Perfect Duda

Perfect Duda
Guyuran Hujan



Jendela kamarnya ia buka lebar, buku yang sedari tadi dipelajari pun ditutup. Ia sudah selesai belajar dan mengerjakan semua tugas. Tangan terulur untuk menyangga dagunya. Matanya tertuju pada rintikan air yang terus menetes. Sudah satu jam hujan turun membasahi bumi, tak deras tapi tak kunjung reda. Setiap rintik ia nikmati, ini menenangkan.


Senyumnya mengembang tatkala mengingat wajah seseorang yang seringkali ia temui akhir- akhir ini. Ya, siapa lagi jika bukan Binar. Sepertinya Ailee memang benar- benar jatuh cinta dengan duda beranak satu itu. Ia tak pernah merasakan gelora seperti ini. Dan sepertinya memang ini yang dinamakan jatuh cinta.


"Ngalamun terus!" seru Aiden sembari menyentil kening Ailee. Lelaki itu kemudian berbaring di sofa kamar adiknya.


Aiden memang suka seperti itu. Setelah belajar, ia pasti akan menemui Ailee ke kamarnya. Bermaksud mengganggu, bukan hal lain.


"Kak, kakak pernah jatuh cinta nggak?" tanya Ailee, ia menatap sang kakak yang malah asyik bermain ponsel dengan kaki yang dilipat menumpu kaki yang lain.


"Entahlah! Heh, jangan memikirkan tentang cinta lagi!" jawab Aiden.


"Kak, aku jatuh cinta sama Pak Binar."


Perkataan Ailee itu membuat Aiden bangun dan menatapnya lekat. Ia lalu menghampiri saudara kembarnya yang duduk menghadap meja belajar.


"Kamu suka sama gurumu sendiri? Hey, sadarlah! Pak Binar itu duda beranak satu. Umurnya pun jauh berbeda denganmu!" Ia menarik dagu sang adik dan menatapnya lekat. Manik mata gadis itu berkata jujur, sangat jujur. Aiden tak menyangka jika Ailee menyukai Binar.


"Aku nggak mempermasalahkan itu semua, aku menerimanya apa adanya."


"Papa sama Mama harus tahu kalau anaknya sudah nggak waras." Aiden menggelengkan kepalanya dan berniat keluar dari kamar Ailee mencari orang tuanya.


"Kakkk...Jangan beritahu Mama sama Papa, ini rahasia di antara kita berdua! Kumohon," ucap Ailee mencegah kakaknya keluar dari sana. Ia mengatupkan kedua tangannya dan memasang puppy eyes berharap Aiden luluh dengannya.


Aiden tampak berpikir keras, sebenarnya ia juga bercanda soal tadi. Masalah Ailee menyukai Binar itu tak masalah baginya, karena ia tahu perasaan memang terkadang muncul dengan sendirinya dan tak bisa dielakkan.


"Aku tak akan mengatakannya pada Papa ataupun Mama, tapi ada syaratnya," seru Aiden. Setelah dipikir matang- matang, ia pun menemukan cara supaya menguntungkan bagi keduanya. Ia pun membisikkannya ke telinga Ailee. Gadis itu tampak tak mau, tapi setelah dipikir-pikir lagi ia pun menyetujuinya. Tak ada salahnya, pikirnya.


"Senang bekerja sama dengan Anda, Nona Ailee," seru Aiden mengulurkan tangannya mengajak Ailee berjabat tangan.


"Senang juga bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Aiden," jawab Ailee membalas uluran tangan kakaknya. Mereka seolah tengah merencanakan hal yang besar. Layaknya seorang pebisnis yang baru saja menerima tawaran proyek besar lalu saling berjabat tangan.


"Apa yang kalian rencanakan?" seru Aksa, sang Papa, mengejutkan Aiden dan Ailee. Ia tak sengaja lewat di kamar putrinya yang kala itu kebetulan terbuka lebar hingga menampakkan dua anaknya yang sedang berjabat tangan. Aksa tahu jika anak kembarnya itu pasti telah merencanakan sesuatu.


"Nggak ada, Pah. Itu tadi Kak Aiden mau nitip sesuatu soalnya aku mau ke supermarket hehe..." ucap Ailee sembari mencubit pinggang kakaknya supaya disetujui juga.


"Jangan aneh- aneh. Belajar yang sungguh- sungguh, jangan mikirin cinta dulu," nasihat Aksa. Akhir- akhir ini ia merasa ada yang tak beres dengan anaknya, ia merasa jika anak- anaknya sudah memikirkan cinta. Sejak dulu ia memang bersikeras melarang mereka, karena cinta bisa menghalangi masa depan. Oleh sebab itu, ia tak mau anak- anaknya terjerat cinta yang bisa jadi membuat masa depan tak seindah angan.


"Iya, Papaku sayangku, cintaku, kasihkuuu..."


Ailee memang tadinya mau pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Di luar, hujan masih mengguyur namun tak sederas tadi. Payung berwarna biru muda itu ia buka untuk menjaga tubuhnya supaya tak terkena air hujan.


"Halo, Mang Dudung!" sapa Ailee kepada satpam di rumahnya yang kala itu tengah memakai sarung dan duduk bersila di pos satpam dengan kopi di depannya. Kue bolu buatan tuan rumah yang sedikit bantet pun tengah dinikmatinya.


"Halo, neng Ailee. Hujan- hujan gini mau ke mana?" tanya Pak Dudung.


"Ke supermarket sebentar, byeee..." Ailee lalu kembali melangkahkan kakinya menuju supermarket yang letaknya cukup jauh dari komplek perumahannya.


Ia memang lebih suka berjalan kaki untuk ke sana. Lumayan sekalian olahraga, pikirnya. Supermarket itu berada di luar wilayah komplek perumahan. Membutuhkan waktu sepuluh menit lebih dengan jalan kaki jika ke sana.


Ailee meletakkan payungnya di depan supermarket. Ia langsung mengambil keranjang berwarna biru untuk meletakkan barang belanjaannya nanti. Tak banyak, hanya makanan ringan dan kebutuhan perempuan.


"Pak Binar!" teriak Ailee riang. Ia tak sengaja bertemu dengan Binar yang kala itu tengah membeli susu yang sepertinya untuk Clarissa. Ailee pun segera menuju ke kasir karena dirinya juga sudah selesai berbelanja.


Binar pun menoleh, ia menepuk keningnya. Bagaimana bisa dirinya bertemu lagi dengan anak itu. Ia pura- pura tak tahu dan menutupi wajahnya dengan jaket yang sedang dipakai.


"Halo, Pak Binar. Selamat sore..." sapa Ailee. Gadis itu berdiri di kasir kedua tepat di samping Binar.


"Hm..." sahut Binar, ia segera menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada mbak- mbak kasir untuk membayar belanjaannya.


"Pak, tunggu!" Ailee berteriak karena Binar terburu- buru pergi dari sana.


Setelah berhasil membayar dan belanjaannya dikemas, Ailee langsung berlari menghampiri Binar. Beruntung lelaki itu masih berusaha mengenakan jas hujan dan belum pergi meninggalkan supermarket.


"Pak tunggu!"


"Apaan?" sahut Binar dengan malasnya.


"Ikut!"


"Jangan aneh- aneh! Minggir sana."


Belum sempat memutar motornya, Binar dikejutkan dengan Ailee yang sudah naik dan cengar cengir. Untung ia bisa menahan motornya dengan kuat hingga dirinya tak jatuh saat Ailee naik tadi.


"Ayo, Pak berangkat! Aku mau ketemu Clarissa."


"Hey, turun nggak? Turun cepet," gertak Binar yang tak mampu membuat Ailee takut. Gadis itu tetap terpaku di tempatnya.


"Ailee, turunlah. Ini masih hujan dan kamu nggak pakai jas hujan, turun saja sana!"


"Nggak mau, Pak. Aku mau ketemu Clarissa, lihatlah, aku tadi sudah membelikan sereal bayi untuknya," ucap Ailee memperlihatkan plastik berisikan barang belanjaannya.


"Oh ya, Pak, mending barang- barangku ditaruh di depan, nih..." Dengan santainya, Ailee menyodorkan plastik belanjaannya supaya diletakkan di samping belanjaan Binar. Lelaki itu mengangahkan mulut, tak percaya jika ada orang seperti Ailee.