Perfect Duda

Perfect Duda
Tak Bertemu



Dua hari berlibur belumlah cukup, tapi tak bisa jikalau ditambah lagi. Sekolah kembali dimulai. Buku dan piranti lain telah dimasukkan ke dalam tasnya untuk menunjang sekolahnya nanti. Seragam, sepatu, dan yang lain telah melekat sempurna di tubuhnya.


Dan kini, ia tengah duduk di kursi dan mamanya sedang mengikat rambutnya seperti biasa. Ailee memang bisa mengepang atau mengikat rambutnya sendiri, tapi Mamanya selalu memanjakannya dan akan marah jika bukan ia yang mengikat rambut anaknya itu.


"Nanti kalau sudah pulang jangan ke mana- mana, langsung pulang pokoknya," ucap Aza. Mamanya itu tengah asyik bermain dengan rambutnya. Disisir, dirapikan, lalu dianyam sedemikian rupa. Dua kepangan telah selesai, ia pun mengecup puncak kepala anaknya.


"Sepertinya nanti masih ada ekstrakurikuler, Mah..." sahut Aiden memasuki kamar Ailee.


"Sudah kelas 12 kok masih ekstrakurikuler?" tanya sang Mama terheran- heran, yang ia tahu jika kelas 12 sudah tak ada ekstrakurikuler karena pihak sekolah pasti meminta mereka untuk fokus dengan berbagai ujian nantinya.


"Hanya memberi masukan, arahan, dan motivasi- motivasi kepada adek kelas, Mah," jawab Ailee membantu sang kakak meyakinkan mamanya.


"Ohh gitu. Awas ya kalau kalian sampai bohongin Mama!" Perkataan itu menjadi ancaman bagi Aiden maupun Ailee padahal sang Mama hanya bermaksud menggoda saja. Kalaupun anak kembar itu berbohong pasti mamanya tak akan marah, lain halnya dengan papa. Jika papa mereka tahu maka habislah keduanya.


"Baik, Mamaku sayang..." Aiden dan Ailee pun memeluk mamanya. Meski sudah besar, mereka masih tetap seperti anak kecil jika di depan Mama maupun Papa. Tapi di luar mereka selalu nampak dewasa dan mandiri.


Matahari mulai merangkak naik, untuk melangsungkan sarapan sejenak pun dirasa tak sempat. Anak kembar itu memilih memasukkan sarapan mereka ke dalam kotak makan dan berencana memakannya di jalan.


"Ailee, jangan dihabiskan rotinya aku kan belum sarapan." Aiden memperingatkan sang adik supaya menyisakan beberapa lembar roti yang diolesi selai cokelat untuk dirinya.


"Iya tenang saja, nih aku suapin," ucap Ailee. Gadis itu menyodorkan roti kepada sang Kakak yang tengah mengemudikan mobilnya.


Aiden yang sudah lapar pun segera menerima suapan Ailee. Cukup susah karena Ailee tak fokus menyuapinya, entah apa yang membuat gadis itu celingukan ke sana ke mari.


"Di mana Pak Binar? Biasanya kita selalu berpapasan di jalan tetapi kok kali ini nggak ada?" tanya Ailee. Matanya menyorot sebelah kanan maupun kirinya mencari lelaki itu.


"Aduh!" pekik Aiden ketika roti selai cokelat itu mengenai hidungnya karena adiknya tak fokus menyuapi dirinya.


"Maafkan aku, Kak!" Ailee buru- buru mengambil beberapa lembar tisu di hadapannya dan membersihkan hidung Aiden yang terkena selai.


"Binar terus! Binar terus!"


"Makan saja sendiri!" Ailee jadi ikut kesal dengan Aiden, ia pun menjejelkan selembar roti ke mulut Aiden hingga lelaki itu kewalahan mengunyah dan menelan.


Hari ini sangat aneh sekali. Lelaki tampan seantero sekolah itu belum nampak. Saat upacara, biasanya ia berdiri di belakang mengawasi murid- murid, tapi hari itu tak ada. Hingga istirahat tiba, Ailee belum juga bertemu dengan Binar.


Sehari belum bertemu saja rindu sudah menggebu, apalagi kalau lebih dari ini.


"Perfect Duda kok nggak ada sih dari tadi?" tanya Ailee kepada kawan- kawannya. Ia jadi tak selera untuk makan. Bakso tanpa kuahnya masih utuh di mangkok belum tersentuh sama sekali.


"Mungkin nggak berangkat gara- gara takut sama salah satu muridnya," jawab Aiden sekenanya.


"Takut digoda dan takut diikutin terus," tambah Kimmy dengan gelak tawa.


"Ah, kalian ini!"


"Tenanglah, nanti pasti ketemu kok. Jam terakhir kan kelas kita ada Pak Binar," ucap Sora.


"Habisin tuh bakso kamu, gara- gara nggak ketemu Pak Binar sehari aja langsung nggak mood gitu," timpal Bryan. Ia langsung mengambil garpu dan menusukkannya pada bakso Ailee. Lalu menyuapi gadis itu. Sudah biasa, mereka memang kerap begitu ketika ada salah satu di antara mereka tak selera makan.


"Nih aku suapin juga." Aiden pun ikut campur, ia malah membuat mulut adiknya belepotan dengan saus dan kecap.


Bel pelajaran terakhir telah berbunyi. Matematika peminatan adalah pelajaran kelas Ailee kala itu. Ia tak sabar melihat Binar yang sedari tadi pagi belum muncul juga.


"Selamat Siang anak- anak!" seru Bu Ferlin memasuki kelas.


"Sudah Sore, Bukkkkk," jawab murid-murid kelas IPA satu serempak karena memang hari sudah sore menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Guru memang sering seperti itu, hanya mengetes muridnya apakah masih punya semangat atau tidak.


"Ah, ini masih siang! Buka buku matematika kalian, Pak Binar hari ini tidak masuk dan memberikan tugas individual. Perintahnya akan saya tulis di papan tulis dan jika sudah selesai jangan lupa dikumpulkan di meja Pak Binar ya!" Bu Ferlin langsung mengambil spidol dan menuliskan tugas dari Binar.


"Pak Binar ke mana memangnya, Bu?" tanya Ailee.


"Pak Binar lagi sakit."


Ailee mendadak sedih mendengar kabar itu. Kabar buruk baginya. Pujaan hatinya tengah sakit dan ia baru tahu. Ah, ini tidak bisa dibiarkan.


"Heyy, mau ke mana?" cegah Aiden menarik lengan adiknya yang hendak pergi meninggalkan kelas.


"Pujaan hatiku sakit, Kak. Duhhh...hatiku terasa nyeri mendengar kabar buruk itu!" jawab Ailee satir. Entah puisi siapa yang sedang ia deklamasikan, intinya Aiden hampir muntah mendengarnya.


"Kerjakan tugasnya terlebih dahulu baru memikirkan hal lain!" gertak Aiden seraya menyuruh Ailee kembali duduk di tempat semula.


Segeralah ia membuka lembaran buku tugas yang kosong dan juga modul pembelajaran. Dibolak balik dengan cepat menuju halaman di mana terdapat soal yang harus dikerjakan. Otaknya yang terlalu pandai pun mampu menyelesaikan soal itu dengan cepat dan tepat.


"Upil! Terlalu mudah!" ucapnya berlagak sombong mentang- mentang dapat menyelesaikan soal matematika dengan cepat. Coba saja jika dirinya dihadapkan dengan soal Fisika yang juga memerlukan rumus dalam penyelesaiannya, ia sudah mengeluh tiada henti karena tak pernah menyukai pelajaran itu. Matematika dan Fisika memang berbeda, dan bagi Ailee yang paling mudah adalah Matematika.


"Yuk, kumpulin!" ajak Sora sembari membereskan peralatan sekolahnya dan bersiap pulang.


"Ah iya! Aku akan segera pulang dan pergi ke rumah Pak Binar..."


"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkannya?"


"Entahlah, aku juga nggak tahu kenapa bisa se-khawatir ini. Huffttt, aku benar- benar jatuh cinta dengannya," jawab Ailee.


"Tapi Pak Binar enggak tuh," sahut Aiden yang sedari tadi menguping di belakang Ailee dan Sora.


"Aku baru mau mengatakannya," timpal Sora dengan gelak tawa yang pecah.


"Sialan kalian!"


Usai mandi dan bersiap, Ailee langsung menghampiri Mamanya. Akan lebih mudah mendapatkan izin dari Mamanya itu beda sekali dengan Papanya. Bahkan ia juga bisa terang- terangan dengan sang Mama.


"Pak Binar sakit," lirih Ailee seraya mendudukkan tubuhnya di samping Mamanya yang sedang asyik memainkan ponsel.


"Lalu?" ucap Aza acuh. Ia belum juga berpaling menatap ponselnya.


"Bolehkah aku menjenguknya?" tanya Ailee merengek.


Aza langsung menoleh ke arahnya, ia menatap anak gadisnya itu dalam- dalam. Lalu berkata, "menjenguknya dengan tangan kosong?"


"Tunggu sebentar, Mama akan membawakan makanan untuk Binar," ucap Aza, ia lalu bangkit menuju dapur mengambil makanan untuk Binar. Ailee pun mengikutinya dari belakang, ia begitu senang telah mendapat izin dari Mamanya.


Tak semudah itu, dirinya harus pergi dengan Aiden. Mamanya memang seperti itu, apapun yang terjadi dan kemana pun mereka akan pergi harus tetap bersama tak boleh terpisah.