
Matahari mulai merangkak naik memperlihatkan cahayanya yang indah kepada seluruh dunia. Bel masuk baru saja berdering, para murid pun segera duduk di kursi masing- masing menantikan guru pelajaran pertama mereka datang.
Di sana, tepat dua anak yang sudah duduk di kursi masing- masing itu masih asyik berbincang membahas obrolan semalam yang terputus.
"Apa yang mau kamu ceritakan semalam?" tanya Aiden dengan malas kepada adiknya. Teringat semalam saat pulang dari rumah Binar, Ailee hendak bercerita sesuatu.
Ailee pun tersenyum sumringah, gadis yang berkepang dua itu segera mendekat ke telinga kakaknya bersiap membisikkan sesuatu.
"Aku kemarin malam memeluk Pak Binar, terus aku suapin dia. Dan dia mau!" bisik Ailee. Sangat menggelitik di telinga Aiden.
"Apa ini mimpi kamu?" Aiden tak percaya. Mana mungkin seorang Binar yang terkenal galak dan dingin mau dipeluk atau disuapi Ailee.
"Ini nyata! Harusnya semalam kamu ikut masuk ke kamar Pak Binar biar bisa lihat aku memeluknya dan juga menyuapinya."
"Harusnya semalam aku memang ikut denganmu, untuk memastikan kalian baik- baik saja. Kalian nggak melakukan itu, kan?" tanya Aiden berbisik.
"Melakukan apa?"
"Sama yang seperti Papa dan Mama lakukan." Aiden masih berbisik, takut jika teman- teman yang lain mendengar dan berpikir macam- macam.
"Sialan! Aku masih waras, mana mungkin hal itu akan terjadi!" Ailee marah dan langsung mencubit perut kakaknya.
"Bagaimana pun juga Pak Binar itu lelaki dewasa yang nafsunya tinggi. Bisa saja dia khilaf dan melakukannya padamu!"
"Diam saja kamu! Pak Binar bukan seperti itu!"
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa dari tadi berbisik?" tanya Sora membuat Aiden dan Ailee berhenti berdebat.
"Bukan apa- apa, eh itu gurunya udah datang."
Di tengah pelajaran, Ailee tak sengaja menatap pintu kelasnya yang terbuka. Nampaklah Binar yang sedang berjalan melewati kelasnya. Hatinya pun tergerak untuk menghampiri lelaki itu. Tapi, bagaimana dengan pelajarannya? Ah, sebentar saja mungkin tak masalah.
"Bu Ron, izin ke kamar mandi sepuluh menit ya," seru Ailee kepada Bu Rona yang kala itu mengajar kelasnya.
"Bu Rona!" tegur guru muda nan cantik itu karena Ailee seringkali memanggil namanya tak lengkap dan jadi terkesan aneh.
"Ah, sama saja itu. Terima kasih, Bu Ron!" Ailee langsung berlari meninggalkan kelas padahal Bu Rona belum memberinya izin.
"Bu Ron...Bu Ron... Buronan polisi?" gumam Bu Rona yang ditertawakan seisi kelas.
Langkah kakinya begitu cepat, ia melewati lorong yang sangat sepi. Semuanya tengah mengikuti pelajaran. Ia pun sumringah tatkala mendapati Binar yang ternyata belum jauh darinya.
Lelaki itu berjalan pelan dan terlihat masih lemas. Ailee pun dengan mudah mengikutinya.
"Pak Bin!" teriakannya membuat langkah Binar terhenti dan menoleh ke belakang.
"Pak Bin sudah baikan?" tanya Ailee ketika sudah dekat dengan Binar.
"Sudah. Kenapa kamu keluar kelas?" Binar kembali bertanya. Wajah lelaki itu masih pucat dan terlihat lesu, Ailee jadi sedih melihatnya.
"Cuma pengen ketemu Pak Binar hehe..."
"Jangan main- main. Kembali ke kelasmu atau kamu minta dihukum?"
"Dihukum aja, Pak!" jawab Ailee antusias membuat Binar langsung menepuk keningnya. Ia lalu menarik tangan Ailee dan mengantarkan gadis itu kembali ke kelasnya.
"Aku akan kembali ke kelas tapi nanti. Tadi izinnya sepuluh menit dan ini baru lima menit," ujar Ailee, ia pun memberontak dan berusaha melepas cekalan Binar.
Binar berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Ia tahu betul jika Ailee izin karena hanya ingin bertemu dengannya. Meski hanya izin sepuluh menit tapi Ailee akan tertinggal beberapa materi yang sedang diajarkan di kelasnya, dan itu sangatlah disayangkan.
"Belajar yang baik dan benar. Jangan memikirkan hal lain, Okay?" Binar berkata dengan penuh keseriusan, tangannya mengusap kepala Ailee.
Ailee pun menahannya supaya tak berpindah, ia begitu senang akhir- akhir ini Binar lembut.
"Cepat masuk!"
Lelaki itu belum pergi karena ingin memastikan Ailee benar- benar masuk ke kelasnya. Ailee belum juga masuk dan masih bersandar di pintu kelasnya, ia masih tersenyum- senyum menatap Binar. Dan tiba- tiba pintu terbuka dari dalam, Ailee pun tersungkur ke lantai. Kemudian seisi kelas menertawakannya.
"Hey! Siapa yang menyuruhmu membuka pintunya? Nggak lihat apa lagi ada orang di luar?!" Ailee marah, pantatnya sakit sekali.
"Kamu menyalahkan saya? Berani- beraninya ya!" Bu Rona yang tadi membuka pintu lalu dimarahi Ailee pun jadi kesal. Ia menjewer telinga Ailee dan menyeretnya ke dalam.
"Aduh, maap, Bu Ron!"
Sudah jatuh dan pantatnya sakit, masih dijewer pula oleh Bu Rona. Sakit yang bertubi-tubi.
...*****...
Jam olahraga pun dimulai, anak- anak kelas IPA satu telah berganti dengan kaos olahraga dan bersiap di lapangan sekolah. Ada yang sudah memainkan bola basket, melakukan pemanasan, dan lain sebagainya.
"Ailee! Tolong ambilkan bolanya!" teriak Aiden menyuruh Ailee mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya.
Namun, Ailee tak mendengar apapun. Ia melamun dan senyum- senyum sendiri, entah apa yang sedang ia bayangkan. Sora yang duduk di sebelahnya pun menggelengkan kepala, ia kemudian mengambilkan bola dan melemparkannya kepada Aiden yang sudah menunggu lama.
"Hey! Ngelamunin apa sih?" tanya Sora menyenggol lengan Ailee.
"Adadeh!"
"Hati- hati nanti kesambet loh. Apalagi di bawah pohon gini," ucap Sora terkekeh.
Guru Olahraga telah datang, mereka pun diminta berbaris rapi melakukan pemanasan sebelum olahraga dimulai. Guru Olahraga itu adalah perempuan, cantik dan juga masih muda. Body-nya sangat proporsional, banyak guru maupun siswa yang menyukainya.
"Bu Rik, hari ini olahraga apa?" tanya Ailee. Nama guru itu adalah Rika Anastasia. Entah kenapa jika Ailee memanggil seseorang itu tak pernah lengkap hingga terdengar tak baik seperti menjelekkan.
"Panggil nama saya lengkap, jangan ada yang dihilangkan meskipun hanya satu huruf saja."
"Ah, sama saja."
"Terserah! Hari ini kita akan bermain basket, berlatih lay up shoot dan akan saya ambil penilaiannya hari ini juga. Oh ya, untuk UTS-nya akan saya kasih materi lewat website sekolah kita," ujar Bu Rika.
Usai berlatih sesuai dengan ajaran Bu Rika, satu persatu murid pun melakukannya dengan serius dan dinilai. Beberapa kali kesempatan untuk memasukkan bola ke dalam ring, Ailee, Sora, maupun Aiden bisa dengan mudah melakukannya. Nilai mereka pun sempurna, karena mereka sering sekali bermain basket jadi sudah terbiasa melakukan lay up shoot.
"Aww..." pekik Ailee ketika kepalanya terkena bola basket. Pusing tak karuan, tapi dia masih bisa bangkit dan menghampiri siapa yang melempari bola ke kepalanya.
"Upss...Sorry, aku ngga sengaja," ucap Khansa, orang yang selalu mencari masalah. Ia merupakan teman sekelas yang dari dulu iri dengan Ailee yang selalu menempati posisi tiga besar di kelas maupun paralel, sedangkan dirinya hanya masuk sepuluh besar saja.
"Kamu pasti sengaja, kan? Kurang ajar!" gertak Sora. Ia lalu menghampiri Kansa yang terlihat biasa saja dan tak merasa bersalah.
"Aku kan udah bilang nggak sengaja. Lagi pula hal seperti ini juga sering terjadi saat olahraga!"
"Aku melihatmu sedari tadi! Dan kurasa kamu memang sengaja! Apa maksudmu melempari bola ke kepala adikku?" Kali ini Aiden angkat bicara dengan menatap sengit Khansa.