
"KDRT apanya? Emangnya kamu siapa saya? Jangan ngawur deh jadi orang!" Binar langsung masuk dan tak menghiraukan Ailee lagi. Ia bersiap untuk pergi ke pasar membeli keperluan kedai dan anak- anak panti.
"Mahhh..." serunya memanggil Melati hendak pamit terlebih dahulu.
"Iya sebentar..."
Melati pun buru- buru menghampiri anaknya. Ia memberi uang untuk Binar– uang donasi yang akan dibelikan keperluan anak panti. Sedangkan uang untuk membelai keperluan kedai kopi tentu saja menggunakan uang Binar sendiri.
"Binar berangkat dulu ya, Mah."
"Ajak Ailee, kamu pasti membutuhkannya," ucap Melati, ia langsung menghampiri Ailee yang sedang bermain dengan cucunya. Ia tahu kali ini Binar akan kewalahan karena barang belanjaan akan sangat banyak.
"Kamu mau nggak ikut Binar belanja? Biar ibu yang jaga Clarissa?"
"Mau!"
Tentu saja gadis itu mau, ia sangat semangat. Saking semangatnya, ia bahkan mendahului Binar naik motor. Binar dan Bu Melati pun mengangahkan mulut tak percaya jika Ailee akan semangat seperti itu.
"Hati- hati ya, Nak," ucap Melati tergelak melihat ekspresi anaknya yang selalu saja kesal dengan Ailee, apalagi ketika membonceng gadis itu.
...*****...
Binar sengaja melajukan motornya dengan kecepatan rata- rata. Ia hanya ingin membuat Ailee ketakutan dan tak mau lagi diboncengnya. Tak bisa dibayangkan ekspresi Ailee yang ketakutan. Jantung gadis itu hampir saja terbang terbawa angin.
"Awwww, sakiiittttt!" pekik Ailee mencengkram pinggang Binar. Pantatnya terhentak saat ada polisi tidur. Binar tak pelan- pelan, memang sengaja mengerjai Ailee. Aduh, pantatnya pasti memerah.
"Makanya kalau ditawarin Bu Melati jangan mau ikut, tahu sendiri kan saya kalau bawa motor pasti ngebut," ujar Binar diselingi tawa kecil.
"Nggak papa, hanya sakit saja pantatku. Yang penting nggak jatuh," jawab Ailee, ia kembali memeluk Binar karena motor benar- benar melaju dengan kencang.
Beberapa kali membonceng Ailee, Binar mulai bisa menerimanya. Ia cukup senang dengan Ailee yang memeluknya dari belakang, rasanya nyaman dan hangat. Tapi lama kelamaan berubah menjadi geli. Jari- jari tangan Ailee bergerilya menggelitik perutnya, gadis itu terkikik saat beraksi.
"Pak Binar nggak geli nih aku gelitikin?" tanya Ailee.
Tangan kiri Binar pun tergerak untuk mencubit tangan Ailee yang masih asyik menggelitik perutnya. Sebenarnya itu cara Ailee mengalihkan perhatiannya dan supaya Binar melajukan motor dengan normal.
"Berhenti atau aku lempar ke got?"
"Iya-iya, galak banget sih!"
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke pasar rakyat yang sering dikunjungi. Binar dan Ailee langsung masuk dan mencari berbagai kebutuhan makanan. Seperti sayur mayur, lauk, bumbu masakan, cemilan, dan lain sebagainya.
Ailee terkagum, Binar tak malu sedikitpun meskipun harus berbelanja. Dan lelaki itu tak malu tatkala harus menawar sesuatu yang harganya dianggap mahal dan melonjak dari biasanya. Padahal biasanya tawar menawar hanya berlaku pada emak- emak saja. Sungguh, Binar sangat luar biasa.
"Bu, seperti biasanya ya? Jangan lupa harganya dimiringin hehe," seru Binar menyodorkan kertas berisikan daftar belanjaan kepada ibu gendut pemilik kios yang menjajakan berbagai sayuran lengkap dengan bumbu masakan.
"Siap atuhhh! Oh ya, itu gadis di samping kamu saha eta?" tanya Bu Maryam, pemilik kios.
"Murid saya, Bu," potong Binar, ia harus bergerak lebih cepat sebelum Ailee berkata yang tidak- tidak.
"Tapi sebentar lagi jadi istrinya!" ucap Ailee dengan cepat. Binar pun langsung membungkam mulut Ailee dengan kedua tangannya.
"Dia memang suka bercanda, Bu. Jangan dihiraukan hehe..."
"Nggak papa atuh, kalian cocok loh. Lebih cantik dan menggemaskan dari mantan istrimu," ucap Bu Maryam menggoda. Ailee merasa senang karena ada yang mendukungnya, tapi tidak bagi Binar.
Rupanya Ibu itu tahu betul dengan kondisi Binar. Sepertinya Binar memang sering datang ke pasar hingga banyak yang akrab dan terlihat menyayangi dirinya.
"Saya cari belanjaan yang lain dulu ya, Bu," pamit Binar, ia masih membungkam mulut Ailee dan mengajaknya pergi dari sana.
"Lepasin, Pak," ucap Ailee tercekat.
"Jangan bicara aneh- aneh lagi!"
Binar berjalan terlebih dahulu menuju kios selanjutnya. Ailee pun mengikutinya di belakang, ia memegang kaos Binar karena takut jika kehilangan jejak lelaki itu. Pasar sangat ramai, berjalan pun harus bergantian karena jalannya sempit.
Beruntung Ailee tadi dipinjami sandal oleh Bu Melati, kalau saja ia memakai sepatu saat ke pasar. Sudah dipastikan akan susah dibersihkannya apalagi jika sepatu itu putih maka akan langsung berubah menjadi hitam karena pasar sangat becek dan kotor, tapi Ailee malah senang dan ingin sering- sering ke sana asalkan dengan Binar, hehe.
Dua plastik hitam besar dan satu kardus berada di tangan Binar, dan satu plastik hitam sedang berada di tangan Ailee. Kebutuhan satu minggu ke depan, sudah terbeli tak kurang satu apapun. Kini mereka pun bersiap pulang. Belum sempat memakai helmnya, Ailee tergoda dengan penjual Odading dan Cakwe yang dikerumuni pembeli.
"Pak, aku beli itu dulu ya? Jangan ditinggal!"
"Hm..."
Setelah izin dengan Binar, Ailee pun berlari menghampiri tukang odading dan cakwe itu. Binar tetap memperhatikannya dari jauh, takut Ailee kenapa- kenapa.
Tak lama kemudian, Ailee pun kembali dengan dua kantung plastik putih bening dan besar berisikan odading dan cakwe. Sangat banyak, padahal anak- anak panti tak terlalu banyak dan pasti tak bisa menghabiskannya.
"Ayo, kita pulang, Pak!" seru Ailee dengan senyum merekah, ia senang telah mendapatkan makanan yang ia inginkan.
"Cepat pakai helmnya," ucap Binar menyodorkan helm kepada Ailee.
"Nggak bisa, Pak. Nggak lihat nih tanganku lagi bawa apa?"
"Biar saya yang membawanya sebentar, ayo berikan." Binar hendak mengambil odading di tangan Ailee, tapi gadis itu tak mau memberikannya juga.
"Aduhh, sepertinya penjual odading tadi memberikan sedikit lem untuk merekatkan tanganku dengan plastik-plastik ini supaya tak jatuh," seru Ailee. Ia berpura- pura melepaskan plastik itu dari tangannya tapi tak bisa dilepaskan juga. Ah, anak itu pandai akting juga ternyata.
"Ada- ada saja kamu ini!" Binar mendengus, ia segera memakaikan helm ke kepala Ailee. Gadis itu pun bersorak dalam hatinya, rencananya berhasil.
Cukup lama Binar menatap wajah Ailee yang juga tengah menatap dirinya. Manik matanya sangat indah, bulu matanya lentik. Wajahnya yang ayu menggemaskan tanpa polesan make up sedikitpun. Bibirnya pun merah ranum tanpa lipstik atau sejenisnya. Benar- benar cantik alami.
"Ayo tatap aku lebih lama lagi, Pak. Biar Pak Binar jatuh cinta," ucap Ailee seperti seseorang yang hendak menghipnotis. Binar pun lekas sadar, ia jadi salah tingkah dan langsung naik ke motornya.