
Tiga bulan sudah lelaki itu menjadi guru di SMA swasta ternama dan berstandar internasional itu. Kehadirannya membuat suasana baru di sana. Ketampanan, perilakunya, tubuhnya atletis, dadanya bidang. Siapapun pasti akan berdesir melihatnya. Ingin berlabuh dan tak mau melepas pula.
Guru- guru yang dulu mengeluh dan kadang tak bersemangat tatkala memberikan pelajaran pun menjadi sangat semangat setelah ada Binar. Mereka selalu menggoda dan mencari perhatian dari duda idaman hati itu.
Soal- soal ujian tengah semester telah berada di tangannya. Ia bertugas menjadi pengawas di kelas IPA 1 bersama Bu Rika, guru cantik yang juga tergila- gila dengan Binar. Huft, semoga besok bertugas bersama guru lelaki saja, batinnya berseru.
"Selamat pagi!" ucap Binar ketika memasuki kelas.
Ailee yang melihatnya pun langsung berjingkrak-jingkrak. Kalau pengawasnya Binar, ia pasti akan selalu semangat mengerjakan ujian tengah semesternya. Bahkan, jika semua mata pelajaran diujikan saat itu juga dirinya juga sanggup– asalkan Binar bersamanya.
"Hey, kenapa kamu jingkrak-jingkrak? Kembali duduk di tempatmu!" ujar Bu Rika.
"Karena aku senang sekali, Bu Rik. Ada pujaan hatiku!"
Bu Rika mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ailee. Ah, pasti yang anak itu maksud adalah Binar.
"Maksudmu pujaan hati saya?" tanya Bu Rika. Tangan guru cantik itu bergerilya di dada Binar membuat Ailee terkejut dan panas. Binar pun sama, ia jijik sekali dan langsung menepis tangan Bu Rika.
Binar langsung membagikan lembar jawab komputer dan juga soalnya kepada murid- murid yang sedari tadi telah menunggu dan siap mengerjakan.
"Jangan dekat- dekat sama Bu Rik," bisik Ailee kepada Binar saat lelaki itu sampai di bangkunya membagikan soal dan lembar jawaban kepadanya.
"Kerjakan saja ujiannya, jangan memikirkan hal lain!" balas Binar sungguh-sungguh.
Anak- anak pun segera mengerjakan ketika bel tanda mengerjakan telah berdering seantero sekolahan. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang tengah diujikan. Entah kenapa pelajaran itu selalu menjadi yang utama ketika ujian baik dari SD, SMP, maupun SMA.
Mungkin ada dua puluh lembar soal, tentu saja membuat jenuh karena bacaan yang disajikan sangatlah panjang dan membutuhkan ketelitian lebih. Lembar jawaban Ailee hampir terisi semua dengan bulatan dari nomor 1 hingga 45 telah hitam. Kurang lima soal dan waktunya ternyata masih cukup banyak. Ia pun bisa leluasa mengamati wajah Binar yang duduk tepat di depannya.
"Kerjakan sendiri, jangan melirik pekerjaan teman," seru Binar kepada Aiden ketika anak itu hendak menyontek pekerjaan Ailee.
"Aku melirik pekerjaan adikku, bukan temanku," tukas Aiden membuat seisi ruangan tertawa.
"Jangan membantah, lanjutkan pekerjaanmu!"
Binar melanjutkan membaca buku setelah kelas kembali tenang. Dan tiba- tiba saja kepala Bu Rika bersandar di pundaknya. Wanita yang duduk di sebelahnya itu acuh dan malah nyaman bersandar, sedangkan Binar risih dibuatnya.
"Aduh, nyaman banget sih pundaknya, Pak," celetuk Bu Rika senyum- senyum sendiri. Tak peduli dengan murid- muridnya. Yang penting ia dekat dengan Binar.
Lelaki itu terus menggeliat berusaha menghindari kepala Bu Rika. Tapi semakin menggeliat, Bu Rika malah semakin melekat saja bersandar di pundaknya.
Lembar jawab Ailee sudah hitam semua, ia pun sudah menelitinya berulangkali, saatnya menatap pujaan hatinya. Ah, pemandangan yang membuatnya sesak– Bu Rika menyandar di pundak Binar. Ini tak bisa dibiarkan.
Cetak!
Pensil Ailee melayang sempurna dan mendarat tepat mengenai kepala Bu Rika. Sontak saja, guru itu langsung menegak dan menatap murid- muridnya.
"Pensil siapa ini?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Aduhh, Bu Rik! Pensilnya terbang sendiri tadi, ya ampun hebat banget ya pensilku!" celetuk Ailee terkekeh. Ia lalu maju ke depan mengambil pensil yang dipegang Bu Rika.
"Iya, Bu Rik."
Ailee tak kembali duduk di tempatnya, ia menatap Binar terlebih dahulu dan mengisyaratkan supaya menjauhi Bu Rika.
"Kenapa masih berdiri di situ? Kembali ke tempat dudukmu dan selesaikan ujiannya," seru Bu Rika.
Mata gadis itu tak berhenti menatap dua guru yang berada di hadapannya. Hatinya kembali memanas ketika Bu Rika kembali menyandarkan kepalanya di pundak Binar dengan mata yang terpejam seakan begitu terlena dengan kenyamanan dari pundak lelaki itu.
Ailee langsung mengambil penghapus dari kotak pensilnya dan hendak dilemparkan ke Bu Rika. Binar yang tahu pun segera mengisyaratkan matanya supaya Ailee tak melempari Bu Rika dengan penghapus. Dan Ailee tak menghiraukan, penghapus di tangannya sudah melayang mengenai Bu Rika.
"Ailee!" gertak Bu Rika. Guru itu langsung berdiri dan menghampiri Ailee.
"Maaf, Bu! Alat tulisnya terlalu aktif, jadi terbang- terbang sendiri deh," jawab Ailee meringis.
"Alasan saja kamu!"
Bu Rika kembali duduk setelah mengambil kotak pensil Ailee. Kini, meja itu pun hanya terdapat lembar jawab dan soal ujian, tak ada barang yang bisa dilemparkan jika Bu Rika bergelayut lagi pada pujaan hatinya. Dan Binar sebisa mungkin menahan tawanya melihat ekspresi Ailee yang sudah tak bisa mengganggu Bu Rika lagi.
"Arghhh!" Bu Rika memekik, guru itu terjatuh saat hendak bersandar di pundak Binar lagi karena lelaki itu berdiri menghindarinya.
"Aduh, Bu Rika nggak papa, kan?" tanya Binar.
"Sakit, Pak!" sahut Bu Rika memegang kepalanya yang terbentur kursi.
Seisi ruangan pun terpingkal- pingkal melihat adegan itu, dan Ailee yang paling heboh. Ia tertawa seraya memukul meja.
Teetttt...tetttt...
Bel pertanda ujian akan segera berakhir lima menit lagi pun berdering. Para siswa yang belum selesai pun gelagapan mencari contekan dari teman- temannya.
"Bagi yang sudah diteliti lagi, jangan sampai ada satu nomor yang terlewat. Dan periksa lembar jawabnya jangan sampai pekerjaan kalian tak terbaca komputer," ujar Binar memperingatkan. Ia berkeliling kelas supaya anak- anak tetap tenang tak berisik mencari contekan karena sudah berada di detik terakhir.
Dan mata Ailee pun terus mengikuti kemanapun lelaki itu berpijak. Ia tambah senang saat lelaki itu berdiri di dekat tempat duduknya. Ia pun mendongak menatap Binar yang tetap tampan dilihat dari sisi manapun.
"Pak Bin..." bisik Ailee.
"Pakkk..."
Lelaki itu menunduk menatap Ailee yang tengah membentuk finger love dan senyum selebar mungkin. Ingin sekali rasanya menggigit jari- jari itu supaya tak lagi membentuk finger love yang menurutnya sangatlah alay.
"Apa sudah selesai semua?"
"Sudah, Pak!"
"Diam di tempat kalian jangan keluar dulu, saya akan mengambil lembar jawabnya."
Dibantu Bu Rika, lembar jawaban dari tiga puluh murid kelas IPA 1 telah terkumpul dan tersimpan rapat di map semula. Ketika bel berbunyi, para murid segera berhambur keluar menuju kantin untuk istirahat sembari belajar mata pelajaran yang akan diujikan berikutnya.