Perfect Duda

Perfect Duda
Acara Perpisahan



Malam tak lagi panjang karena fajar begitu cepat datangnya. Matahari terlalu bersemangat pagi itu hingga dirinya muncul lebih cepat. Namun, semangatnya tak lagi sama seperti Ailee maupun Binar yang tengah dihadapkan dengan keadaan yang tak baik.


Tiga hari sudah Binar tak melihat Ailee, tak ada kabar juga dari teman-temannya. Ia sangat mengkhawatirkannya. Dirinya pun tak berani bertanya kepada Aiden yang sudah pasti tahu di mana keberadaan Ailee selama tiga hari tidak masuk ke sekolah. Apakah gadis itu baik-baik saja setelah luka yang ia berikan? Pertanyaan itu terus saja berputar di kepalanya.


Dan hari keempat ini dia berharap supaya Ailee kembali masuk sekolah. Pagi itu dirinya sengaja untuk tetap di parkiran dan menunggu kedatangan Aiden, berharap kali ini Ailee bersamanya. Dan benar saja, hari itu Ailee sudah masuk. Ada hal yang begitu menyesakkan dadanya ketika melihat wajah Ailee yang pucat dan lesu.


Saat memasuki kelas, Ailee tak menatap dirinya yang sedang memberi penjelasan materi. Gadis itu hanya menunduk dan terkadang menatap ke sembarang arah. Ketika tak sengaja bertatapan pun, Ailee buru-buru memalingkan wajahnya. Sangat enggan menatap Binar.


"Ailee, apa kamu baik-baik saja?" tanya Binar ketika kelas sudah kosong. Ia terheran karena Ailee memilih tinggal di kelas, dan terlebih lagi wajahnya masih pucat lesu seperti awal pelajaran tadi.


Gadis itu tak menjawab dan malah memasang kedua earphone di telinganya. Tangannya pun asyik membuka beranda media sosial, seolah tak ada orang lain di ruangan itu. Binar teriris melihatnya, begitu sakit ketika Ailee mengacuhkannya.


Binar memberanikan diri mengecek suhu tubuh Ailee, dan gadis itu segera menepis tangannya dengan kasar.


"Tadi Bu Melati buat puding, semoga kamu suka," ucap Binar mengambil kotak makan berwarna biru berisikan puding mangga dari tasnya. Ia lalu memberikannya di hadapan Ailee sebelum pergi meninggalkan kelas. Sesekali menoleh dan memastikan Ailee juga menoleh ke arahnya, tapi gadis itu tetap diam tak bergeming.


Ailee kembali menangis, ia juga tak tega mengacuhkan Binar. Bagaimana pun juga Binar memang benar, Ailee yang salah karena terlalu dalam menaruh rasa dan harap.


...*****...


Waktu berjalan tanpa jeda, ujian nasional telah terlewati. Usai sudah perjuangan kelas dua belas di SMA favorite itu, sekarang tinggal bersiap menuju kampus impian mereka. Pengumuman kelulusan akan dilangsungkan beberapa saat lagi. Dan besok akan ada acara pelepasan siswa siswi kelas dua belas.


"Bapak sedih sekali karena sebentar lagi tak akan bertemu dengan kalian. Semuanya akan disibukkan dengan kuliah dan menata masa depan..." ucap kepala sekolah di sela pidatonya.


"Saya dan semua guru di sini hanya bisa mendoakan supaya anak didik kami berjaya di masa yang akan datang. Tetap berjuang karena perjuangan kalian tak hanya sampai di titik ini."


Suasana penuh haru, sampai ada yang menitikkan air mata tatkala mendengar pidato kepala sekolah yang sangat mengena. Namun, haru berubah menjadi girang. Semua murid berteriak dan melompat ketika kepala sekolah memberitahu jika mereka semua lulus.


"Akhirnya lulus juga!" sorak Bryan.


"Yeeeyyyyyy!" Kimmy pun bersorak heboh sekali, Sora pun larut dengannya.


Sedangkan Aiden dan Ailee tak bergeming, mereka tersenyum getir melihat sahabat dan teman yang lain girang. Sebentar lagi mereka akan pergi ke Jepang dan mungkin menetap di sana, keputusan Aiden dan Ailee sudah bulat. Selain menuruti keinginan papanya, mereka pun juga ingin melupakan rasa sakit hati yang sampai sekarang masih menetap.


"Tapi aku sedih, itu berarti kita nggak akan bersama lagi," lirih Kimmy berhenti melompat. Ia jadi sendu menatap keempat sahabatnya.


"Kalau libur semester kita kan bisa kumpul," ucap Sora mengusap bahu Kimmy.


"Aku nggak akan ngelupain kalian, sampai kapan pun kalian tetap sahabatku meskipun jarak memisahkan kita," ucap Bryan.


Mereka lalu melingkar dan memeluk satu sama lain. Semuanya terisak pilu, berharap tak dipisahkan jarak. Namun, mereka yakin jika persahabatan tak akan putus layaknya sebuah percintaan.


Di tempat yang sama, mata lelaki itu terus tertuju pada gadis yang sedang dipeluk sahabatnya. Ia sangat merindukan Ailee. Suaranya, tingkahnya, dan semua hal tentang gadis yang ia cintai namun tak berani mengungkap. Lama tak berbincang, menatap, dan bersenda gurau bersama. Sungguh, Binar merindukannya.


Apakah gadis itu benar-benar memusnahkan rasa cinta dan sayang kepadanya? Tak adakah secercah rasa yang masih tersimpan untuknya ataupun untuk Clarissa?


Ternyata keputusannya untuk menyuruh Ailee menjauhi dirinya sangat salah. Kerinduannya tak terbendung lagi, ingin sekali rasanya melihat gadis itu seperti sedia kala. Yang selalu mengusik dan mengikutinya meskipun terkadang membuatnya jengkel, namun sebenarnya dia sangat menyukainya.


Tiba di mana acara pelepasan dilangsungkan. Aula pertemuan sekolah yang sangat luas itu telah didekorasi sedemikian rupa. Mewah dan elegan, menampakkan jati diri SMA favorite tersebut. Perpisahan bertema putih. Ailee nampak cantik dengan berbalut baju berwarna putih serta celana berwarna senada pula. Rambutnya digerai diberi riasan flower crown cantik, wajahnya dipoles tipis dengan berbagai make up. Natural sekali dan masih menampakkan wajahnya yang lucu.


Aksa dan Aza pun telah berdandan rapi, mereka duduk di barisan khusus orang tua bersebelahan dengan orang tua Sora, Bryan, dan juga Kimmy. Sangat bangga apalagi saat kepala sekolah mengumumkan siswa siswi berprestasi yang tak lain adalah Aiden dan Ailee. Nilai ujian nasional mereka sangat mengagumkan, berbagai juara pun diraih.


"Dan ini dia anak kembar yang selalu mengharumkan nama sekolah kita dengan segudang prestasi yang mereka raih..." seru pembawa acara memperkenalkan Aiden dan Ailee yang berdiri di atas panggung dengan berbagai medali yang telah melingkar di leher mereka. Buket bunga pemberian guru-guru pun begitu banyak hingga tak sanggup digenggam.


Tepuk tangan meriah menggema di gedung pertemuan itu. Orang tua mereka berdiri dengan tepuk tangan yang paling keras terlampau bangga dengan kedua anak yang berdiri di atas panggung itu. Peluk hangat diberikan ketika mereka sudah turun. Kecupan pun tak henti-hentinya mendarat.


"Aduh, Bu Aza, Pak Aksa, anaknya dikasih makan apaan sih? Kok pinternya kebangetan..."


"Wahhh, Aiden dan Ailee hebat sekali ya. Saya turut bangga."


Berbagai pujian dan ucapan selamat terus terdengar. Dan acara pun selesai, saatnya bersuka ria. Banyak siswa siswi yang telah berdandan rapi masih berada di sekolah dan enggan pulang. Mereka masih asyik menikmati hari itu dan berharap pula tak cepat berlalu.



"Kalian janji ya sesibuk apapun kita nanti tetap memberi kabar satu sama lain?" seru Kimmy, ia begitu takut jika dihadangkan dengan kesibukan sehingga melupakan satu sama lainnya.


"Janji!" jawab Sora, Aiden, Ailee, dan Bryan serempak. Mereka kembali berpelukan usai mengabadikan momen dengan banyak foto dan video yang diambil. Momen perpisahan sekolah memang mengharukan, tangis terkadang menyisipinya meskipun kegembiraan jauh lebih mendominasi.