
Hari Sabtu, hari yang selalu dinantikan. Kedatangannya dirasa cukup lama. Semua orang menantikannya. Penat bekerja ataupun sekolah seakan lenyap jika hari itu datang. Semuanya pun berusaha menikmatinya karena weekend tak berlangsung lama. Entah itu menghabiskan waktu untuk bersantai dengan keluarga, berolahraga, berwisata, dan masih banyak lagi cara untuk menikmatinya.
Pagi itu, Ailee sudah bersiap untuk mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota. Topi berwarna putih melekat di kepalanya. Rambutnya diikat setengah seperti biasa. Sweater berwarna mustard dipadukan dengan celana pendek setengah lutut berwarna hitam melekat cantik di tubuhnya.
"Pakai parfum biar wangi dan Pak Binar suka, ehe..." ucapnya seraya menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Hampir habis setengah botol, ia pun jadi pusing sendiri saat kembali mencium tubuhnya. Benar- benar aneh.
"Harusnya aku memakai dua atau tiga semprot saja..."
Pintu kamarnya pun segera ia buka, kakinya melangkah menuju ke ruang santai papanya. Minta izin dulu supaya pulang- pulang tak dimarahi. Pernah dulu pergi tak izin, dan pulangnya dia langsung jadi bahan omelan sang papa.
"Papa juga mau bersepeda sama Mama, nggak mau barengan aja?" Ucapan papanya itu membuatnya masygul. Kalau dia barengan sama Papa dan Mamanya, pasti tak bisa bertemu dengan Binar. Ah, tidak, tidaaakk...
"Ailee berangkat duluan aja, Pah. Sampai bertemu di jalan!" seru Ailee, ia berlari secepat mungkin setelah mencium tangan Papanya.
"Aneh, biasanya juga barengan. Kenapa sekarang anak itu maunya sendiri?" gumam Aksa.
"Bukannya kamu juga malah senang ya karena kita nanti bisa berduaan?" sahut Aza dengan senyum menggoda.
"Ehh, iya sayang..." Aksa merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya ke garasi untuk mengambil sepeda.
...*****...
Jalanan rumah Binar pagi itu sangat sepi, hanya terlihat satu dua pengendara sepeda saja. Berbeda dengan komplek perumahannya yang malah ramai ketika hari Sabtu atau Minggu karena semua orang keluar untuk berolahraga setelah lelah dengan pekerjaan dan berbagai kegiatan lain selama berhari-hari.
Kayuhannya dipercepat, ia sudah tak sabar bertemu dengan guru matematika idola sekolah. Pemandangan yang indah, Binar sedang berada di depan rumah dengan selang air di tangannya. Lelaki itu tengah menyirami tanaman yang sepertinya kehausan karena semalam tak turun hujan.
"Pak Binar!" teriak Ailee.
Binar terkejut, ia segera mematikan keran airnya dan berlari masuk ke dalam tak lupa menutup pintunya rapat- rapat. Sudah seperti melihat setan saja. Ailee pun cemberut, ia mengetuk pintunya berharap Binar mau membukakannya.
"Pak Binar, bukain dong. Ailee mau bertemu dengan Clarissa..."
Tak ada sahutan dari dalam. Bu Melati pun entah di mana dan sepertinya wanita itu sedang mengurus anak- anak panti. Ailee mengatur napasnya sebelum ia kembali berteriak.
"PPPAAAAAKKKKK BBBBIIIIIINNNNAAAAARRRR, BU-" teriakannya terhenti karena pintu terbuka, terlihatlah lelaki yang tengah menyirami bunga tadi sembari menutup telinganya yang sepertinya sakit mendengar teriakan Ailee. Memang suara Ailee menyakitkan, apalagi jika sudah berteriak. Mungkin satu kampung mendengarnya.
"Ohhh, jadi Pak Binar tadi masuk gara- gara malu nggak pakai baju?" goda Ailee. Binar tadi hanya memakai kaos dalamnya saja, dan sekarang lelaki itu sudah memakai sweater yang ternyata warnanya juga sama dengan sweater yang Ailee pakai. Mustard.
"Pak Binar sengaja kan tadi nggak pakai baju gara- gara pengen lihat Ailee pakai baju warna apa dulu biar samaan bajunya? Couple-an gitu, iya kan iya kan????" Ailee jadi malu sendiri, hatinya bergejolak luar biasa padahal hanya memakai baju dengan warna yang sama.
Binar pun melirik bajunya dan baju yang Ailee pakai, ia tadi buru- buru dan asal mengambilnya, tak disangka malah sama warnanya.
"ALLAHU AKBAAAARRRRR!" seru Binar menepuk keningnya, ia pun kembali masuk dan menutup pintunya hendak berganti baju supaya Ailee tak lagi berpikiran yang aneh-aneh.
"Ehhh...Kok ditutup lagi pintunya?"
Tak lama kemudian, Binar kembali membukakan pintu untuk Ailee. Dan lelaki itu telah mengganti bajunya yang semula memakai sweater mustard, kini memakai sweater biru langit.
"Yahh, kok ganti baju sih? Yaudah deh nggak papa, baju Pak Binar biru, tapi celana yang dipakai hitam celanaku kan juga hitam. Tetap ada yang sama, ciyeeee..." seru Ailee cengar cengir sendiri.
Binar mengucap istighfar berulang kali di dalam hatinya, ia kemudian berlalu mengganti celanannya dengan warna beige supaya tak sama dengan Ailee.
Menunggu Binar menyirami tanamannya, Ailee duduk di teras menyangga dagunya dengan kedua tangan. Matanya terus menatap lelaki itu. Sayang sekali tak membawa ponsel, harusnya Ailee memotret kegiatan Binar. Lumayan juga fotonya nanti bisa jadi penghantar tidur.
"Wahhh, ada aunty cantik, Sayang," celetuk Bu Melati. Wanita itu mendorong kereta bayi Clarissa mendekati Ailee.
"Hai Clarissa..."
"Ibu masuk dulu ya, Nak," ucap Bu Melati berpamitan dengan Ailee.
"Clarissa, kamu dari mana? Kok nggak ngajak sih?"
"Dia mana bisa menjawabnya! Ada ada saja kamu ini," sahut Binar menghampiri anaknya. Dan memberi Ailee ultimatum supaya tak menggoda anaknya.
"Jangan terlalu gemas dengan Clarissa."
"Lepasin, Pak," seru Ailee ketika tangannya dicekal Binar. Usai dilepas, Ailee pun langsung menghampiri dan mencium pipi gembul Clarissa.
"Kamu mau aku gendong? Yuk, yukkk..."
Melihat Clarissa mengulurkan kedua tangannya, Ailee pun hendak menggendongnya. Tapi kalah cepat dengan Binar, lelaki itu terlebih dahulu menggendong anaknya.
"Jangan sama dia ya, nanti ketularan nggak waras," bisik Binar kepada Clarissa.
"Ah, menyebalkan sekali!"
Binar mengecupi Clarissa tanpa ampun, dirinya juga tak membiarkan Ailee untuk melihatnya. Lelaki itu terus menghindar saat Ailee hendak melihat Clarissa. Nakal sekali.
"Baby, kenapa papamu menyebalkan huhuuu..." Ailee kesal, ia berusaha melihat Clarissa, tapi selalu dihalangi tubuh kekar Binar.
"Baby..."
Dan Binar pun terus menghalangi Ailee, ia terkekeh melihat Ailee yang hampir putus asa karena tak bisa melihat Clarissa. Akhirnya Ailee mempunyai ide, ia menggigit kuat- kuat lengan Binar.
"Argghhhh, kenapa kamu menggigitku?!" Lelaki itu pun mengaduh. Dan saat seperti itu Ailee buru- buru mengambil alih Clarissa dan membawanya masuk ke dalam.
"Baby, ayo kita pergi. Jangan sampai Papa memisahkan kita lagi, Okay?" ucap Ailee lebay. Ia menutup pintu rumah Binar rapat- rapat membuat Binar menggelengkan kepalanya dan senyum terukir. Binar tak habis pikir, seharusnya Ailee yang ia kunci di luar tapi kenyataannya malah dirinya yang dikunci. Ah, sangat menggemaskan.
"Hey, ini rumah siapa? Bukain nggak?" seru Binar menggedor- gedor pintu rumahnya. Para tetangga yang tak sengaja lewat pun terheran- heran melihat Binar yang berusaha masuk ke rumahnya sendiri. Aneh sekali, apa Binar sudah gila?
Ceklek
Pintu pun terbuka, nampaklah wajah sangar Ailee. Tangan kirinya menggendong Clarissa, sedangkan tangan kanannya bergerak mengancam Binar. Ia gerakkan telunjuknya untuk mengitari lehernya bermaksud akan membunuh Binar jika dirinya macam- macam lagi.
Cetak!
Kesal dengan gadis itu, Binar langsung menyentil keningnya hingga memerah.
"Sakit, Pak! Ini namanya sudah KDRT!"