Perfect Duda

Perfect Duda
Panjat Tebing



Rumah Binar memang tak sebesar rumah papanya, tapi ada banyak hal yang membuatnya berbeda dan jauh lebih nyaman. Dan terlebih lagi ada danau buatan yang memang untuk dirinya. Ini akan membuat Ailee sangat betah. Meskipun tak ada danau atau sesuatu yang memikat hati, ia tetap akan betah juga asalkan bersama dengan Binar.


Suaminya itu mengajaknya menuju ke kamar yang akan menjadi tempat pribadi mereka. Luasnya sama dengan kamar Ailee yang sebelumnya. Ornamennya sederhana, wajar untuk kamar seorang lelaki dewasa. Cat dinding pun hanya campuran warna abu muda dengan putih, tak ada hiasan yang mencolok layaknya kamar perempuan.


Ada sesuatu yang memikat hatinya, meja dan kursi yang sepertinya digunakan Binar untuk menyelesaikan data sekolah ataupun mengoreksi hasil ujian siswa siswinya. Di dindingnya ada beberapa foto polaroid yang tertempel rapi– fotonya semasa sekolah hingga saat ini. Dulu memang pernah ke kamar Binar, tapi hanya sekali dan tak menyadari jika ada fotonya di sana.


"Aih, kenapa ada fotoku di sini?"


"Biar nggak kangen. Dipikir enam tahu itu nggak lama apa?"


Ailee terkekeh mendengar jawaban itu. "Salah sendiri dulu bilang nggak suka sama aku, yaudah aku pergi. Mau selamanya tapi Aiden malah nikah dan aku harus pulang," ucapnya kemudian.


"Kalau dulu aku bilang suka sama kamu, kamunya malah nggak mau kuliah dan terus mendesak untuk menikah."


"Enggak lah, aku tetap akan kuliah meskipun Pak Binar dulu nggak jahat sama aku."


Binar lalu menghampiri istrinya yang masih merajuk ketika mengingat hal terdahulu. Apapun yang telah terjadi, sepertinya memang tak perlu diulang kembali. Hanya perlu mematrinya dalam hati dan biarkan tergerus oleh waktu.


"Iya dulu aku yang salah karena tak berkata jujur padamu, jangan dibahas lagi ya," seru Binar seraya memeluk istrinya dari belakang dan kepalanya disandarkan di bahu wanita itu. Sekarang ada yang dijadikan tempat bermanja-manjaan, tak perlu khawatir lagi.


Pengantin baru itu lalu berbenah. Binar dengan sigap membantu istrinya memindahkan barang-barang. Baju Ailee ternyata sangat banyak, satu lemari itu hampir dipenuhi dengan bajunya. Sedangkan untuk make up hanya terhitung jari saja, Binar pun menggelengkan kepalanya mengetahui istrinya itu tak suka dengan make up. Aksesoris pun hanya sedikit, ikat rambut dan bandana saja. Ailee memang beda dari wanita yang lainnya.


Sore itu, usai membantu istrinya memindahkan barang-barang, ia lalu beranjak ke kedai kopi yang cukup lama ditinggalkan untuk mengurus pernikahannya. Awalnya ia tak membiarkan istrinya ikut karena ia ingin istrinya itu istirahat, tapi karena terus merengek akhirnya memperbolehkannya.


Maklum pengantin baru, sejak meninggalkan rumah tadi tangan mereka masih bertaut tak terlepas sedetik pun. Binar melajukan mobilnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menggenggam tangan sang istri. Mereka tak malu meskipun di sana juga ada Clarissa. Anak itu duduk di pangkuan sang mama, menatap wanita itu lekat seperti sedang mencari sesuatu.


"Kenapa, Sayang? Kok ngelihatin mama gitu sih?" tanya Ailee lembut seraya mengusap pipi Clarissa.


"Ternyata kita berbeda ya, Mah. Mata kita berbeda, hidung kita juga berbeda, pipi juga, wajah kita nggak ada yang mirip, Mah. Aku juga nggak mirip sama Papa. Kalau teman-temanku mirip sama papa mama mereka. Apa aku bukan anak kalian?"


Pertanyaan Clarissa itu sontak saja membuat Binar dan Ailee terkejut. Tak disangka jika anak berumur tujuh tahun itu bisa memiliki pikiran yang seperti itu. Memang fisik tak ada yang sama karena Clarissa bukanlah anak mereka, tapi kalau sifat lebih mendominasi karena hasil didikan Binar selama ini.


"Kata temenku kalau kita nggak mirip sama papa atau mama berarti kita bukan anak mereka. Apa Clarissa memang bukan anak papa sama mama?" Anak itu kembali bertanya, ia menoleh ke arah papanya juga yang tengah fokus mengemudikan mobil. Tangan Binar dan Ailee yang bertaut pun terlepas. Mereka sangat bingung harus menjawab bagaimana.


"Clarissa kan baik, rajin, pinter, bukankah papa sama mama juga seperti itu? Jadi, kalau bukan anak papa sama mama, Clarissa anak siapa dong? Ayolah, jangan percaya sama kata teman-temanmu. Kamu itu anak Papa sama Mama kok," seru Binar semaksimal mungkin meyakinkan Clarissa.


Anak itu tetap saja sendu seakan tahu jika sang papa berbohong. Ia terus menelusupkan kepalanya di dada sang mama dan memeluk erat wanita itu. Ia tahu betul bagaimana papanya jika berbicara, dan tadi seperti ada hal lain yang disembunyikan.


Merasa anaknya sedang dalam mood yang kurang baik, Ailee pun mengajak Clarissa ke tempat bermain yang berada di salah satu Mall di ibukota. Binar tak bisa menemani karena harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Clarissa ayo lompat!" seru Ailee. Mereka telah sampai di wahana trampolin indoor. Ada banyak rintangan di sana, bagus juga untuk perkembangan anak. Di sini kita bisa melompat setinggi mungkin seakan meluapkan segala keluh kesah yang selama ini terpendam.


Selain itu bermain trampolin juga akan meningkatkan sensor motorik pada anak, karena anak akan bergerak secara dinamis seluruh badannya. Seperti melompat dan berlarian ke sana kemari menjajal berbagai jenis trampolin yang ada. Bermain trampolin juga bagus untuk kesehatan yaitu memperlancar sistem sirkulasi pada pembuluh darah dan jaringan limfatik, sehingga dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh.


"Mah, ayo tangkap aku...." teriak Clarissa seraya melompat menjauhi sang mamanya.


Senang sekali akhirnya mood Clarissa kembali membaik, suasana di wahana itu sangat ramai banyak anak seumurannya yang juga tengah bermain di sana. Clarissa jadi punya banyak teman baru yang bisa diajak bermain sore itu. Ailee pun membiarkannya bermain dengan anak lain, dan ia tetap mengawasinya di kursi tunggu.


Keringat bercucuran di kening anak itu. Ia pun menghampiri mamanya karena sudah lelah bermain selama kurang lebih 30 menit.


"Clarissa, aku pulang dulu ya, byeee..." seru anak laki-laki yang tadi mengantarkan Clarissa. Tampan dan lucu, sepertinya usianya lebih dua tahun dari Clarissa.


"Sampai jumpa di lain waktu, Hiko..." sahut Clarissa melambaikan tangannya pula.


"Permisi, Aunty..." pamit Hiko kepada Ailee. Anak zaman sekarang masih tahu tata krama, Ailee salut dengannya.


"Hayo siapa dia? Dari tadi mama perhatikan kamu main terus sama dia, ciyee..."


"Namanya Hiko, katanya dia kelas tiga tapi aku nggak tahu dia sekolah di mana. Dia baik, Mah. Tadi mengajari aku panjat tebing," jelas Clarissa seraya menunjuk area panjat tebing yang dikhususkan untuk anak-anak di wahana itu.


Usai mengusap peluh anaknya dengan tisu dan merapikan rambut yang berantakan, Ailee pun mengajak Clarissa untuk pergi. Clarissa gembira sekali apalagi bertemu dengan teman baru. Sebelum pulang, Ailee mengajak Clarissa untuk makan sebentar tak lupa membungkuskan untuk Binar nanti.


Clarissa begitu girang ketika mamanya datang dengan membawa nampan yang berisikan burger, kentang goreng, es krim, dan minuman soda untuknya. Hal yang pertama kali ia ambil tentu saja es krim rasa cokelat. Dijilat dan dinikmati hingga belepotan.


"Pelan-pelan, Sayang..." seru Ailee memperingatkan. Ia juga menikmati es krim tapi dengan rasa vanila yang dijadikan cocolan kentang goreng. Aneh memang, tapi Ailee sangat suka makan kentang goreng yang dicocol es krim di Mekdi.


Pyaaarrrr...


Seseorang yang tadi membawa nampan berisikan makanan dan melewati meja Ailee tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan hingga akhirnya minuman soda yang ia bawa tumpah mengenai Ailee dan Clarissa.