
Perlahan, kaki Ailee pun mulai membaik. Ia sudah mulai berjalan tanpa bantuan orang lain meskipun masih pelan dan terkadang meringis kesakitan.
Ramai dan padat. Tempat duduk di kantin penuh semua. Kelima sahabat itu pun bingung hendak duduk di mana. Makanan telah berada di nampan dan dibawa masing-masing dari mereka, hanya tak ada kursi dan meja kosong saja.
Mencoba menunggu gantian tempat duduk, tapi cukup lama mereka menunggu dan tak kunjung ada kursi dan meja yang kosong.
"Apa murid di kelas 12 bertambah dua kali lipat dari sebelumnya? Tumben kantinnya penuh," ucap Bryan menggelakkan tawa.
"Tak hanya dua kali lipat, tapi tiga kali lipat," tukas Aiden.
"Aihh, sudahlah. Ayo ke taman saja, cacing di perutku sudah bergoyang ke sana kemari," ucap Kimmy mengusap perutnya dengan satu tangan.
Makan siang yang telah dibeli pun segera disantap ketika mereka sampai di taman. Duduk melingkar tak beralaskan apapun. Taman itu cukup luas, banyak siswa siswi juga yang menghabiskan waktu di sana.
"Hai, cewek gatel yang sering godain Pak Binar!"
"Aaaaarrrrgghhh..." Tiba- tiba Ailee memekik. Rambutnya ditarik seseorang dari belakang.
Aiden dan yang lain langsung berdiri dan membantu Ailee. Khansa sangatlah nakal, ia tak henti-hentinya mengganggu Ailee. Sebisa mungkin Ailee menahan amarahnya, tapi tetap saja tak bisa jika itu menyangkut Khansa– musuh bebuyutannya sejak dulu.
"Dasar anak sialan!" Aiden mengambil mangkuk yang masih terdapat kuah bakso, ia menyiramkannya kepada Khansa.
"Aaaaaa! Rambutkuuuuu..." teriak Khansa memegang rambutnya. Kuah bakso yang masih terdapat beberapa helai mie membuat rambut cantik Khansa kotor seketika. Gadis itu terlonjak jijik menyentuh rambutnya.
"Kamu mau lebih dari ini?" tantang Ailee dengan tatapan geram. Ia lalu meminjam gunting kepada siswa lain yang tengah membuat prakarya. Ailee pun langsung menggenggam rambut Khansa dan bersiap mengguntingnya. Khansa panik dan takut.
"Gunting saja biar tau rasa!" Sora, Kimmy, dan Bryan memprovokasi Ailee supaya benar- benar melakukannya. Mereka juga jengah dengan tingkah Khansa yang kian hari kian menjadi.
"Kumohon jangan..." Khansa terus memohon, tapi sayang. Ailee cepat tanggap, ia langsung menggunting rambut Khansa yang tengah dikepang cantik itu. Lalu ia lempar ke tong sampah membuat Khansa terbelalak.
"Aaaaaaaa! Rambutku!"
"Makanya jadi orang tuh jangan iseng mulu! Tahu rasa kan sekarang," ledek Bryan.
"Aduhhh, gaya rambut baru nih. Wahhh, tapi kok jelek ya modelnya," tambah Kimmy meledek pula. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat setengah rambut Khansa panjang dan setengahnya lagi pendek.
Kejadian itu disaksikan oleh banyak siswa dan siswi. Khansa semakin malu dibuatnya, ia pun menghentakkan kaki dan berlalu dari sana.
Kejadian memotong rambut dan mengguyur Khansa dengan kuah bakso membuat Aiden dan Ailee masuk ruang bimbingan konseling. Tak hanya itu, tapi orang tua mereka pun dipanggil. Kini mereka duduk menghadap wali kelas, guru BK, dan juga kepala sekolah.
"Nyonya Aza, saya yakin jika Anda sudah mengetahui kenapa dipanggil kemari," ucap guru BK.
Tahu dengan jelas apalagi saat menatap Khansa yang masih menangis dengan tampilannya yang acak-acakkan. Ada seledri dan beberapa helai mie bersarang di rambutnya, seragamnya pun basah, dan yang paling parah adalah saat melihat rambut Khansa yang panjang pendek.
Tangan Aza diam-diam mencubit lengan kedua anaknya. Kesal sekali, Khansa seperti itu pasti ulah Aiden dan Ailee.
"Dia yang mengganggu kita duluan, Mah..." jelas Aiden ketika sang Mama melototi dirinya. Ia pun kembali menunduk.
"Iya, Mah, Khansa selalu menggangguku. Tak hanya hari ini tapi hari-hari sebelumnya juga sering. Dan tadi dia menjambak rambutku," jelas Ailee, ia takut dengan tatapan Mamanya yang memang sangat mengerikan.
"Mana mungkin! Anak saya tak pernah mengganggu orang lain, pasti mereka yang sudah memulainya duluan!" gertak Nyonya Melisa menatap Aiden dan Ailee secara bergantian.
"Anak saya nggak mungkin nakal kalau tidak dinakali terlebih dahulu!" sahut Aza dengan sengitnya.
Binar dan kepala sekolah yang duduk berjajar di sofa panjang hanya diam memijat pelipis mereka. Perdebatan antara Aza dan Melisa tak kunjung berhenti.
"Bu, tolong diberi sanksi untuk kedua anak itu. Lihat anak saya! Ini sudah kelewatan, dan saya bisa membawanya ke jalur hukum," ujar Nyonya Melisa kepada guru BK.
"Silakan saja! Saya percaya kalau anak- anak saya melakukan itu karena diganggu terlebih dahulu. Dan saya memang sering mendapat keluhan Aiden maupun Ailee yang mana mereka acap kali diganggu Khansa," tegas Aza.
"Maaf menyela, tapi saya hendak meluruskan juga," ucap Binar, ia mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Khansa memang sering kali menjahili teman- temannya, dan yang paling parah adalah kepada Aiden dan Ailee. Dia selalu mengganggu mereka, mungkin mereka melakukan hal itu kepada Khansa karena terlewat batas. Masalah ini akan bertambah besar jika sampai ke ranah hukum, padahal ini bisa diselesaikan dengan jalan damai. Jadi, mari bicarakan baik-baik."
Semuanya terhenyak dan mengangguk- anggukan kepala mendengar penuturan dari Binar.
"Dengar sendiri bukan jika anak Nyonya Melisa juga nakal?" ledek Aza dengan senyum menyeringai, Nyonya Melisa langsung memalingkan wajahnya karena malu.
"Entah sudah berapa kali dalam bulan ini Khansa menghadap guru BK," gumam Kepala sekolah menggeleng- gelengkan kepalanya. "Untuk Aiden dan Ailee, meskipun kalian baru kali ini berbuat salah tapi perbuatan kalian juga cukup memalukan. Saya harap ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya," tambah kepala sekolah.
"Tergantung," sahut Aiden dan Ailee dengan cepat. Aza langsung mencubit mereka dengan keras.
Mereka sangat enggan untuk saling bermaaf-maafan. Tapi karena paksaan dari Binar, Guru BK, dan kepala sekolah pun mereka berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Entah itu benar-benar tulus dari hati atau bukan, tapi yang penting masalah terselesaikan. Dan di sini Bu Melisa sangatlah malu dibuatnya.
"Dasar anak-anak nakal! Untung emaknya si Khansa bisa diajak damai! Coba kalau enggak!" gerutu Aza seraya menarik telinga Aiden dan Ailee hingga memerah.
"Kalau dia nggak mulai duluan kita juga nggak akan nakal, Mah..." ucap Aiden membela dirinya.
"Iya tapi kelakuan kalian sama si Khansa itu kelewatan. Lihat anak itu, tambah jelek!" sahut Aza. "Coba kalau Papa kalian yang datang ke sini, pasti sudah dibejek-bejek kalian!"
"Papa malah bangga sama kita karena berani melawan orang yang mengganggu kita," jawab Ailee terkekeh, dan Mamanya malah semakin gencar menjewer telinganya.
"Maaf, Nyonya, sebaiknya diselesaikan di rumah ya jangan di sekolah," ujar Binar menyela. Ia harus menghentikan Aza yang tengah memarahi anak-anaknya karena banyak siswa yang keluar kelas dan melihat.
"Eh, Pak Binar. Terima kasih ya tadi sudah bela anak- anak saya yang nakal ini," ucap Aza lembut, tapi tangannya belum terlepas dari telinga Aiden dan Ailee.
Aza lalu mengajak Aiden dan Ailee pulang tanpa melepas jewerannya. Binar jadi ngeri, ia berdoa supaya telinga anak-anak itu masih berada di tempatnya. Dan lelaki itu jadi membayangkan jika Aza adalah mama mertuanya, apa telinganya nanti juga akan menjadi sasaran wanita itu ketika marah? Semoga saja tidak.
Eh, tapi kenapa dia jadi membayangkan jika Aza menjadi mama mertuanya? Binar jadi senyam-senyum sendiri dibuatnya.