Perfect Duda

Perfect Duda
Sakura in Tokyo



Tirai apartemen dibuka lebar menampakkan pemandangan Kota Tokyo dari atas. Indah sekali dan udaranya pun sangatlah sejuk seperti tak terpolusi sama sekali karena memang Jepang minim sekali kendaraan. Terlihat juga dari atas, para penduduknya telah bersiap pergi ke tempat kerja ataupun sekolah dengan berjalan kaki.


Seorang gadis baru saja selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke kampusnya. Karena dia baru saja tidur empat jam yang lalu, akhirnya dia pun bangun kesiangan tak seperti biasanya. Ia telah memasak nasi, tamagoyaki, sup miso, dan menghangatkan beberapa makanan yang dibeli semalam dalam microwave.


Tiba-tiba ada tangan melingkar di pinggangnya, sontak saja ia mencubit tangan tersebut berharap segera dilepas.


"Jangan menggangguku! Lagi pula kita belum halal, Pak," serunya memperingatkan. Gadis itu merasa terganggu saat menyiapkan makanan ke dalam kotak makan. Ia memang sengaja membawanya, karena jika harus memakan di rumah pasti akan terlambat.


"Berarti kamu mau dong dihalalin? Mau kapan nih?" goda Binar.


Ailee mendengus kesal karena salah bicara, ia merutuki dirinya sendiri karena dirasa telah salah bicara hingga salah dianggap pula oleh Binar.


"Aku akan segera ke kampus, nanti kalau Pak Binar mau keluar jangan lupa kunci apartemen dan matikan semua perangkat yang terhubung listrik," seru Ailee. Ia lalu memasukkan kotak makan dan botol minum ke stroller bag dan bersiap meninggalkan apartemen setelah menggendong tas yang berisikan keperluannya nanti.


Binar hanya mengiyakan meskipun dirinya juga tak akan pergi ke manapun dikarenakan tak tahu daerah di sana dan tak bisa berbahasa Jepang.


"Eh tunggu..."


"Apalagi?" tanya Ailee seraya mengenakan sepatunya yang sebelah kiri.


"Salim dulu," ujar Binar mengulurkan tangannya. Tanpa disadari, Ailee pun menciumnya. Lalu, Binar mengecup keningnya dan berkata, "hati- hati di jalan."


Saat sudah tiga kali melangkah, Ailee baru sadar apa yang diperbuatnya tadi. Ia pun menoleh ke arah Binar yang masih berada di ambang pintu dan senyum-senyum sendiri.


"Eh kenapa kita sudah seperti suami istri? Arghh, menyebalkan sekali!" gertaknya ketika menyadari.


"Nggak papa dong, kan latihan," jawab Binar terkekeh. Ia menyorot gadis yang kesal itu sampai memasuki lift apartemen. Cukup senang pagi itu karena sudah berjumpa dengan gadis impiannya dan terlebih lagi ada kesempatan untuk memeluk dan menciumnya meski sebentar saja.


Binar pun menuju ke meja makan guna menyantap hidangan yang telah disajikan Ailee. Menggugah selera meskipun hanya telur dan sup. Ketika membuka piring yang telungkup, Binar dibuat terkikik melihat memo biru muda yang tertempel di sana.


...Aku yang masak, Pak Binar yang cuci piring. Makasih banyak ehe :v...


Lelaki itu menyantap sarapan yang telah berada di depannya. Digigit perlahan dan dicoba meresapi rasanya. Enak, tapi lidah Indonesia milik Binar cukup sulit menerima telur dadar dan sup khas Jepang itu. Tak apa, yang menyiapkan adalah Ailee, apapun akan dimakan.


Usai mencuci piring sesuai perintah Nyonya di hatinya, ia pun bergegas mandi. Dan setelah itu bingung hendak berbuat apa. Ia pun menyeduh kopi dan duduk di balkon apartemen dengan mata yang sesekali tertuju pada ponselnya menantikan pesan dari Ailee kapan gadis itu akan pulang.


...*****...


Udara begitu hangat, Jepang tengah mengalami musim semi. Beruntung sekali Binar datang saat musim semi karena cocok jika hendak berkeliling Jepang. Pada musim-musim seperti ini memang tempat studi di Jepang akan mengadakan upacara wisuda dan upacara masuk. Pantas saja Ailee kembali ke Jepang.


"Pak Bin! Pak Bin!" Suara teriakan gadis itu membuat Binar terlonjak dan menghampirinya. Ternyata gadis yang ia nantikan itu sudah pulang dan dia sedang naik ke sofa berlonjak kesana-kemari menari-nari seperti orang yang paling bahagia.


"I got it! Yeyy!" seru Ailee berteriak, ia masih melompat-lompat membuat Binar terheran.


"Pak Bin! Lusa aku akan wisuda, dan dosenku tadi bilang kalau aku adalah lulusan terbaik di Magister Bussiness Administration!" seru Ailee memeluk Binar tanpa sadar. Kebahagiaan gadis itu lengkap sudah, usahanya selama ini untuk membanggakan keluarganya pun membuahkan hasil. Papa dan mamanya pasti akan bangga sekali dengannya.


Beberapa saat kemudian Ailee tersadar apa yang tengah dilakukannya. Ia lalu melepas pelukannya dan meminta maaf karena telah lancang. Dan yang terjadi malah lelaki itu semakin gencar menggodanya.


...*****...


Sepanjang jalan dipenuhi dengan bunga sakura yang berguguran, suasana jauh lebih romantis ketika menyusuri Tokyo dengan orang terkasih di musim semi. Pohon bunga sakura terpampang jelas dan berdiri di tepi jalan dengan kokohnya. Semerbak aromanya membius para penikmatnya. Indah dan mempesona sekali hamparan bunga sakura tersebut.



Ailee mengajak Binar kembali melangkah, berkeliling seraya mengamati bunga sakura di samping mereka. Pertama kalinya Binar menginjakkan kaki di Ueno Park. Tempat di mana terdapat 10.000 pohon dengan 1.200 di antaranya merupakan pohon bunga sakura yang bermekaran ketika musim semi tiba.


Bunga sakura di Ueno Park mekar paling banyak dibandingkan dengan taman di Tokyo lainnya. Ada kolam juga di sana, biasanya para penduduk akan beraktivitas ketika musim panas. Pohon sakura berdiri kokoh di taman pinggiran kolam sehingga pohon sakura membentuk lorong. Tempat ini selalu ramai tak hanya ketika bunga sakura bermekaran saja.


"Cantik, kan?" tanya Ailee kepada lelaki yang sepertinya begitu takjub dengan pemandangan yang ada– sama seperti dirinya dulu yang takjub saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang.


"Masih kalah cantik sama seseorang di sampingku," sahut Binar mengerlingkan matanya.


"Sampingmu kan cowok, masa cantik sih, Pak?" seru Ailee menunjuk samping kanan Binar yang terdapat lelaki asal Jepang yang berjalan beriringan bersama mereka.


"Argh, menyebalkan!" dengus Binar seraya mengacak-acak rambut gadis yang sedang menertawakannya.


Karena mereka datang ketika senja, maka bisa menyaksikan Yozakura (Sakura di malam hari) yang tak kalah cantiknya ketika siang. Meskipun gelap, namun warna khas bunga sakura yang berwarna merah muda itu masih nampak jelas dengan bantuan sorot lampion yang menggantung antar rantingnya.


Tak hanya hamparan bunga sakura saja yang dapat dilihat, sebenarnya masih ada tempat-tempat lain yang ada di Ueno yang harus dikunjungi. Namun, karena sudah hampir gelap Ailee pun hanya membawa Binar ke tempat-tempat tertentu saja. Di Ueno Park ada kebun binatang, berbagai museum ternama di Jepang, kolam Shinobazu, dan berbagai kuil yang indah dan unik.


"Pak Bin, mau makan di luar apa di apartemen aja?" tanya Ailee.


"Terserah kamu."


Binar memasrahkan semuanya pada Ailee yang sudah seperti pemandu wisata baginya. Mereka lalu kembali ke Tokyo dengan kereta. Membutuhkan waktu kurang lebih 35 menit dari Ueno ke apartemennya yang berada di Tokyo. Selama perjalanan mereka terus saja bergandengan tangan, dengan dalih Binar takut kehilangan jejak Ailee. Ah, pandai sekali lelaki itu mencari alasan.


.


.


.


Ailee ke Jepang tuh sebenarnya bukan cuma mau ngurus wisuda magisternya. Tapi karena.........


Ya karena Ailee pengen liburan di sana🤣🤣🤣hehe canda


Btw, ini sekalian ngehalu liburan di Jepang ya guys. Nambah pengetahuan juga bagi kalian yang belum tahu Jepang🄰Intinya, Jepang tuh keren banget😭ngga cuma tempat wisatanya, tapi orangnya juga. Kedisiplinan, keuletan, kerja kerasnya, dan lain sebagainya itu wajib dicontoh.