar Aiden.


Ia merangkul saudara kembarnya meminta persetujuan, "Bukankah begitu adikku sayang?"


"Iyaaaaaa---" Jawab Ailee.


Ya, mereka memang sudah sepakat untuk itu. Aiden tak akan mengatakan kepada sang Papa jika Ailee itu menyukai Binar dan ia juga akan membantu adiknya itu untuk menaklukkan hati Binar. Sedangkan Ailee, ia harus meyakinkan sang Papa dan membantu Aiden mencari alasan ketika ada festival atau harus bernyanyi di cafe bersama Sora.


Aiden suka sekali dengan musik, ia sangatlah berbakat. Seringkali ia diminta untuk tampil di sebuah acara bersama Sora. Musik baginya adalah kesenangan, tapi sang Papa tak pernah mendukungnya.


Siang itu Aiden dan Sora akan berlatih untuk tampil besok. Seperti biasa, mereka akan berlatih di rumah Sora. Dan jika sudah seperti itu, Ailee diacuhkan.


"Mau ikut atau pulang sendiri?" tanya Aiden sebelum dirinya pergi.


"Ikut aja yuk, Mamaku tadi bikin pudding mangga kesukaanmu. Pasti kamu suka," ucap Sora.


"Males, ah! Aku pasti dikacangin. Aku pulang sendiri aja deh. Selamat berpacaran ya kalian..." ucap Ailee menggoda.


"Apaan sih!" Aiden dan Sora segera masuk ke mobil, Ailee masih berada di parkiran.


"Jangan lupa bawa pulang pudding mangganya ya," seru Ailee ketika Sora dan Kakaknya beranjak meninggalkan sekolahan.


Ailee segera mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia buka aplikasi berwarna hijau, segeralah ia memesan ojek online. Supaya tukang ojek tak kesusahan mencarinya, dirinya pun memilih menunggu di depan gerbang.


Lima menit lebih dirinya menunggu, tapi ojek yang ia pesan pun belum juga datang. Sekolah mulai sepi, siswa dan siswinya telah kembali ke rumah masing- masing.


"Ehem..." dehem lelaki dengan rambut sebahu berwarna pirang. Jaket jeans berwarna biru tanpa lengan dengan model sobek- sobek melekat di tubuhnya.


"Sendirian aja, Neng? Temennya mana nih? Udah pulang semua?" tanya lelaki itu sembari melirik ke dalam sekolah.


Ailee tak menjawabnya, ia menggeser tubuhnya menjauhi lelaki yang cukup menyeramkan itu. Lelaki itu bukannya pergi tapi malah semakin mendekati Ailee.


"Tolong!" teriak Ailee, ia lalu berlari hendak kembali masuk ke sekolah. Tapi sayang, lelaki tadi dengan cepat mencengkram lengannya kuat- kuat hingga dirinya tak bisa kabur lagi.


"Om, lepasin aku! Aku mau pulang..."


"Kencan dulu yuk sebelum pulang."


"Ayooo...." Lelaki itu menarik paksa tubuh Ailee.


Ailee berteriak sekencang mungkin, berharap masih ada orang yang berada di sekolahan itu. Satpam yang biasanya berada di pos depan gerbang pun entah di mana keberadaannya. Depan sekolah pun sepi sekali, padahal biasanya ada yang jualan siomay.


"Tolooooongggg...." seru Ailee, kali ini mulutnya dibekap tangan lelaki itu. Ia menggigitnya hingga si pemilik mengaduh, saat itu juga ia menendang bagian bawah lelaki itu.


Melihat lawannya mulai terkulai lemas karena sesuatu yang berharga ditendang Ailee, gadis itu segera berlari.


"Pak Binar tolong!" teriak Ailee ketika melihat Binar yang berada di depan gerbang dan bersiap pulang. Ia bersyukur masih ada orang yang bisa dimintai pertolongan.


Binar yang melihat Ailee berlari menghampirinya dan dikejar- kejar lelaki pun segera memarkirkan motornya.


"Pak dia mau macem- macemin aku huuu...huuu..." Ailee menangis, ia bersembunyi di belakang Binar.


"Saya Kakaknya, saya mau mengajaknya pulang, Pak. Tapi dia malah kabur," seru lelaki tadi membuat Binar jadi geram. Bagaimana bisa dia mengatakan jika dia adalah kakaknya Ailee.


Bughhh...


Satu pukulan keras mendarat di wajah lelaki itu.


"Argh sialan!" lelaki tadi tak terima, ia mencoba membalas pukulan Binar tapi tak kena karena Binar pandai menghindar.


"Sudahlah, Mas, mending jauh- jauh dari tempat ini! Atau saya laporkan ke polisi karena mencoba mengganggu siswi di sini?" ujar Binar.


"Ada apa ini?" tanya Pak Dibyo, Satpam sekolah itu yang baru saja dari kamar mandi.


Pak Dibyo yang melihat lelaki itu pun mendengus kesal. Ia tahu siapa dia. Dia adalah anak pang yang selalu saja mengganggu siswa siswi di sekolahan itu ketika pulang sekolah. Dan saat Pak Dibyo mencoba menangkapnya, ia selalu saja kabur.


"Oh jadi kamu! Kali ini kamu tak akan bisa lepas!" seru Pak Dibyo, ia mengeluarkan pentungnya dan mengarahkannya kepada lelaki tadi. Sontak saja, anak pang itu berlari sekencang mungkin menghindari Pak Dibyo.


"Ada- ada aja sih!" seru Binar menggelengkan kepalanya.


"Huuuu dasar cecunguk!" seru Ailee.



"Giliran udah kabur aja kamu berani? Kenapa nggak dari tadi?" Binar menahan Ailee yang hendak ikut berlari mengejar anak pang. Gadis itu jadi salah tingkah dibuatnya.


"Huaaaaaa....Aku takut pak...."


"Aku hampir ternoda..." lirihnya dibuat- buat. Ia langsung memeluk tubuh Binar, mencari kesempatan di dalam kesempitan. Haha, pandai sekali.


"Hey, ini masih di kawasan sekolah! Jangan memeluk!" ucap Binar berusaha melepaskan pelukan gadis itu.


"Jadi, kalau di rumah boleh peluk Pak Binar? Kalau gitu ayo pulang, Pak!"