Perfect Duda

Perfect Duda
Kursi Panjang



Tak tahan dengan kecanggungan, Ailee pun berdiri hendak menghampiri Clarissa. Akan tetapi Binar mencekal tangannya dan memintanya untuk tetap di tempatnya. Gadis itu segera melepas tangan yang digenggam Binar.


"Bisakah kita berbincang sejenak?" Harap penuh terlihat jelas dari sorot matanya. Dan Ailee pun mengangguk.


"Apa yang kamu lakukan selama enam tahun? Kenapa nggak pernah kembali ke Indonesia?" tanya Binar lirih di akhir kalimatnya.



"Tentu saja kuliah. Empat tahun S1 dan langsung lanjut S2. Untuk alasan nggak kembali ke Indonesia kurasa Pak Binar juga mengetahuinya bukan?" Ailee nampak ketus akan tetapi Binar tak masalah, ia sangat senang karena Ailee akhirnya mau bicara dengannya.


"Maaf untuk hal yang lalu. Aku–"


"Aku nggak suka kalau ada orang yang mengungkit masa lalu. Permisi!"


Binar kembali sendu karena Ailee meninggalkannya dan menghampiri Clarissa. Ia tak mau diam, kemudian dirinya ikut menghampiri Clarissa dan Ailee. Ia ikut bermain sesuai permintaan Clarissa, meskipun Ailee tetap acuh dan tak menganggap kedatangannya.


Satu jam lebih mereka bermain bersama, Ailee pun heran karena Binar tetap di sana. Apakah tak ada jadwal mengajar usai istirahat siang? Ah, tapi terserah, itu bukanlah urusannya.


"Mama kenapa?" tanya Clarissa karena tiba-tiba Ailee langsung lemas dan terdiam. Wajahnya pun memucat serta meringis kesakitan membuat Binar dan Clarissa panik.


"Minumlah ini." Binar menyodorkan minuman yang berada di meja tadi kepada Ailee, dan gadis itu menggeleng.


"Mama nggak papa kok, Sayang. Yuk main lagi!" ucap Ailee dengan riangnya mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan.


"Kita udahan saja, Mah. Clarissa nggak mau mama kecapekan," seru Clarissa dan langsung mengemas mainannya ke dalam plastik lagi. Ia kemudian duduk di pangkuan Ailee, manja sekali dengannya.


"Kamu sakit?" tanya Binar dan Ailee hanya menggeleng.


"Mah, Clarissa mengantuk. Ayo pulang..."


"Pulang sama papa ya?"


Anak itu malah terisak pilu menatap Ailee dan papanya. Keinginan untuk mengajak pulang Ailee sangat besar, namun tak pernah dihiraukan oleh dua orang dewasa itu. Ailee berusaha keras untuk menenangkan Clarissa yang tangisannya semakin kencang.


"Clarissa kok cengeng sih? Ayo dong jangan cengeng kalau jadi anaknya mama."


"Karena mama nggak mau pulang sama Clarissa..." jawab anak itu masih terisak.


"Ayo, Mah. Ayooo pulang sama Clarissa dan papa." Clarissa terus menangis dan menyeret Ailee.


"Kumohon turuti kemauannya kali ini saja."


Tak tega melihat Clarissa yang semakin menangis pun akhirnya Ailee mau diajak pulang. Ia duduk di samping Binar yang melajukan mobil dengan Clarissa yang berada di pangkuannya dan memeluk dirinya erat.


Jalanan yang dilewati tak sama seperti enam tahun yang lalu, Ailee menatap Binar meminta penjelasan. Dan lelaki itu hanya tersenyum hingga akhirnya sampai di sebuah rumah yang mewah.


"Tunggu sebentar, biar aku yang gendong Clarissa." Binar bergegas membukakan pintu untuk Ailee dan hendak mengambil alih Clarissa yang sudah tertidur.


"Biar aku saja yang menggendongnya, Pak."


Dan Ailee pun menggendong Clarissa dengan arahan Binar hingga sampai ke kamar anak itu.


Dibaringkan pelan dan hati-hati supaya tak terbangun. Lalu ditariklah selimut hingga menutupi tubuh anak mungil itu. Tangan Clarissa yang masih menggenggam tangannya pun perlahan dilepaskan.


"Aku akan memesan taxi online saja tak perlu mengantarkanku pulang," ujar Ailee kepada Binar sebelum meninggalkan kamar Clarissa.


"Pulanglah nanti saja, ayo ikut aku!" Binar menarik tangan Ailee dan mengajaknya ke suatu tempat. Gadis itu meronta meminta dilepas tangannya akan tetapi Binar malah semakin mempereratnya.


Tiba di tempat yang Binar maksud, di balkon. Terdapat danau yang tak jauh dari sana. Danau yang sepertinya sengaja dibangun. Sangat indah dan dekat sekali dengan rumah Binar. Ailee langsung berlari menghampirinya. Karena ingin melihatnya secara dekat.


"Aku tahu kamu suka danau, maka dari itu aku membuatkannya untukmu," seru Binar ketika sudah sampai di tepi danau.


Danau hijau yang hampir sama seperti danau di perkampungan Binar yang dulu. Ada beberapa perahu yang dicat warna warni di sana, pohon-pohon kecil tertanam membuat kawasan menjadi teduh. Beragam jenis bunga pun menghiasi pelataran.


Gadis itu memainkan air yang ada di sana. Begitu senang akhirnya bisa melihat danau khas Indonesia. Ia lalu duduk di kursi panjang diikuti dengan Binar di sebelahnya.


"Aku jadi ingat dengan gadis SMA yang dulu mencintaiku. Dia juga sama sepertimu, suka danau," sindir Binar dengan kekehan kecil.


Ailee langsung mencubit pinggangnya begitu keras, "Jangan meledekku!"


"Siapa yang meledek? Aku kan hanya bercerita!"


Wajahnya merah menahan malu. Binar sangatlah menyebalkan. Duda berumur 30 tahun itu memang sengaja membuatnya teringat masa lampau.


"Dulu dia juga menciumku secara paksa. Wah, aku ternoda," ucap Binar satir entah puisi siapa yang sedang dideklamasikan.


"Kalau pulang sekolah dia pasti ke rumah dan terkadang sampai malam pulangnya. Sampai-sampai pernah suatu hari papanya datang dan marah, dia diusir dari rumah."


"Pak Bin!" Ailee berteriak, ia lalu menunduk menahan malu jika teringat akan kejadian itu. Dan Binar malah tertawa puas melihat gadis di sampingnya tertunduk malu.


"Dulu, dia pandai sekali. Beragam olimpiade baik nasional maupun internasional dimenangkannya. Dia nggak mau kuliah di Jepang karena nggak mau jauh dariku dan Clarissa. Tapi pada akhirnya dia memutuskan kuliah di sana hingga enam tahun lamanya tanpa pernah berkunjung lagi ke Indonesia," lanjut Binar, tak peduli jika Ailee akan marah dengannya.


"Apakah rasa itu masih ada sampai sekarang?" tanya Binar sendu menatap Ailee yang masih menunduk.


Gadis itu menggeleng lemah, "Udah nggak ada kok, tenang aja."


Hening kembali menderu. Keduanya terdiam menatap danau. Ada rasa sesak dalam hati Binar ketika mengetahui cinta Ailee telah pudar untuknya. Ada rasa sesak pula dalam hati Ailee karena berkata demikian.


"Dulu aku berbohong dengan rasaku sendiri. Mulut dan hatiku tak sinkron. Aku juga mencintaimu, tapi jika aku berkata demikian maka masa depanmu pasti akan terganggu dan hubunganmu dengan papamu akan terganggu pula."


"Sudahlah, Pak. Biarkan masa lalu tetap berada di tempatnya, tak perlu mengusiknya lagi. Jalani saja apa yang ada di depan mata," ujar Ailee menampakkan dirinya yang beranjak dewasa.


"Apa hatimu sudah ada yang memilikinya?"


"Sudah!"


"Siapa?" Obrolan semakin memanas tatkala Ailee berkata jika sudah ada pemilik hatinya.


"Aduh siapa aja, ya? Banyak pokoknya, lebih dari sepuluh!"


Binar tertegun mendengarnya. Wajar juga jika Ailee banyak yang suka. Selain cantik, manis, dirinya juga baik hati, tak sombong, dan sangat pandai dengan segudang prestasi yang diraih semasa sekolah maupun kuliah.


"Ada papa, mama, oma, opa, Aiden, Sora, Bryan, Kimmy, Mang Dudung, Bi Mina, ehm...siapa lagi ya." Gadis itu berpikir keras memikirkan keluarganya yang memang menjadi pemilik hatinya.


Sedangkan Binar tersenyum dan menggeleng tak menyangka dengan jawaban Ailee. Lega rasanya mendengar semua itu. Ailee yang sekarang masih sama dengan Ailee yang dulu, menggemaskan.