
Seperti biasa, Binar selalu terbangun ketika alarm milik istrinya berdering. Dan pagi itu ia tak mendapati sang istri di sampingnya, ia pun langsung pergi ke kamar mandi karena takut jika istrinya itu muntah-muntah. Belakangan ini Ailee sering muntah di pagi hari dan entah apa yang menyebabkannya. Dan terkejutlah ia tatkala mendapati memo yang tertempel di pintu kamar mandi.
...Hubby, maafkan aku ya tak sempat berpamitan denganmu. Perusahaan keluarga yang berada di Jepang sedang ada masalah dan aku harus ke sana secepatnya. Jika kamu sudah bangun, mungkin aku sudah dalam perjalanan. Sampai bertemu seminggu lagi, Hubby....
Marah betul Binar dibuatnya, ia meninju pintu kamar mandi dengan keras untuk meluapkan kekesalannya. Istrinya pergi begitu cepat tanpa berpamitan langsung dengannya. Ingin menyusul, tapi hari ini sekolah sudah dimulai tak mungkin jika harus izin.
Tak ada semangat lagi dalam dirinya, ia lalu bersiap pergi ke sekolah. Semua keperluannya telah disiapkan Ailee sebelum berangkat. Binar tetap kesal, ia harusnya mengantarkan Ailee ke bandara tapi wanita itu malah pergi sendiri.
Setelah semuanya rapi, Binar pun turun hendak sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Di tudung saji juga tertera memo, tapi bukan dari istrinya melainkan mamanya.
...Mama harus menengok Bu Lilis di kampungnya, dia sedang sakit keras dan tak ada sanak saudara. Mama akan kembali dua atau tiga hari lagi....
...Jaga diri baik-baik....
Diremas kertas persegi berwarna biru muda itu lalu dilemparkan ke sembarang arah. Di rumah itu tinggal dirinya saja. Tak masalah baginya jika harus sendiri, tapi harusnya mereka membicarakan ini terlebih dulu padanya dan tak pergi mendadak seperti ini.
Di pintu lemari pendingin tertera memo berwarna merah muda dan kali ini dari istrinya.
...Hubby, di lemari pendingin ada beberapa makanan cepat saji. Kamu bisa memasaknya sendiri untuk beberapa hari ke depan. Dan aku tadi membuatkan sup jagung untukmu, tinggal dipanasin aja di microwave. Makan yang banyak ya jangan sampai aku pulang nanti melihat tubuhmu kurus....
...Love you, Hubby....
...Jaga diri baik-baik š„°...
Seperti nasihat istrinya, ia lalu mengambil kotak makan yang berisikan sup jagung dan memanaskannya ke dalam microwave. Nelangsa betul lelaki itu.
Ponsel tak terlepas dari genggamannya sedetik pun. Ia terus saja mengecek dan berharap Ailee lekas memberinya kabar. Mungkin memang sedang setengah perjalanan jadi ponsel milik Ailee masih dimatikan. Tapi Binar tetap saja menunggu, ia jadi tak fokus mengajar muridnya.
Beberapa jam kemudian. Harusnya Ailee sudah sampai di Jepang, tapi wanita itu tak kunjung memberitahu Binar. Lelaki itu pun mengirimkan pesan kepada istrinya, dan tak ada balasan pula. Ponsel istrinya ternyata terakhir dilihat jam dua pagi tadi. Binar pun jadi khawatir.
Sampai pulang sekolah, Binar tak kunjung mendapat pesan atau telepon dari istrinya. Ia jadi cemas tak karuan. Sudah sore tapi tak ada kabar.
Binar pun melajukan mobilnya menuju bandara bertanya tentang pesawat yang kemungkinan Ailee naiki. Dan sesampainya di sana betapa terkejutnya ia mendapati kabar jika penerbangan Indonesia menuju Jepang malam tadi mengalami gangguan. Pesawat mengalami lost-contact dan diperkirakan jatuh.
"Jangan menyebar hoax! Beri kabar yang benar!" teriak Binar dengan tubuh yang bergetar menahan tangis. Ia kemudian menyuruh petugas bandara memeriksa penumpang yang naik ke pesawat tersebut.
"Binar!" seru Aksa dan Aza menghampiri Binar. Mereka juga mendapat kabar dari pihak bandara.
"Ka- kamu sudah mendengar kabar buruk itu?" tanya Aksa. Ia sebisa mungkin tegar, sedangkan Aza sudah tak karuan. Tangisnya membuncah dan sangat memilukan. Putrinya semalam berpamitan dengannya hendak mengurus perusahaan di Jepang karena sedang ada masalah, dan kemalangan pun ternyata menerpa.
"Ailee..." seru Aza terisak.
Baru sebentar dia bersama Ailee, begitu besar pula perjuangan mereka untuk bersama. Dan lagi-lagi semesta kembali memisahkan mereka.
"Aarrrggghhh!" seru Binar. Tangisnya semakin memecah bersama dengan keluarga penumpang lain yang juga berada di bandara itu. Sedangkan Binar tak tahu lagi harus berbuat apa. Sama dengan keluarga korban yang lain, mereka masih menanti akan kabar baik meskipun kemungkinannya sedikit.
"Istriku pasti selamat!" Binar terus saja berteriak di sela tangisannya.
Ia pun tak henti-hentinya mencoba menelpon Ailee. Lelaki itu masih berharap penuh tentang keselamatan istrinya. Meski ia tahu sendiri apa yang akan terjadi jika kecelakaan pesawat. Kemungkinan untuk selamat memang kecil, tapi Binar terus berdoa supaya Ailee tetap dalam lindungan-Nya.
Berjam-jam ia menunggu di bandara bersama Aiden yang menemaninya. Kabar baik masih dinantikan, doa pun tak terhenti terucap.
Dua lelaki itu terdiam bergelut dengan pikiran masing-masing. Keduanya sama-sama sedih, orang yang paling disayang entah bagaimana kondisinya sekarang.
Dan hari telah berganti, pagi kembali menyapa. Belum ada kabar lagi dari pihak bandara, Aiden pun mengajak Binar untuk kembali ke rumah. Binar tak bicara sepatah kata pun, ia hanya diam dan air mata terus menetes. Separuh jiwanya seakan melayang entah ke mana.
Ia kemudian menuju ke kamarnya. Ditatapnya foto yang terpajang di dindingā foto pernikahan dan keseharian Binar serta Ailee. Diambil satu foto Ailee, kemudian didekap dan dikecup lembut.
"Katakan kamu baik-baik saja, cepat kabari aku..." ucapnya memilukan.
Tak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya semenjak kemarin kabar itu terdengar. Ingin sekali mendekap istrinya. Biasanya setiap pagi Binar dan Ailee selalu bermanja-manja, entah itu di kamar ataupun di dapur. Binar pun kerap mengganggu istrinya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Papa Binar..." seru Clarissa berlari memeluk Binar yang sedang duduk lemas di sofa kamar.
Lelaki itu semakin tersedu-sedu dibuatnya. Ia dekap tubuh orang yang ia sayangi sama seperti Ailee. Clarissa pun jadi ikut menangis, sepertinya ia juga sudah tahu apa yang terjadi dengan Ailee.
"Mama Ailee pasti baik-baik saja, Papa jangan menangis..." ucap Clarissa berusaha menenangkan. Lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan, ia juga yakin jika Ailee pasti akan baik-baik saja. Wanita itu sangat kuat, ia pasti bisa menjaga dirinya meski sesuatu yang buruk menimpa.
Tak lama kemudian, sahabat dan keluarga datang ke rumahnya memberikannya kekuatan. Binar pun semakin marah ketika lantunan ayat suci mulai terdengar. Dan ada pula yang mengucap bela sungkawa kepadanya.
"DIA BELUM MENINGGAL! DIA BAIK-BAIK SAJA!" teriaknya dengan isakan setelahnya. Ia lalu terduduk lemas, tak kuasa menahan kesedihan. Ailee masih hidup, mereka tak boleh berucap dan berdoa seperti itu. Begitu yang terus ditekankan dalam benaknya.
.
.
.
One part again for endingš
Be prepared for sad ending