Perfect Duda

Perfect Duda
Satu Kecupan Untukmu



Ketika malam telah menyapa, dua pengantin baru itu telah sampai di rumah keluarga Sanjaya. Mereka berencana untuk bermalam di sana seraya mengemas barang-barang Ailee untuk dipindahkan ke rumah Binar. Ailee dan Binar sama-sama pucat, mungkin besok mereka akan dilanda batuk pilek karena telah hujan-hujanan.


Pasangan suami istri itu langsung merebahkan tubuh mereka di ranjang yang sangat nyaman. Akhirnya bisa menghela napas lega karena pernikahan telah selesai. Tak ada lagi jantung yang berdebar karena takut.


"Pak Bin, apa aku bisa menjadi istri dan ibu pengganti yang baik untuk Clarissa nantinya? Jujur, aku takut jika tak sanggup melakukannya," lirih Ailee seraya menoleh ke arah suaminya yang berbaring juga di sampingnya.


Binar mengusap pipi Ailee dengan lembut dan mengecup keningnya singkat. "Tak perlu berusaha menjadi yang terbaik, apapun yang ada pada dirimu akan aku terima. Seperti kamu yang selalu menerimaku apa adanya."


"Pak Bin, jangan berkata seperti itu terus. Jantungku nanti kalau copot gimana." Ailee memegang dadanya yang berdetak cepat, ia selalu saja terbuai dan berdebar ketika berada dekat dengan Binar. Masih sama seperti dahulu, dan sepertinya akan selalu seperti ini sampai nanti.


"Lili, apa kamu menyayangi Clarissa karena dia anakku? Dan bagaimana jika kenyataannya Clarissa itu bukan anak kandungku? Apa kamu tetap bisa menerimanya?" tanya Binar tiba-tiba sendu ketika mengingat Clarissa.


"Apa selama ini rasa sayangku pada Clarissa itu dikarenakan suatu hal? Enggak, kan? Aku menyayanginya dengan tulus, dan telah menganggapnya anak kandungku sendiri. Memangnya kenapa? Kok Pak Binar ngomong gitu sih?" Ailee kembali bertanya, kini posisi mereka berhadap-hadapan dan dekat sekali.


"Sebenarnya, Clarissa itu bukan anak kandungku...Dia adalah anak Maya dan selingkuhannya dulu," jawab Binar dengan mata berkaca-kaca. Ia selalu saja sedih ketika mengingat asal usul Clarissa, anak perempuan yang begitu ia sayang meskipun bukan darah dagingnya sendiri.


"Apa? Kenapa ada ibu seperti Maya? Kenapa dia tega sekali? Apa tak sedikit pun ia merindukan anak yang telah ia lahirkan dengan susah payah?" Ailee benar- benar tak habis pikir mengetahui kenyataannya itu. Hatinya teriris, bagaimana bisa ada ibu seperti Maya yang begitu tega meninggalkan anak kandungnya dengan orang lain, tanpa memikirkannya sedikitpun.


"Memang seperti itu kenyataannya, aku sendiri juga kasihan jika mengingatnya. Tapi apapun yang terjadi, aku akan menyayangi dan merawat Clarissa semampuku."


"Suamiku memang baik, satu kecupan untukmu..." seru Ailee seraya mengecup pipi Binar dengan lembut.


"Satu kecupan juga untukmu..." Binar pun membalasnya, tapi tak hanya satu melainkan bertubi-tubi hingga Ailee kewalahan menghadapinya. Keduanya lalu kembali bercerita tentang suatu hal yang memang harus diketahui satu sama lain.


"Oh ya, kenapa kamu suka sama aku? Aku kan duda, udah tua juga? Aku kira dulu cintamu itu hanya cinta monyet," ledek Binar membuat Ailee mendengus kesal.


"Entahlah, aku sendiri juga nggak tahu. Pokoknya sejak pertama kali bertemu Pak Binar aku udah merasakan sesuatu yang lain. Dan kata mama itu yang namanya jatuh cinta."


"Sejak pertemuan kita di kedai kopiku dulu dan kamu mencari Clarissa?"


Ailee mengangguk dan tersenyum malu, ia langsung menarik bantal menutupi wajahnya yang mungkin telah merah seperti udang rebus.


"Hey, kenapa ditutupin? Jadi, apa yang membuatmu suka padaku?" tanya Binar sembari menarik bantal yang menutupi wajah istrinya itu.


"Serius nih mau tau?" tantang Ailee. Setelah suaminya itu mengangguk antusias, ia pun memberitahu hal apa saja yang disuka dari Binar.


"Pak Binar itu ganteng, penyayang, dewasa sekali, baik, pinter, dan galak..." ucap Ailee tergelak di akhir kalimatnya. Ia jadi teringat saat sekolah dulu sering dimarahi Binar karena selalu mengusiknya.


"Benarkah?"


"Iya, tapi ngeselin juga. Oh ya, kalau Pak Binar kenapa bisa jatuh cinta sama aku? Bukankah aku itu murid yang bandel dan sering ganggu Pak Binar ya?"


"Ehm kenapa ya? Heran juga bisa jatuh cinta sama kamu yang nakal banget." Ailee langsung mencubit suaminya karena tak terima jika dibilang nakal banget, padahal hanya sedikit saja nakalnya.


"Hah! Sejak pertama kali kita bertemu berarti?"


Binar mengangguk. Ia memang sudah suka Ailee sejak dulu. Tapi perasaan itu selalu ditepis karena ia sadar jika tak pantas untuk Ailee yang statusnya adalah keturunan keluarga Sanjaya. Dan Ailee masih kecil, sedangkan dirinya sudah berstatus duda sangat tak pantas jika bersanding dengannya.



Malam mulai larut, mereka pun mulai mengantuk. Lelah dengan acara pernikahan dan bercerita cukup lama, mereka pun akhirnya tertidur dengan memeluk satu saka lain. Dan yang paling parah adalah sampai melupakan malam pertama.


Sementara itu, di luar kamar mereka telah berdiri beramai-ramai para keluarga. Aiden, Sora, Aksa, Aza, Oma Aira, Oma Anandhi, dan Opa Keno bersiap mengintip pengantin baru yang akan melakukan malam pertama. Cukup lama mereka menunggu dan berusaha membuka pintu tapi tak kunjung terjadi sesuatu yang diharapkan.


"Apa yang mereka lakukan di dalam? Kenapa nggak ada suara sama sekali?" seru Aksa, lelaki itu menempelkan telinganya di pintu kamar anaknya berusaha mendengar sesuatu.


"Mungkin sebentar lagi mereka akan beraksi," sahut Aza meyakinkan suaminya.


"Lagi pemanasan kali ya, aduh nggak sabar banget ini," timpal Oma Aira menggelakkan tawa. Mereka lalu meredamkan suara supaya tak terdengar Binar dan Ailee.


"Jangan keras-keras, Mah, Pah. Nanti ketahuan," ucap Aiden memperingatkan.


Mereka kembali mendengarkan dengan seksama dan pintu tetap terbuka sedikit supaya suara dari dalam tetap terdengar. Namun, hampir jam dua belas malam tak ada suara apapun dari sana. Yang mereka bayangkan adalah suara Ailee menjerit kesakitan dan suara desahan yang menjadi lolongan kenikmatan. Tapi tetap tak ada suara yang dihasilkan.


"Coba kamu masuk, siapa tahu mereka kenapa-kenapa," ucap Aza menyuruh Aiden untuk masuk.


Perlahan, Aiden pun masuk dan menghampiri ranjang Ailee dan Binar. Ia jadi emosi ketika melihat mereka tertidur pulas dan melupakan malam pertama. Ah, tak ada tontonan gratis malam ini. Menyebalkan.


"Mereka malah tidur," ucap Aiden memberitahu keluarga yang lain.


"Yah, kok tidur sih."


Penonton kecewa. Mereka kembali ke kamar masing-masing dengan sedikit emosi. Sudah lama mereka menunggu hal itu tapi sang pengantin baru malah enak-enakan tidur. Dan jika Ailee serta Binar mengetahui kalau ada yang mengintip mereka, pasti jauh lebih emosi dari keluarga.


.


.


.


Happy Monday🌻


Jangan lupa vote buat Binar & Ailee kalau kalian mau tahu malam pertama mereka 🤣


Makasih, semoga hari kalian menyenangkan 🥰