Perfect Duda

Perfect Duda
Perahu Kayu



Binar cukup terkejut dengan Ailee. Rasanya sangat hampa ketika anak itu tak lagi menggodanya. Tapi juga tak masalah, itu malah akan membuat Ailee lebih fokus untuk masa depannya.


"Kamu kenapa menghindar?" tanya Binar. Ia menghalangi langkah Ailee saat kelas sepi hanya meninggalkan mereka berdua.


"Bukankah itu yang Pak Binar inginkan?" Ailee enggan menatap Binar, ia terus mengalihkan pandangannya.


"Ohh...jadi kamu lagi marah nih?" seru Binar tersenyum tipis. "Sudah seperti orang pacaran aja ya kita," lanjutnya bergumam.


"Ledek terus sampai Pak Binar puas!"


Dan benar saja, lelaki itu terpingkal-pingkal melihat Ailee yang semakin merajuk. Wajahnya jauh lebih menggemaskan ternyata saat gadis itu merajuk dan kesal.


"Baiklah-baiklah, maafin Pak Binar ya?"


"Maaf tidak diterima!" jawab Ailee seperti yang biasa dikatakan Binar ketika dirinya meminta maaf.


"Oh ya, kamu ingat nggak sama perahu yang ada di danau itu? Ada yang memperbaikinya loh, sekarang bisa berkeliling danau dengan perahu."


"Nanti sore kita ke sana!" seru Ailee girang, wajahnya tak lagi masam. Senyumnya kembali mengembang.


"Tapi aku bohong," lanjut Binar, ia puas sekali bisa membohongi gadis yang berdiri di depannya. Ailee semakin kesal dibuatnya, ia menghentakkan kaki dan berlalu meninggalkan lelaki yang sedang terpingkal-pingkal.


...*****...


Romantis sekali. Duduk berboncengan di atas motor yang sedang melaju pelan. Menikmati suasana sore hari yang cukup padat. Lelah seakan musnah dan terganti dengan semangat baru. Gadis itu memeluk erat lelaki yang tengah mengendarai sepeda motor. Dan sang lelaki pun tak keberatan saat dipeluk erat dari belakang. Tapi dia juga terkadang geli karena tangan gadis itu tak diam, melainkan menggelitik dan terkadang mencubit perutnya yang tak terlalu buncit.


Meski dulu sempat dimarahi papanya karena pulang sekolah tak langsung pulang ke rumah, Ailee tak kapok. Ia tetap kelayapan terlebih dahulu, dan kali ini ia akan memastikan jika sampai di rumah sebelum papanya sampai. Alarm pengingat telah diatur, disesuaikan sedemikian rupa supaya kejadian lalu tak terulang.


"Sebentar saja ya tapi? Nanti kamu dimarahin papamu lagi kalau terlalu lama," ucap Binar ketika mereka telah sampai di panti. Tak bisa dipungkiri, Binar pun lambat laun menerima kehadiran Ailee. Bahkan ia merasa hampa jika gadis itu tak menemui dirinya.


"Iya tenang saja, Pak," jawab Ailee, ia lalu pergi menemui Clarissa terlebih dahulu. Bercanda ria dengan anak yang baru saja genap satu tahun usianya. Sudah bisa berjalan dan berlari kecil, sepatah kata pun terkadang terdengar dari mulut mungilnya.


Ailee membuka tasnya mengeluarkan bandana yang kemarin ia beli khusus untuk Clarissa. Banyak bandana, berbagai model dan warna warni. Clarissa senang melihatnya, tak sabar untuk memakainya.


"Mama beliin banyak bandana buat Clarissa, jadi setiap hari bisa ganti deh. Sini Mama pakaikan," seru Ailee memakaikan bandana berwarna biru tua yang senada dengan baju Clarissa saat itu.


"Tuh kan cantik banget anak mama...Nanti kalau Clarissa makin pinter, mama sering-sering deh kasih hadiah yang banyak..."


"Acciiikkk..." seru Bu Melati mewakilkan Clarissa.


Clarissa memanggil Ailee dengan sebutan Mama sama seperti yang diajarkan gadis itu. Binar awalnya keberatan dan merasa tak enak hati, akan tetapi Clarissa tetap menyebut Ailee sebagai mamanya. Dan akhirnya Binar memperbolehkannya.


"Ammaa mam mammaaaa..." Anak berusia satu tahun itu menyodorkan buku yang terbuat dari kain flanel kepada Ailee bermaksud memamerkannya.


"Wahh banyak sekali bukunya, dibeliin papa ya?"


Anak itu mengangguk gemas, Ailee langsung menciumnya. Clarissa lalu membuka satu persatu buku yang memaparkan gambar berbagai macam binatang, dan menunjukkannya kepada Ailee.


Seperti yang dikatakan Binar tadi, Ailee mengajak ke danau untuk memastikan jika perahu telah diperbaiki dan bisa digunakan untuk berkeliling danau. Dan benar saja, ada orang yang sudah menggunakan perahunya. Jadi, tinggal menunggu giliran. Senang bukan main rasanya.


Binar terduduk sejenak memperhatikan Ailee yang girang. Ia merasa takut kehilangan, bagaimanapun juga dirinya harus membuat Ailee untuk menjauhinya. Ailee layak untuk mendapatkan lelaki yang sepantaran dengannya, bukan seperti dirinya yang berstatus duda beranak satu dan miskin pula.


Ada sesak dalam hatinya, tak bisa dipungkiri pula semenjak dekat dengan Ailee dia merasa ada yang lain. Sebuah perasaan lebih dari seorang guru terhadap murid pun muncul, ia hanya baru menyadarinya. Tapi kembali lagi, dirinya tak akan pernah pantas bersanding dengan Ailee.


"Pak, Ayo!" ajak Ailee melambaikan tangannya ketika perahu yang terbuat dari kayu itu sudah terdampar di tepi.


Binar tersadar dari diamnya. Ia melangkah menuju perahu kecil dan duduk di belakang Ailee bersiap untuk mendayungnya mengelilingi danau. Tangan gadis itu menyentuh air yang dingin, memainkannya sesekali. Duduk berdua di perahu kayu sangatlah romantis. Ah, sudah seperti dalam drama saja.


"Pak, boleh nggak Ailee minta tolong?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar, keceriaannya surut seketika.


"Minta tolong apa? Selagi aku bisa, aku akan menolongmu," jawab Binar.


"Tolong bicara sama papa kalau Aiden dan Ailee mau kuliah di sini saja. Aku nggak bisa jauh dari Pak Binar dan Clarissa," lirih Ailee malu-malu.


Tak tahu apa yang harus dikatakan, Binar pun menepikan perahu. Sudah cukup berkelilingnya, Ailee pun terlihat sudah puas. Mereka lalu duduk di atas rumput yang hijau. Tatapan masih tertuju pada danau yang sangat indah.


"Aku mau di sini saja sama Pak Binar. Aku mencintaimu, Pak. Aku nggak bisa jauh," ucap Ailee dengan penuh kesungguhan. Binar menunduk, terharu mendengarnya.


"Dengarkan aku..." Lelaki itu menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Kamu mencintaiku hanya sebagai gurumu saja, bukan lebih dari itu. Jadi, kamu harus pandai membedakannya."


Ailee menggeleng, "Aku mencintai Pak Binar lebih dari itu. Aku juga nggak tahu kenapa rasa ini ada dan semakin bertambah tiap harinya. Ini bukan sekedar cinta seorang murid, Pak. Aku pengen Pak Binar lebih dari guru, ayo kita hidup bersama. Aku tahu kalau Pak Binar juga mencintaiku."


"Kalau memang cintamu itu lebih dari cinta seorang murid kepada gurunya, maka berhentilah mencintaiku. Sungguh, aku tak akan bisa membalas cintamu."


"Jika Pak Binar tak mencintaiku saat ini, maka aku akan menunggu meskipun membutuhkan waktu yang lama."


"Berhentilah menemuiku, dan kumohon hilangkan cintamu. Maaf jika membuatmu sakit hati, aku benar-benar tak layak untukmu," ucap Binar. Ia lalu berdiri dan melangkah pergi. Dadanya begitu sesak apalagi saat melihat air mata Ailee yang menetes.


"Pak Binar sangat layak!"


"Pak, kumohon jangan seperti ini. Aku benar-benar mencintaimu, jangan pergi, Pak..."


Ailee terus mengejar lelaki yang acuh dengannya hingga sampai di rumah Binar.


"Paaaakkk...."



"Dengarkan aku!" teriak Binar setelah menghentikan langkahnya. Ailee bergidik ngeri dibuatnya.


"Aku tidak mencintaimu sama sekali. Berhentilah mengejarku dan mencari perhatian!"


Semacam sudah kehilangan akal, Ailee berjinjit dan menangkup kedua pipi Binar. Ia kemudian mengecup bibirnya membuat Binar melotot atas perlakuan yang tak sopan itu. Ia berusaha melepas, tapi Ailee tetap mempertahankan.



"Sekarang Pak Binar tahu 'kan betapa besarnya cintaku. Dan Pak Binar juga pasti tahu jika ini bukan cinta seorang murid terhadap gurunya..." lirih Ailee ketika melepas kecupannya.


"Lancang! Kamu pikir aku akan luluh? Tidak sama sekali! Yang ada malah aku jijik sama kamu!" gertak Binar. Ia mengusap bibirnya yang dicium Ailee dan keluar dari rumahnya.


"Pak Bin..."


Ailee mengejar Binar yang marah karena ciuman tiba-tiba. Ia tersadar dan merasa bersalah serta malu atas kelakuannya yang di luar dugaan. Dirinya berusaha menggenggam tangan Binar tapi lelaki itu langsung menepis dan mendorongnya hingga jatuh. Ailee pun menangis tak menyangka jika Binar akan sekasar itu padanya.



"Berhenti mengikutiku! Kumohon berhentilah mencintaiku juga, aku tak akan membalas cintamu! Kejar cita-citamu dan turuti semua keinginan orang tuamu!"


Kepergian Binar menyisakan luka begitu dalam. Gadis itu tersedu-sedu menatap lelaki yang terus melangkah tanpa berpaling menghadapnya. Rasanya sangat sakit ketika mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang dicinta.


Air mata kesedihan masih turun begitu derasnya. Perkataan Binar terus saja terngiang. Lelaki itu tak mencintainya. Dia harus bisa melupakan cinta yang telah bersemayam lama di hatinya, namun apakah hal itu mungkin terjadi jika cinta tersebut terlalu dalam?