Perfect Duda

Perfect Duda
Lambaian Tangan



Keheningan kembali menerpa. Kala itu hujan sedang turun dengan derasnya. Sudah sekitar lima belas menit tapi tak kunjung reda pula. Di tangan mereka tengah memegang cangkir teh hangat guna menepis udara dingin yang mencoba menyapa tulang.


Clarissa tetap berada di pangkuan Ailee, sedangkan Binar duduk di samping. Bu Melati baru saja beranjak menuju ke kamar hendak beristirahat. Tinggal tiga orang saja yang berada di ruang keluarga.


Ailee mendekap erat tubuh Clarissa usai meletakkan cangkir teh ke tempat semula. Dia hanya ingin menikmati saat terakhir dengan Clarissa. Ya, semalam ia dan sang suami sepakat untuk menyerahkan Clarissa pada Maya. Mereka begitu tak tega ketika melihat Maya dan Marvel yang terus memohon.


"Mama kenapa nangis?" tanya Clarissa ketika setetes air mata Ailee jatuh di pipinya.


Binar mengusap bahu istrinya, ia tahu betul apa yang sedang dirasakan. Ia pasti tak rela jika Clarissa harus pergi.


"Clarissa janji ya sama mama kalau Clarissa harus jadi anak baik, anak pinter. Dan jangan lupain Mama Ailee," ucap Ailee semakin terisak. Clarissa pun semakin ia dekap dengan erat, seakan tak ingin melepasnya kapan pun juga.


Binar meneguk tehnya lagi sebelum memberitahu Clarissa sebuah kebenaran. Berat sekali rasanya, tapi ia yakin jika ini sudah saatnya.


"Hari ini Mama Maya sama Papa Marvel kenapa belum menemui Clarissa, ya? Padahal Clarissa pengen main sama mereka," tanya Clarissa kepada Binar dan Ailee. Anak itu sedari tadi menoleh ke arah pintu mengharap kedatangan seseorang. Clarissa begitu dekat sekali akhir-akhir ini dengan Maya maupun Marvel, wajar pula jika anak itu sudah merindu meski baru sehari tak bertemu.


"Clarissa kangen ya sama mereka?" Pertanyaan itu diberi anggukan oleh Clarissa. Binar dan Ailee hanya tersenyum, tak menyangka jika Clarissa bisa merasakan hal seperti itu pada orang yang baru- baru ini hadir dalam hidupnya.


"Kalau Clarissa tinggal sama mereka mau nggak?"


"Memangnya boleh? Tapi kenapa papa tiba-tiba ngomong gitu ke Clarissa?" Anak itu kembali bertanya, Binar menarik napas begitu dalam sebelum memberitahukan suatu hal.


"Sebenarnya...Papa Marvel sama Mama Maya itu orang tua kandung Clarissa," ucap Binar lirih di akhir kalimatnya. Berat sekali tapi akhirnya mampu terucap.


Clarissa diam ia lalu menatap Ailee seakan meminta penjelasan atas ucapan Binar tadi. Dan Ailee mengangguk, ia kembali memeluk Clarissa.


"Dulu Clarissa pernah bilang sama mama dan papa kalau Clarissa mirip sama mereka, kan? Itu karena Clarissa anak kandung mereka, makanya mirip," jelas Ailee terisak.


"Tapi kenapa selama ini Clarissa bersama Papa Binar dan Mama Ailee?" tanya Clarissa ikut tersedu. Mungkin dirinya terkejut dengan kenyataan yang sebenarnya itu.


Binar lalu memberi penjelasan jika Marvel dan Maya dulu bekerja di luar negeri dan menitipkan dirinya pada Binar dan Ailee. Anak itu tak lagi berkata, ia masih nyaman di pelukan Ailee– wanita yang ternyata bukan mama kandungnya.


Ada banyak hal yang belum dia mengerti, tapi tetap ada yang membuatnya mengerti di umurnya yang masih tujuh tahun itu. Ia tak tahu harus berbuat apa setelah semua kebenaran terkuak.


Dan pada akhirnya Clarissa pun menerima ajakan Marvel dan Maya untuk tinggal bersama mereka. Meski berat juga meninggalkan Ailee dan Binar, tapi tak mengapa. Ia masih bisa bertegur sapa dengan dua orang yang sudah menyayanginya begitu dalam.


Barang-barang Clarissa telah dikemas Ailee. Sudah rapi dan siap untuk dimasukkan ke mobil Marvel yang sudah terparkir di halaman rumah Binar.


"Mama Ailee jangan sedih, Clarissa bakal ajak Mama Maya main ke sini kok. Kalau Mama Ailee kangen sama Clarissa kita juga bisa video call bukan?" seru Clarissa seraya mengusap air mata Ailee yang sedari tadi menetes.


"Mama sayang sama Clarissa..."


"Clarissa juga sayang sama mama. Mama jangan sedih ya, Clarissa bakal jenguk Mama Ailee dan Papa Binar. Kita tetap bisa main bersama lagi," seru Clarissa dengan senangnya.


Marvel dan Maya tadi menyuruhnya untuk berkata seperti itu, karena memang Clarissa tak akan pergi jauh dari kehidupan Binar dan Ailee. Anak itu akan tetap menjadi bagian dari hidup mereka meski tak lagi tinggal bersama.


"Janji ya kalau Clarissa bakal video call sama mama dan main bersama lagi?"


Binar dan Bu Melati menghampiri mereka dan mengajak untuk turun menemui Maya serta Marvel yang sudah cukup lama menunggu.


"Nenek...Ayo peluk Clarissa..." seru Clarissa berlari berhambur ke pelukan neneknya.


Maya dan Marvel telah berjanji untuk merawat serta menyayangi Clarissa sepenuh hati. Jika janji itu dilanggar maka Binar maupun Ailee tak segan-segan untuk mengajak Clarissa kembali pada mereka.


"Clarissa sering main ke sini ya jenguk nenek," ucap Bu Melati.


"Iya, Nenek. Clarissa pasti bakal kangen sama nenek. Jangan sedih ya kalau nggak ada Clarissa yang cerewet ini hehe."


Semua telah berada di teras rumah bersiap menyaksikan kepergian Clarissa. Ailee begitu enggan melepas pelukannya pada anak itu.


"Aku menyayangimu, Mah. Jangan sedih lagi biar Clarissa nggak sedih juga. Ehm, nanti kalau di perut mama sudah ada dedek bayi beri tahu Clarissa ya. Clarissa sudah nggak sabar punya dedek bayi," ucap Clarissa membuat suasana tak sendu lagi.


"Iya Ailee, pasti bentar lagi kamu isi. Jangan sedih, kami pasti akan sering berkunjung ke sini. Dan kalau kalian mau ke rumah kami, pintu rumah akan selalu terbuka untuk kalian," ujar Maya yang diiyakan Marvel.


"Makasih, Bin. Maaf atas segala kesalahanku selama ini. Terima kasih telah bersedia merawat Clarissa," seru Marvel memeluk Binar seraya menepuk pundaknya.


"Jaga baik-baik, jangan ingkari janjimu," sahut Binar sebisa mungkin tegar menerimanya.



Lambaian tangan mengiringi kepergian Clarissa. Anak itu tak lagi menghiasi rumah Binar. Suasana rumah pasti akan sangat sepi. Mereka hanya bisa mendoakan supaya Clarissa dan orang tuanya bahagia selalu.


Binar mengajak istrinya untuk masuk ke dalam karena mobil yang Clarissa tumpangi telah jauh dari pandangan. Sejak pagi tak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya, wanita itu sangat sedih hingga tak nafsu makan.


Dengan telaten Binar menyuapi Ailee. Wanita itu awalnya enggan tapi akhirnya mau juga. Baru tiga suap dan Ailee kembali menolaknya.


"Biasanya Clarissa minta dibuatin cemilan," seru Ailee tersenyum sendu. Saat-saat seperti itu Clarissa biasanya memang meminta cemilan buatan Ailee untuk menjadi temannya belajar. Dan kali ini sudah tak ada Clarissa yang biasanya juga bermanja-manja pula dengannya.


"Clarissa bukan pergi selamanya, dia tetap di hati kita. Kapan pun kita juga bisa menjenguknya, jangan sedih lagi, okay?"


Binar mengecup istrinya begitu dalam dan kemudian memeluknya. Dia sendiri juga sedih sebenarnya, tapi harus setegar mungkin karena hal yang ia lakukan itu sudah baik. Bagaimanapun juga seorang anak akan merasa jauh lebih bahagia jika mereka tinggal bersama orang tua kandung.


"Clarissa tadi minta adik, kan? Lalu, apa kamu tidak mau mengabulkan permintaannya?" bisik Binar begitu menggoda di telinga Ailee. Sontak saja wanita itu langsung mencubit suaminya. Tahu betul apa yang diinginkan Binar.


.


.


.


Buat kalian yang emang ngga suka sama novelnya jangan turunin rate dongšŸ˜‚diem aja, ngga usah dibaca ehehhee