
Binar lalu mencoba menggendong Clarissa supaya Ailee lebih nyenyak tidurnya, namun gadis itu malah terbangun.
"Biarkan saja, Pak. Nanti Clarissa malah nangis loh," ucap Ailee dengan suara parau. Ia pun memperbaiki posisi Clarissa yang sempat terganggu, pelukannya semakin dipererat supaya anak itu semakin nyaman.
Ponsel Ailee bergetar terus menerus. Sepuluh panggilan tak terjawab dari Aiden dan beberapa pesan yang memperingatkan supaya dirinya pulang sebelum papanya pulang. Tapi Ailee acuh, masih jam lima petang, masih ada waktu lagi karena papanya akan pulang jam enam nanti.
"Makanlah," seru Binar dengan dingin menunjuk makanan yang disajikan Bu Melati tadi. Dan Ailee menggeleng lemah.
"Adanya cuma ini, maaf pasti kamu nggak suka makanan seperti ini," ujar Binar. Nasi dengan tempe orek, perkedel kentang, dan ikan tongkol, makanan sederhana yang pasti tak disuka Ailee.
"Bukan itu, tapi aku nggak bisa makan sendiri. Lihat..." ucap Ailee menunjuk Clarissa.
Tanpa basa basi pun, Binar mengambil piring berisikan makanan itu. Diambilnya sesendok nasi dan lauk pauknya, kemudian diarahkan ke mulut Ailee. Gadis itu melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan Binar terhadap dirinya.
Layaknya sebuah mimpi yang tak akan menjadi nyata sebelumnya. Akan tetapi kali ini adalah hal yang nyata. Seorang Binar mau menyuapi dirinya tanpa desakan atau apapun itu. Jantung Ailee berdegup cepat, masih tak percaya. Perlahan namun pasti suapan Binar diterimanya, wajah terkejut masih tergambar jelas.
"Makan yang banyak!"
Ailee hanya mengangguk dan terus menerima suapan demi suapan dari tangan Binar, lelaki yang sangat ia cinta. Hingga tak terasa piring tersapu bersih, isinya masuk ke dalam perut Ailee. Makanan sederhana namun begitu nikmat apalagi disuapi oleh Binar. Tak hanya itu, Binar juga menyodorkan minuman kepadanya. Dilayani dengan baik, menakjubkan.
Hari mulai menggelap, terlena dengan perlakuan Binar, Ailee sampai lupa jika dirinya harus pulang sebelum papanya pulang.
Brakkkk!
Pintu dibanting kasar oleh seseorang, membuat Binar dan Ailee terlonjak. Dan Clarissa hingga terbangun, menangis sejadi-jadinya. Bu Melati yang tadinya berada di dapur pun langsung ke depan mencari sumber suara.
"Pulang!"
"Iy- iya...Pah..." Ailee gemetar hebat. Papanya datang dengan amarah yang menggebu. Wajahnya memerah, tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia segera mengambil tasnya sebelum pergi dari sana. Pikirannya sudah campur aduk, papanya marah adalah masalah besar baginya.
"Silakan duduk dulu, Pak Aksa," tawar Binar, namun Aksa tak menggubris. Ia begitu marah tatkala pulang tak mendapati anak gadisnya. Dan yang semakin membuatnya marah adalah ketika mengetahui keberadaan Ailee yang ternyata berada di rumah Binar hingga larut.
Clarissa menangis kencang meskipun berada di pelukan papanya, dia pasti sangat ketakutan karena bantingan pintu yang cukup keras tadi.
"Ailee, nenangin Clarissa dulu ya, Pah? Kasihan dia..." lirih Ailee, ia mengambil alih Clarissa dari gendongan Binar.
"Nggak usah pulang sekalian!" suara Aksa semakin meninggi. Tak peduli dengan perkataan tetangga yang mendengar. Ia sangat kecewa dengan putrinya itu.
"Pulanglah, Clarissa akan baik-baik saja," bujuk Binar.
"Sudah berani melawan papa ya kamu? Terus saja dekati gurumu itu! Lawan papa terus!" teriak Aksa. Ia lalu pergi setelah membanting pintu lagi.
"Pah, tunggu Ailee..."
Gadis itu berlari kencang mengejar papanya yang sudah masuk ke dalam mobil. Ia berusaha membuka pintu mobil, tapi sayang pintu telah terkunci. Dan mobil akhirnya melaju kencang, dirinya berlari mengejar hingga terjatuh.
"Maafin Ailee, Pah..." serunya terduduk di jalanan menatap kepergian mobil papanya. Ia tersedu-sedu, kembali merasa bersalah karena telah membuat papanya marah dan kecewa lagi.
Bu Melati langsung menghampirinya. Anak-anak panti berhambur keluar menyaksikan kejadian tadi.
"Papa marah..." lirihnya saat berada di dekapan Bu Melati. Air mata penyesalan karena tak pulang lebih awal masih mengucur dengan derasnya.
"Biar Binar mengantarkanmu pulang ya, ayo kembali dulu," ajak Bu Melati menuntun Ailee untuk duduk di teras rumah.
"Ailee nggak boleh pulang sama papa hikss..."
Ailee hanya menurut, ia pun diantar Binar. Selama perjalanan perempuan itu masih menangis, Binar jadi tak tega melihatnya. Tangan yang berpegangan di pinggang Binar pun terasa gemetar, Ailee pasti sangat takut.
"Maaf, tadi Tuan Aksa berpesan sama saya kalau Nak Ailee tidakk boleh pulang..." seru satpam rumah Ailee tak enak hati. Ia menghadang motor Binar supaya tak masuk, pintu gerbang pun segera ia tutup.
"Pak, biarkan saya berbicara dengan Tuan Aksa sebentar. Saya mohon..." Binar memohon dan berharap supaya satpam itu mengizinkannya. Akan tetapi satpam lebih patuh dengan tuannya, tak mendengarkan Binar yang terus memohon.
Binar pun ikut sedih melihat Ailee yang sendu, tak lagi menangis namun wajahnya sangat menyedihkan. Ia pun melajukan kembali motornya, bingung juga hendak membawa Ailee ke mana.
Kalau ke rumahnya pasti para tetangga akan berpikiran negatif tentangnya dan juga Ailee. Ia pun terhenti di tepi jalan yang cukup sepi. Ailee turun dan duduk di tepi trotoar. Binar mengikuti dan duduk si sampingnya.
"Maaf ya, ini juga salahku. Andai saja kamu tak pergi menemui Clarissa pasti tak akan jadi seperti ini," seru Binar.
"Ini semua salahku, Pak. Harusnya tadi aku pulang dulu dan izin sama mama atau papa," ucap Ailee lesu.
"Sekarang kamu mau ke mana? Ke rumahku lagi?" tanya Binar. Ia kasihan sekali, dan akhirnya menawarkan untuk mengajak Ailee ke rumahnya. Biarkan saja tetangga menggunjing, gadis itu jauh lebih penting.
"Rumah Oma."
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah besar, namun tak sebesar rumah Keluarga Sanjaya. Ailee langsung turun dan melepas helmnya, Binar pun sama.
"Jangan sedih lagi, besok kita bicara baik-baik sama papamu," ucap Binar membelai kepala Ailee, ia lalu menggenggam tangannya dan mengantarkannya masuk.
Wanita tua membukakan pintu, sangat terkejut melihat cucunya yang berantakan dan berwajah lesu. Ia langsung mendekapnya erat, dan Ailee kembali menangis dibuatnya.
Sedikit bercerita akhirnya Oma Anandhi memahami kondisi Ailee, ia segera mengajak cucunya ke dalam. Lutut Ailee ternyata terluka saat berlari mengejar mobil papanya tadi, Oma Anandhi mengambil kotak p3k dan mengobati luka cucunya.
...*****...
Perempuan itu menuju ke balkon kamar Omanya. Angin malam menyapu kulitnya- dingin sekali. Seragam telah terganti dengan piyama yang disiapkan Omanya. Ponselnya yang tengah diisi daya bergetar, ia pun menghampirinya. Sang kakak menelpon, digeser tanda hijau dan dinyalakan loud speaker, ponsel kembali diletakkan.
"Ailee, katakan sesuatu. Apa kamu baik-baik saja? Kamu di mana?" tanya Aiden penuh dengan kekhawatiran.
"Rumah Oma."
"Papa marah besar, tadi aku juga kepergok manggung di kafe," tutur Aiden lesu.
Air mata Ailee kembali menetes, kembali terngiang perkataan papanya tadi.
"Besok pagi aku akan menemuimu, kita bicara baik-baik sama papa."
Tuuuutttt...
Panggilan terputus. Ailee tak ingin berbicara dengan siapapun, ia hanya ingin sendiri.
Dan benar, pagi-pagi sekali Aiden sudah datang menemui adiknya. Dipeluknya erat tubuh yang tak bergeming karena masih merasakan sedih yang teramat. Keduanya terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakan. Suasana menjadi haru, Oma dan para pembantu rumah itu pun larut dalam kesedihan dua anak yang tengah bertengkar dengan papanya.
Isakan tangis mulai terdengar dari Ailee.
"Papa marah...papa ngusir aku..." lirihnya di sela isakan. Pelukan kakaknya semakin erat, punggungnya diusap supaya lebih tenang.