Perfect Duda

Perfect Duda
Bertekuk Lutut



"Ailee, kuncinya patah!"


Gadis itu pun melotot sempurna dan langsung menghampiri pintu. Ia menggedornya dan meminta penjelasan Binar. Berharap juga supaya apa yang dikatakan Binar itu bohong.


"Pak Bin! Pak Bin!"


"Kuncinya patah, aku cari ahli kunci dulu ya."


Binar sendiri jadi khawatir. Keisengannya malah berakhir seperti ini. Kunci di tangannya tinggal setengah, dan setengahnya lagi tertancap pada pintu. Ia segera menyuruh pekerjanya mencari ahli kunci supaya pintu bisa dibuka.


Sebenarnya bisa juga jika mendobraknya, tapi sayang dengan uang perbaikan nantinya. Kalau panggil ahli kunci kan lebih murah daripada harus mengganti pintu baru. Pemikiran orang yang hemat, alias pelit karena terlalu hemat hehe.


"Jangan takut, aku nemenin kamu di sini," seru Binar.


"Aku nggak takut, aku cuma lapar!"


Tak ada pilihan lain, Binar pun terpaksa mendobrak pintunya. Takut juga jika Ailee mati kelaparan di dalam. Dan benar saja ketika pintu sudah didobrak, ternyata Ailee sudah terduduk lemas pertanda dirinya memang benar-benar lapar.


"Maaf tadi cuma iseng, mau tau aja kamu ketakutan apa enggak, hehe," ucap Binar menggaruk tengkuknya.


Ailee yang tadinya duduk pun langsung berdiri di sofa supaya sejajar dengan Binar. Ia memberikan tatapan membunuh membuat Binar bergidik. Dan gadis itu langsung menarik kedua telinganya, menggoyangnya ke sana kemari dengan kuat hingga telinga tersebut merah dan sang pemilik menahan sakit luar biasa.


"Maafkan aku..."


"Kamu pikir aku akan takut gitu di sini sendirian?"


"Dipikir aku penakut apa! Lagipula apa faedahnya ngunci aku di sini! Nggak jelas banget sih!"


"Tadi kan udah bilang kalau cuma iseng, aduhhh..."


"Biar lepas tuh telingamu! Rasakan akibatnya telah menjahiliku!"


Dan Ailee semakin gencar menjewer kedua telinga Binar. Gadis itu lambat laun kehilangan keseimbangannya, dan akhirnya terjatuh dalam pelukan Binar.


"Bilang aja kalau mau peluk," ledek Binar, ia lalu merubah posisinya hingga Ailee kini berada di bawahnya.


"Siapa yang mau memeluk lelaki nyebelin kaya Pak Binar? Kambing juga nggak mau kali!"


"Benarkah?" Suara Binar terdengar lembut, napasnya menyentuh pori-pori wajahnya. Semakin dekat, dan Ailee tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu. Apalagi jika bukan mau mencium?


"Aargghh!" Binar memekik tatkala harta pusakanya yang paling berharga ditendang Ailee dengan sekuat tenaga. Ailee pun jadi bebas dari kukungan Binar, ia lalu berdiri dan membenarkan bajunya yang kusut.


"Eh, kamu nakal banget sih, aduh..."


Rasa sakit di telinganya tak kunjung hilang dan sekarang malah ditambah rasa sakit pada harta pusakanya. Semoga benda itu baik-baik saja meskipun sudah ditendang Ailee dengan cukup kuat.


Dan adegan berakhir dengan Ailee yang makan lahap, memakan makanan yang telah dipesankan barista. Sedangkan Binar duduk memegang harta pusakanya yang masih sakit. Tak peduli dan tak merasa bersalah sedikitpun, Ailee tetap lahap makan karena dirinya memang lapar.


"Huffttt, kenyang..." seru gadis itu ketika makanan telah habis. Lega rasanya karena laparnya telah hilang.


"Tadi kamu mau ngapain ke sini? Main nyelonong masuk aja, siapa yang nggak kesel coba?" gertak Binar memarahi Ailee.


"Calon istrinya datang malah tidur, terus dikunciin dari luar, eh sekarang malah dimarahi," gumam Ailee yang sepertinya didengar Binar meskipun samar.


"Hah? Calon istri?" Pekik Binar senang tiada kira.


"Ih orang tadi aku bilang Ailee kok bukan calon istri. Pak Binar udah tua, pendengarannya ikut menua juga ya," tukas Ailee.


"Tua-tua gini kamu juga suka, kan?" Binar memeluk erat Ailee seakan tak mau melepasnya. Dan Ailee membalas pelukan tersebut.


Mereka saling peluk dalam waktu yang cukup lama menikmati kehangatan tubuh satu sama lain. Jarum jam terus berputar pada tempatnya, malam pun semakin larut. Suasana menjadi hangat meskipun di luar sana angin berhembus cepat karena akan ada pergantian musim.


"Pak Bin..."


"Bisakah aku memelukmu sampai kapan pun? Pelukannya sangat nyaman, aku tak ingin berpaling."


Keduanya kembali terdiam. Binar semakin gemas dan mempererat pelukannya.


"Pak Binar! Gawat, Pak!" seru Vito yang menyelenong masuk ke ruangan Binar, sontak saja dua orang yang tengah berpelukan itu langsung melepas dan malu dibuatnya.


"Gawat kenapa?" tanya Ailee, entah kenapa jadi dirinya yang panik.


"Gawat! Mereka sudah tak sabar!" Vito berkata lalu langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Binar dan Ailee langsung mengikutinya.


Betapa terkejutlah Ailee tatkala mendapati Aiden, Sora, Kimmy, Bryan, Aksa, Aza, Bu Melati, dan Oma serta Opanya telah memenuhi halaman depan kedai kopi milik Binar. Halaman tersebut telah dihias dan siap dijadikan untuk family dinner.


Tring...musik romantis mengalun pelan. Lampu tiba-tiba padam dan suasana jadi hening seketika. Seorang lelaki yang tak lain Binar menghampiri dan bertekuk lutut menghadapnya. Ailee terheran-heran, ia hanya bisa melipat tangannya di dada dan menatap lekat lelaki itu.


Ada banyak hal yang hadir dalam hidupku, salah satunya adalah dirimu...


Aku ingin mengalir bersama senyummu, bersandar bersama lelahmu, jatuh dan cinta pada duniamu...


Hari kian berganti menggerus tubuh dan angan...


Kemudian jalan akan melipat sesuai usiamu...


Percayalah, akulah yang akan selalu berada pada bagian paling dalam dirimu...


Banyak perempuan yang kutemui, namun tak satupun di antara mereka yang mampu membuatku takluk...


Aku ingin membuatmu bertahan dan menetap untuk hari ini, esok, ataupun nanti...


Selamanya.


Ailee Tanisha Sanjaya...


Aku ingin memilikimu seutuhnya dan seusia waktu...


Apakah engkau berkenan menjadi milikku?


Semua bersorak, Ailee pun terbuai akan puisi yang diutarakan Binar dengan kesungguhan hatinya. Tak pandai mendeklamasikan, akan tetapi tetap bisa membuat gadis itu terhanyut di setiap untaian bait.


Gadis itu masih terdiam dan mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi jika itu bukanlah mimpi. Ia menepuk kedua pipinya cukup keras– sakit –ternyata bukanlah mimpi.


Binar lalu mengeluarkan sebuah kotak dan seutas bunga mawar yang telah disiapkan. Cukup sulit mengeluarkannya karena kotak tersebut masuk ke kantong celana Binar yang paling dalam, Ailee pun hendak tertawa namun itu hanya akan merusak suasana saja.


"Pak Bin, ini seriusan, kan? Pak Bin ngelamar aku beneran?"


"Woy, kalian udah belom? Kita laper nih," seru Aiden merusak suasana.


"Cepet diterima, besok langsung nikah!" timpal Kimmy berteriak pula.


"Makanannya keburu dingin!" tambah Bryan. Mereka sudah tak sabar menunggu hasil lamaran Binar kepada Ailee, dan terlebih lagi menyantap makanan yang ada karena semua yang tersaji itu nampak lezat.


Ailee dan Binar pun terhenti dan malah fokus menanggapi seruan para keluarga serta sahabat. Pada akhirnya Ailee mengangguk semua pun bertepuk tangan. Binar langsung berdiri karena lelah bertekuk lutut, ia kemudian memeluk Ailee, menggendongnya dan berputar dikarenakan rasa bahagia yang teramat.


"Akhirnya Ailee nggak akan jadi nyamuk lagi," seru Kimmy meledek.


"Formasi kita sudah lengkap, jadi nggak akan ada nyamuk lagi. Yey!" teriak Aiden histeris.


Pada akhirnya cinta bersatu dan bersiap menyambut kebahagiaan. Begitu sulitnya mereka mencapai titik tersebut, tapi akhirnya semesta membiarkan mereka bersatu. Mungkin semesta juga lelah ketika melihat dua insan itu murung dan sendu dalam waktu yang cukup lama.


Siapa yang berjuang memang akan selalu menikmati hasil. Mungkin tak secepat angan, tapi tetap akan dicapai tangan. Kebahagiaan memang cukup sulit didapat, terkadang seribu pengorbanan baru bisa menggapainya.